Ling Tian

Ling Tian
Menetaskan Telur


__ADS_3

Melihat dan mendengar apa yang diucapkan Wei Yuji, semua orang yang ada disana termasuk para pelayan di penginapan bulan berbunga langsung mengikutinya.


"Salam Leluhur!" ucap mereka dengan serentak.


Long Yuan yang menyaksikan kejadian didepan matanya itu hanya menghela nafas panjang. Beginilah yang terjadi jika dia menunjukkan identitas aslinya. Maka dia lebih senang untuk bersikap low profile daripada harus seperti ini.


"Hah.. Sudahlah aku menerima salam penghormatan kalian! Bangunlah!" ucap Long Yuan dengan lemas.


Sementara Ling Tian yang melihat Ling Yuan tidak berdaya hanya tersenyum penuh arti dan terkekeh kecil. Seolah dia juga mengatakan 'salam leluhur tua bangka bau tanah' kepada Long Yuan.


'Sialan kau bocah brengs*k!' gumam Long Yuan yang melirik Ling Tian sedang menahan tawa.


"Sudahlah.. Kalian bisa pergi sekarang! Aku dan saudaraku Ling Tian tidak mau diganggu kalian! Dan lagi, kau Wei Yuji! Hukum para badut penjaga gerbang kota itu! Mereka dengan seenaknya korupsi dan hendak memeras kami! Masa iya hanya masuk kekota disuruh bayar dua koin emas?" ungkap Long Yuan sambil menunjuk dua prajurit penjaga gerbang yang sudah ia kenali praupannya.


Wei Yuji mendadak menghitam wajahnya karena marah. Dia memandang prajurit penjaga yang ditunjuk Long Yuan yang tak lain adalah orang yang melaporkan sebelumnya.


"Apakah benar yang dikatakan Leluhur benar?" tanya Wei Yuji dengan berteriak.


"A-ampuni Ka-mi Tuan Kota! Kami m-mengaku s-sa-lah!" jawab si prajurit ketakutan.


"Bajingan! Prajurit! Seret dia ke penjara bawah tanah! Siksa mereka dan orang-orang yang ikut terlibat!" titah Wei Yuji kepada para prajurit lainnya.


"Siap Tuan Kota!" jawab serentak prajurit.


Dua prajurit penjaga yang korup segera diseret paksa untuk dijeboskan dipenjara bawah tanah dan menerima siksaan akibat perbuatannya.


"Maafkan kesalahan prajurit hamba yang kecil ini Leluhur," ujar Wei Yuji sambil kembali menundukkan kepala.


"Sudah-sudah! Huss.. Hussh.. Pergi sana! Aku dan saudaraku lagi pingin tenang disini!" usir Long Yuan kepada Wei Yuji dan prajurit kota seperti mengusir ayam pengganggu. Tidak! Kata Ling Tian sebelumnya adalah tikus, bukan ayam!


"Baik Leluhur! Jika Leluhur sudi berkunjung ke istana kota, maka kami dengan senang hati akan menyambutnya nanti!" ujar Wei Yuji sembari meletakkan lencana Long Yuan diatas meja.


"Ya, nanti akan aku fikirkan lagi!" jawab Long Yuan asal.

__ADS_1


Setelah kepergian Wei Yuji dan para pasukannya juga para pelayan yang sebelumnya ikut berlutut, Ling Tian langsung tertawa lepas karena sudah menahannya sejak tadi.


"Hahaha.. Leluhur Tua Bangka, maafkan aku.." candanya kepada Long Yuan.


"Sialan! Diamlah! Aku tidak setua itu! Aku masih muda dan tampan!" geram Long Yuan.


"Iya.. Muda dan tamvaan Leluhur! Hahaha.." Ling Tian semakin menjadi-jadi dan terus mengejek Long Yuan dengan menekankan kata 'Leluhur'.


Tck! Saudaranya leluhur bukan berarti juga leluhur pula? Sadar Ling Tian!


Long Yuan mendengus kesal dan langsung mengambil lencananya dan salah satu kunci kamar lalu beranjak pergi.


"Eh.. Eh.. Udah tua ngambekkan pula! Hahaha.." Ling Tian terus menertertawakan Long Yuan hingga hilanglah sosok Long Yuan sebab menaiki tangga dan menuju lantai teratas dimana kamarnya berada.


