Ling Tian

Ling Tian
Lihatlah Ayah!


__ADS_3

"B-baik!" sahut Gu Mei.


Gu Mei dengan terburu-buru naik ke arena pertempuran dan memberikan penghormatan kepada guru barunya.


"Gu Mei memberi hormat kepada guru!" ucap Gu Mei sambil bersujud tiga kali.


"Bagus! Aku harap kamu berlatih dengan baik nantinya!" kata Long Yuan dengan ekspresi sok berwibawa.


Ling Tian dan para saudaranya yang lain hanya bisa menggelengkan kepala dengan perut sedikit mual. Ekspresi Long Yuan tidak sesuai dengan kepribadiannya sehari-hari. Yang biasanya bersifat konyol dan koplak, sekarang justru malah seperti orang yang berwibawa.


.


.


Sementara para peserta turnamen lain hanya bisa menelan ludah pahit karena iri ditengah sorak-sorai penonton yang bergemuruh. Mereka sangat menyesali diri mereka sendiri yang begitu lemah dan tidak rajin berlatih untuk menjadi kuat.


"Sial! Aku sangat menyesal karena waktu itu terlalu bermalas-malasan untuk berlatih! Sehingga tidak terpilih menjadi murid para senior itu!" keluh salah satu peserta.


"Benar sekali! Baru kali ini aku merasakan sakitnya buah dari kata maalas!" sahut yang lainnya.


"Hasil memang tidak menghianati usaha! Sepertinya kata-kata ini sangat cocok untuk mereka yang beruntung menjadi murid para senior di arena!"


"Hahhh.. Sudahlah.. Tidak ada gunanya kita menyesalinya sekarang! Penyesalan memang selalu datang diakhir!"


Dijajaran kursi para Patriark dan Tetua Klan. Para Patriark dan Tetua Klan yang generasi mudanya menjadi juara hatinya sangatlah senang. Khususnya Leluhur dan para Tetua Klan Gu yang saat ini sedang memasang wajah sumringah.


Bagaimana tidak? Nona muda dari klan mereka ternyata mampu menarik perhatian sosok kuat dan hebat untuk dijadikan murid! Klan Gu pasti akan keshawaban berkah tersendiri nantinya. Meskipun yang nerekrutnya adalah orang yang pernah memeras habis harta Klan Gu waktu itu, namun kini mereka sama sekali tidak mempermasalahkannya.


"Selamat Leluhur Gu! Klan Gu telah mendapatkan keberuntungan besar kali ini!" ucap salah satu Tetua Klan.


"Hahaha.. Terima kasih saudaraku! Klan Gu memang sedang kejatuhan keberuntungan kali ini!" ujar Leluhur Gu dengan tertawa lantang.


.

__ADS_1


.


"Baiklah, jika sudah.. Juara ketiga diraih oleh Hong Lie. Kepada saudara Mao An dipersilahkan untuk memberikan hadiah dan menyampaikan maksudnya!" ucap Ling Tian.


Mao An pun maju mengambil hadiah yang ada diatas meja formasi.


"Silakan diterima Hong Lie. Aku Mao An! Bersediakah kamu menjadi muridku?" tanya Mao An.


Setelah menerima hadiah, Hong Lie cepat-cepat menerima tawaran dan memberikan penghormatan kepada guru barunya.


"Hong Lie memberikan hormat kepada guru!" ujar Hong Lie sambil memberikan penghormatan yang sama seperti Xuan Ji dan Gu Mei.


"Baik! Sekarang aku adalah gurumu! Bangunlah! Jangan pernah mengecewakanku!" ujar Mao An.


"Baik guru! Murid ini berjanji tidak akan mengecewakan guru dan mematuhi perintah!" kata Hong Lie.


"Sangat bagus!" tutur Mao An mengangguk puas.


Ling Tian yang melihat Mao An dan Hong Lie sudah menyelesaikan urusannya segera kembali berteriak lantang,


Mendengar nama Wei disebutkan, kini semua orang sadar bahwa orang yang didepan mereka sedari tadi adalah Leluhur Pendiri Klan Wei yang menjadi pelindung daratan timur. Semua orang lekas berlutut dengan hikmat dan penuh akan ungkapan rasa terima kasih.


"Kami memberi hormat kepada Leluhur Wei!" seru semua orang.


Wei Hun yang melihat semua orang berlutut dihadapannya hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil sedikit melirik kearah dimana Ling Tian berada. Wei Hun merasa tidak enak dengannya. Bagaimanapun, Ling Tian adalah trah Shen Zhu Ling! Pemilik marga terkuat di seluruh Alam Dewa sekaligus tuannya.


Ling Tian yang sudah memiliki kepekaan tinggi segera menyadari lirikan Wei Hun. Namun dirinya hanya diam saja karena tidak memahami maksud lirikan tersebut.


