Ling Tian

Ling Tian
Pertarungan Mao An


__ADS_3

"Keparat! Mereka dan kamu adalah buruan kami! Maka matilah!" teriak sang komandan lalu bergerak untuk menyerang Mao An.


"Sangat tidak sabaran!" kata Mao An sambil tersenyum.


Mao An dan sang komandan dari manusia primitif itu akhirnya bertarung dengan sangat sengit mengejutkan kedua belah pihak yang sedang bertarung sebelumnya. Bahkan pertarungan dari Leluhur Xiao Chen dan Leluhur Song Mu harus terhenti akibat efek dari pertempuran Mao An dan sang komandan.


"Siapa pemuda itu? Dia sangatlah kuat!" tanya Leluhur Xiao Chen kepada Leluhur Song Mu yang sudah ada didekatnya. Namun dia tetap bertanya melalui telepati.


"Aku tidak tahu! Tapi mungkin kita bisa bekerja sama dengannya untuk membunuh orang-orang primitif yang sangat merepotkan ini!" jawab Leluhur Song Mu.


"Benar katamu! Kita bisa meminta bantuan kepada pemuda itu untuk sementara dengan membagikan pusaka-pusaka yang mereka miliki!" ucap Leluhur Xiao Chen yang mengetahui bahwa senjata yang dipegang oleh orang-orang primitif itu adalah senjata tingkat tinggi yang memiliki kualitas sama dengan yang mereka miliki.


Mereka berdua tidak mengetahui bahwa pemuda yang ingin diajak bekerja sama juga menargetkan mereka untuk dibunuh.


.


.


Mao An tersenyum menyeringai saat ternyata kekuatan aneh berwarna hitam dan putih milik komandan pasukan manusia primitif sangatlah kuat. Namun karena dia juga memiliki fisik yang luar biasa kuat karena ditempa paksa saat itu meski tidak sepadan dengan milik Ling Tian, Mao An dapat mengimbangi hampir dua ranah diatasnya.


Ekspresi lain terlihat dari wajah komandan manusia primitif itu, dia terlihat sangat terkejut saat mendapati bahwa pria muda lawannya ini dapat mengimbangi atau bahkan membuatnya dipaksa dalam posisi bertahan.


Sang komandan manusia primitif juga terkejut dengan senjata pusaka berupa tombak yang dipegang oleh musuh ternyata sama kuatnya dengan pedang miliknya.


'Sial! Siapa sebenarnya pemuda ini? Namun dari energi Qi yang keluar darinya, dia bukanlah manusia! Itu artinya dia adalah Ras Beast!' batin sang komandan sambil terus menebaskan pedangnya untuk memblokir serangan tusukan dari tombak Mao An.

__ADS_1


Trank!


Bhush...


Ledakan energi berwarna hitam putih menyebar ke segala arah membuat area sekitar menjadi terguncang.


"Hoo.. Kau sangat kuat ternyata! Sebagai bayaran karena kamu telah membuatku sedikit sibuk, maka kau harus memberikan pedangmu itu setelah selesai bertarung! Hehehe.." kata Mao An sambil tersenyum menjengkelkan.


Sang komandan hanya diam saja. Dia tidak ingin terprovokasi oleh ucapan Mao An yang sangat tidak berdasar itu. Memangnya dia sedang belajar bertarung dan berguru dengan Mao An sehingga harus membayar setelah ini selesai? Sial! Mao An memang sangat tidak tahu malu.


"Mengapa kau hanya diam manusia aneh? Oh.. Tapi aku baru ingat bahwa diam itu tandanya iya! Maka terima kasih atas persetujuanmu itu! Haha!" ucap Mao An lagi sembari bergerak lagi menyerang komandan manusia primitif.


Mao An mengayunkan tombaknya untuk memberikan tusukan kepada komandan manusia primitif. Melihat lawannya telah bergerak untuk melukainya, sang komandan manusia primitif tentulah tidak akan hanya tinggal diam dan pasrah menerima tubuhnya dilukai begitu saja. Dia juga bergerak mengayunkan pedangnya untuk menangkis laju tombak Mao An.


Trank!


Mao An telah memahami apa itu tombak yang sesungguhnya. Dia juga sudah memahami niat tombak. Dari pemahaman yang dimengerti oleh Mao An, bahwa sebenarnya tombak adalah penguasa tertinggi dari seluruh senjata. Jika pedang adalah raja dari sebuah senjata, maka tombak adalah kaisarnya.


