
Ketiga jenderal kepercayaan Han Tianba juga ikut melesat mengikuti pimpinannnya, begitu juga dengan keempat pemimpin dari Fraksi Putih. Kedelapan orang itu saling bahu-membahu untuk mengalahkan Pimpinan Tertinggi manusia primitif.
Han Tianba yang memiliki kekuatan paling tinggi karena dapat menyerap energi aneh di dunia kecil ini terlihat lebih kuat dari ketujuh orang lainnya. Sementara Pimpinan Tertinggi manusia primitif yang memiliki kekuatan ranah Pendekar Perunggu Puncak hanya tersenyum sinis melihat delapan orang yang saling bantu membantu untuk mengalahkannya sambil terus menghindar dari setiap serangan yang mendatanginya.
Pimpinan Tertinggi manusia primitif bahkan belum mengeluarkan senjatanya alias pedang dewa yang masih tergantung dibelakang punggungnya.
'Sial! Orang ini sangat lincah seperti tupai!' batin Patriark Ma Rong yang kewalahan dengan serangannya yang tidak satupun mengenai target.
Setelah belasan menit hanya bergerak untuk menghindar, akhirnya Pimpinan Tertinggi manusia primitif mulai bosan dan sesekali melancarkan serangan balik.
Boommm... Boommm...
Suara ledakan mulai terdengar dari pertarungan mereka saat Pimpinan Tertinggi manusia primitif membalas serangan hanya dengan tapaknya. Dan setiap kali ledakan terdengar, maka salah satu dari kedelapan kedua fraksi akan terlempar karena kalah kuat.
Hal itu terus berulang-ulang sehingga kedelapan orang yang melawannya mulai sedikit frustasi. Selama ini, hanya Han Tianba yang belum pernah dibuat Pimpinan Tertinggi manusia primitif terlempar karena beradu serangan.
Han Tianba selalu berhasil menghindar dengan cara berkelit cepat agar tidak terkena efek ledakan. Dia dapat menghindari dengan mudah karena kekuatan sesungguhnya serta pengalaman tempurnya sangatlah tinggi diatas semua orang yang ada ditempat ini.
Melihat lawan-lawannya tidak terlalu terluka saat terkena serangan baliknya dan kemudian kembali lagi masuk dalam pertarungan tentu membuat sang Pimpinan Tertinggi manusia primitif sangatlah kesal.
Dia lalu mengedarkan kekuatan puncaknya dan aura ranah Pendekar Perunggu Akhir meledak dari dalam tubuhnya yang membuat kedelapan lawannya merasa tertekan. Dia bergerak sangat cepat dan memberikan serangan tapak kepada musuh-musuhnya sehingga mereka kembali terlempar puluhan langkah.
Boommm... Boommm... Boommm...
Kali ini Han Tianba juga ikut terlempar namun hanya beberapa langkah saja. Wajah Pimpinan Tertinggi manusia primitif sedikit masam karena pertarungan ini terlalu lama menurutnya.
"Kalian pasti menginginkan senjata ini bukan? Baiklah.. Rebut dariku jika kalian mampu!" ucap Pimpinan Tertinggi manusia primitif sambil bergerak menarik pedang dewanya.
__ADS_1
Aura mencekam segera menyebar ke segala arah yang membuat wajah delapan lawannya menjadi serius. Mereka melihat Pimpinan Tertinggi manusia primitif telah mencabut pedang yang sejak awal hanya tergantung dipunggungnya.
Kedelapan orang itu dapat melihat bahwa aura kultivasi dari Pimpinan Tertinggi manusia melonjak naik satu ranah penuh hingga mencapai ranah Pendekar Perak Puncak.
"Jadi itu adalah hartanya!" ucap Han Tianba dengan bersemangat.
Han Tianba sama sekali tidak gentar kepada Pimpinan Tertinggi manusia primitif. Meskipun kuktivasinya saat ini hanyalah ranah Pendekar Kayu Puncak atau sama dengan Ling Tian, akan tetapi dengan teknik pedang dan seni beladirinya yang sudah mengakar dalam dirinya, dia yakin akan sanggup mengalahkan Pimpinan Tertinggi manusia primitif.
Wajah-wajah serakah juga terpancar dari keempat pemimpin Fraksi Putih. Mereka sudah berandai-andai memiliki oedang dewa yang ada ditangan Pimpinan Tertinggi manusia primitif.
Jika di Benua Langit kultivasi mereka berada di ranah Pendekar Berlian, maka dengan pedang yang ada ditangan Pimpinan Tertinggi manusia primitif mereka dapat berada di Ranah Raja dan akan benar-benar menjadi manusia terkuat di Benua Langit.
