Ling Tian

Ling Tian
Meninggalkan Klan She


__ADS_3

Hening! Suasana ditempat itu kini berubah menjadi sangat hening. Tampak keterkejutan dan ketidak percayaan dari wajah Patriark She Manglong, Tetua Agung She Jianyu dan seluruh tetua lainnya.


Ledakan maha dahsyat yang mungkin hanya bisa diciptakan oleh sersngan penuh seseorang yang sudah berada di Ranah Kaisar Tahap Menengah atau Tahap Puncak ternyata dilakukan oleh seorang She Danfan yang masih berada di Ranah Raja Tahap Awal.


"I-ini mustahil!" ucap Patriark She Manglong tidak percaya.


"T-tapi ini nyata Patriark!" ucap Tetua Agung She Jianyu.


"B-benar!" tambah para Tetua yang datang bersama kedua orang berkedudukan paling tinggi di Klan She itu.


Swush... Swussh...


Patriark She Manglong dan Tetua Agung She Jianyu melesat menghampiri Ling Tian yang masih dalam kondisi berlutut dan mata terpejam.


"She Danfan! Apa yang kau lakukan?" tanya Patriark She Manglong.


Ling Tian yang sedang menutup mata perlahan membuka matanya dan berdiri dengan tegap. Dia menatap Patriark She Manglong dan Tetua Agung She Jianyu yang ada didepannya.


"Maaf Patriark, Tetua Agung! Aku telah membuat kekacauan! Sebelumnya Shuma telah menantangku untuk duel hidup dan mati denganku. Namun karena kata-katanya yang menghina keluargaku, maka aku kehilangan kontrol diriku!" ucap Ling Tian dengan tatapan bersalah.


Patriark She Manglong dan Tetua Agung Klan She itu begitu terkejut mendengar ucapan Ling Tian. Mereka sangat tidak menduga bahwa kekacauan ini disebabkan karena kehilangan kontrolnya seorang Danfan. Komandan pasukan elite yang baru saja mengundurkan diri dari jabatannya dihadapan mereka.


"Lalu bagaimana dengan Shuma sekarang?" sebuah pertanyaan cukup konyol keluar dari mulut Sang Patriark.


Ling Tian menggelengkan kepalanya lalu memperlihatkan tinjunya yang terdapat sedikit bercak darah yang masih segar.


"Tentu saja aku membunuhnya! Tidak ada satu orang pun yang berani menghina keluargaku kecuali aku akan membunuhnya!" jawab Ling Tian dengan lirih namun sangat tegas.


Sekali lagi kedua orang terkuat di Klan She itu terkejut dengan apa yang Ling Tian perlihatkan. Namun mereka berusaha tetap tenang dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka bisa menyimpulkan bahwa She Shuma telah tewas dengan tubuh hancur tidak bersisa.


"She Danfan! Apakah kau tahu bahwa membuat kekacauan di Kota She adalah sebuah pelanggaran?" tanya Tetua Agung.


"Benar Tetua Agung! Aku akan membayar denda kota, membayar kompensasi bagi orang yang terluka dan mengganti rugi bagi pemilik rumah yang bangunannya rusak! Namun setelah itu aku dan saudara Mao An ingin segera berpamit kepada Patriark dan Tetua Agung untuk berpetualang!" jawab Ling Tian dengan tegas.


Dia tentu tahu dengan konsekuensi yang telah dirinya lakukan ini. Namun dia tidak ingin berbelit-belit dengan masalah karena segera ingin keluar dari Klan She dan melanjutkan petualangannya di Hutan Tanpa Batas.


"Baik! Kami mengizinkanmu meninggalkan klan dan tidak mempermasalahkannya selagi kau telah menyelesaikan semua masalahmu sendiri! Danfan, ternyata kau telah mempertimbangkan semuanya dengan matang! Aku cukup terkesan dengan itu!" ucap Tetua Agung.

__ADS_1


"Terima kasih Tetua Agung!" ucap Ling Tian.


Patriark She Manglong menatap Ling Tian dengan seksama. Dalam batinnya bergejolak beberapa pertanyaan yang ingin dia tanyakan.


"She Danfan!" ucap Patriark She Manglong.


"Saya Patriark!" jawab Ling Tian sambil menangkupkan kedua tangan.


"Jawab dengan jujur, berada di tahap apa kamu sekarang? Aku tidak yakin bahwa kamu masih di Ranah Raja Tahap Awal!" ucap Sang Patriark bertanya.


Bhuusshh...


