
Ditempat lain, Ling Tian dengan ketiga orang lain sedang duduk-duduk disebuah kedai sederhana sambil berbincang-bincang santai. Mereka seolah tidak peduli dengan keadaan yang sedang kacau. Ketiga orang itu tidak lain adalah Zhuge Ruxu, Mao An dan Bi Si'er yang memutuskan untuk ikut dengan Mao An setelah penginapan tempat kerjanya dihancurkan oleh sekelompok orang.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Mao An yang sudah tahu bahwa kekacauan ini disebabkan oleh pemuda dihadapannya.
Sebenarnya dia tidak habis fikir dan bingung serta penasaran dengan bagaimana cara Ling Tian mengambil seluruh harta bahkan cincin penyimpanan yang jelas-jelas sedang dipakai oleh pemiliknya tanpa mereka sadari.
"Kita lihat dulu apa yang akan terjadi selanjutnya! Aku dengar Pangeran Bai Wutian atau putra ketiga dari Patriark Klan Bai yang misterius itu juga sedang ada di kota ini! Aku ingin tahu apa yang akan dilakukannya!" jawab Ling Tian dengan santai lalu menyesap teh hangatnya.
"Oiya, Bi Si'er bukan?" tanya Ling Tian tiba-tiba sambil menatap kearah gadis manis disamping Mao An.
"Saya Tuan Muda!" jawab Bi Si'er mengangguk.
"Aku ingin tahu identitas aslimu! Tentang siapa kamu? Darimana kamu? Dan apakah benar kamu akan mengikuti kami?" tanya Ling Tian berturut-turut dengan menatap lekat Bi Si'er.
Dia cukup penasaran akan hal itu, karena setahunya dari ingatan yang diterima daei menyerap esensi darah dan ingatan She Danfan, dia tidak pernah tahu ada nama Klan Bi di Hutan Tanpa Batas.
Wajah Mao An menjadi masam mendengar hujan pertanyaan dari Ling Tian kepada kekasih barunya itu. Sementara Bi Si'er sendiri hanya tersenyum lalu mengangguk. Namun sebenarnya dia sangat gugup saat dilihat oleh Ling Tian dengan tatapan lekat.
Bi Si'er merasa bahwa Ling Tian seolah bisa membaca apa yang ada difikirannya sekarang.
"Maafkan saya sebelumnya Tuan Muda Tian! Sebenarnya.." ucap gadis itu dengan wajah menunduk. Dia agak ragu untuk melanjutkan kata-katanya.
"Si'er? Ada apa?" tanya Mao An aneh.
"Tidak Gege An! Sebenarnya Nama margaku bukanlah Bi! Tapi Bai! Bai Si'er!" jawab gadis itu dengan lembut.
"Apaa!" Zhuge Ruxu dan Mao An terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu. Bai? Bukankah itu Klan Penguasa Hutan Tanpa Batas?
__ADS_1
Sementara untuk Ling Tian, dia hanya bersikap biasa saja. Tidak terlalu bersikap berlebihan karena memang dia sudah mengira akan hal itu.
"Maksudmu?" tanya Mao An tidak percaya.
"Namaku Bai Si'er! Anak Kelima dari Patriark Bai sekarang! Mungkin kedatangan kakak ketigaku Bai Wutian juga karena telah mengetahui keberadaanku di Kota Xun ini!" jawab Bai Si'er menjelaskan.
"Kamu.. Kamu berarti.. L-lalu? Lalu m-mengapa T-tuan Put-.." ucapan gagap Mao An dipotong.
"Panggil saja Si'er seperti sebelumnya Gege An! Aku tidak suka dengan panggilan itu! Dan juga karena panggilan itulah aku pergi meninggalkan rumah!" ucap Bai Si'er.
"B-baik Si'er.." ucap Mao An masih tidak percaya bahwa kekasihnya adalah orang yang berlatar belakang tidak biasa.
"Terima kasih Gege An!" ujar Bai Si'er sambil tersenyum lembut kepada Mao An yang dibalas anggukan oleh Mao An.
"Hah.. Baiklah.. Jadi kamu adalah putri dari Penguasa Hutan Tanpa Batas! Terima kasih atas kejujuranmu saudari Si'er! Lalu apakah aku boleh menanyakan sesuatu kepadamu?" ujar Ling Tian.
