Ling Tian

Ling Tian
Dasar Si Cacat Tak Tahu Diri!


__ADS_3

"Ling Tiaaaaaannn!!!"


Seru suara dengan nada marah. Ling Tian menengok melihat kearah sumber suara. Dilihatnya Tetua Agung bersama beberapa jajaran Tetua Klan.


Tetua Agung menerima laporan dari salah satu murid Klan bahwa anaknya sedang dipukuli habis oleh Ling Tian segera bergegas menuju ketempat. Tak lupa dia mengajak para Tetua Klan Ling yang juga sudah merasa jenuh dan muak akan sifat bedebah Ling Tian. Sudah sejak lama Tetua Agung yang bernama Ling Qinzu ini tak menyukai Ling Tian. Alih-alih sebab keberadaan Ling Jun dia menahan itu semua. Namun sudah beberapa tahun ini dia melihat Ling Jun tak kunjung kembali, akhirnya kemarahan yang sudah mencapai ujung dia luapkan bersama beberapa Tetua yang sependapat.


Ling Qinzu yang melihat anaknya babak-belur, ditambah lagi sedang memijati pundak Ling Tian, maka kemarahannya tak bisa dibendung lagi.


Swuushhh...


Ling Qinzu menyerang Ling Tian dengan tapaknya.


Duaaaarrrr...


Ling Tian berhasil menghindari tapak kuat tersebut. Andai saja terkena, sudah dipastikan dia akan lumpuh karena beberapa anggota badannya hancur. Disamping menghindar, Ling Tian juga mendupak Ling Wutian agar selamat dari serangan ayahnya yang telah kalap dimakan kemarahan.


"Apa yang kamu lakukan paman?" tanya Ling Tian.


"Apa yang aku lakukan katamu! Kamu memukuli anakku hingga babak-belur, kemudian menjadikannya seperti budak untuk memijat, lalu kamu bilang apa yang aku lakukan? Anak cacat!" jawab Ling Qinzu.


"Paman, tindakanmu tadi bisa membunuhku! Apa paman tidak sadar?"


"Membunuhmu tidak ada ruginya! Klan Ling tidak akan keberatan jika hanya kehilangan anak cacat sepertimu!" sahut salah satu Tetua.


Ling Qinzu lalu menyodorkan lagi jurus tapak kepada Ling Tian. Dia tidak bisa lagi mengendalikan akal sehatnya. Yang ada difikirannya adalah membalas dendam anaknya. Beberapa kali dia juga mengalami kerugian karena harus mengeluarkan kepingannya untuk membeli obat pada luka Ling Wutian sebab Ling Tian.


"Dasar si Cacat tak tahu diri!" tambah Ling Qinzu.


Leng Tian yang mendapat serangan tapak beberapa kali mencoba berkelit menghindari atau menahannya dengan Jurus Pukulan Pelebur Buminya. Namun apalah daya, melawan seseorang kuat seperti Tetua Agung yang bertenaga dalam tinggi sungguh tak bisa berlama-lama.


Boommm Boommm


Beberapa kali Ling Tian harus dikirim terbang oleh tapak tersebut. Dia terluka dalam sangat parah. Dia tak mampu lagi berkelit menghindar. Pandangan matanya sudah terlihat berkunang dan agak buram.


Tetua Agung terlihat senyum seringai penuh kepuasan. Kemudian dia berniat mengakhiri serangannya dengan tapak andalannya. Mengumpulkan dan memfokuskan seluruh kekuatan pada telapaknya,


"Saat ini, mampuslah kau hama Klan!!!" seru Ling Qinzu.


Di suatu rumah yang cukup besar di Klan Ling, duduklah seorang pria paruh baya bersama seorang wanita cantik. Wanita itu tersenyum menuangkan teh untuk lelaki tersebut.


"Terima kasih Dinda," kata lelaki itu.


"Suami tidak perlu berterima kasih. Hal ini sudah menjadi kewajiban seorang istri." jawab wanita tersebut masih dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


Lelaki itu terlihat murung. Raut wajahnya begitu menua akhir-akhir ini.


"Ada apa suamiku? Apa kamu masih memikirkan Ling Jun saudaramu yang pergi tanpa alasan itu?" tanya si wanita.


"Ah! Aku yakin saudaraku pergi karena sesuatu yang penting! Dia tidak mungkin bertindak segegabah itu! Pasti ada yang ingin dia cari atau temui untuk sesuatu yang penting. Mengobati putranya misal, yang tidak bisa berkultivasi sebab dantian tersegel," jawab lelaki tersebut yang tidak lain adalah Patriark Klan Ling.


"Ya, itu mungkin saj-"


Boommm... Boommm...


Belum selesai sang istri berkata, terdengar suara tanda pertarungan di area Klan. Mendengar hal tersebut, Ling Bo Teng segera berucap,


"Sepertinya ada yang sedang berkelahi sengit, aku harus melihatnya,"


"Silakan suami." jawab sang istri sambil menganggukkan kepala.


