
Ling Tian dan Mao An melangkahkan kaki memasuki hutan yang memiliki tanah berwarna hitam dan pohon-pohon yang menjulang juga berwarna hitam.
Zhung!
Sebuah getaran lembut pada udara sekitar terasa oleh keduanya.
"Kita telah memasuki array yang melingkupi Hutan Tanpa Batas! Tingkatkan kewaspadaan!" ucap Ling Tian kepada Mao An.
"Baik!" turut Mao An.
Mereka berdua terus memasuki kawasan lebih dalam lagi dari Hutan Tanpa Batas sambil terus memasang kewaspadaan tinggi. Aura aneh yang berada disekitar membuat Ling Tian dan Mao An sangat tidak nyaman.
Setelah berjalan masuk sejauh tiga kilometer, Ling Tian menghentikan langkah kakinya.
"Tuan Muda! Ada apa?" tanya Mao An keheranan.
"Mao An! Apakah kamu tidak merasakan suatu hal yang ganjal ditempat ini?" Ling Tian balik bertanya.
"Maksud Tuan Muda?" Mao An mengerutkan keningnya.
"Setelah kita masuk kedalam formasi array yang melingkupi Hutan Tanpa Batas, kita seolah terbebas dari kekangan dimensi yang membatasi kultivasi hingga ranah Pendekar Berlian Akhir!" jawab Ling Tian dengan wajah serius.
"Apaaa! Itu berarti kita.." Mao An terkejut bukan kepalang.
"Benar! Kita berada di tempat orang-orang kuat berkumpul! Sekarang aku tahu mengapa hutan ini dinamakan Hutan Tanpa Batas! Karena jika memasukinya maka tidak akan adalagi batasan kultivasi seseorang!" ucap Ling Tian memberi kesimpulan.
Baru saja selesai mengatakan demikian, tiba-tiba dari arah dalam hutan tiga sosok ular berkepala tiga muncul dan mendekati Ling Tian dan Mao An dengan ledakan aura yang sangat kuat.
"Dua monster beast tingkat 7 tahap puncak dan satu monster beast tingkat 8 tahap awal!" ucap Ling Tian lirih sambil memasangkan sikap waspada.
"Apaaa!" ujar Mao An sangat terkejut.
"Tetap tenang dan jangan panik!" ucap Ling Tian.
"B-baik Tuan Muda!" jawab Mao An mengangguk.
Setelah beberapa saat, ketiga monster beast berbentuk ular berkepala tiga itu sampai dihadapan Ling Tian dan Mao An lalu berubah mengambil bentuk manusia.
"Setelah ribuan tahun lamanya, akhirnya ada manusia yang kembali datang dan memasuki Hutan Tanpa Batas!" ucap sosok pria baya yang menjadi pemimpin ketiga orang itu dan menatap Ling Tian serta Mao An dengan tajam.
Dengan sikapnya yang tenang, Ling Tian menangkupkan kedua tangan dan memberikan salam dengan hormat.
"Salam senior semua! Aku Tian Lin dan ini saudaraku Mao An memberi hormat!"
"Katakan padaku mengapa kalian memasuki Hutan Tanpa Batas? Dan kau dari Klan Mao, sejak kapan menjadi dekat dengan manusia?" ucap pria baya tersebut tanpa membalas salam dan penghormatan Ling Tian.
"Kauuu!" Mao An menjadi terpancing. Dia tentu sangat murka dengan sikap yang diperlihatkan oleh pria baya tersebut.
"Apaa? Kau hanya kucing hitam kecil! Apakah kau tidak terima dengan sikapku? Sekarang katakan kepadamu apa tujuan kalian mendatangi Hutan Tanpa Batas? Atau aku akan membunuh kalian berdua!" ucap pria baya tersebut lalu memancarkan aura kultivasinya yang setara dengan Ranah Raja beserta niat membunuh sangat pekat. Kedua sosok pemuda yang ada dibelakang pria baya tersebut juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Tuan-tuan sekalian! Apakah kalian tidak bisa berbicara dengan tenang! Aku dan saudaraku datang ke hutan ini karena untuk mencari sumber daya!" jawab Ling Tian.
"Mencari sumber daya ditempat kami? Baiklah! Kalian lebih baik mati saja!" ucap pria paruh baya tersebut langsung menyerang Ling Tian dan Mao An dengan serangan tapaknya yang berwarna hitam.
Swoosh...
Boommmmm...
Ledakan dahsyat terjadi saat serangan tapak dari pria paruh baya yang memiliki kekuatan Ranah Raja Awal dapat dihalau dengan mudah oleh tapak Ling Tian.
"Apaa!"
Ketiga sosok jadi-jadian dari monster beast ular berkepala tiga itu sangat terkejut saat Ling Tian mampu menghadang serangan. Terlebih bagi pria paruh baya yang terdorong mundur hingga puluhan langkah dan merasakan tangannya yang kebas.
'Sangat kuat!' ucapnya dalam hati.
Pria paruh baya itu menatap Ling Tian dengan tatapan kemarahan serta kebencian.
