
Pria bertanduk atau sang iblis sejati itu mengambil pedang pusaka tingkat merah itu dari tangan Han Tianba. Dia tentu sangat senang dengan apa yang didapatkannya kali ini.
Pedang pusaka tingkat merah? Pedang terkuat yang pernah ada di Benua Langit tentu saja membuat sang iblis sejati itu menjadi sangat senang. Tapi yang tidak diketahui olehnya adalah bahwa ada seseorang yang memiliki pusaka-pusaka tingkat tinggi yang melebihi pedang itu.
Sang iblis sejati kembali duduk diatas singgasananya sambil menimang-nimang pedang barunya. Sementara untuk Han Tianba, dia kembali duduk ditempatnya biasa duduk.
Setelah beberapa saat saling diam, pria bertanduk atau sang iblis sejati pimpinan tertinggi aliansi aliran hitam lalu membuka suaranya. Dia mengatakan beberapa hal mengenai rencananya yang ingin mendapatkan harta langit dan bumi yang baru muncul di wilayah terlarang daratan tengah.
Kelima bawahannya mendengarkan semua yang dikatakan oleh pemimpin mereka dengan seksama lalu menganggukkan kepala tanda setuju. Namun sekilas ada sebuah senyuman kecil yang terukir disudut bibir Han Tianba tanpa ada yang mengetahuinya.
Sang iblis sejati juga mengatakan bahwa mungkin akan ada harta lain ditempat itu yang memungkinkan dapat membantu menaikkan kultivasi mereka berlima. Hampir satu jam lamanya pria bertanduk itu berbicara dengan kelima bawahannya yang dengan setia mendengarkannya.
Selesai mengatakan semua rencananya, sang iblis sejati menyuruh mereka berlima pergi dari ruangannya dan bersiap untuk keberangkatan dihari esok. Dengan patuh kelima bawahannya berdiri dari tempat mereka duduk dan bersiap pergi dari tempat itu untuk menjalankan perintah sang pemimpin.
"Han Tianba! Kamu tetaplah ditempatmu!" ujar pria bertanduk.
"Baik Yang Mulia!" ucap Han Tianba menurut lalu kembali duduk. Sementara yang lainnya pergi keluar dari ruangan itu.
"Han Tianba! Bagaimana menurutmu rencanaku tadi?" tanya pria bertanduk menanyakan perihal rencananya.
Hanya Han Tianba yang diperlakukan seperti itu oleh pria bertanduk. Itu karena Han Tianba adalah orang kepercayaannya yang sangat bisa diandalkan dan belum pernah gagal dalam misinya.
"Rencana Yang Mulia memang sangatlah bagus! Tapi alangkah lebih bagusnya jika kita sekali dayung dua atau tiga pulau terlewati!" ucap Han Tianba.
"Maksudmu?" tanya pria bertanduk.
"Maksud hamba adalah daripada Yang Mulia mengirimkan kami berlima sekaligus untuk masuk dalam perebutan harta itu, lebih baik Yang Mulia membagikan kelompok kami berlima ini untuk menguasai seluruh daratan!.."
"Biarkan hamba dan Organisasi Gedung Pembunuh yang ikut serta dalam perebutan itu! Sementara yang lainnya mengambil tugas lain yaitu menguasai seluruh daratan di Benua Langit!.."
"Hamba yakin seyakin-yakinnya bahwa semua orang kuat dari aliran putih juga pasti akan ikut serta dalam acara itu! Sementara tempat tinggal mereka? Pastilah kosong dari penjagaan orang-orang kuat itu! Yang Mulia faham bukan dengan maksud hamba?" ujar Han Tianba menjelaskan dengan panjang.
__ADS_1
Pria bertanduk atau sang iblis sejati itu diam untuk beberapa saat. Setelahnya, dia tertawa terbahak-bahak dengan sangat keras karena kebahagiaan.
"Hahaha.. Brilian! Rencanamu benar-benar brilian! Itu juga namanya sambil menyelam minum air! Hahaha.. Baiklah-baiklah! Aku setuju dengan rencanamu itu! Katakan kepada keempat orang itu akan pelaksanaannya besok! Kuasai semua daratan dan dapatkan harta itu untukku! Hahaha.." ucap pria bertanduk dengan tawa yang terus menggelegar.
"Baik Yang Mulia! Hamba akan membagikan tugasnya!" ujar Han Tianba lalu bergegas pergi meninggalkan ruangan sang pemimpin aliansi aliran hitam.
***
Hutan Tanpa Batas.
