
"Eh! Apa kamu bilang?" Ling We terkejut dengan yang dikatakan Ling Tian dan memastikan kebenaran telingannya.
"Bagaimana jika kita berpetualang bersama?" ulang Ling Tian dengan memutar malas bola matanya.
"Ahahaha.. Ternyata kupingku tidak salah dengar! Baik! Ayoo! Kapan berangkat?" ujar Ling We dengan wajah sumringah dan tertawa lantang.
"Kita berangkat besok pagi!" jawab Ling Tian.
"Baik! Aku akan menyiapkan semuanya nanti malam! Tapi ngomong-ngomong apakah kamu sudah sekalian memintakan izinku Patriark Klan?" tanya Ling We.
"Tenang! Untuk urusan itu sudah rebes! Eh.. Maksudnya beres! Kita tinggal capcus berangkat!" kata Ling Tian.
"Hohoo.. Kamu memang yang terbaik sobat! Haha!" ungkap senang Ling We.
"Yasudah! Itu saja yang ingin aku sampaikan! Aku pamit! Besok pagi ketemu lagi di pintu gerbang klan!" ucap Ling Tian tidak basa-basi.
"Eh! Kok langsung buru-buru sekali? Apakah tidak mau mampir buat minum teh terlebih dahulu?" Ling We dibuat terheran-heran.
"Tidak perlu! Lebih baik kamu persiapkan dahulu apapun yang akan kamu bawa buat petualang nanti. Kita tidak akan pulang dalam waktu dekat!" ujar Ling Tian.
"Oh.. Baiklah jika begitu maumu! Aku akan berkemas!" turut Ling We.
"Baiklah! Aku pergi!" kata Ling Tian.
"Silakan!" balas Ling We.
Zheep!
Ling Tian menghilang dan bersatu dengan udara tipis. Sementara Ling We melihatnya dengan wajah tersenyum dan bahagia. Pada akhirnya dia akan berpetualang juga seperti apa yang ia cita-citakan sedari dulu. Didalam klan, Ling We juga merasa sangat bosan jika harus sering duduk-duduk bersama para orang tua di aula pertemuan. Itu sangat menjengkelkan menurut Ling We.
***
Waktu terus bergulir dan pagi hari telah tiba. Saat ini Ling Tian sedang dipeluk oleh ibunya saat dia hendak berpamit pergi.
"Jaga dirimu baik-baik diluar sana nak! Jangan gegabah dan sering membuat masalah! Meskipun kamu sangat kuat, terkadang keberuntungan itu tidak selalu berpihak kepadamu! Maka tetaplah waspada!" ucap Hei Si dengan terus memeluk Ling Tian. Air mata seorang ibu yang sangat sayang kepada anaknya juga terus mengalir dengan deras.
"Baik bu!" jawab Ling Tian.
Setelah beberapa saat, Hei Si melepaskan pelukannya. Kini giliran ayahnya Ling Jun yang memeluk Ling Tian dan menepuk pundaknya.
"Ingat pesan ibumu nak! Banggakan Klan Ling kita! Rentangkan sayapmu hingga kesegala arah!" kata Ling Jun memberi sedikit nasehat dan semangat.
__ADS_1
"Tian'er tidak akan mengecewakan ayah dan ibu!" jawab Ling Tian yang sedikit terharu dan matanya berkaca-kaca.
"Yasudah! Pergilah nak! Do'a ayah dan ibu selalu menyertaimu!" kata Ling Jun setelah melepaskan pelukannya.
"Terima kasih ayah! Terima kasih ibu! Tian'er pergi!" ujar Ling Tian dan menangkupkan kedua tangannya.
"Ya!" jawab Ling Jun dan Hei Si serentak.
Ling Tian melesat pergi menuju kearah pintu keluar atau gerbang Klan Ling berada. Hanya butuh waktu dua tarikan nafas Ling Tian telah sampai dan melihat ada tiga orang yang sedang berdiri dibawah gapura klan. Mereka tidak lain adalah penjaga gerbang dan teman yang akan menemaninya berpetualang, Ling We.
"Salam paman berdua! Salam saudara We!" ucap Ling Tian menyapa.
Kedua penjaga yang melihat Ling Tian datang dan memberi salam segera membalasnya juga dengan hal yang sama dan menangkupkan dua tangan.
"Salam Tuan Muda Tian!" ucap keduanya.
"Salam saudaraku!" Ling We juga ikut membalas.
"Bagaimana? Apakah sudah siap?" tanya Ling Tian kepada Ling We.
