
Patriark Xueren Han tersenyum saat mendengar penjelasan dari Ling Tian yang menurutnya sangat bijak dan tepat. Dia kemudian kembali turun dari kursi tahtanya lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah Ling Tian.
"Aku Xueren Han, Patriark Shen Zhu Xueren saat ini, atas nama diriku sendiri dan seluruh anggota klanku bersumpah atas nama langit dan bumi akan selalu setia kepada Tuan Muda Ling Tian!" kata Patriark Xueren Han dengan mantab.
Jdeeerrrrr...
Sebuah petir tiba-tiba menyambar dari atas langit yang menandakan bahwa sumpah tersebut telah benar-benar didengar oleh langit dan bumi. Petir itu akan siap menghabisi Patriark Xueren Han dan seluruh anggota klannya jika sampai mereka berani membelot dengan tuan barunya, Ling Tian.
"Bangunlah Patriark! Selamat bergabung kembali dengan keluarga Shen Zhu Ling kami!" ucap Ling Tian sembari membuka tangannya dengan lebar dan mengangkat tubuh Patriark Klan Xueren menggunakan kekuatan jiwanya untuk kembali berdiri.
Patriark Xueren Han yang merasakan sebuah energi tak kasat mata yang mencoba untuk membuatnya kembali berdiri hanya membiarkannya saja sehingga tubuhnya yang sebelumnya berlutut kini telah kembali berdiri dengan tegaknya.
Dia menangkupkan kedua tangannya untuk memberikan rasa hormat kepada Ling Tian sekali lagi lalu duduk di kursinya.
"Terima kasih karena telah mengampuni sekaligus menerima kami lagi menjadi bagian bawahan trah agung Shen Zhu Ling!" kata semua orang yang ada di tempat itu.
"Sudahlah! Kalian ini bertindak terlalu formal sekali! Kedepannya, kalian tidaklah perlu melakukan hal-hal yang sedemikian karena jujur saja aku tidak terlalu menyukainya!" kata Ling Tian sambil melambaikan tangannya.
Semua orang di tempat itu sangat senang dengan sikap yang diperlihatkan oleh Ling Tian. Ya, sikap seperti itulah yang seharusnya dimiliki oleh penguasa penguasa yang berada di seluruh alam. Dekat dengan para bawahan bukan berarti penguasa itu rendah martabatnya namun justru penguasa yang seperti itulah yang akan dicintai dan ditinggikan martabatnya di setiap hati semua orang.
Beberapa pelayan segera memasuki aula tersebut setelah salah satu tetua sebelumnya saya pergi meninggalkan aula. Para pelayan itu menyuguhkan buah-buahan, minuman, dan berbagai macam makanan yang hangat untuk memberikan penghormatan kepada Ling Tian.
__ADS_1
Dalam hal ini, yang paling bersemangat tentu saja adalah si kucing hitam jadi-jadian yang sejak awal selalu tiduran dengan malas di atas pundak Ling Tian. Ya! Siapa lagi jika bukan Mao An sang pelahap kedua setelah Long Yuan atau si cacing biru sialan.
Mao An dengan sangat cepat mulai melahap satu persatu hidangan yang ada di depan Ling Tian sehingga beberapa tetua yang juga ikut menikmati hidangan itu mengerutkan keningnya.
'Sialan! Kucing model apalagi sebenarnya dia? Mengapa cara makannya begitu serakah?' tanya salah satu tetua kepada tetua yang lain menggunakan telepati.
'Aku juga tidak mengetahuinya! Tapi lihatlah! Bahkan Tuan Muda Ling Tian tetap membiarkannya! Mungkin dia adalah kucing kesayangan Tuan Muda!" jawab tetua dengan jujur dan tidak berdaya namun tatapan matanya tetap memperlihatkan rasa ketidaksukaannya atas sikap tidak sopan dari Mao An.
'Kalian ini sedang membicarakan siapa?' tiba-tiba suara telepati dari Leluhur Xueren Chong terdengar di kepala mereka berdua.
