
Di aula tamu, suasana menjadi hening saat setelah Bu Liyun atau mantan Ratu Kota Xudong menanggalkan mahkotanya. Bu Liyun menatap Ling Tian dengan lekat.
"T-tuan Muda.." ucapnya ragu.
"Katakanlah!" ucap Ling Tian.
"Bolehkah hamba yang rendah ini meminta suatu permohonan?" tanya Bu Liyun dengan tatapannya yang sangat memohon untuk dikabulkan.
"Ohh.. Apakah itu?" Ling Tian balik bertanya.
"Tolong ampuni suami hamba atau bunuh saja dirinya! Hamba tidak sanggup jika harus terus melihatnya seperti itu!" ucap Bu Liyun dengan sedih.
Ling Tian terdiam untuk sejenak seolah sedang berfikir. Dia menatap Bu Liyun yang tertunduk lesu dan para anggota Klan Situ yang juga demikian.
"Mengampuninya adalah tindakan tidak mungkin bagiku! Karena jika aku tidak memikirkan ada Fraksi Naga Emas yang kukagumi di Kota Xudong ini, maka aku sudah pasti membalikkan kota dan meratakannya menjadi padang pasir tandus setelah apa yang telah dilakukan Situ Mingxin kepada kami berdua! Aku harap kalian juga memahami!" jawab Ling Tian dengan nada tegas.
"Baik Tuan Muda! Terima kasih!" ucap Bu Liyun sambil berlutut lalu diikuti oleh seluruh anggota Klan Situ yang ada di ruangan tersebut.
Ling Tian hanya mengangguk lalu memberikan kode kepada mereka untuk bangun. Dia lalu melirik kearah Mao An untuk mengeksekusi Situ Mingxin.
"Lakukan dengan menghancurkan seluruh organ dalamnya! Atau cekik saja dia sampai mati!" ucap Ling Tian kepada Mao An melalui telepati.
"Baik Tuan Muda!" jawab Mao An mengangguk.
Mao An pergi meninggalkan ruangan dengan cepat lalu sekitar lima menit kemudian dia kembali dengan membawa mayat dari Situ Mingxin yang bagian kepalanya terlihat sedikit membiru. Tampak raut kesedihan dan penyesalan tercetak jelas dalam ekspresi terakhirnya sebelum mati.
Istri dan para anggota Klan Situ segera menghampiri jasad tersebut dan menangisinya.
"Kalian diamlah! Aku tetap akan memberikan kalian waktu dan kesempatan untuk memakamkan Situ Mingxin dan menangisinya! Namun sekarang belum waktunya! Kalian para anggota Klan Situ dan Bu Liyun, bersumpahlah atas nama langit dan bumi untuk membantu Tetua Liong He membangun Kota Xudong menjadi lebih baik!" ucap Ling Tian.
Bu Liyun dan anggota Klan Situ yang tidak lain adalah para Tetua Klan tidak menyangka bahwa Ling Tian akan meminta mereka bersumpah terlebih itu adalah mengatas namakan langit dan bumi.
Semua orang tahu bahwa sumpah yang membawa nama langit dan bumi atau Sang Maha Dewa adalah sumpah mutlak yang tidak boleh dilanggar sedikit pun. Jika seseorang berani melanggar maka konsekuensinya adalah mati dengan cara terus disambari petir kesengsaraan yang akan mengejarnya dimanapun orang itu berada sampai akhirnya sang pelaku berubah menjadi abu.
Setelah keheningan yang terjadi beberapa saat, satu persatu anggota Klan Situ melakukan sumpah atas nama langit dan bumi untuk menjadi pembantu Raja Kota Xudong yang baru.
Kilatan petir kesengsaraan diatas langit terus terdengar menggelegar tanda bahwa sumpah mereka sudah didengar oleh langit.
"Baiklah.. Sekarang giliranmu Tetua Liong!" ucap Ling Tian sambil melihat kearah Tetua Liong He.
__ADS_1
"T-tuan Muda Ling, ini.." ucap Tetua Liong kehabisan kata.
"Tetua Liong! Bersumpahlah atas nama langit dan bumi atau Sang Maha Dewa bahwa kamu akan menjadi Raja Kota yang baik dan adil serta membangun Kota Xudong menjadi lebih makmur lagi!" ucap Ling Tian memberi perintah tegas.
Tetua Liong He hanya menggelengkan kepalanya melihat kegigihan pemuda bertopeng yang sangat kuat itu. Sementara Liong Zi menjadi tegang karena pamannya hanya diam tidak menanggapi perintah pemuda bertopeng atau Ling Tian.
"Paman.." ucap Liong Zi pelan.
"Baik!" jawab Tetua Liong He.
Tetua Liong He berdiri dari tempat duduknya dan berlutut dihadapan Ling Tian.
"Hormat kepada Tuan Muda Ling! Aku Liong He dari Klan Liong bersumpah atas nama Sang Maha Dewa bahwa aku akan menjadi Raja Kota Xudong yang baru dan memimpinnya dengan baik dan adil!" ucapnya dengan tegas dan mantap.