Namun hal itu kembali kepada sang pengguna. Jika pengguna pedang lebih hebat dalam memahami pedangnya daripada pengguna tombak, maka pengguna pedang akan lebih unggul daripada pengguna tombak. Sebagai contoh adalah Ling Tian dan Mao An. Mao An tidak mungkin bisa mengalahkan Ling Tian sebab bocah bau itu sangat luar biasa dalam memahami pedangnya, bahkan sampai pemahaman jiwa pedan dan tubuh pedang.


Karena tombak memiliki kepanjangan yang lebih daripada pedang komandan manusia primitif, maka Mao An sangat tenang menghadapi musuh yang memiliki kekuatan lebih tinggi daripadanya. Terlebih pemahaman Mao An tentang tombak lebih unggul daripada pemahaman komandan manusia primitif tentang pedangnya.


Trank! Trank!


'Sial! Orang ini sangat hebat dalam bertombak!' gerutu komandan manusia primitif dalam hatinya.

__ADS_1


Dia terus mengayunkan pedang pusaka tingkat merahnya itu untuk memblokir setiap serangan tusukan atau sabetan dari tombak milik Mao An. Akan beberapa dari serangan yang dilancarkan oleh lawannya tetap saja yang terlepas lalu mengenai tubuhnya dan membuat dia terluka.


Komandan manusia primitif itu mundur beberapa langkah untuk jaga jarak dari Mao An.


"Hehehe.. Bagaimana rasa dari tombakku ini manusia aneh?" tanya Mao An mengejek komandan manusia primitif.


Wajah sang komandan manusia primitif berubah menjadi sangat suram. Hatinya jengkel dengan ejekan yang dilontarkan oleh Mao An.


"Keparat kau beast sialan!" teriak sang komandan manusia primitif sembari melesat dengan cepat menuju ke arah Mao An untuk sesegera mungkin membunuh ras beast yang sangat menjengkelkan itu.


Swush...


"Hohoo.. Mulai marah ternyata!" kata Mao An sambil tersenyum mengejek kemudian bergerak untuk menghindar dari setiap serangan yang diberikan oleh komandan manusia primitif.


Hal itu semakin membuat sang komandan menjadi lebih jengkel dan marah kepada Mao An. Musuhnya terus saja menghindar dan melompat-lompat seperti kodok saja tanpa ada satu serangan pun yang dia berikan mengenai tubuhnya.


Mao An yang terus saja menghindari serangan itu memang sengaja melakukannya untuk membuat manusia primitif itu semakin marah dan tidak terkendali. Sehingga nanti saat dia mulai serius untuk melawan maka dia tidak perlu repot-repot atau berlama-lama untuk mengalahkannya.


Sebab dalam sebuah pertarungan jika salah satu dari kedua kubu ada yang bertarung dengan kemarahan atau emosi yang menguasai, sudah bisa dipastikan bahwa pemenang pertarungan adalah kubu yang tetap tenang dan tidak terbawa emosi.


Mao An mengingat pertarungannya dengan Ling Tian pertama kali bertemu di Sekte Macan Hitam di Kota Zhongjian daratan timur, yang mana kekuatannya saat itu berada jauh di atas Ling Tian. Namun dia yang telah dikuasai oleh amarah justru malah menjadi mainan dari orang yang kini telah menjadi Tuan Mudanya itu.


Setelah hampir 15 menit bertarung hanya menggunakan jurus lompatan kodok untuk selalu menghindar, akhirnya Mao An pun sedikit merasa bosan dan ingin segera mengalahkan manusia primitif yang menjadi lawannya itu.


Mao An menjaga jarak antara dirinya dan sang komandan dari manusia primitif untuk mempersiapkan serangan kejut yang akan mengalahkan lawannya.

__ADS_1


"Haiih.. Gerakanmu sangatlah lambat seperti keong! Padahal sebelumnya aku telah berbaik hati untuk tidak menyerang balik dan hanya melakukan gerakan menghindar saja, namun kau malah begitu lelet sekali! Maka sekarang giliranku untuk menyerang!" kata Mao An lalu dengan gerakan sangat cepat dirinya melesat menuju kearah sang komandan manusia primitif untuk memberikan serangan balik.


Trank! Trank!


__ADS_2