
Mao An berjalan ke arah Ling Tian dengan langkah yang gontai. Dia benar-benar telah menyesali tindakan yang terlalu bermain-main dengan pemimpin para bandit kelabang kuning. Wajahnya juga terlihat tidak karuan dengan ujung bibirnya yang mengerucut. Sungguh pemandangan yang menggelikan bagi siapapun yang melihatnya.
"Ada apa dengan mukamu saudaraku? Hahaha.." tanya Ling Tian dengan tawanya yang membuat Mao An semakin cemberut.
"G, P, P!" jawab Mao An singkat.
"Cih! Pake acara singkatan-singkatan. Hahaha.." Ling Tian semakin menjadi-jadi menggoda saudaranya itu.
Sementara untuk bawahan dari sang pemimpin bandit kelabang kuning, dia hampir muntah darah saat mendapati dua pembantai itu malah bercada dan tertawa dihadapannya. Sungguh sangat berbeda dengan sikap mereka yang sebelumnya yang terlihat sangat menakutkan. Kedua pria bertopeng separuh wajah ini seolah memiliki kepribadian yang ganda.
'Mereka berdua benar-benar orang-orang gila!' batin bawahan atau lebih tepatnya mantan bawahan dari pemimpin bandit kelabang kuning. Dia masih saja belum bisa menerima kenyataan ini. Akan tetapi dia juga tidak berani melakukan atau mengatakan sesuatu apapun karena mungkin saja dia dapat mati terbunuh juga akibatnya.
"Tuan Muda! Lalu buat apa Tuan Muda menyisakan satu orang ini?" tanya Mao An sembari menunjuk ke arah mantan bawahan dari pemimpin bandit kelabang kuning.
Mantan bawahan dari pemimpin bandit kelabang kuning pun langsung pucat pasi sangat mendengarkan pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu dari pemuda bertopeng separuh wajah. Sementara untuk Ling Tian, dia hanya menggelengkan kepalanya karena saudaranya itu telah lupa bahwa mereka juga membutuhkan informasi.
Jika mereka berdua membunuh keseluruhan dari para bandit, maka dari mana mereka harus mendapatkan informasi yang akurat mengenai para kriminal yang lain? Ling Tian yakin bahwa para kriminal memiliki jaringan tersendiri yang berhubungan antara satu sama lain.
"Kau lupa saudaraku, kita juga membutuhkan informasi! Jika aku membunuh semuanya, maka dari mana kita dapat mengetahui jaringan para kriminal itu?" tanya Ling Tian sambari mengerutkan keningnya.
"Owh.. Benar-benar! Maaf, aku lupa. Haha.." kata Mao An sembari tersenyum getir.
Ling Tian lalu mengintrogasi mantan bawahan dari pemimpin bandit kelabang kuning itu mengenai beberapa hal khususnya kelompok-kelompok kriminal yang merajalela sekali di daratan barat ini.
__ADS_1
Mantan bawahan dari pemimpin bandit itu hanya bisa menjawabnya dengan jujur karena dia takut jika dia berbohong dan ketahuan maka siksaan mengerikan pasti akan datang menghampirinya.
Setelah selesai dengan interogasi dan informasi yang dibutuhkan, Ling Tian lalu menjadikan mantan bawahan dari pemimpin bandit itu sebagai budaknya yang dia suruh untuk menyusup di ibukota kekaisaran menyusul dari anggota bandit lainnya yang sebelumnya juga telah dia jadikan sebagai budak.
Namun sebelum itu, Ling Tian juga menyuruh mantan bawahan dari pemimpin bandit kelabang kuning untuk mengumpulkan seluruh mayat para bandit bersama dengan mantan budak-budak mereka yang saat ini sepenuhnya telah terbebas sekaligus membakarnya di suatu tempat agar tidak menimbulkan penyakit ataupun wabah.
Seperginya mantan bawahan dari pemimpin bandit kelabang kuning, Ling Tian dan Mao An akhirnya memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu di bangunan bekas milik pemimpin bandit sebelum mereka melanjutkan perjalanan untuk membasmi para bandit atau para kriminal yang ada di daratan barat sekaligus mencari keberadaan dari kelompok pemberontak yang dipimpin oleh pangeran mahkota yang ternyata masih hidup dan berniat bergabung dengan mereka untuk mengambil kembali tahta dari kekaisaran Song.
.
.
Keesokan harinya, Ling Tian dan Mao An terbangun dari tidur lelapnya dan mendapati tidak ada satu orang pun di tempat itu kecuali hanya mayat-mayat yang masih bergelimpangan dan tubuhnya sedikit demi sedikit terlahap oleh api.