'Jangan menganggap remeh kucing kecil berwarna hitam yang terlihat imut dan tidak sopan itu! Dia juga termasuk salah satu dari bawahan tuan muda Ling Tian dan bahkan memiliki status lebih tinggi dariku!' ucap Leluhur Xueren Chong yang seperti mengetahui isi dari pikiran kedua tetua itu.
'Maaf leluhur!' ucap keduanya dengan serentak dan sungguh tidak menyangka bahwa kucing hitam kecil itu memiliki identitas yang cukup mengerikan.
Acara makan makanan hangat itu berjalan dengan lancar yang diselingi dengan canda Dan tawa dari Ling Tian dan Leluhur Xueren Chong serta beberapa tetua. Setelah itu, Patriark Xueren Han menyuruh kepada pelayan untuk mengantarkan Ling Tian dan juga Mao An untuk menempati kamarnya.
Mao An dengan segera kembali menemplok di pundak kanan Ling Tian dan tiduran dengan malasnya. Kedua tetua yang sebelumnya membicarakan Mao An melalui telepati hanya bisa menggelengkan kepalanya karena sebelumnya mereka hampir saja menggali kuburan mereka sendiri.
Ling Tian mengikuti dua pelayan yang mengantarnya ke dalam sebuah kamar yang sangat besar dan super duper mewah. Dia pun memasuki kamarnya setelah pelayan tersebut mengatakan jika membutuhkan sesuatu, tinggal memanggil mereka saja.
Ling Tian duduk di pinggir perbaringannya dan memulai berkultivasi guna memulihkan dirinya hingga berada di titik paling primanya karena mungkin besok dia akan merasa kesulitan saat membuka segel atau menghadapi sesuatu yang berada di dalam segel tersebut.
__ADS_1
Sebelumnya saat berada di aula istana, Ling Tianb sudah mengatakan kepada para petinggi Klan Xueren bahwa dia bersama dengan saudaranya dan juga leluhur mereka akan membuka segel yang selama ini mereka jaga sekaligus mengetahui apa sebenarnya yang ada di dalam segel.
Para petinggi dari Klan Xueren tidak ada yang berani membantah usulan tersebut karena apa saja yang diinginkan oleh tuan mereka adalah sebuah hak yang tidak boleh mereka bantah selagi tidak berada di luar batasan sebuah norma. Mereka hanya bisa mendukung usulan Ling Tian dan berdoa kepada Sang Maha Dewa supaya lintian dan yang lainnya diberikan keselamatan dan kesuksesan dalam misi mereka.
Ling Tian mulai menutup kedua matanya dan memulai untuk berkultivasi menggunakan manual kultivasi tingkat rendahnya atau selain manual kultivasi pelahap. Sementara untuk Mao An, dia langsung meloncat di atas sebuah bantal yang tidak lama kemudian langsung terdengar suara dengkuran kecilnya.
***
Keesokan harinya, pintu kamar Ling Tian diketuk oleh seseorang dari arah luar yang membuat orang yang berada di dalamnya yang sedang berkultivasi membuka kedua kelopak matanya.
Ling Tian menghembuskan nafasnya dalam-dalam saat merasakan seluruh tenaga atau energi Qi dalam tubuhnya telah penuh dan terasa sangatlah stabil. Dia kemudian menenteng tubuh Mao An yang sebelumnya masih lah dalam posisi mendengkurnya di atas bantal untuk keluar dari kamarnya.
"Ah! Tuan Muda! Kamu maih saja kejam seperti biasanya!" keluh Mao An yang ditenteng seperti sekantong sampah yang tidak berguna.
Ling Tian mendapati Leluhur Xueren Chong yang juga sudah dalam kondisi primanya berdiri di depan pintu kamar Ling Tian.
"Selamat pagi Tuan Muda!" ucap Leluhur XueennChong dengan ramah.
"Selamat pagi Xueren Chong! Apa kita akan berangkat sekarang juga?" ucap Ling Tian bertanya.
Belum sempat Leluhur Xueren Chong memberikan jawabannya sebuah keluhan langsung terdengar dari mulut Mao An.
__ADS_1
"Ayolah Tuan Muda! Sebelum berangkat alangkah baiknya kita itu sarapan terlebih dahulu!"