"Jurus pedang petir! Tebasan petir!" seru sebuah suara yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang Pimpinan Tertinggi manusia primitif.
Swush...
Sebuah bilah angin dengan sedikit kandungan petir berwarna biru muncul dan melesat kearah Pimpinan Tertinggi manusia primitif dengan kecepatan tinggi.
Boommm...
Ledakan yang cukup memekakkan terdengar dari hancurnya bilah angin yang sebelumnya melesat ingin memotong leher Pimpinan Tertinggi.
Tap!
Sosok pria sepuh dengan pedang ousaka tingkat merah yang tergenggam erat ditangannya mendarat tidak jauh dari Pimpinan Tertinggi manusia primitif. Dan benar! Sosok itu adalah Leluhur Klan Lian, Lian Qin.
"Setelah membunuh manusia aneh ini, aku akan membunuh kau Han Tianba!" ucap Leluhur Lian Qin yang ternyata juga memiliki kekuatan sama dengan Han Tianba yaitu ranah Pendekar Kayu Akhir. Dia juga memiliki keberuntungan dapat menyerap sedikit energi aneh di dunia kecil ini sehingga dirinta naik tingkat.
__ADS_1
"Hahaha.. Tua bangka Lian Qin! Coba saja jika bisa! Aku akan meladenimu juga nanti! Tapi sebelum itu, ayo kita bekerja sama untuk membunuh orang primitif ini!" kata Han Tianba sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Kini jumlah orang yang melawan Pimpinan Tertinggi manusia primitif menjadi sembilan orang. Namun karena kekuatan yang diberikan oleh pusaka pedang tingkat hitam kualitas sempurna itu dirinya masihlah mudah untuk menghadapi semua orang.
***
Disisi lain, Ling Tian dan Mao An hanya mengamati pertarungan sepuluh orang itu dari balik bayangan. Dengan elemenitas bayangan yang ternyata masih bisa dia gunakan meski kekuatannya hanya di ranah Pendekar Kayu Akhir, dia bersama dengan saudaranya menonton pertarungan seru itu sambil sesekali menyeruput teh galaksi yang diseduh Ling Tian.
"Tuan Muda! Bagaimana jika kita bergerak menyelamatkan para tahanan! Aku lihat pasukan dari kedua fraksi sudahlah kewalahan menghadapi para manusia primitif itu!" ucap Mao An tiba-tiba yang membuat rencana.
"Cukup brilian! Baiklah! Ayo kita selamatkan mereka dan suruh mereka untuk membantu peperangan! Aku yakin dengan adanya saudara-saudara mereka yang ikut dalam perang, mereka tidak akan menolak untuk ikut serta!" kata Ling Tian sambil tersenyum.
Dia dan Mao An akhirnya bergerak setelah hampir setengah jam menonton diatas sebuah pohon raksasa yang tidak jauh dari lokasi pertempuran.
Keduanya melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh menuju markas manusia primitif yang saat ini hanya dijaga oleh orang-orang biasa yang hanya memiliki ranah kultivasi Pendekar Jiwa. Dengan sangat mudah keduanya menghabisi semua orang primitif yang memergoki keduanya dan menghadang jalan dua saudara itu.
Setelah memindai tempat tersebut, Ling Tian akhirnya tersenyum karena telah menemukan lokasi penjara yang dipergunakan untuk menahan para manusia dari Benua Langit.
"Disana!" ucap Ling Tian sambil menunjuk kearah markas bagian timur.
Mao An hanya menganggukkan kepalanya lalu keduanya melesat menuju penjara itu. Diperjalanannya, mereka selalu dihadang oleh manusia-manusia primitif yang memiliki kekuatan rendah dan dengan mudah Mao An menghabisi mereka dengan satu serangan.
Tidak lupa keduanya juga mengambil semua senjata pusaka tingkat hijau yang digunakan oleh korbannya dan menyimpannya kedalam cincin penyimpanan.
Setelah beberapa menit berlalu dan terus membunuh, akhirnya mereka berdua sampai juga didepan sebuah penjara bawah yang ternyata adalah sebuah gua yang memiliki lorong bawah tanah.
Keduanya juga melihat ada satu orang yang berjaga didepan mulut gua yang memiliki kekuatan ranah Pendekar Besi Menengah. Penjaga itu juga melihat kedatangan dua orang yang bergerak mendekati dirinya.
__ADS_1
Namun setelah melihat siapa yang datang, wajah manusia primitif itu langsung menjadi suram karena mengenali Ling Tian.
"Hehehe.. Kita bertemu lagi jenderal golok! Tapi tenang saja, sekarang bukan aku yang menjadi lawanmu! Tapi saudaraku ini!" ucap Ling Tian sambil memperlihatkan senyum menyeringai dan menepuk-nepuk pundak Mao An.