
Ling Tian segera membuat segel ditangannya dengan kecepatan tak terlihat mata dan membuka gerbang dunia jiwa.
Swuuusshh...
"Mari adik Ziin!" kata Ling Tian mengajak.
"En.." Wei Ziin menjawabnya dengan anggukan.
Zheep!
Ling Tian dan Wei Ziin menghilang dan muncul kembali tepat didepan istana Ling didunia jiwa. Ling Tian tidak ingin lagi menunggu waktu lebih lama. Dia melemparkan sebuah cincin penyimpanan kepada Wei Ziin.
"Didalam cincin itu ada beberapa biji dari buah-buahan abadi! Kuharap dengan itu semua adik Ziin bisa menembus ranah Pendekar Platinum Awal. Maaf, kakak tidak bisa memberikan kepadamu lebih banyak lagi! Karena hal itu bisa berakibat fatal untuk tubuhmu!" tutur Ling Tian.
"Iya kak Tian! Ziin'er mengerti!" ujar Wei Ziin mengangguk faham.
Ling Tian tentu sangat paham dengan konsekuensi jika seseorang memaksakan untuk terus meningkatkan kekuatannya. Bahkan meskipun jika itu menggunakan buah abadi. Tubuh seseorang tersebut bisa meledak menjadi pasta daging karena belum siap menerima kekuatan yang begitu besar. Ling Tian tentu tidak mau hal mengerikan itu terjadi kepada sosok yang akhir-akhir ini menjadi bunga dipelupuk matanya.
Namun kasus lain terjadi pada beberapa orang. Seperti Ling Tian yang memiliki tubuh spesial dan tulang yang kuat, maka dia tidak perlu takut akan terjadi kecelakaan. Tidak peduli seberapa banyak dirinya naik tingkatan maka tubuhnya akan menyesuaikan dengan sendirinya.
"Baiklah.. Sekarang carilah tempat dimanapun adik Ziin mau! Kakak juga akan pergi sekarang!" kata Ling Tian.
"Baik! Terima kasih kak Tian!"
Cup!
Wei Ziin yang sangat bersemangat langsung saja menyosor pipi kiri Ling Tian dan pergi begitu saja tanpa sepatah katapun atau bertanggung jawab karena telah menodai kesucian pipi Ling Tian.
Ling Tian terpaku dan membeku seketika. Fikirannya melayang terbang ke Alam Surga. Oh tidak! Dia mengelus pipinya sendiri dan tersenyum penuh makna. Ling Tian terlalu terkejut dan polos akan hal seperti ini.
"Haaiih.. Besok sering-seringlah seperti ini Ziin'er!" ucapnya pelan tak berdaya.
Setelah mengalami kejadian yang membuat batinnya begitu syok, Ling Tian terbang dan melesat dengan tenang menuju tempat ternyamannya untuk berkultivasi.
'Setelah menaikkan kultivasiku.. Aku harus memurnikan senjata pusaka tingkat hijau dan beberapa pil tingkat sembilan atau jiwa untuk dijadikan hadiah turnamen nanti. Hitung-hitung agar kebun herbal yang ditanam oleh guru tidak mubadzir. Hehehe..' gumamnya sendiri.
Setelah sampai disebuah perbukitan yang rindang dengan pepohonan, Ling Tian berhenti terbang dan turun.
'Sepertinya tempat disini sangatlah cocok! Baiklah.. Mari kita mulai berkultivasi!'
__ADS_1
Ling Tian duduk dengan sikap lotus dan mengeluarkan cukup banyak buah-buahan abadi. Mulai dari anggur putih, buah bodhi, persik emas,apel perak, timun emas dan bahkan buah labu berlian yang sangat berharga.
Mungkin jika ada orang lain atau bahkan dewa sekalipun yang melihat Ling Tian begitu boros mengkonsumsi buah abadi, sudah dipastikan mereka akan kejang-kejang lalu tak lama kemudian akan mati karena terkejut.
"Dengan semua ini, setidaknya aku akan sampai pada ranah Pendekar Berlian Akhir Bintang 1 atau lebih! Ah.. Buah labu berlian yang sangat berharga!" ujarnya mengangguk.
"Halangan seseorang untuk mencapai ranah Pendekar Berlian adalah pada pembangkitan elemen bawaannya. Namun aku sudah menguasai penuh elemen bayangan. Sungguh keberuntungan yang tak terbatas!" lanjutnya.
Setelah menumpuk semua sumber daya atau buah-buahan abadi didepannya, Ling Tian kemudian memperagakan teknik atau manual kultivasi pelahap miliknya.
"Lahap semua!" seru Ling Tian.
Zhuung!
Satu pusaran angin hitam yang cukup besar terbentuk dari belakangnya dan menyerap semua saripati atau esensi dari buah-buahan abadi hanya dalam beberapa detik saja dan kini sudah sepenuhnya masuk kedalam tubuh Ling Tian atau lebih tepatnya didalam dantian.
Memang benar cara kultivasi Ling Tian sangatlah berbeda dengan orang lain. Biasanya, seseorang yang ingin meningkatkan kultivasinya dengan buah abadi akan memakannya secara perlahan dan kemudian menyerapnya perlahan-lahan pula. Hal itu disebabkan karena begitu kuatnya energi yang terkandung didalam buah abadi yang kemungkinan bisa membuat tubuh si penyerap meledak menjadi pasta daging.