Ling Bo Teng segera melesat kearah pertarungan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Saat tiba ditempat, dia melihat anak saudaranya sedang dipukuli habis-habisan oleh Tetua Agung. Amarahnya langsung memuncak penuh.


"Saat ini, mampuslah kau hama Klan!!!"


Swuushhh...


Bommmm...


Saat debu itu menghilang perlahan sebab tertiup angin, terlihat Patriark Ling Bo Teng bersama Ling Tian dalam bopongannya. Ling Tian pingsan sebab terkena evek ledakan yang sangat kuat. Melihat itu, wajah Patriark Ling sangat gelap dan muram.


"Ling Qinzu! Atas dasar apa kamu berani melukai keponakanku!" kata Ling Bo Teng marah.


"Patriark Ling!" kata Tetua Agung Ling Qinzu bersama para tetua.


"Katakan! Atas dasar apa kau melukai bahkan akan membunuh keponakanku!" ulang Ling Bo Teng.


"Kalian para tetua! Jawab pertanyaanku? Apa kalian semua berani menanggung kemarahan saudaraku saat dia kembali dan mengetahui anaknya hampir terbunuh?!" tambahnya.


"Maaf Patriark, dia sudah melukai anakku berulang kali, dia juga seorang cacat! Apa pentingnya untuk Klan ini?" kata Tetua Agung.


Swuushhh...


Boommm...


Ling Bo Teng yang sangat geram dengan kata-kata itu, Tetua Agung langsung dikirim terbang oleh Ling Bo Teng. Tetua Agung menabrak tembok beton pembatas salah satu rumah hingga hancur berkeping-keping. Dia langsung tak sadarkan diri dibuatnya.


Tingkat kultivasi Ling Qinzu dengan Ling Bo Teng memanglah sama, sama-sama di tingkat Pendekar Besi Tahap Akhir. Namun bintangnya yang membedakan! Jika Ling Qinzu atau Tetua Agung di Bintang 3 maka Ling Bo Teng atau Patriark Klan di Bintang 9. Sangat mudah bagi Patriark mengalahkan Tetua Agung.

__ADS_1


"Tetua Agung bajingan!" kata Ling Bo Teng.


"Kalian tau siapa anak ini dan seberapa penting anak ini untuk Klan?" lanjut Ling Bo Teng sambil memelototi para tetua.


Para tetua yang tadi hanya menonton penganiyayaan Ling Qinzu terhadap Ling Tian kini gemetaran lututnya. Mereka benar-benar takut terhadap sorot mata Patriark.


"Ti-tidak Patriark," jawab salah satu tetua memberanikan diri.


"NYAWA BOCAH INI ADALAH NYAWA KLAN LING! CAMKAN ITU!" kata Ling Bo Teng.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Ling Bo Teng langsung melesat membawa Ling Tian kembali kerumah ibunya. Sesampainya ditempat, dia langsung memanggil ibu Ling Tian.


"Saudari ipar! Saudari ipar!" teriaknya.


Mendengar teriakan suara yang dikenalinya, Hei Si yang sedang duduk santai dihalaman belakang segera menghampiri sumber suara.


"Ah! Saudara Bo Teng ada ap-" kata Hei Si terputus.


"Ling Tiaaan!" teriak Hei Si yang melihat anaknya di gendong tak sadarkan diri.


"Saudari ipar tenanglah," kata Ling Bo Teng sambil menurunkan Ling Tian dari gendongannya.


"Anakku! Apa yang terjadi dengan anakku saudara?" panik Hei Si sambil menepuk-nepuk pipi Ling Tian.


Ling Bo Teng menceritakan kronologi kejadiannya kepada Hei Si sehingga Ling Tian bisa mengalami kondisi seperti itu. Ling Bo Teng juga mengatakan bahwa dia sudah menghajar Tetua Agung hingga tak sadarkan diri juga.


"Tetua Agung sialan! Andai suamiku pulang, aku akan melaporkan semua ini padanya. Aku tidak terima! Pasti dia akan membunuh Tetua Agung sialan itu!"


"Sudahlah saudari ipar, tidak baik mendendam. Lagi pula dia sudah kuberi hukuman yang sama pula. Lebih baik kau perhatikan Ling Tian. Itu, jari tangannya bergerak-gerak!"


______&&&&


Tinggalkan like, komentar, atau votenya...


Kata-kata hari ini:


"Apasih yang dicari orang-orang? Mengumpulkan banyak harta untuk orang biasa, bekerja keras hhingga kadang lupa waktu. Ada juga yang bertirakat macam-macam dan bertapa menyendiri dipuncak gunung atau hutan-hutan untuk para pendekar terdahulu? apa yang mereka cari?


Bukankah hanya 'SEBUAH KETENANGAN' yang dicari?


Lalu mengapa tak mendekatkan diri saja pada Sang Pembuat Ketenangan Sejati?


Ah! Manusia memang aneh!🤔 ....(Y)😌

__ADS_1


__ADS_2