
Suasana di aula tamu istana Kota Xudong menjadi hening saat Mao An terus mendesak Raja Kota Situ Mingxin untuk meminum teh galaksi yang sudah dicampur racun tanpa warna tersebut.
Hanya suara seruputan yang keluar dari Ling Tian yang terus menikmati teh itu dengan santai tanpa memperdulikan apapun.
"Yang Mulia! Mengapa anda tidak meminumnya saja! Jangan bilang anda juga alergi minum teh seperti saudaraku!" ucap Ling Tian tiba-tiba yang semakin membuat Raja Kota Situ Mingxin terpojokkan.
"T-tapi.. Ini kami buatkan khusus untuk kalian tamu kehormatanku!" ucap Raja Kota Situ Mingxin kembali beralasan.
"Minum saja kampret! Atau aku akan membunuhmu!" ujar Mao An tiba-tiba mengubah gaya bicaranya lalu niat membunuh yang sangat kentara meledak dari tubuhnya dengan gila.
"T-tuan.. I-ini.." kata Raja Kota Situ Mingxin dengan terbata-bata lalu terjatuh dari tempatnya duduk.
"Kau raja lemah ingin memperdaya kami dengan racun tanpa warna? Sungguh naif!" ujar Mao An lalu menghilang dan muncul kembali dengan sudah mencengkram leher Situ Mingxin.
"Katakan! Harus dengan cara apa aku membunuhmu?" tanya Mao An dengan dingin dan mengeratkan cengkramannya.
Raja Kota Xudong hanya bisa berusaha melepaskan cekikan Mao An namun selalu sia-sia belaka.
"T-tuan! T-tol-long lepaskan aku! J-jangan bunuh a-kku!" ucapnya dengan terbata.
"Melepaskanmu? Katakan alasannya supaya aku bisa mempertimbangkannya!" ujar Mao An.
"B-baik! A-aku akan membawa kalian ketempat dimana telur Phoenix Ilahi itu disimpan!" ucap Raja Kota Situ Mingxin.
"Baik!" ucap Mao An sambil melepaskan cengkraman dan menjatuhkan Raja Kota Situ Mingxin.
Raja Kota Xudong itu lalu berdiri dengan wajah masam lalu kemudian tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha.."
"Mengapa kau tertawa raja bodoh?" tanya Mao An sengit.
"Hahaha.. Saudaramu itu telah meminum racun itu! Dan aku tidak akan memberikan penawarnya jika kau tidak menghancurkan kultivasimu sendiri!" jawab Raja Kota Situ Mingxin dengan sengit pula dan menunjuk Mao An.
Ling Tian hanya tetap duduk santai sambil terus menyesap tehnya. Sementara Mao An tiba-tiba tertawa terbahak-bahak setelah mendengar jawaban si raja bodoh dihadapannya itu.
"Hahahaha.. Dasar raja tolol!" ucapnya dengan terang-terangan.
"Apa maksudmu sialan? Apa kau ingin saudaramu itu mati kubunuh? Lumpuhkan kultivasimu sekarang juga!" teriak Raja Kota Situ Mingxin.
"Haaiiihh.." tiba-tiba Ling Tian menghela nafas panjangnya membuat Situ Mingxin melihat kearahnya.
__ADS_1
"Serahkan telur itu atau aku akan mengulitimu beserta semua anggota Situmu!" ucapnya santai.
"Kau! Kau masih berani mengancamku?" tanya Raja Kota Situ Mingxin sambil menunjuk wajah Ling Tian.
Srak! Srak!
"Aaaakkhh.."
Tiba-tiba tangan kanan dan kaki kiri Situ Mingxin terpotong dan jatuh ke lantai lalu disusul dengan teriakan kesakitan si empunya. Ling Tian melakukannya hanya dengan niat pedang yang tiba-tiba meledak dari tubuhnya.
"Aaakkhhh.. Bajing*n!" teriak Raja Kota Situ Mingxin kesakitan.
"Aku paling tidak suka dengan orang yang berani menunjuk-nunjuk wajahku seperti itu!" ucap Ling Tian dengan dingin.
"Mao An! Ambil cincin penyimpanannya!" lanjutnya berkata.
"Baik Tuan Muda!" turut Mao An mengambil cincin penyimpanan Situ Mingxin yang sedang berguling-guling kesakitan sambil berusaha menghentikan pendarahan dengan energi Qi.
Ling Tian meraih cincin penyimpanan yang disodorkan Mao An lalu memeriksanya. Dia mengangguk pelan lalu berdiri dengan tenang.
"Hanya ranah Pendekar Berlian Awal Bintang 5 saja berani berlagak dihadapanku dengan racun murahan itu? Sungguh naif! Kau juga sangat tidak layak menjadi Raja Kota Xudong ini!" ucapnya lalu menjentikkan jarinya.
