Ling Tian

Ling Tian
Kembali Ke Ibukota


__ADS_3

Teriakan kemenangan segera menggema didalam bekas Sekte Hasrat. Meski sekujur tubuh penuh dengan luka, meski rasa perih akibat bekas luka tebasan pedang terus melanda, namun semangat 15.000 pasukan tak terkalahkan milik daratan utara itu tidaklah kurang sedikitpun. Wajah mereka terlihat begitu antusias dalam berteriak atas kemenangan daratan utara.


Bagaimana tidak? Mereka yang hanya memiliki jumlah 15.000 mampu menghapus keberadaan musuh dari pihak aliansi aliran hitam yang berjumlah lebih dari 3 juta jiwa dari daratan utara hanya dalam waktu 2 minggu saja. Pencapaian seperti ini tidak pernah ada dalam sejarah peperangan di seluruh daratan di Benua Langit.


"Pasukan tenanglah!" seru Jenderal Besar Bing Luoyan.


Semua orang langsung terdiam saat mendengarkan seruan dari Jenderal Besar atau pemimpin mereka. Bagi 15.000 pasukan itu, hanya Ling Tian, Jenderal Besar Bing Luoyan dan Penguasa Agung daratan utara abal-abal atau Mao An sajalah yang paling mereka hormati dalam hati mereka.


"Kita semua akan beristirahat dalam 3 hari disini setelah mengumpulkan seluruh mayat untuk dibakar! Setelah itu kita akan bergerak kembali ke Ibukota Kekaisaran! Kalian mengerti?" kata Jenderal Besar Bing Luoyan bertanya.


"Siap Jenderal!" seru 15.000 pasukan dengan serentak.


Setelah itu, seluruh pasukan langsung bergerak cepat untuk mengumpulkan mayat-mayat dari orang-orang Sekte Hasrat dan dari aliran hitam yang mengungsi. Tidak lupa mereka juga mengambil seluruh jarahan atau harta rampasan yang dapat mereka ambil untuk dimanfaatkan.


Jenderal Besar Bing Luoyan bersama dengan Ling Tian dan budak cantiknya pergi meninggalkan tempat itu menuju ke bekas bangunan Matriark Sekte yang terlihat masih utuh meski beberapa diantaranya ada yang hancur karena bekas pertempuran.


"Gadis cantikku! Kau akan tidur bersamaku malam ini!" ucap Ling Tian sambil tersenyum menakutkan.


Seluruh tubuh Chang Ming'er atau mantan Tetua Pertama Sekte Hasrat bergetar hebat saat mendapati Ling Tian berkata ingin tidur bersama dengannya. Ya, meskipun ini bukan pertama kalinya bagi dirinya tidur bersama seorang pria, namun dengan orang yang tidak bisa dia ukur sama sekali kekuatannya serta tidak dia ketahui asal-usulnya adalah suatu hal yang lain.


Terlebih, saat ini dia tidak bisa menggunakan energi Qi dalam tubuhnya. Dia bisa saja mati karena kesakitan saat melakukannya. Ya, itulah yang saat ini dia pikirkan meskipun dia tidak tahu yang sebenarnya Ling Tian hanyalah menggodanya saja.

__ADS_1


Jenderal Besar Bing Luoyan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat pemuda bertopeng separuh wajah itu sangat suka menggoda budaknya. Dia tahu bahwa tidak mungkin bagi seorang pemuda hebat sepertinya akan mau meniduri wanita yang sudah tidak suci dan bisa dikatakan sebagai pelacur.


Ling Tian bersama dengan Chang Ming'er serta saudaranya Mao An yang sudah tertidur malas lagi diatas pundaknya berjalan menuju ke bekas kediaman Matriark Sekte, Chang Roulan. Sesampainya mereka di sana, Ling Tian langsung menyuruh Chang Ming'er untuk membersihkan diri terlebih dahulu karena ada bekas noda darah di tubuh dan pakaiannya.


Chang Ming'er hanya bisa menganggukkan kepala menuruti perintah dari tuannya tanpa bisa memberikan penolakan sedikitpun. Dia hanya bisa menerima nasib dan tidak ingin merasakan kembali rasa sakit yang luar biasa pada bagian jantung dan dantiannya akibat membelot dari sang tuan.


Ling Tian dikursi yang ada didalam kamarnya sembari menunggu Chang Ming'er selesai mandi. Dia mengangkat tubuh kucing saudaranya dan meletakkannya diatas meja didepannya. Namun keningnya segera mengerut saat melihat senyuman menyeringai terlihat pada sudut bibir kucing hitam buluk itu.