Aura kultivasi Ranah Raja Tahap Puncak menyebar kesegala arah, membuat beberapa orang Tetua yang tidak jauh darinya berdiri merasakan penindasan yang sangat kuat. Ling Tian tidak menjawabnya dengan mulut, dia menjawabnya dengan mengedarkan seluruh kekuatan yang dimiliki tanpa menutupinya sedikit pun.


"Ranah Raja Tahap Puncak!" ucap Patriark dan Tetua Agung Klan She dengan terkejut.


Ling Tian tampak tersenyum melihat keterkejutan semua orang.


"Danfan! Apakah.." Patriark She Manglong tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Ling Tian telah memberikan jawaban yang dia cari dengan memotong ucapannya.


"Jika aku boleh tahu, sumber daya apakah itu?" tanya Tetua Agung She Jianyu dengan berani.


"Maaf Tetua Agung! Bukankah pertanyaan anda ini terlalu tidak sopan? Dimana sosok Tetua Agung yang bijaksana itu?" ucap Ling Tian membalik bertanya dengan dingin. Menatap Tetua Agung Klan She tersebut dengan lekat.


"Ah! Maafkan kekhilafanku Danfan! Aku tidak akan mengulanginya!" ucap Tetua Agung She Jianyu sambil menangkupkan kedua tangan menyadari kesalahannya yang begitu lancang menanyakan sebuah privasi.


"Sudah-sudah! Tidak perlu dipermasalahkan! Kalau begitu kamu selasaikan permasalahanmu sendiri Danfan! Kami akan pergi terlebih dahulu!" ucap Patriark She Manglong menengahi.


Ling Tian akhirnya kembali menjadi tenang saat mendengar ucapan sang Patriark.


"Baik Patriark, Tetua Agung! Silakan!" jawab Ling Tian sambil menangkupkan kedua tengannya.


Setelah Patriark, Tetua Agung dan para Petinggi Klan She itu pergi, suasana kembali menjadi seperti kuburan di malam jum'at kliwon. Sepi, sepi, sepi dan mencekam.


Namun ketegangan itu segera sirna saat tiba-tiba suara tepuk tangan dari Mao An memecahkan keheningan disertai dengan ocehan dan gelak tawanya yang menggelegar.


Prok! Prok! Prok!

__ADS_1


"Ahahaha.. Saudaraku Danfan! Kamu memang yang terbaik! Aku sungguh sangat menyesal karena sebelumnya tidak ada yang mengajakku taruhan! Huh!" ucap Mao An yang membuat semua orang hampir muntah darah.


"Edan! Dia itu bocah edan!" ucap salah satu anggota Klan She dengan bisik-bisik.


"Benar! Di suasana seperti ini saja dia masih memikirkan taruhan? Gila!" sahut temannya.


"Cih! Aku yakin otaknya itu sedikit miring sebelah alias tidak imbang!"


"Tidak! Bukan itu! Tapi yang jelas dia kurang satu ons anunya!"


"Anu apa?"


"Fikirannya! Memangnya apa lagi?"


"Oh.. Aku kira itunya!"


Plak!


"Dasar bodoh!"


"Aduh! Tidak perlu pakai jurus pukul kepala juga kali!"


"Hah! Itu untuk pengobatan otakmu yang mungkin sedikit tertular oleh otaknya!"


Suara-suara bisikan terus terdengar, sementara Ling Tian hanya tersenyum masam melihat polah Mao An yang begitu konyol dan tergolong koplak.


Ling Tian lalu memberikan pesan telepati kepada Mao An dan kedua komandan untuk pergi mengikutinya kembali kekediaman Danfan.


Setelah sampai, Ling Tian lalu tanpa basa-basi meminta tolong kedua komandan itu untuk mengurusi masalah denda dan kompensasi yang harus dia bayarkan dengan imbalan dua butir buah anggur putih abadi.


Dengan perasaan terkejut dan takjub mereka berdua dengan senang hati akan membantu Ling Tian. Ling Tian menyerahkan dua buah cincin penyimpanan yang berisi dua juta lima ratus ribu koin platinum di masing cincin kepada keduanya.


"Saudaraku sekalian! Jika ada sisa, silakan kalian berdua simpan!" ucap Ling Tian sambil tersenyum.


"B-baik K-koman.. Tidak! S-saudara Danfan!" ucap kedua komandan itu dengan tangan bergetar.


"Baiklah saudaraku sekalian! Kami akan pergi meninggalkan klan sekarang juga! Terima kasih atas bantuannya!" ucap Ling Tian sambil menangkupkan kedua tangan yang diikuti Mao An lalu keduanya menghilang dari pandangan menyatu dengan udara tipis.

__ADS_1


__ADS_2