Dengan bekal dantian, tulang, dan tubuhnya yang tidak terbatas kuatnya, Ling Tian tidak mempermasalahkan jika harus melahap semuanya dalam satu waktu. Seperti saat ini, Ling Tian merasakan dantiannya begitu sesak akan energi yang ingin meledak. Dengan perlahan dia mengalirkan energj tersebut keseluruh tubuhnya melalui titik-titik meridiannya.
Bom! Bom! Bom!
Ledakan tanda dirinya menerobos kembali terdengar. Hal itu terus berulang-ulang hingga sepuluh hari telah berlalu. Saat ini Ling Tian sudah diambang terobosannya menuju ranah Pendekar Berlian Awal.
"Ugh! Aku harus bisa menunda sementara waktu petir kesengsaraanku sampai semua energi ini habis terserap!" ujar Ling Tian yang merasakan bahwa energi yang dia serap barulah satu pertiga saja. Sungguh masih sangat banyak yang tersisa!
Bom!
Ledakan teredam dari dalam tubuh Ling Tian akhirnya terdengar kembali tanda dirinya sudah mencapai ranah Pendekar Berlian.
Awan hitam kemerahan diatas langit dunia jiwa mulai bergumpal dan menyebar ke segala arah. Petir-petir merah mulai terdengar menggelegar seperti dewa yang marah.
"Sial! Aku sedikit terlambat membuat formasi! Tidak! Aku harus menahannya!" ujar Ling Tian kemudian membuat segel yang sangat rumit ditangannya.
Zhuung!
Sebuah cahaya berbentuk lingkaran muncul dari tangan Ling Tian dan dengan cepat menyebar dan melingkupi Ling Tian seluruhnya. Petir diatas langit perlahan mereda dan awan hitam kemerahan memudar saat merasakan kehilangan aura orang yang hendak menembus ranah kultivasi.
"Syukurlah.." Ling Tian menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Sialan naga petir itu! Awas saja kau nanti!" lanjutnya berdecak kesal.
Ling Tian kembali melanjutkan kultivasinya hingga dua bulan waktu telah berlalu.
Bom!
"Akhirnya.." ucap Ling Tian dengan lega setelah dirinya telah selesai menyerap esensi buah abadi dan telah sampai pada ranah Pendekar Berlian Akhir Bintang 1 seperti yang dia perkirakan sebelumnya.
Ling Tian menghilangkan formasi array yang sebelumnya dia buat dan melepaskan semua aura yang dia miliki.
Bhuuuzzzzhh...
Aura kultivator ranah Pendekar Berlian Akhir Bintang 1 meledak dengan gila dan menyebar ke segala arah. Bumi yang dipijakinya sedikit dibuat bergetar karenanya. Fluktuasi udara menjadi sangat kacau balau. Angin berhembus dengan sangat kencang dan tidak beraturan.
Perlahan awan hitam dan petir merah kembali muncul dengan disertai niat membunuh sangat pekat. Awan itu terlihat sangat mengerikan bagi siapapun yang menyaksikannya.
Wei Ziin yang berada sangat jauh dari Ling Tian terpaksa menghentikan kultivasinya karena terkejut dengan niat membunuh yang terpancar.
"Apakah ini terobosan kakak Tian? Sangat mengerikan!" ujarnya sambil melihat keatas langit yang berubah menjadi hitam kemerahan.
Sementara diatas awan yang mencekam, sosok naga petir berwarna merah yang sangat agung lagi mengerikan muncul dari kehampaan. Niat membunuh yang sangat kuat itu nyatanya keluar dari dirinya. Saat ini dia dengan bangga kembali mendapat tugas untuk menguji manusia yang berani melawan kehendak surga.
Kemunculan naga petir merah tidak sedikitpun membuat Ling Tian gentar. Dia justu terlihat sedang tersenyum bahagia.
"Dia lagi!" ejek Ling Tian pelan.
Naga Petir berwarna merah atau biasanya lebih dikenal dengan Naga Petir Kekacauan keluar dari gumpalan awan hitam. Dengan bangganya dia bersiap untuk mengaum sekeras-kerasnya.
GROOOAAA-
"WOOY! LAMA SEKALI KAU INI CEPATLAH KEMARI! ATAU KEMBALI KUBUAT KAU MENJADI BABAK BELUR!"
Auman agung dari naga petir kekacauan terpotong oleh teriakan Ling Tian yang tidak kalah menggelegarnya. Naga petir kekacauan spontan melihat dengan jeli darimana arah teriakan tersebut.
Namun saat mendapati seorang pemuda tampan mengenakan jubah hitam, nyali naga petir kekacauan seketika menciut. Sial! Sial! Sial! Mengapa harus bocah bau itu lagi? Fikirnya.
Dia masih sangat trauma dengan kejadian yang terakhir menimpanya saat ingin menguji pusaka buatan pemuda itu. Dia berbertekat tidak ingin lagi menemui pemuda sontoloyo itu. Namun ternyata dirinya saat ini kembali sial!
"Kemarilah naga imut! Atau aku akan menyembelihmu lalu membakarmu menjadi naga panggang! Hahaha.."
__ADS_1