"Ada apa?" tanya Ling Tian keheranan.


"Yoo.. Tuan Mudaku! Apakah bener kamu akan meniduri wanita tua itu? Ingat! Bahkan nona Lianhua yang jauh lebih cantik daripadanya belum pernah Tuan Muda sentuh!" kata Mao An sambil tersenyum aneh.


Mata Ling Tian langsung membulat sempurna saat mengetahui isi dari pikiran saudaranya itu. Dengan cepat dia langsung melayangkan tangannya menempeleng kucing hitam kecil sialan itu hingga tersungkur di lantai.


"Dasar saudara bodoh!" umpat Ling Tian kesal.


"Aduh! Tuan Muda! Mengapa Tuan Muda kejam sekali! Kan aku hanya bertanya untuk memastikan saja!" keluh Mao An sambil mengusap-usap kepalanya karena merasakan sakit akibat pukulan dari Ling Tian.


"Cih! Dasar kucing sialan! Otakmu mungkin telah benar-benar terkontaminasi oleh kakak cacingmu itu! Mana mungkin aku mau dengan orang seperti dia! Dasar otak mesum!" umpat Ling Tian lagi.


"Eh? Ayolah Tuan Muda! Jangan menyalahkan kakak kedua! Dia adalah guru sekaligus saudara terbaik di dalam hidupku!" ucap Mao An dengan bangganya sehingga membuat Ling Tian sampai membuka tutup mulutnya lebar-lebar.

__ADS_1


"Coba kau katakan lagi? Siapa cacing biru sialan itu untukmu? Guru terbaik?" tanya Ling Tian sambil mengorek-ngorek lubang telinganya karena tidak percaya.


"Tentu saja kakak kedua adalah guru yang paling hebat!" jawab Mao An dengan bangganya.


Ling Tian langsung memutar bola matanya dengan malas karena tidak mungkin baginya untuk bisa meluruskan otak dari Mao An yang sudah terlanjur bengkok gara-gara Long Yuan. Andai saja si cacing biru sialan itu saat ini ada bersama dengan mereka berdua, maka dia pasti akan memuji-muji adik kelimanya itu karena telah mengatakan hal yang menurutnya sangatlah benar sekali. Ingat! Dalam garis bawah menurutnya saja! Bukan menurut orang lain!


Setelah selesai berdebat dengan saudaranya, Chang Ming'er pun keluar dari kamar mandi dan sudah mengenalkan pakaiannya yang baru. Dia memang terlihat sangatlah cantik dan menggoda. Namun bagi Ling Tian, wanita cantik dan menggoda itu sangatlah banyak dia temui. Dia sama sekali tidak tergiur dengan kemolekan tubuh dari Chang Ming'er.


Dengan tanpa berkata sepatah pun Ling Tian memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia menyerahkan Chang Ming'er kepada saudaranya untuk menjaganya supaya tidak kabur dari kamar.


***


Tiga hari berlalu dengan cepatnya. Seluruh pasukan yang berjumlah 15.000 jiwa sudah menyelesaikan tugasnya yang berupa membakar semua mayat dari pasukan musuh beserta mengambil semua jarahan perang untuk dibagikan dengan rata kepada mereka.


Ling Tian, Mao An, Jenderal Besar Bing Luoyan dan Chang Ming'er sudah berada di hadapan 15.000 pasukan itu. Mereka semua kini telah bersiap untuk kembali ke Ibukota Kekaisaran Bing atau Kota Hanleng.


Jenderal Besar Bing Luoyan telah menghubungi pasukan lain yang berada di kota terdekat dengan bekas Sekte Hasrat untuk mengamankan wilayah ini dan menguasainya.


Ling Tian sebelumnya juga sudah menonaktifkan array kurungan yang melingkupi seluruh area sekte sehingga semua orang dapat keluar masuk dengan mudah di wilayah bekas Sekte Hasrat.


Rencananya Jenderal Besar Bing Luoyan ingin menjadikan wilayah ini sebagai kota baru yang memiliki lambang akan kebesaran dari 15.000 pasukan tak terkalahkan milik daratan utara. Hal itu juga langsung disetujui oleh Ling Tian dan juga Mao An.

__ADS_1


Setelah selesai berkemas, Jenderal Besar Bing Luoyan kemudian mengeluarkan artefak kapal terbang yang akan digunakan oleh mereka untuk kembali ke Kota Hanleng atau Ibukota Kekaisaran Bing.


__ADS_2