"Tentu saja! Aku sudah siap sedari pagi buta! Darimana saja kamu? Ditunggu malah seperti tidak tahu ditunggu! Aku hampir saja menjamur karena terlalu lama menunggumu!" keluh Ling We.
"Ah.. Jika itu sebab ibumu, aku tidak akan mempermasalahkannya! Baik! Mari kita berangkat!" kata Ling We yang jelas tahu bagaimana sayangnya Hei Si kepada Ling Tian.
"Ayo! Oiya paman-paman! Aku titip Klan Ling! Tolong dijaga dengan baik! Aku dan saudara We akan pergi sementara!" ucap Ling Tian kepada kedua penjaga gerbang klan.
"Itu sudah menjadi kewajiban kami untuk menjaga Klan Ling Tuan Muda! Bahkan nyawa kami siap ditaruhkan untuk Klan Ling!" jawab penjaga satu.
"Yang dikatakan saudaraku adalah kebenaran Tuan Muda! Darah kami akan kami alirkan demi menjaga Klan Ling!" tambah penjaga kedua.
"Aku senang mendengarnya. Baiklah.. Terima ini! Sebagai bonus dariku!" kata Ling Tian sambil melempar empat koin platinum kepada masing-masing penjaga.
"Kami sangat senang Tuan Muda!" ujar keduanya sangat senang. Mereka tidak mengucapkan terima kasih karena tahu bahwa Ling Tian sangat tidak suka dengan kata-kata itu.
"En! Ayo saudara We!" angguk Ling Tian lalu melihat Ling We dan melesat pergi.
Swuusshh...
"Ayo!" angguk Ling We serta mengikuti Ling Tian dari belakang.
Swuusshh...
__ADS_1
"Semoga Tuan Muda dan Tetua Muda We diberkati Maha Dewa!" ujar kedua penjaga gerbang menangkupkan kedua tangan pada arah perginya Ling Tian dan Ling We.
Setelah itu, mereka menghela nafas lega dan wajahnya begitu berseri-seri.
"Haahh.. Tuan Muda Ling memang benar-benar sangat dermawan!" kata penjaga satu.
"Benar! Dengan mudahnya dia melemparkan kepada kita empat koin platinum!" penjaga dua menambahkan.
"Kita tidak boleh mengecewakannya! Kita harus berjaga dengan sungguh-sungguh!"
"Iya!"
.
.
"Saudaraku! Kemana tujuan kita kali ini?" tanya Ling We.
"Kita akan ke Kota Awan terlebih dahulu! Kamu harus mencari pakaian ganti yang lebih baik!" jawab Ling Tian.
"Hemm.. Baiklah.."
Mereka berdua terus terbang melayang dengan kecepatan rata-rata dan santai. Tidak ada yang mengharuskan mereka untuk terburu-buru. Terkadang mereka berhenti dan mampir ke sebuah kedai untuk sekedar makan dan minum teh atau anggur.
Beberapa kali juga keduanya mampir dipenginapan untuk istirahat. Namun tidak jarang pula mereka bermalam di sebuah hutan dan memulihkan tenaga disana.
Sebenarnya bisa saja Ling Tian memasukkan Ling We kedalam dunia jiwa dan dia melesat dengan kecepatannya. Namun Ling Tian memang sengaja ingin memberikan pengalaman kepada Ling We yang baru pertama kalinya merasakan bagaimana dunia luar.
Seperti biasa, Ling Tian memakai topeng hitam yang menutupi separuh wajah untuk menyamarkan identitasnya. Dia juga memberikannya kepada Ling We. Ling Tian tidak ingin mendapati dirinya terlalu dihormati karena kabar akan Klan Ling yang menjadi Klan atasan dari Klan Wei tentu sudah menyebar kesegala penjuru. Wajahnya tentu juga sudah sangat dikenali oleh banyak orang. Maka akan sangat merepotkan jika identitasnya terungkap.
Setelah melakukan perjalanan sepuluh hari, mereka berdua akhirnya telah sampai jarak lima ratus meter didepan gerbang Kota Awan dan berniat ikut mengantri masuk.
"Saudara We! Segel basis kultivasimu hingga ranah Pendekar Perunggu Awal!" kata Ling Tian saat keduanya telah turun dan menjajak tanah.
"Baik!" jawab Ling We menurut. Dia menurunkan basis kultivasinya seperti yang Ling Tian katakan.
Adapun Ling Tian, dia justru menyegel kultivasinya hingga ranah Pendekar Besi Menengah.
"Saudaraku! Apa yang kamu lakukan?" tanya Ling We yang tidak faham.
"Tidak apa-apa! Mari kita lanjut!"
__ADS_1