"Seperti yang kakak katakan! Tuan Muda telah membalas pesan yang kita kirim dan Tuan Muda menyuruh kita untuk tidak bergerak karena Tuan Muda dengan Tuan Mao An sendiri yang akan memperebutkan harta itu!" ucap Tombak Depan setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh Ling Tian.
"Ya.. Begitulah Tuan Muda kita!" ujar Leluhur Bai Senlu atau Singa Pemabuk.
"Lalu bagaimana dengan pasukan perwakilan tiap klan yang akan memantau Tuan Muda dari jauh?" lanjutnya bertanya.
"Semua sudah siap kak! Kita tinggal menyuruh mereka untuk berangkat sekarang juga!" jawab Tombak Belakang.
"Tentu saja sudah kak!" jawab Tombak Belakang.
"Baiklah.. Mari kita perintahkan mereka untuk segera pergi sekarang! Aku takut akan terlambat dan akan terjadi sesuatu kepada Tuan Muda!" ujar Leluhur Bai Senlu.
Keempat Leluhur Klan Bai itu akhirnya berdiri dari tempat duduknya berniat untuk pergi sekarang juga namun dengan cepat dicegah oleh Tombak Depan.
"Ada apa?" tanya keempat Leluhur dengan serentak.
"Tuan Muda Ling Tian juga mengatakan dalam pesannya untuk kita mengirimkan beberapa puluh orang untuk menjaga Klan Ling dan Kekaisaran Wei yang ada di daratan timur!" ujar Tombak Depan.
"Maksudmu? Mengapa Tuan Muda melakukan hal itu?" tanya Tombak Belakang.
"Itu karena Tuan Muda memiliki firasat bahwa aliansi aliran hitam akan bergerak untuk menguasai seluruh daratan dengan memanfaatkan kekosongan para orang-orang kuat di semua daratan.
__ADS_1
"Baik! Aku akan mengirimkan pasukan elite Klan Bai kita! Tidak! Bukan hanya pasukan elite saja! Tapi aku sendiri juga akan ikut untuk menjaga Klan Ling dan daratan timur!" ujar Singa Pemabuk dengan wajah serius.
***
Daratan Timur, Klan Ling.
Saat ini Klan Ling kedatangan tamu dari Kekaisaran Wei. Tamu itu tidak lain adalah Kaisar Terdahulu, Wei Zhuo.
Wei Zhuo datang dengan niat menanyakan tentang perihal fenomena alam yang terjadi beberapa hari yang lalu dan membuat semua kultivator tertekan.
Sebelumnya Wei Zhuo dan istrinya sedang berkultivasi untuk menerobos ke tingkat yang lebih tinggi lagi, namun karena tekanan yang muncul tiba-tiba dari atas langit membuatnya berhenti berkuktivasi dan pergi meninggalkan istana menuju Klan Ling.
Wei Zhuo saat ini sedang duduk di aula pertemuan Klan Ling dengan Ling We yang sedang menjelaskan perihal mengenai fenomena alam itu kepada Kaisar Terdahulu Kekaisaran Wei itu.
Semenjak Ling We datang dengan kekuatan yang luar biasa kuat dan menikah di kediaman Ling Jun, kini Ling We tampak lebih dewasa dan bermartabat. Entah itu yang dilihat oleh orang lain atau hanya perasaannya saja.
Saat Ling We sedang ditengah-tengah menerangkan apa yang dia ketahui mengenai fenomena alam itu dari buku catatan yang ada di Klan Zhong daratan tengah, tiba-tiba batu penghubung atau batu komunikasi miliknya bergetar tanda ada seseorang telah mengirimkan pesan.
"Maaf, sebentar Yang Mulia! Saudara Ling Tian memberikan pesan kepadaku!" ujar Ling We yang membuat semua orang menjadi serius saat mendengar mana Ling Tian disebutkan.
"Oh.. Tuan Muda Tian? Silakan dilihat dulu Tetua We!" kata Kaisar Terdahulu, Wei Zhuo.
Ling We mengangguk. Dia pun membaca pesan itu dengan seksama dan tampak keseriusan terlihat diwajahnya hingga lima menit pun berlalu. Ling We lalu menatap semua orang dengan wajah serius.
"Pesan apa yang dikirimkan oleh Tian'er nak?" tanya Ling Jun.
Tetua termuda di Klan Ling itu diam untuk sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Ling Jun.
"Saudaraku mengatakan bahwa kita tidak perlu mengirimkan orang untuk ikut serta dalam perebutan harta langit dan bumi itu!.."
"Dia mengatakan bahwa sudah cukup dia dan dua saudaranya yaitu Mao An dan Zhuge Ruxu yang ikut serta!" ujar Ling We.
__ADS_1