
Setelah menenangkan ketegangan yang telah terjadi beberapa saat lalu, kesembilan orang itu kembali berbincang-bincang meski ada rasa sedikit canggung karena masalah sebelumnya.
Beberapa jam mereka mengobrol, Bai Wutian dan orang-orangnya akhirnya berniat untuk pergi.
"Baiklah Tuan Muda Tian! Aku dan orang-orangku sangat berterima kasih atas jamuan ini!" ucap Bai Wutian lalu berdiri dari tempat duduk bersama dengan keempat orang dari Klan Bai.
"Tidak perlu sungkan Tuan Muda Wutian! Ini hanyalah perkara kecil!" jawab Ling Tian sambil tersenyum.
Bai Wutian lalu memandangi adiknya, Bai Si'er yang langsung dibalas dengan gelengan kepala dan memegang baju dari lengan Mao An. Bai Wutian hanya menghela nafas panjang kemudian pamit pergi meninggalkan Ling Tian dan kedua saudaranya beserta Bai Si'er.
Ling Tian dan kedua saudaranya beserta Bai Si'er yang selalu menempel pada Mao An pun melanjutkan acara minum-minum dan makan-makan dikedai itu sambil terus mengobrol santai.
Bahkan ada gelak tawa dan canda riang dari mereka yang membuat Bai Si'er menjadi lebih dekat dan kenal dengan Ling Tian dan Zhuge Ruxu. Bai Si'er senang dengan perlakuan Ling Tian dan Zhuge Ruxu kepadanya.
Dan seperti inilah yang dia inginkan dari keluarganya. Yaitu tidak terlalu kaku dan tidak selalu sibuk dengan urusan-urusan yang tidak pernah ada habisnya.
'Andai saja keluargaku beserta saudara-saudaraku bisa seperti ini, alangkah betapa senang dan bahagianya aku!' batin Bai Si'er dengan penuh harapan.
"Ada apa Si'er?" tanya Mao An yang melihat kekasihnya itu melamun.
"Ah! tidak Gege! Aku hanya.." Bai Si'er tidak bisa melanjutkan ucapannya dan merasa ragu.
"Hanya apa?" tanya Mao An dengan lembut.
Setelah menghilangkan keraguan dalam hatinya, Bai Si'er akhirnya menjawab pertanyaan Mao An.
"Aku hanya ingin keluarga dan saudara-saudaraku bisa seperti kalian! Yang bisa berkumpul dan tertawa lepas bersama tanpa terlalu mengedepankan ego dan peraturan kuno yang kaku!"
"Hei-hei.. Kamu sekarang juga keluarga kami! Maka janganlan merasa seperti orang asing dengan kami! Okey?" ujar Zhuge Ruxu dengan lembut yang diangguki oleh Ling Tian dan Mao An.
Mereka lalu meneruskan acara itu untuk beberapa waktu sebelum akhirnya memutuskan pergi untuk mencari penginapan dan mempersiapkan hari esok untuk pelelangan di alun-alun Kota Xun.
***
__ADS_1
Klan Ling.
Di Klan Ling, lebih tepatnya dikediaman sederhana milik Ling Jun dan Hei Si kini menjadi cukup ramai karena kedatangan orang-orang dari Klan Zhong atau klan alcemis dari keluarga kekasih Ling We.
Disana, suasana menjadi sangat hidup karena besok adalah adalah hari bahagia bagi salah satu Tetua atau Tetua Termuda mereka Ling We yang telah memutuskan untuk menikahi Zhong Nian atas kesepakatan bersama.
"Yoo.. Saudara We! Aku tidak menyangka bahwa kamu memutuskan untuk menikah secepat itu! Apakah kamu sudah terlalu kebelet!" ujar seorang pemuda kepada pemuda lain yang terlihat sedang melamun ditaman belakang rumah Ling Jun.
Pemuda itu tentulah Ling Jian yang mendatangi Ling We yang terlihat sedang melamun.
"Yah.. Kamu tahu bukan bahwa tidak baik kemana-mana dengan membawa wanita yang bukan pasangannya? Maka aku putuskan kemarin untuk langsung menikahinya tanpa ada tunangan-tunangan yang ribet itu!" jawab Ling We dengan santai. Namun matanya tidak lepas dari menatap langit dengan tatapan menerawang.
"Lalu mengapa kamu melamun seperti itu? Apa yang kamu lamunkan?" tanya Ling Jian.
