Ling Tian

Ling Tian
Raja Kota Baru, Liong He!


__ADS_3

***


Keributan yang terjadi didalam istana kota atau lebih tepatnya di aula tamu istana mengundang beberapa Tetua dan anggota keluarga Situ. Mereka semua berbondong-bondong mendatangi aula tamu berharap mengetahui permasalahan yang terjadi.


Namun hal tersebut segera teralihkan saat mereka melihat kerumunan orang yang berada didepan gerbang istana seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukan.


Mereka semua bergegas mendatangi tempat itu dengan terburu-buru. Alangkah terkejutnya mereka semua saat melihat Sang Raja mereka sedang digantung dengan tanpa pakaian dan kultivasi yang telah dihancurkan. Terlebih dengan spanduk yang ada diatas tubuh yang tergantung tersebut sehingga mereka hanya bisa diam dan menyaksikan Situ Mingxin dalam diam dan hati yang sedih.


Istri dan anak serta keluarga Situ Mingxin hanya bisa menangis tanpa berani menurunkannya dari gantungan mengingat Situ Mingxin saja yang sudah berada di ranah Pendekar Berlian Awal Bintang 5 saja dibuat seperti itu lalu bagaimana nasib mereka jika berani menyinggung orang yang bersangkutan?


"Siapa orang yang melakukan ini? Mengapa begitu kejam?" tanya istri Situ Mingxin dengan deraian air mata.


"Yang Mulia Ratu! Kami tidak tahu!" ucap salah satu jendral.


"Kalian para jendral dan komandan! Mengapa tidak menurunkan Yang Mulia Raja?" tanya Sang Ratu dengan tatapan memohon.


"Yang Mulia Ratu! Kami tidak berani! Orang yang melakukan ini kepada Yang Mulia Raja adalah eksistensi yang tidak dapat disinggung di Benua Langit ini!" jawab sang jendral dengan wajah pucat. Dia mengingat jelas saat Ling Tian mengeluarkan aura penindasannya yang sangat kuat sebelumnya.


Sang Ratu Kota Xudong hanya bisa terdiam dan meratap sedih melihat suaminya yang sangat mengenaskan. Air matanya terus mengalir dan membanjiri pipinya yang halus seputih salju.


'Suamiku! Siapakah orang yang telah kamu singgung? Dan kesalahan apakah yang telah kamu lakukan?' gumam Sang Ratu bertanya pada dirinya sendiri.


"Ratu Kota Xudong dan kalian para anggota Klan Situ datanglah ke aula tamu!"


Tiba-tiba sebuah suara yang berasal dari dalam istana bergema dengan keras disertai gelombang aura kuat dan niat pedang yang terasa sangat mengiris tengkuk.


"Yang Mulia Ratu.." ucap sang jendral.


"Mari kita kesana sekarang! Kalian semua juga!" ujar Sang Ratu sambil mengajak seluruh anggota Klan Situ.


"Baik Yang Mulia Ratu!" jawab semua orang dari Klan Situ.


Mereka semua dengan tergesa-gesa pergi meninggalkan kerumunan banyak orang itu, takut jika sampai orang yang memanggil mereka sebelumnya menjadi murka.


***


Disisi lain, Mao An terus berjalan sambil diikuti oleh Tetua Liong He dan Liong Zi menuju Istana Raja Kota Xudong. Kedua petinggi Fraksi Naga Emas itu dibuat mengerutkan kening saat banyak sekali orang-orang yang berkerumun didepan pintu gerbang istana dengan puluhan prajurit yang berjaga bersenjatakan lengkap.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Tetua Liong He kepada Liong Zi melalui telepati.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu Paman!" jawab Liong Zi.


Mereka berdua terus mengikuti Mao An hingga tibalah mereka didepan pintu gerbang istana kota dengan keterkejutan yang memenuhi hati mereka.


"Paman! Bukankah itu Raja Kota Xudong, Yang Mulia Situ Mingxin?" tanya Liong Zi sangat terkejut.


"Benar! Itu memang dia! Sepertinya Yang Mulia telah melakukan tindakan bodoh kepada kelompok Tuan Muda Ling Tian itu dan berakhirlah seperti itu!" jawab Tetua Liong sedikit bergidik.


Mao An yang melayang di udara dengan auranya yang terus terpancar mengejutkan semua orang. Dengan reflek kewaspadaan tinggi, kaki semua orang mundur dengan sendirinya karena merasakan ancaman yang sangat mematikan dari sosok yang baru tiba tersebut.


"Tolong beri aku jalan!" ucap Mao An dengan datar kepada para prajurit yang berjaga.


"B-baik Tuan!" jawab si prajurit sambil membukakan jalan untuk Mao An.


"Kalian berdua! Ikuti aku!" seru Mao An kepada Tetua Liong He dan Liong Zi lalu memasuki istana kota menuju aula tamu.


"Baik Tuan!" jawab keduanya mengikuti Mao An dengan cepat.


Setelah mereka bertiga memasuki istana kota, barulah semua orang merasakan kelegaan dalam nafasnya yang sebelumnya tertahan.


"Siapa pemuda itu? Auranya sangat mengerikan!" ucap salah satu orang.