"Haahh.. Aku tidak menyangka akan sebahagia ini liburanku kali ini. Hehehe.. Ternyata tertawa diatas penderitaan orang lain cukup membahagiakan juga.. Jhaha.. Long Yuaan Long Yuaan." Ling Tian berucap pelan sambil menggelengkankan kepalanya.


Setelah itu Ling Tian juga beranjak dari meja makan. Dia menaiki tangga dan menuju kamar yang sudah tertera nomornya dikunci penginapan.


'Kamar nomor dua? Apakah cacing kecil itu dikamar satu atau tiga kira-kira?' gumam Ling Tian masih dengan senyumnya melihat nomor dikunci kamarnya.


"Ais.. Apa yang akan aku lakukan sekarang?" bingungnya.


"Oowh.. Mengapa aku tidak mencoba menetaskan telur dari Harimau Langit?" tanyanya pada diri sendiri.


"Baiklah.. Aku akan mencobanya!" jawab Ling Tian sendiri pula.


Hadeeh! Macam orang gila saja! Bertanya sendiri lalu jawab sendiri!


Ling Tian menelepati Long Yuan yang ternyata berada dikamar nomor tiga, dia menanyakan kepadanya apakah hendak ikut kedunia jiwa atau tidak. Tapi Long Yuan dengan malas menjawab menolak karena alasan mengantuk. Sungguh alasan yang tidak bisa diterima akal! Seorang kultivator tingkat tinggi mengantuk? Hanya orang bodoh yang mempercayainya.


Akan tetapi meskipun begitu Ling Tian tidak mempermasalahkannya. Dia hanya menggelengkan kepala kemudian membuat array pertahanan melingkupi kamarnya agar tak ada yang bisa masuk.


Zhuung!

__ADS_1


Array berhasil dibuat dan Ling Tian segera membuka gerbang dunia jiwa dan memasukinya.


Zheep!


Ling Tian lenyap seketika dari kamar penginapan bulan berbunga.


***


Sementara itu didunia jiwa, tampak seorang wanita tua yang sedang dengan asyiknya merawati buah-buahan abadi milik Ling Tian. Benar! Wanita tua itu adalah Zhuge Ruxu! Dia sangat senang bisa terbebas dari aura kematian dan sekarang menjadi pelayan orang yang sudah seharusnya dia layani.


Zhuge Ruxu awalnya sangat terkejut saat mendapati sebuah istana klasik yang sangat megah dengan tanaman-tanaman buah abadi disekitarnya. Namun saat mengingat Ling Tian tuannya saat ini sudah memiliki dunia jiwa yang konon katanya hanya dimiliki dewa maka dia langsung menepis keterkejutannya.


Ling Tian sendiri sudah memberitahukan keoadanya bahwa menyirami pohon buah-buahan abadinya tidak boleh asal waktu. Itu karena jika Zhuge Ruxu menyirami tanpa memperhatikan waktu maka ditakutkan formasi yang mempercepat waktu di kebun buah abadinya aktif dan Zhuge Ruxu terkena dampaknya alias menjadi tua secara cepat.


Saat Zhuge Ruxu sedang asyik-asyiknya menyirami pohon bodhi tiba-tiba dia dikejutkan dengan celah spasial yang terbentuk diatas istana. Namun keterkejutannya tak berlangsung lama karena dia tahu apa yang terjadi selanjutnya.


Pelayan sekaligus tukang kebun Ling Tian berjalan menghampiri istana. Dengan wajah penuh senyuman tulus, meski tetap saja buruk karena separuh wajahnya hancur, dia tetap melakukannya.


Zhepp!


"Selamat datang Tuan Muda Ling!" ucap Zhuge Ruxu.


"Iya, terima kasih sambutannya Ruxu!" jawab Ling Tian yang sudah tidak ragu memanggil Zhuge Ruxu dengan namanya langsung.


"Apa kabar Tuan Muda baik-baik saja?" Zhuge Ruxu bertanya.


"Aku baik dan sehat!" jawab Ling Tian.


"Apakah ada yang hendak lakukan disini Tuan Muda?" tanya Zhuge Ruxu.


"Tentu! Tolong kau ambilkan batu yang mempunyai aura kehidupan digudang penyimpanan istana! Bawalah kebelakang istana! Aku ingin melakukan sesuatu," perintah Ling Tian.


"Ruxu dengan senang hati melaksanakan perintah Tuan Muda Ling!" jawab Zhuge Ruxu dengan pelan namun tegas.

__ADS_1


"Iya. Aku ingin melihat kebun buahku dulu!" kata Ling Tian.


"Silakan Tuan Muda!"


__ADS_2