Sebelum meninggal tempat itu, Ling Tian memandangi tumpukan mayat yang masih tergeletak di hadapannya lalu melambaikan tangan dan seketika sebuah api berwarna biru keemasan muncul dari telapak tangannya dan membesar membakar seluruh tumpukan mayat itu hingga tidak lama kemudian tumpukan mayat itu pun hilang berubah menjadi debu. Sungguh tidak terbayangkan betapa panasnya api biru keemasan milik Ling Tian.
Perlahan tubuh Ling Tian pun melayang di udara lalu melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah di mana komplotan bandit atau para kriminal lain yang sering membuat ulah dan meresahkan masyarakat itu tinggal.
Seperti rencana di awal mereka sampai pada daratan barat, Ling Tian ingin menumpas para kriminal terlebih dahulu sebelum akhirnya bergabung dengan kelompok pemberontak yang dipimpin oleh sang pangeran mahkota dan kembali mengkudeta kekaisaran Song.
Ling Tian ingin menjadikan daratan barat layaknya daratan utara dan daratan tengah, yang mana mereka semua akan tunduk dan patuh di bawah perintahnya. Dan ketika rencana penyerangan atau perang besar melawan pihak aliansi aliran hitam di deretan selatan, Ling Tian tinggal hanya menghubungi mereka semua dan mereka pun siap untuk berangkat berperang.
***
__ADS_1
Hampir satu bulan lamanya Ling Tian dan Mao An menyusuri setiap sudut daratan barat untuk menemukan markas-markas dari para bandit ataupun perampok yang sering berulah dengan menjarah desa-desa ataupun menculik warga yang lemah untuk mereka jadikan budak.
"Sepertinya sudah tidak ada lagi kelompok kriminal yang ada di daratan barat ini tuan muda. Apakah sudah waktunya kita mendatangi kelompok pangeran mahkota dan bergabung dengan mereka?" tanya Mao An dengan santai dan meminum arak yang ada digelas yang digenggamnya.
Saat ini keduanya sedang berada di sebuah restoran yang mana restoran itu posisinya sangat dekat dengan markas rahasia dari kelompok pemberontak yang dipimpin oleh sang pangeran mahkota kekaisaran Song sebelumnya.
"Sepertinya begitu. Kita sudah menyusupkan hampir 500 orang di dalam ibukota kekaisaran dan mereka pun bekerja dengan baik dan sangat berhati-hati. Kita sepertinya tinggal menunggu satu informasi lagi mengenai pemetaan dari istana kekaisaran Song!" jawab Ling Tian yang juga ikut meminum arak dengan santai.
"Bukankah pangeran mahkota juga pasti sudah memiliki peta istana kekaisaran? Mengapa kita tidak segera bergabung saja dengan mereka lalu kita mintalah peta itu untuk tuan muda dapat menjalankan rencananya dengan mulus?" tanya Mao An sembari mengerutkan keningnya.
"Saudaraku, kita ini adalah orang baru di daratan barat ini dan sama sekali tidak memiliki nama yang dapat membuat pangeran mahkota serta para pengikutnya percaya kepada kita. Jadi akan cukup sulit meyakinkan mereka untuk dapat memberikan peta itu kepada kita. Dan lebih baik kita bersabar sejenak sembari menunggu mata-mata kita yang sedang menjalankan misi mencuri peta itu di dalam istana kekaisaran," ujar Ling Tian menjelaskan.
"Hmm.. Bukankah jika mereka tidak mau memberikan peta itu tinggal kita gebukin saja? Beres kan?" kata Mao An dengan entengnya.
Plaakk!
"Aduh! Mengapa Tuan Muda memukul kepalaku?" protes Mao An yang dipukul kepala belakangnya oleh Ling Tian.
"Itu karena agar otak di dalam kepalamu itu berjalan! Aku tidak ingin membuat diriku seperti seorang diktator yang diikuti karena rasa takut! Akan tetapi aku ingin diikuti karena mereka juga menghormatiku!" seru Ling Tian dengan nada yang sangat kesal.
"Ehehe.. Baiklah-baiklah.. Tidak usah cemberut seperti itu Tuan Muda! Kan aku cuma bertanya saja tadi. Lagipula Tuan Muda kan sudah aku traktir selama hampir sebulan ini," kata Mao An sembari tersenyum cengengesan.
"Itu bukan karena kamu sedang mentraktirku, tapi karena kamu kalah taruhan!" ujar Ling Tian acuh tak acuh lalu menikmati kembali arak yang ada di genggaman tangannya.
__ADS_1