"Aku juga tidak tahu! Tapi mungkin saja dialah yang membuat Yang Mulia Raja seperti itu!" jawab orang disebelahnya sambil melirik Situ Mingxin yang tergantung dengan bers*mpak.


"Mungkin kau akan menjadi daging panggang dengan sentilan jarinya saja!"


"Mengapa daging panggang?"


"Yaa.. Mungkin saja orang itu memiliki elemen api! Dan kamu dibakarnya sampai gosong!"


"Haiih.. Mengada-ada saja kamu ini!"


Orang-orang terus membicarakan sosok Mao An yang memiliki aura yang sangat mengerikan sebelumnya. Sementara orang yang dibicarakan kini telah sampai di aula tamu dan menghadap Ling Tian yang sedang duduk diatas kursi dengan santai. Beberapa Tetua dan wanita yang memakai pakaian mewah yang tidak lain adalah Ratu Kota Xudong juga berada diruangan itu dengan wajah tertunduk.


"Tuan Muda! Aku telah membawa Tetua Liong He dan keponakannya Liong Zi! Apakah tugasku sudah selesai?" ucap Mao An bertanya.


"Tentu! Terima kasih saudaraku!" ucap Ling Tian menjawabnya dengan santai.


Tetua Liong He dan Liong Zi yang melihat pemuda bertopeng separuh wajah dengan jubah hitam duduk dengan santai diatas kursi segera menghampiri dan berlutut dengan rasa campur aduk. Mereka takut karena telah melakukan kesalahan yang tidak mereka sadari.

__ADS_1


"Hormat kami Tuan Muda Ling!" ucap keduanya serentak.


Ling Tian terkejut melihat keduanya tiba-tiba berlutut dihadapannya.


"Tetua Liong! Dan kamu! Apa yang kalian lakukan? Cepat berdirilah!" ujar Ling Tian sambil mengedarkan kekuatan jiwanya membuat keduanya berdiri.


"T-tuan Muda Ling.. Kami.." ucap Tetua Liong.


"Aku tahu kalian telah menyampaikan pesanku kepada Situ Mingxin dengan baik. Dan aku sangat berterima kasih akan hal itu!" ucap Ling Tian dengan sangat ramah.


"L-lalu mengapa Tuan Muda Ling memanggil hamba yang lemah ini?" tanya Tetua Liong memberanikan diri.


"Aku ingin menjadikanmu sebagai Tuan atau Raja Kota Xudong yang baru!" jawab Ling Tian dengan santai.


"Apaaa!" semua orang terkejut. Bahkan Ratu Xudong saat ini sampai menatap tajam kearah Ling Tian dengan niat membunuh yang merembes dari tubuhnya.


"Wanita sialan! Jaga tatapan matamu terhadap Tuan Muda! Atau aku akan mencongkelnya!" ujar Mao An dengan dingin disertai ledakan niat membunuhnya yang sangat mencekik.


"Saudara Mao An berhenti!" ucap Ling Tian.


"Baik Tuan Muda!" turut Mao An sambil menarik kembali niat membunuhnya.


Ling Tian menatap semua orang yang ada diruangan itu dengan lekat lalu memulai membuka suara.


"Situ Mingxin telah bertindak bodoh dengan hendak meracuni kami berdua dengan racun tanpa warna pada minuman kami!.."


"Sebelumnya kami datang hanya karena ingin mengambil kembali barang milik dua penguasa Kota Yunzun yang telah dicuri oleh leluhur Klan Situ ratusan tahun lalu dan menjanjikan perdamaian serta keselamatan untuk Kota Xudong terhadap gelombang monster beast dan hewan siluman! Tetua Liong He dan Tuan Liong Zi dapat menjadi saksinya.." Ling Tian menjelaskan.


Swoosh...


Ling Tian mengeluarkan telur burung Phoenix Ilahi dan selembar kulit hewan buas yang didalamnya terdapat tanda darah sebagai surat perjanjian damai.


"Namun kedatangan kami berdua justru disambut dengan sangat tidak ramah bahkan dimulai oleh kelancangan komandan pasukan yang berjaga di pintu gerbang istana!"


"Aku adalah orang yang tidak pernah mentolerir tindakan buruk dan selalu melenyapkan orang tersebut beserta semua orang yang bersangkutan dengannya!.."


"Namun aku memberikan sedikit keringanan kepada kalian para anggota Klan Situ dengan syarat memberikan jabatan Raja Kota kepada Tetua Liong He dengan kalian yang tetap menjadi menteri atau para jendral pasukan yang mendukungnya!.."


"Jadi, apakah ada yang keberatan dengan keputusanku?" tanya Ling Tian sambil melihat semua anggota Klan Situ dengan lekat.

__ADS_1


Semua orang masih terdiam namun dapat dilihat mereka sedang berdiskusi melalui telepati. Setelah beberapa saat, mereka akhirnya menganggukkan kepala tanda telah tercapainya kesepakatan.


"Baik Tuan Muda! Kami menyetujuinya!" ucap sang mantan ratu Kota Xudong mewakili semua orang. Dia mencopot mahkota tanda kepenguasaan dan meletakannya di meja depan Ling Tian.


__ADS_2