"Kau pemuda keparat ternyata cukup kuat! Tapi janganlah senang dulu! Serangan sebelumnya barulah menjadi ajang pemanasanku yang hanya menggunakan sepuluh persen kekuatanku!" ucap pria jadi-jadian itu membuat alasan.
Sementara Ling Tian yang sebelumnya juga terdorong namun hanya beberapa langkah saja langsung menatap tajam kearah pria baya.
"Kultivator Ranah Raja ternyata selemah ini!" ucapnya dengan santai namun langsung membuat pria baya itu naik pitam.
"Keparat! Hanya karena faktor keberuntungan saja kau menjadi sombong! Lihatlah bocah! Keberuntunganmu telah habis!" ujar pria baya itu lalu kembali menyerang Ling Tian dengan tapaknya. Namun pada serangan kali ini dia menggunakan cukup banyak energi Qi miliknya.
Swuuush...
Swuuush...
Booommmm...
Ledakan yang lebih dahsyat dari sebelumnya terjadi dan gelombang angin setajam pisau menyebar kesegala arah memotong apapun yang dilewatinya membuat Mao An dan kedua pemuda yang menjadi bawahan pria paruh baya membuat perisai perlindungan.
Ling Tian dan pria paruh baya sama-sama terlempar hingga puluhan meter menabrak beberapa pohon besar dan merobohkannya.
'Kampret! Tua bangka ini sangat kuat!' gumam Ling Tian.
Ling Tian sedikit menyesal karena tidak cepat-cepat menaikkan kultivasinya sampai ke tingkat puncak sampai akhirnya berada diposisi sulit seperti ini.
Meskipun tubuhnya tidak terluka sedikitpun, namun tidak dengan organ bagian dalamnya. Jika terus memaksakan melawan orang yang merepotkan maka bisa saja organ dalamnya akan hancur dan Ling Tian mungkin akan mati.
Keduanya kembali berdiri dan saling tatap dengan tajam. Andai tatapan bisa melukai maka pasti keduanya sudah berlumuran darah karena tersayat-sayat.
"Aku cukup terkejut dengan kekuatan yang kamu miliki bocah! Tapi.." ucap pria paruh baya itu sengaja memotong ucapannya sambil mengeluarkan tombak pusaka tingkat hijau kualitas tinggi dari cincin penyimpanannya.
"Nyawamu sudah dipastikan hilang saat aku mengeluarkan tombakku!" lanjutnya.
"Tua bangka! Bukankah anda terlalu percaya diri? Baiklah.. Coba halaulah serangan pedangku!" balas Ling Tian sengit sambil mengeluarkan pedang pusaka tingkat putih pemberian Patriark Klan Yi saat dirinya masih belum bisa menggunakan energi Qi.
__ADS_1
Ling Tian dan pria paruh baya itu mengalirkan Qi pada masing-masing senjatanya hingga senjata itu berdengung dengan lembut.
"Mati!" ucap pria baya itu melesat dengan kecepatan ekstrem menyerang Ling Tian dengan gerakan tusukan.
"Hyaat!"
Traank!
Bhusssshhh...
Benturan kedua logam keras terdengar memekakkan dan gelombang energi berupa angin tajam ikut terjadi. Ling Tian berhasil menangkis serangan tusukan itu dengan mudah lalu menyerang pria baya dengan serangan kejut dan beruntun daei berbagai arah.
Traank! Traank!
Tring!
Pedang pusaka Ling Tian beradu dengan tombak milik pria paruh baya menghasilkan suara dentingan.
Trank!
Ling Tian menggunakan Teknik Pedang Klan Yi lalu berubah menjadi Teknik Pedang Awan (Tarian Pedang Awan) untuk mengimbangi setiap serangan yang dilancarkan pria paruh baya. Terkadang dia juga menggunakan Teknik Langkah Kilat dari Kitab Tendangan Petir yang dia pelajari saat bersama sang Guru untuk mengecoh lawannya dengan geakan cepat namun pengalihan.
Ling Tian terus mengayunkan pedangnya yang terus beradu dengan tombak milik pria paruh baya. Keduanya hanya beradu dalam teknik terlebih dahulu dan belum menggunakan segenap kemampuan karena masihlah terlalu dini.
Meskipun begitu pertarungan mereka terlihat begitu sengit dan bisa saja salah satu daei keduanya akan terluka parah jika melakukan kesalahan walau hanya sedikit.
"Teknik pedang dan tendangan yang kau miliki cukup mengesankanku bocah!" ucap pria baya disela-sela pertarungan.
"Berbicara saat sedang bertarung denganku? Kau terlalu meremehkanku tua bangka!" ucap Ling Tian sengit lalu mulai sedikit serius.
___________________________________________
Tingkatan kultivasi diatas ranah Pendekar Berlian:
Ranah Raja.
Ranah Kaisar.
Ranah Master.
Ranah Saint.
Ranah Setengah Dewa.
Setiap tingkatan terbagi menjadi tiga tahapan yaitu tahap awal, tahap menengah dan tahap akhir/puncak.
__ADS_1
Akan tetapi tingkatan tertinggi yang ada di Benua Langit atau lebih tepatnya di Hutan Tanpa Batas adalah tingkat Ranah Kaisar Tahap Akhir.