Ling Tian

Ling Tian
Rombongan Yang Di Pimpin Seorang Pemuda


__ADS_3

Leluhur Gou Ku dan para anggota Klan Gou hanya tertawa melihat kekesalan leluhur Kao Fuxi. Dia tidak terlalu menanggapi serius ekspresi kesal orang tua itu. Yang terpenting bagi leluhur Gou Ku saat ini adalah mereka semua telah bersatu kembali dengan tuan yang satu seperti dahulu.


Bahkan jika mereka mau membandingkan dengan tuan dahulu dengan tuan yang sekarang maka sudah jelas sangat istimewa tuan yang sekarang. Karena Dewa Neraka Kuno sekalipun harus bersujud dihadapan Ling Tian jika dia bertemu.


"Sudah-sudah! Tidak perlu diributkan lagi! Kita sudah lama tidak berkumpul seperti ini, bagaimana jika kita minum terlebih dahulu! Aku memiliki anggur yang lumayan bagus!" ucap leluhur Klan Chong.


"Ohoo.. Kau tahu saja kesukaan kami saudaraku!" tiba-tiba leluhur Klan Tuzi menjadi bersemangat saat mendengar kata minum anggur.


"Cih! Kau memang tidak berubah orang tua Tuzi!" cibir leluhur Klan Chong.


"Ahahaha.. Ayolah tua bangka Chong! Kau juga akan ikut menikmatinya kan?" ujar leluhur Klan Tuzi dengan tertawa.


Sikap para orang tua itu membuat orang-orang dari keturunan mereka hanya menggelengkan kepalanya. Mereka sungguh cepat berubah setelah sebelumnya seperti bermusuhan dan bisa saling bunuh-membunuh. Sungguh pemandangan yang sangat jarang dan aneh untuk dilihat.


***


Sementara itu, Ling Tian dibawa oleh Patriark Gou Heng kesebuah kamar yang sangat mewah didalam istana Klan Gou. Ling Tian cukup kagum dengan dekorasi kamar miliknya itu karena memiliki nuansa kuno namun sangat klasik.


"Selamat beristirahat Tuan Muda!" ucap Patriark Gou Heng.


"Terima kasih Patriark!" ujar Ling Tian sambil tersenyum ramah.


"Jika begitu saya pergi dulu!" ucap Patriark Gou Heng berniat langsung pamit.


"Silakan Patriark!" kata Ling Tian.


"Oiya Patriark! Tolong katakan kepada semuanya, jangan ada yang menggangguku saat dikamar! Aku ingin sedikit beristiraha5 dengan tenang sendirian!" ucap Ling Tian berpesan.


"Baik Tuan Muda! Laksanakan!" jawab Patriark Gou Heng.


Ling Tian pun menutup pintu kamarnya setelah memastikan Patriark dari Klan Gou itu pergi. Ling Tian menghela nafas panjangnya karena cukup lega dengan permasalahan pelik hari ini yang sudah terselesaikan.

__ADS_1


Dia juga awalnya tidak ingin mengungkap identitas aslinya kepada orang-orang dari ras hewan iblis itu. Namun jika tidak, maka Ling Tian pasti akan menemukan satu atau dua perkara yang merepotkan dan Ling Tian tidak mau hal itu terjadi kepadanya.


Ling Tian menyegel kamar itu dengan sebuah formasi kuat. Dia tidak terlalu memikirkan apa yang akan dilakukan oleh para hewan iblis itu. Yang jelas, sekarang dia ingin melihat kondisi kedua saudaranya saat ini didalam dunia jiwa.


Swosh...


Pusaran angin putih keemasan muncul didepannya. Dengan tenang Ling Tian masuk lalu menghilanglah pusaran angin itu bersamaan dengan menghilangnya Ling Tian.


***


Kota Awan, daratan timur Benua Langit.


Ditempat lain yang mana tempat itu adalah tempat portal teleportasi yang ada di Kota Awan, puluhan sosok kuat keluar dari portal. Mereka menggunakan seragam yang sangat dikenali oleh semua orang. Yang mana dengan seragam itu pula lah seseorang akan sangat dihormati.


Diantara mereka ada sepasang muda-mudi yang selalu bergandengan tangan dan terus melekat layaknya sebuah lem tapi juga merekalah tampaknya pemimpin kelompok itu.


Pria dan wanita baya yang melihat kedua muda-mudi itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Haiss.. Biarkan saja! Ini adalah hari bahagianya!" sahut pria paruh baya yang sama tidak berdayanya dengan istrinya.


Setelah mereka semua keluar, beberapa orang dari penjaga pintu portal yang mengenali sosok pemuda ingin menghampiri dan menghampiri pemuda itu. Namun mereka langsung dicegah oleh isyarat angkatan tangan sang pemuda. Mereka pun langsung menurut dan bergerak mundur mempersilahkan pemuda beserta rombongannya itu pergi meninggalkan portal teleportasi.