"Haaiihh.. Aku hanya sedikit sedih dan kesal saja dengan saudara Tian yang entah sekarang ada dimana dirinya! Mungkin dia sedang asik bermain dan berpetualang dengan saudara An dan saudari Ruxu! Lalu dia juga tidak bisa hadir dihari pernikahanku! Sial!" jawab Ling We sambil menghela nafasnya.
Mendengar jawaban dari Ling We, Ling Jian juga ikut menghela nafas karena dia juga sedikit kesal dengan Ling Tian yang tidak mengajaknya berpetualang namun menyuruhnya untuk berlatih dan berlatih yang membosankan itu.
"Tapi aku juga berterima kasih dengan saudara Tian! Karena mengikuti dia lah aku bisa bertemu dengan Nian'er!" ucap Ling We.
"Ohohoo.. Aku lupa jika kamu masih jones alias jomblo ngenes! Hahaha.." ucap Ling We meledek Ling Jian sambil tertawa lepas.
"Sialan kau! Besok aku akan cari!" ujar Ling Jian kesal sambil beranjak dari tempat itu meninggalkan Ling We yang masih terus tertawa.
Setelah Ling Jian pergi, Ling We lalu melihat kearah dimana daratan tengah ada.
"Jika kamu tidak memberiku hadiah yang memuaskan, maka aku tidak akan menerimamu sebagai saudara lagi Ling Tian sialan!" ujar Ling We lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju kediaman Ling Jun untuk menemui keluarga calon istrinya.
.
.
Satu hari berlalu. Acara pernikahan Ling We dan Zhong Nian pun diadakan dengan sederhana. Meskipun begitu, cukup banyak orang yang hadir untuk memberikan selamat untuknya. Bahkan Kaisar Wei beserta putrinya Wei Ziin juga hadir memberikan selamat.
__ADS_1
Sebenarnya Wei Ziin datang bukan hanya sekedar memberikan selamat kepada Ling We, namun dia datang juga dengan harapan akan bertemu dengan orang yang sangat dirindukannya selama ini.
Akan tetapi dia harus kecewa dengan tanpa bertemu orang itu.
'Apakah kamu juga merindukan aku?' batin Wei Ziin sambil melihat bayangan sosok pemuda yang sangat murah senyum kepadanya saat itu.
Wei Ziin sangat ingat saat-saat dimana dia dan pemuda yang sangat dirindukannya itu berpetualang bersama. Canda dan tawa dari pemuda itu tidak pernah hilang dari fikirannya.
Namun setelah Wei Ziin mengetahui bahwa pemuda itu dekat dengan gadis lain yang sangat tulus mencintai dan menyayangi pemuda itu bahkan pada saat pemuda itu masihlah lemah, Wei Ziin memutuskan untuk mundur dan mencoba untuk menjauh.
Bahkan saat itu, dia pulang ke Istana Kekaisaran Wei bersama dengan ayahnya tidak pamit atau berkata apapun kepada pemuda itu.
Mengingat semua hal itu, tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipinya yang halus dan membuat Kaisar Heian atau ayahnya mengerutkan kening.
"Ada apa nak? Mengapa kamu menangis?" tanya Kaisar Heian yang heran menatap anaknya yang menangis.
"Ah! Tidak ada apa-apa ayahanda!" ujar Wei Ziin buru-buru menghapus air matanya dan mencoba untuk kembali tersenyum walaupun pahit.
Kaisar Heian menggelengkan kepalanya lalu memeluk putrinya itu dengan erat.
"Apakah kamu merindukan Tuan Muda Ling Tian?" tanya Kaisar Heian dengan lembut.
Mendengar nama dari orang yang sangat dirindukannya disebutkan, tubuh Wei Ziin bergetar dan air matanya yang sebelumnya telah berhenti kini kembali mengalir dengan deras behkan lebih deras dari sebelumnya.
Wei Ziin tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya terus memeluk ayahnya dengan erat untuk menenangkan hatinya yang sedang hancur karena rindu itu.
***
Hutan Tanpa Batas.
Deg! Deg!
Ling Tian yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke alun-alun Kota Xun tiba-tiba menghentikan kegiatannya saat tiba-tiba jantungnya berdetak lebih kencang dan terasa sedikit sakit.
__ADS_1
'Apa yang terjadi? Mengapa jantungku berdetak lebih kencang?' batin Ling Tian sambil memegang dada kirinya.