Hening! Suasana di aula tamu menjadi sangat hening! Semua orang tidak mengira bahwa seorang seperti Tetua Liong He akan melakukan sebuah sumpah tabu yang mana para dewa sekalipun tidak berani mengucapkannya. Sementara Ling Tian hanya menggelengkan kepala melihat tindakan Tetua Liong He.
.
.
Diatas langit, awan merah seperti darah dengan petir yang terus terdengar menyambar tiba-tiba muncul diatas Kota Xudong dan mengejutkan semua penduduknya.
"Fenomena apa lagi ini? Sebelumnya terjadi petir saling bersahutan yang terus bergema, lalu saat ini.." ucap salah satu penduduk Kota Xudong menjeda kata-katanya sambil menatap langit Kota Xudong yang sangat mengerikan dan mencekam.
"Mungkinkah.." ucap orang sebelumnya dengan tubuh yang bergidik.
"Mungkin apa?"
"Mungkin seseorang telah melakukan sumpah tabu itu!"
"Maksud saudara?"
"Benar! Seseorang telah bersumpah mengatas namakan Sang Maha Dewa dalam sumpahnya!"
"Apaaa!" orang itu sangat terkejut lalu seluruh tubuhnya ikut menggigil.
"I-itu adalah larangan keras yang bersifat mutlak! Bahkan jika itu para dewa sekalipun!"
"Benar! Dan seseorang di Kota Xudong ini berani bersumpah atas nama itu!"
__ADS_1
Semua orang di Kota Xudong terus membahas fenomena aneh dengan awan berwarna seperti darah dengan suara petir yang terus terdengar yang terjadi pada kota mereka.
Sementara di aula tamu, Ling Tian hanya menatap lekat Tetua Liong He yang masih berlutut dihadapannya dan membiarkannya begitu saja.
Orang-orang dari Klan Situ dibuat keheranan akan hal itu namun tiba-tiba mereka dikejutkan dengan ledakan petir yang maha dahsyat dengan nyala merah darah yang sangat terang.
Jdeeeerrr...
Setelah itu para anggota Klan Situ dapat melihat ada seberkas sinar yang muncul dari langit dan menembak kearah Tetua Liong He dan Liong Zi.
"Seseorang yang berani mengucapkan sumpah tabu yang mengatas namakan Sang Maha Dewa akan diikuti oleh awan merah darah dengan petir yang terus menyambar dan dirinya ditandai. Begitu pula dengan seluruh anggota klannya.."
"Jika yang bersangkutan melanggar janjinya, maka seluruh orang yang ditandai akan mendapatkan ganjaran berupa sambaran petir yang akan mengubahnya menjadi abu dan bencana itu juga dapat mengenai orang-orang disekitarnya!.."
"Mulai saat ini Kota Xudong harus membiasakan diri dengan suasana yang seperti ini! Dengan langit berwarna merah dan petir yang terus menyambar!" tutur Ling Tian menjelaskan.
"Baiklah Tetua Liong He! Dengan ini aku Ling Tian menyaksikan sumpahmu itu! Jadilah Raja yang baik dan makmurkan semua penduduknya!" lanjut Ling Tian sambil mengeluarkan sebuah mahkota dari cincin penyimpanan Situ Mingxin yang sebelumnya dia ambil dan memasangkannya diatas kepala Tetua Liong He.
"Berdiri dan tegapkanlah badanmu!" perintah Ling Tian.
"Baik Tuan Muda!" jawab Tetua Liong He.
Setelah dirinya berdiri, semua orang lantas menjatuhkan diri dan berlutut dengan hormat.
"Hormat kepada Yang Mulia Raja Liong He! Kami siap melayani Yang Mulia!" seru semua orang bersamaan.
"Berdirilah! Hormat kalian aku terima!" ucap Raja Liong He dengan berwibawa.
"Terima kasih Yang Mulia!" ucap semua orang.
Ling Tian dan Mao An saling mengangguk lalu berdiri dari tempat duduk dan berjalan mendekati Raja Liong He.
"Yang Mulia Raja! Tolong Yang Mulia mengirimkan segel tanda darah disini sebagai tanda perdamaian antara Kota Xudong dan Kota Yunzun milik para beast serta siluman!" ujar Ling Tian sambil menyodorkan dua gulungan kulit yang berupa surat perjanjian.
"Baik Tuan Muda!" jawab Raja Liong He tanpa ragu memberikan segel dan kekuatan darahnya.
"Simpanlah yang satu! Aku akan memberikan yang satunya lagi kepada dua pemimpin Kota Yunzun! Oiya, ini sebagai oleh-oleh dan ucapan selamat dari kami karena telah menjadi Raja Kota baru!" ucap Ling Tian sambil melempar satu cincin penyimpanan.
"Baik Tuan Muda! Terima kasih!" sambil menangkap pemberian Ling Tian dan meraih satu gulungan lalu menyimpannya didalam cincin penyimpanan.
__ADS_1
Ling Tian mengangguk. Dia juga menyimpan satu gulungan kulit beserta telur dari burung Phoenix Ilahi yang sejak awal berada diatas meja.
"Baiklah.. Jika sudah selesai semuanya, maka kami berdua pergi dulu!" ucap Ling Tian sambil melihat Mao An lalu tiba-tiba keduanya menghilang bersamaan.