Ya! Begitulah sifat yang disukai oleh keluarga dari pemudi sebelumnya dari pemuda itu. Meski dia adalah orang yang dihormati, namun dia bukanlah orang yang gila akan kehormatan. Dia lebih suka bersikap rendah hati dan tidak dibeda-bedakan dengan orang lainnya.


"Jadi, berapa lama lagi perjalanan kita untuk sampai di Klan Ling?" tanya ayah dari pemudi kepada sang pemuda.


Sang pemuda melihat kearah pria paruh baya itu dengan tersenyum lembut.


"Jika dengan kekuatan kita saat ini, mungkin hanya membutuhkan waktu dua atau tiga jam perjalanan santai dari Kota Awan ini!" jawab pemuda itu dengan sopan.


Memang jarak antara Kota Awan dengan Desa Cemara tempat Klan Ling berada cukuplah jauh. Namun dengan kekuatan kelompok dua puluhan orang itu yang minimal kekuatannya adalah ranah Pendekar Platinum Menengah Bintang 2, maka bukanlah masalah jika menempuhnya hanya dalam waktu beberapa jam saja.

__ADS_1


Bahkan kekuatan yang paling mencolok dari rombongan itu adalah kekuatan dari sang pemuda itu. Dia belum genap berumur dua puluh lima tahun, tapi kekuatannya sudah berada di ranah Pendekar Berlian Awal Bintang 3. Sungguh jenius yang sebenarnya!


"Baiklah.. Kita langsung saja melaju ke Klan Ling! Semakin cepat sampai maka semakin baik! Aku sudah tidak sabar melihat bagaimana kehebatan klan yang tiba-tiba menjadi penguasa daratan timur ini!" ucap ayah dari sang pemudi.


"Hahaha.. Ayah mertua terlalu memuji! Klan Ling kami hanyalah klan yang terletak disebuah desa pinggiran!" ujar sang pemuda merendah.


Setelah mengatakan itu, pemuda itu mengajak mereka semua untuk keluar dari gerbang kota dan melanjutkan perjalanan. Didalam perjalanan mereka terus mengobrol satu sama lain menanggapi kondisi sekitar yang mereka lihat. Terlebih tentang tipisnya energi langit dan bumi yang membuat mereka sedikit kurang nyaman.


Sementara pemuda itu hanya tersenyum mendengarkan tanggapan-tanggapan orang dari keluarga kekasihnya, dia tidak terlalu memperdulikan omongan mereka. Pemuda itu lebih fokus dengan kenangan-kenangan yang mulai terlihat didalam matanya.


Sudah beberapa bulan dirinya meninggalkan daratan timur atau Klan Ling. Dia tentu sangatlah merindukan suasana di klan itu bersama dengan semua saudaranya. Tapi mengingat satu saudaranya yang mungkin dalam waktu masih lama baru akan bertemu lagi, pemuda itu langsung menghela nafas panjang.


'Haiih.. Semoga kau baik-baik saja saudaraku!' batin pemuda itu.


Tiga jam berlalu. Rombongan itu akhirnya dapat melihat sebuah desa yang sangat ramai pengunjungnya. Bahkan orang-orang yang dibawa oleh pemuda itu tidak percaya akan ada desa yang letaknya dipinggiran daratan timur dan energi langit dan buminya sangat tipis namun memiliki pengunjung yang luar biasa banyaknya.


Bahkan kedua penjaga desa itu kekuatannya tidaklah main-main. Ranah Pendekar Emas Puncak hanyalah menjadi tukang penjaga pintu? Sungguh desa yang tidak terduga. Rombongan pemuda itu turun dari langit dan mendekati desa ramai itu yang tidak lain adalah Desa Cemara.


"Lihatlah! Ada rombongan yang akan masuk ke Desa Cemara kita!" ucap salah satu dari penjaga gerbang.


"Benar! Tapi mengapa aku merasa tidak asing dengan pemuda itu!" ucap temannya menyahut dan sedang berusaha mengingat siapakah gerangan pemuda itu.


Tidak lama, rombongan pemuda itu akhirnya sampai didepan pintu gerbang atau lebih tepatnya didepan dua penjaga yang tampak sedang berfikir itu.


"Oi.. Paman! Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya pemuda itu dengan sikapnya yang tiba-tiba berbeda.


"Tidak-tidak! Kami hanya sedang mengingat-ingat siapakah tuan ini!" ujar salah satu penjaga pintu itu.


"Apaa! Jadi kalian melupakan Tetua Termuda dan tertampan di Klan Ling? Sialan! Kalian harus dihukum!" ucap pemuda itu dengan wajah kesal.


"Ahaaa! Iya.. Benar! Aku ingat sekarang! Hahaha.. Salam dan selamat datang kembali di rumah Tetua Ling We!" ucap penjaga itu dengan tertawa terbahak-bahak namun sambil menangkupkan kedua tangannya hormat. Dia sama sekali tidak takut dengan hukuman yang dikatakan oleh pemuda yang mana dia adalah Ling We.

__ADS_1


"Cih! Paman berdua memang tidak pernah berubah! Tapi aku suka itu!" ujar Ling We sambil menepuk pundak kedua penjaga gerbang itu.


__ADS_2