
"Baiklah." Jawab Long Yuan.
Setelah beberapa saat, Ling Tian sudah kembali dengan pakaian bersihnya. Wajahnya kini terlihat sangat tampan sekali, lebih tampan dari sebelumnya meski awalnya sudah tampan.
Kulitnya menjadi lebih halus bag kentut disaring! Eh.. Bukan! Maksudnya melebihi seorang wanita namun sangat kuat layaknya baja. Dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai menambah kesan menarik untuk selalu dipandang berlama-lama.
Ling Tian berjalan menghadap Wei Hun dan Long Yuan dengan penuh senyuman. Bagaimana tidak? Kini dirinya sudah mampu menggunakan energi qi yang tentunya sudah sangat lama sekali Ling Tian dambakan.
Ling Tian juga sudah bisa mengunakan cincin penyimpanan hasil rampasan sebelumnya. Huhh.. Benar-benar sudah menjadi pendekar sesungguhnya, fikir Ling Tian.
"Hei bocah! Mengapa kau senyum-senyum sendiri? Apa kau sudah benar-benar gila?" Ucap Long Yuan.
Duaar!
Senyum manis Ling Tian langsung merosot dan hancur berbalik seratus delapan puluh derajat.
"Cih! Suka-sukaku mau senyum, mau menangis, bukan urusanmu!" Jawab Ling Tian acuh.
"Hahaha.."
Naga Biru atau Long Yuan tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi buruk Ling Tian. Dia sangat senang kembali berhasil menggoda Ling Tian.
"Sudahlah Naga Kecil! Oiya Ling Tian, bagaimana rasanya setelah kamu bisa mengalirkan energi qi?" Tanya Wei Hun.
"Hah.. Tentu saja sangat menyenangkan. Emm.. Senior Wei, aku ada sesuatu untuk diberikan kepadamu!" Kata Ling Tian.
"Oh.. Apakah itu?" Penasaran Wei Hun.
__ADS_1
Ling Tian kemudian mengalirkan energi qi pada cincin penyimpanannya dan mengeluarkan sebuah lencana giok. Ling Tian menyerahkan lencana itu kepada Wei Hun.
"Ini senior Wei."
Wei Hun menerima lencana giok itu dengan tenang. Tanpa aba-aba, setelah beberapa detik memegang lencana, tiba-tiba kesadaran Wei Hun ditarik dengan paksa oleh sesuatu.
Wei Hun membuka kedua kelopak matanya. Dia melihat disana-sini hanyalah hamparan padang rumput dan tanaman bunga yang sangat luas namun juga sangat indah. Semilir angin berhembus dengan damai nan menyejukkan. Aura langit dan bumi juga sangat kental bahkan melebihi saat Wei Hun tinggal di Alam Dewa sekalipun.
Didepan Wei Hun terdapat danau kecil dengan gazebo didekatnya. Terlihat sosok pria tua yang sedang duduk manis dan tenang diatas kursi yang ada di gazebo itu.
Kedua mata Wei Hun melotot melihat sosok pria tersebut. Dengan tergopoh-gopoh Wei Hun langsung menghampiri sosok tua. Lalu bersujud tiga kali penuh hikmat dan menundukkan badan serta kepala dengan tanpa paksaan.
"Salam Yang Agung Maha Dewa! Sembah penghormatan dari yang lemah ini untukmu," Ucapnya yang terus menunduk.
"Ya, silakan duduk!" Ucap sosok itu sambil menepuk-nepuk kursi yang ada disampingnya.
Sepenuhnya Wei Hun sadar dengan siapa dirinya saat ini berhadapan. Sosok yang paling agung dan disembah-sembah oleh seluruh makhluk hidup di seluruh alam semesta. Sosok pencipta dari segalanya. Tidak mungkin dia berani duduk sejajar dengan beliau.
"Hmm.. Yasudahlah kalau begitu," Ucap Sang Maha Dewa sambil tersenyum manis.
"Oiya Wei Hun! Apa kamu tahu maksudku menarik kesadaranmu kesini?" Tanyanya.
"Yang rendah ini faham dan siap menjalankan perintah Yang Agung!" Ungkap Wei Hun.
Sang Maha Dewa mengangguk puas kemudian melambaikan tangan dengan santai.
Swuuussshh..
__ADS_1
Satu sosok pemuda tampan muncul dari udara kosong. Terlihat jelas diwajahnya raut kebingungan dengan penuh tanya dimana dirinya saat ini. Kepalanya celingukan kesana kemari. Namun saat melihat dua sosok yang salah satunya adalah sahabat baiknya, dia langsung tercengang melihat Wei Hun berlutut dihadapan pria tua yang duduk santai dikursi. Ya! Pemuda tampan ini adalah Long Yuan.
"Kemarilah Long Yuan!" Ucap pria tua.
Tanpa menunggu persetujuan dari Long Yuan, tubuh Long Yuan bergerak dengan sendirinya. Kakinya melangkah mendekati Wei Hun dan pria tua. Sesampainya dihadapan mereka berdua, Long Yuan masih saja belum faham dengan keadaan. Namun tak lama dirinya terkaget dengan ucapan Wei Hun sahabatnya.
"Naga Kecil! Cepat bersujud!"
Long Yuan yang tidak tahu apa-apa hanya menuruti perkataan Wei Hun.
"Haah.. Long Yuan, kamu sudah besar rupanya!" Ucap pria tua.
"Maksud-" Belum selesai Ling Yuan berkata, Wei Hun sudah memotongnya.
"Yang Agung, mohon maafkan sahabat hamba! Yang rendah ini siap menerima hukuman dari Yang Agung!"
"Saudara Wei! Ap-?" Bingung Long Yuan.
"Diam!" Bentak Wei Hun.
"Sudahlah Wei Hun, tidak apa-apa! Long Yuan, perkenalkan namaku Jibril! Yaahh.. Kalian semua biasanya menyebutku Sang Maha Dewa," Ungkap pria tua itu masih dengan senyuman manisnya.
Mendengar apa yang dikatakan pria tua itu, Long Yuan langsung menjatuhkan kepalanya dilantai dan bersujud didepan pria tua. Long Yuan sangat yakin bahwa yang diucapkan pria tua adalah kebenaran. Melihat ekspresi marah saudaranya saat-saat sebelumnya.
"Salam Yang Agung Maha Dewa! Mohon ampuni hambamu yang hina ini! Hampa siap diberi hukuman apapun meski mengakhiri hidup hamba yang hina ini!" Kata Long Yuan sambil menangis penuh dengan penyesalan. Diahadapannya adalah sosok nomor satu di seluruh semesta, namun dia berani berkata dan bertingkah tidak sopan dihadapannya? Sungguh kesalahan yang tidak pernah termaafkan! Fikir Long Yuan dalam batin terdalamnya.
"Sudahlah lupakan! Aku memanggil kalian untuk memberikan beberapa tugas yang harus kalian laksanakan!"
__ADS_1