
Didalam pertarungannya menghadapi gerombolan monster beast dan hewan siluman, Xuan Ji terus menghantami para lawan dengan palu yang senantiasa dia genggam dengan erat. Sesekali dirinya melirik kearah sang rival Hong Lie untuk melihat seberapa banyak dia sudah mengalahkan para monster dan siluman.
Baamm! Baamm! Buak!
Buak! Baamm!
Baamm!
Suara ledakan terus bergema saat pusaka palu Xuan Ji mendarat pada kepala dan tubuh para monster beast dan hewan siluman. Bukannya takut atau berlari, para monster dan siluman menjadi lebih beringas dan ganas saat melihat teman-teman mereka terbunuh didepan mata.
"Monster dan siluman ini seperti kehilangan akalnya!" ucap Xuan Ji lirih. Dengan tanpa lelah dia terus mengayunkan palunya. Sesekali dia menyempatkan diri menelan pil roh penyembuh untuk mengembslikan energi Qi yang mulai terkuras.
Ditempat yang berbeda, Yi Shu dan Gu Mei yang melawan para monster dan siluman dalam jarak berdekatan. Dengan permainan pedang dan tombak yang sangat mengesankan, keduanya bekerja sama dengan sangat baik.
"Saudari Mei! Kamu sangat hebat!" ucap Yi Shu dengan jujur. Dia sangat kagum dengan serangan gadis murid Long Yuan itu yang sangat akurat dan langsung membunuh satu lawan dalam setiap serangannya. Jurus tombak yang dimainkan Gu Mei adalah jurus yang dia pelajari dari sang guru, Long Yuan. Sementara permainan pedang Yi Shu adalah teknik milik klannya yang telah dia sempurnakan dengan bantuan Wei Hun.
"Saudara Yi Shu! Pedangmu juga sangat mengerikan dan tajam!" balas Gu Mei sambil tersenyum.
Boomm...
Boommmm...
Keduanya terus melancarkan serangan dan membunuh semua monster dan siluman yang terus mendekat.
Saat Yi Shu masih disibukkan dengan para monster tingkat rendah yang dengan gampang dirinya lawan, tiba-tiba dari arah titik butanya menyerang satu monster beast tingkat 5 yang berupa serigala berwarna merah dengan cakarnya yang sangat tajam.
"Saudara Shu! Arah belakang!" teriak Gu Mei sambil dengan sigap melempar tombaknya.
Yi Shu yang mendapati peringatan langsung berkelik dan melihat arah yang dikatakan.
Swooshh...
Jlebb!
__ADS_1
Tombak itu berhasil menancap tepat pada leher beast serigala api dan menewaskannya seketika. Namun sebagai gantinya, Gu Mei harus melawan para beast yang menghadangnya dengan tangan kosong.
"Terima kasih saudari Mei!" ucap Yi Shu dengan tulus. Yi Shu berusaha mendekati bangkai monster beast tingkat 5 tersebut untuk mengambil tombak pusaka milik penolongnya yang saat ini sedang kewalahan yang harus menghadapi lawannya dengan tangan kosong.
"Tidak perlu berterima kasih saudara Shu! Tolong kau ambilkan saja tombakku itu! Aku cukup kesusahan jika harus membunuh para monster dan siluman ini dengan tanpa senjata!" balas Gu Mei yang terus menahan gempuran serangan tapak dan cakar para monster dan siluman.
"Baik! Aku akan segera mengambilnya untukmu!" seru Yi Shu.
Yi Shu merangsek maju mendekati mayat monster serigala api yang masih berjarak sekita lima belas meter lagi darinya. Dia mengalirkan energi Qi lebih banyak pada pedang pusaka hijau yang dia dapatkan dari turnamen antar klan di Klan Ling.
"Aakkhh.. Kalian benar-benar membuatku kesal!" ucap Yi Shu dengan wajah sedikit merengut. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendekati mayat serigala api namun gerombolan monster beast dan siluman terus saja menghadang seolah tiada habisnya.
"Gerakan Ketujuh Pedang Yi! Tebasan Ganda Kesunyian! Matilah!" teriak Yi Shu.
Swoosshhh...
Bilah angin berwarna keemasan berbentuk huruf X yang semakin lama semakin melalebar melesat dengan sangat cepat dan melewati puluhan monster dan siluman dengan tanpa halangan.
Setiap monster atau siluman yang dilewati bilah tersebut langsung terpotong dengan mudah layaknya seperti tahu. Tanpa memperdulikan nafasnya yang sedikit tidak beraturan, Yi Shu berlari menghampiri mayat serigala api untuk mengambil tombak Gu Mei yang tertancap.
"Saudari Mei! Ini.. Tangkaplah!" seru Yi Shu.
Tap!
"Terima kasih saudara Shu!" ucap Gu Mei setelah berhasil menangkap senjatanya.
"Oke!" balas Yi Shu.