Swosh...
Bammm...
"Aaakkhh.."
Teriakannya kembali bergema saat cahaya tersebut mengenai bagian bawah pusarnya atau lebih tepatnya bagian dantian dan menghancurkannya.
"Aakkhh.. Tidaak! Tidaakk! Bunuh aku! Bunuh saja aku!" ucapnya berteriak kesakitan.
"Membunuhmu adalah hal yang mudah! Tapi untuk memberikan peringatan kepada semua orang agar berfikir lebih bijak maka aku harus memasungmu didepan pintu gerbang istana kota ini!" ucap Ling Tian sambil menyeringai.
"Tidak! Tuan Muda! Tolong ampuni aku! Bunuh saja aku!" ucap Situ Mingxin memohon.
"Mao An! Lucuti pakaiannya! Sisakan s*mpaknya saja dan gantung terbalik dia didepan pintu gerbang istana! Buat juga spanduk yang bertuliskan 'Raja Kota Naif'!" ucap Ling Tian tanpa menghiraukan ocehan Situ Mingxin.
"Baik Tuan Muda! Dengan senang hati!" kata Mao An lalu memulai aksinya.
"Tidak! Tidak! Tuan-tuan! Tolong jangan lakukan ini!" ujar Situ Mingxin meronta-ronta.
__ADS_1
Plaaak!
"Diam!" ucap Mao An sambil menampar Situ Mingxin dan mulai merobek pakaian yang dikenakannya.
"Oiya Mao An! Setelah ini tolong kamu panggil Tetua Liong He dari Fraksi Naga Emas untuk datang menghadapku! Aku ingin dia yang menjadi Raja Kota Xudong ini!" ucap Ling Tian.
"Baik!" jawab Mao An lalu menyeret Situ Mingxin yang sudah telanjang dan tinggal s*mpaknya saja.
.
.
Diluar pintu gerbang istana, orang-orang dibuat heboh dengan Raja Kota Xudong mereka sedang digantung dengan kepala berada dibawah dan hanya memakai s*mpak. Tidak ada seorang pun yang berani menolongnya karena ada spanduk yang bertuliskan 'Raja Kota Naif! Barang siapa yang berani menolongnya maka akan bernasib sama!'.
Orang-orang hanya bisa menatap mantan Raja Kota itu dengan tatapan penuh arti. Ada yang sedih. Ada pula yang senang karena beberapa macam alasan.
Mao An dengan sigap mendatangi markas Fraksi Naga Emas dan mengejutkan semua penghuninya. Hal itu terjadi karena dengan sengaja Mao An mengedarkan auranya yang berada di ranah Pendekar Berlian Puncak dengan tanpa menutupinya sedikit pun.
"T-tuan! Selamat datang di Fraksi Naga Emas! Apakah ada yang bisa kami bantu?" sambut beberapa anggota fraksi yang sedang menjaga gerbang markas sambil menangkupkan kedua tangan. Dia berusaha untuk ramah meskipun dia merasakan tindasan aura Mao An yang terpancar.
"Panggil Tetua Liong He sekarang! Aku ingin berbicara dengannya!" jawab Mao An dengan datar.
"Jika begitu masuklah terlebih dahulu Tuan! Kami akan memberi tahu Tetua Liong!" ujar salah satu anggota.
"Tidak perlu! Panggil saja dia kesini sekarang!" ucap Mao An dengan nada ditinggikan.
"B-baik Tuan!" ucap salah satu dari mereka lalu bergegas pergi memasuki markas dengan tergesa-gesa.
Tidak beberapa lama, anggota fraksi yang sebelumnya pergi kini telah datang kembali dengan dua orang lainnya.
"T-tuan! Anda?" ucap Tetua Liong He dan Liong Zi bersamaan.
"Kalian berdua ikut aku ke Istana Raja Kota sekarang!" kata Mao An lalu membalik badan dan oergi mendahului.
"B-baik Tuan!" jawab keduanya dengan cepat. Mereka berdua pun mengikuti Mao An dari belakang.
Selepas kepergian kedua petinggi fraksi mereka, para anggota Fraksi Naga Emas yang lain langsung membicarakan kejadian yang baru saja dialami.
"Bukankah Tuan itu yang sebelumnya ikut membantai para monster beast dan hewan siluman tiga hari yang lalu?" tanya salah satu dari mereka kepada temannya.
"Benar! Tapi mengapa dia tiba-tiba muncul dan memanggil Tetua Liong dan Tuan Liong Zi untuk datang ke istana kota?" ujar yang lain juga ikut bingung.
__ADS_1
"Aku tidak tahu! Tapi yang jelas, semoga tidak ada hal biruk yang akan terjadi dengan Tetua Liong He dan Tuan Liong Zi!"
"Iya. Semoga saja begitu!"