"Berdirilah kalian semua! Penghormatan kalian aku terima!" ucap Wei Hun dengan nada seperti orang sedang tertekan.


Puluhan ribu orang itu lekas menurut dan kembali berdiri menegakkan badannya. Sorot mata kekaguman terpancar jelas dari mata semua orang. Terlebih bagi Patriark Yi Sun Sang dan Tetua Yi Bei, mereka berdua sangat bangga karena generasi muda yang dari klan merekalah yang dipilih oleh intensitas terkuat dan melegenda diseluruh Benua Langit, khususnya daratan timur.


Sementara untuk Kaisar Heian, Wei Ziin, Wei Yuji dan para menteri Kekasisaran Wei tentu saja lebih bangga dari semuanya. Itu disebabkan karena darah yang mengalir ditubuh mereka juga mengalir pada Wei Hun.

__ADS_1


"Baiklah Yi Shu! Terimalah hadiahmu ini!" kata Wei Hun sambil menyerahkan hadiah yang sudah disiapkan.


"Terima kasih Leluhur Wei!" kata Yi Shu menerima hadiahnya serta memasukkannya didalam cincin penyimpanan.


"Aku memberi penawaran padamu. Kamu adalah pemuda yang gagah dan berpotensi. Kamu juga sangat mengandalkan otakmu dalam segala situasi. Aku tertarik padamu! Apakah kamu mau menjadi muridku?" tanya Wei Hun dengan berwibawa.


Bruk!


Yi Shu langsung menjatuhkan diri dan bersujud tiga kali dihadapan Wei Hun. Tanpa diduga dan dinyana, Yi Shu sampai meneteskan air matanya karena sangat bahagia.


"Yi Shu dari Klan Yi di Desa Cendana memberi hormat kepada guru!" ucap Yi Shu dengan air matanya yang terus mengalir.


"Bagus! Bagunlah nak! Banggakan gurumu dan semua orang yang mendukungmu!" kata Wei Hun dengan lembut.


"Baik guru!" turut Yi Shu dan kembali berdiri. Dia melihat kearah khalayak penonton yang sangat ramai.


"Ada apa nak?" tanya Wei Hun.


Yi Shu tidak menjawabnya, dia terus melihat kearah para penonton untuk mencari keberadaan seseorang yang sangat dia hormati dan dia cintai. Setelah beberapa saat, Yi Shu mendapati pria sepuh berjanggut putih juga sedang menatapnya dengan bangga.


"Ayaah.."


Disalah satu barisan para penonton, seorang pria tua berbaju lusuh dan berjanggut putih yang tidak memiliki aura kultivasi juga meneteskan air mata dengan derasnya saat seorang pemuda tampan yang berada diatas arena menatapnya dengan sendu dan memanggilnya dengan sebutan ayah.


Dan benar! Pria sepuh berpakaian lusuh dan berjanggut putih itu adalah ayah dari Yi Shu, Yi Cang. Yi Cang sendiri sebenarnya adalah Tetua Pertama Klan Yi terdahulu. Dia adalah orang terkuat di Klan Yi saat itu. Namun, karena suatu malapetaka yang menimpa Klan Yi, Yi Cang mengorbankan kultivasinya dan menggunakan teknik terlarang untuk mengusir malapetaka tersebut. Alhasil, saat ini Yi Cang hanyalah menjadi orang biasa yang tidak bisa berkultivasi.


"Ayaaah!" teriak Yi Shu dan melesat menghampiri Yi Cang.


Dengan air mata yang membanjiri pipinya, Yi Shu bersujud dan mencium kaki Yi Cang dihadapan semua orang.


Semua orang tentu saja sangat terharu dengan kebaktian Yi Shu. Tanpa ada seorangpun yang menduga bahwa sosok tegar dan kuat seperti Yi Shu sangat menghirmati ayahnya yang sangat rapuh. Bahkan beberapa diantara mereka juga ada yang meneteskan air mata tanpa sadar. Sungguh pertunjukan yang memilukan.


"Lihatlah ayah! Shu kecilmu ini telah membuat bangga ayah! Shu kecilmu telah menjadi murid orang terkuat di Benua Langit ini ayah!" kata Yi Shu dengan bersimpuh dibawah Yi Cang dan mendongakkan pandangan menatap wajah sang ayah yang semakin terlihat tua dan mengeriput.

__ADS_1


Yi Cang tersenyum dengan lembut dan mengelus kepala anaknya itu. Air mata kebahagiaannya juga tidak pernah berhenti. Yi Cang mengangkat tubuh anaknya dan memeluknya dengan sangat erat.


"Andaikan ibumu masih ada, pasti dia akan sama bangganya seperti ayah sekarang!" kata Yi Cang.


__ADS_2