"Tentu saja saudara Tian!" kata Bai Si'er.
"Tertutup?" Bai Si'er mengerutkan kening.
"Ada apa? Bukankah itu benar adanya?" tanya Ling Tian heran.
"Setahuku, Klan Bai tidak pernah tertutup! Klan Bai bahkan selalu aktif untuk menjaga keamanan di Hutan Tanpa Batas! Hanya saja mungkin orang-orang dari luar Klan Bai terlalu segan dengan kami sehingga tidak berani mendekat dalam waktu lama lalu setelahnya mereka tidak tahu apa yang kami lakukan dan menganggap kami Klan Bai sangat tertutup!" jawab Bai Si'er menerangkan.
"Jadi begitu.." ujar Ling Tian, Zhuge Ruxu dan Mao An bersamaan sambil mengangguk-anggukkan kepala mereka.
"Tuan Muda! Mengapa Tuan Muda menanyakan hal seperti itu?" tanya Bai Si'er penasaran.
__ADS_1
"Ah.. Tidak apa-apa! Aku hanya penasaran saja!" jawab Ling Tian dengan tersenyum ramah.
Bai Si'er mengangguk. Dia memang tidak tahu mengenai klannya yang dianggap oleh klan lain sebagai klan penguasa yang tertutup.
"Baiklah.. Kalian nikmati saja dulu makanan dan minuman kalian! Aku ingin melihat-lihat suasana diluar dulu! Dan untukmu saudara Mao An! Jaga betul-betul saudari Si'er!" ujar Ling Tian sambil berdiri dan tersenyum kepada pasangan baru itu.
Wajah Mao An dan Bai Si'er sedikit memerah karena malu. Mereka berdua cukup lega dengan sikap Ling Tian yang menerima Bai Si'er yang telah berbohong akan identitas aslinya.
Padahal biasanya Ling Tian adalah orang yang paling tidak suka dibohongi. Namun karena alasan dari Bai Si'er dan khususnya untuk kebahagiaan saudaranya, Mao An, Ling Tian haruslah bersikap mengerti dan memaafkan.
Ling Tian keluar dari kedai itu dengan berjalan santai. Dia dapat melihat suasana diluar sangatlah ricuh. Orang-orang yang protes dan berusaha menghancurkan bangunan milik Klan Xun benar-benar merubah suasana menjadi sangat kacau.
Ling Tian berjalan sambil terus selama beberapa jam melihat sekitarnya sampai akhirnya dia berada tidak jauh dari pusat Kota Xun atau Istana Xun. Dia menggelengkan kepalanya namun bibirnya terlihat tersenyum menyeringai.
Dengan topeng separuh wajah dan jubah hitam yang dikenakannya, tidak ada satu orang pun yang mengenal dirinya. Ling Tian cukup puas dengan pelajaran yang dia berikan untuk Klan Xun yang begitu tamak dan menjengkelkan jika masalah sumberdaya dan harta.
Disaat Ling Tian hendak berbalik dan kembali ke kedai tempat kedua saudaranya berada, tiba-tiba sebuah teriakan yang sangat nyaring dari arah belakangnya menggema disertai dengan terpaan dari aura Ranah Kaisar Tahap Tinggi menyebar kesegala arah.
"Tuan Muda Bai Wutian telah datang! Kalian semua harap diam!" ucap suara itu dengan lantang.
Seketika semua orang menjadi diam dan melihat kearah sumber suara itu datang. Semua orang dapat melihat seorang pemuda tampan dengan pengawal dua singa putih raksasa melayang diatas langit.
Bruukkkk!
Semua orang langsung menjatuhkan dirinya berlutut dengan hormat kepada Pangeran Ketiga Klan Bai atau Tuan Muda Bai Wutian sambil menundukkan pandangan kecuali satu orang saja.
Dia adalah seorang pemuda bertopeng separuh wajah dengan berpakaian serba hitam. Pemuda itu tidak lain adalah Ling Tian yang justru menatap keatas langit melihat Tuan Muda dari Klan Bai itu dengan lekat.
__ADS_1
Sementara untuk Bai Wutian sendiri, dia mengerutkan kening melihat pemuda bertopeng dan berpakaian serba hitam yang berdiri dengan tegap itu lalu tak lama dia tersenyum.
"Menarik!" ucap Tuan Muda Bai Wutian lirih.