Gu Mei tersenyum sejenak melihat Yi Shu yang begitu tersengal-sengal nafasnya demi mengambilkan tombaknya. Ada sedikit perasaan hangat didalam hati kecilnya.
"Kalian semua sebelumnya begitu merepotkanku. Maka sekarang matilah dengan tombakku!" ujar Gu Mei setelah menelan pil roh memulihan.
Aura Pendekar Emas Akhir Bintang 9 meledak dari tubuhnya lalu menekan para monster beast dan siluman tingkat rendah.
__ADS_1
"Matilah!" teriak Gu Mei sambil melayangkan serangan tusukan dengan tombaknya.
Dari setiap tusukan yang dilancarkan Gu Mei muncul sebuah sinar kebiruan yang melesat dengan kecepatan cahaya dan menembus para monster dan siluman yang ada dihadapannya.
Kerja sama antara Yi Shu dan Gu Mei dan kompetisi konyol antara dua pentol korek Xuan Ji dan Hong Lie tidaklah luput dari penglihatan Ling Tian dan kedua saudaranya, Zhuge Ruxu dan Mao An. Terlebih Ling Lianhua yang berdiri sendirian menyerang setiap monster beast dan siluman yang menghadangnya.
Ketiganya masih belum ikut serta karena para monster beast atau siluman tingkat 6 dan 7 belumlah bergerak sama sekali.
"Seperti biasa, Xuan Ji dan Hong Lie selalu berkompetisi dengan hadiah kemenangan yang konyol! Sementara Yi Shu dan Gu Mei sepertinya ada saling perhatian dan rasa antara keduanya!" ucap Mao An berkomentar.
"Kamu benar adik kelima! Tapi yang paling mengesankan tetaplah muridku, Hua'er! Dia berjalan sendiri dan mampu melewati setiap lawan yang datang dengan penuh ketenangan! Bukankah begitu Tuan Muda Tian?" ujar Zhuge Ruxu dengan suara halus dan terdengar sangat bangga kepada setiap pengungkapannya terhadap sang murid, Ling Lianhua.
"Kamu memang benar saudari Ruxu! Tapi kelemahannya dia belum mencapai ranah Pendekar Platinum sehingga belum bisa mengeluarkan teknik pedang petir dengan sempurna!" jawab Ling Tian. Dia terus memfokuskan pandangannya kepada kelima murid yang sedang bertarung.
.
.
Ditempat lain, dibelakang gerombolan para monster beast dan siluman yang menyerang, berkumpullah seratus enam puluh monster beast dan hewan siluman. Dua puluh diantaranya adalah monster beast dan hewan siluman tingkat 7 yang sudah awakening menjadi manusia.
Tampak dari dua puluh monster beast dan hewan siluman yang berada di tingkat 7 ada dua sosok yang memancarkan aura yang sangat kuat dan mendominasi. Satu pria dengan perawakan kekar dan berotot yang tidak lain adalah raja dari para monster beast. Dia berasal dari ras kera raksasa dan bernama Kong Ki.
Dan yang satunya adalah seorang wanita yang terlihat sangat anggun. Namun dia adalah ratu siluman yang sangat kejam dan seperti iblis. Berbanding balik dari penampilannya yang sangat anggun dan tampak sangat lembut. Dia berasal dari siluman ular dan memiliki nama Huli Hei
"Raja Kong Ki! Apakah kamu tahu siapa kelima pemuda dan pemudi sialan yang membantai kaum kita itu?" tanya Ratu Huli Hei.
"Aku tidak tahu! Aku juga baru kali ini melihat ada kultivator manusia yang memiliki ketahanan bertarung hingga selama itu di Kota Xudong!" jawab Raja Kong Ki.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah kita akan mengirim para jendral untuk membasmi mereka? Mereka sungguh telah membantai sekita dua ribu pihakku dan dua ribu pihakmu dengan tanpa berkedip!" ujar Ratu Huli Hei dengan gusar.
"Jangan gegabah! Aku merasakan ada tiga orang lagi yang memantau dari langit dan aura mereka berada jauh diatasku!" kata Raja Kong Ki.
"Apaa! Jadi masih ada tiga orang lagi? Mengapa aku tidak merasakannya?" tanya Ratu Huli Hei terkejut.
__ADS_1
"Aku juga hanya merasakannya tipis-tipis dan kadang menghilang. Kepekaan serta insting kami para monster beast berada jauh diatas kalian para siluman!" jawab Raja Kong Ki dengan tenang.
"Untuk sementara biarkan mereka yang berada pada tingkat 5 untuk membantu secara bertahap dan satu persatu. Aku yakin stamina dan energi Qi kelima bocah itu akan terkuras dan akan mati setelahnya! Tidak apalah berkorban sedikit demi tujuan kita membalaskan dendam kepada penduduk Kota Xudong sialan itu!" lanjut Raja Kong Ki dengan sedikit bergetar saat mengingat kejadian masa lalu yang bersangkutan dengan penduduk Kota Xudong.