Ling Tian

Ling Tian
Persiapan Perang Dan Keberangkatan


__ADS_3

Jdeeerrrrr...


Jdeeerrrrr...


Jdeeerrrrr...


Ling Tian dan Mao An terus menyaksikan prosesi penerobosan dari pangeran Song Yunlei itu dengan seksama, hingga sambaran petir ke-4 telah turun menghantam tubuh sang pangeran yang menandakan bahwa kenaikan tingkat ke Ranah Raja telah berhasil.


Zhuuuungg!


Sebuah celah spasial langsung tercipta di atas langit dunia jiwa saat merasakan ledakan kekuatan yang muncul dari tubuh pangeran Song Yunlei. Ya, pusaran angin itu adalah penghubung antar alam yang mana telah mendeteksi adanya kekuatan yang melampaui batas dari dimensi Benua Langit.


Meskipun Ling Tian dan yang lainnya saat ini berada di dunia jiwa, namun pada dasarnya mereka tetap saja berada di Benua Langit dan aturan dimensi dunia jiwa mengikuti aturan terakhir Ling Tian bertapak atau Benua Langit.


Pangeran Song Yunlei yang sedang melayang di atas udara menatap lurus ke arah Ling Tian dan juga Mao An. Senyuman lebar langsung terukir dari sudut bibirnya dan hal itu terlihat sangatlah tulus sekali.


"Sekali lagi terima kasih Tuan Muda!" ujarnya sambil menangkupkan kedua tangannya untuk menunjukkan rasa hormat dan ketulusan.


"Tidak perlu dipikirkan, pangeran! Yang terpenting ingatlah pesanku yang sebelumnya itu!" seru Ling Tian menyahut.


Pangeran Song Yunlei menganggukkan kepala, kemudian dirinya pun mulai terbang mendekati celah spasial penghubung antar alam itu.


Zheeeepppp!


Celah itu pun menutup bersamaan dengan menghilangnya sosok dari pangeran kedua kekaisaran Song yang Ling Tian yakini akan menjadi sosok yang baik nantinya di alam menengah. Ling Tian juga berharap dia akan bertemu dengan saudara-saudaranya dan membantu membuat pijakan di sana.


"Haahh.. Baiklah saudaraku.. Informasi telah kita dapatkan. Mari kita kembali dan menyampaikan hal ini di dalam pertemuan sebelum perang," ujar Ling Tian sembari melihat ke arah saudaranya dan melambaikan tangan membuka pintu gerbang untuk keluar dari dunia jiwa.


"Mari Tuan Muda." angguk Mao An.


Keduanya pun dengan tanpa ragu langsung memasuki celah spasial tersebut dan meninggalkan dunia jiwa setelah memberikan pesan kepada ketiga Tie bersaudara bahwa mereka akan kembali pergi meninggalkan dunia jiwa.

__ADS_1


***


Zhuuung!


Celah spasial atau pusaran angin berwarna putih keemasan tercipta di tempat terakhir sebelum Ling Tian dan Mao An memasuki dunia jiwa. Kedua pemuda tampan tampak keluar dari dalam pusaran itu dengan tersenyum lebar dan sedikit bercanda tawa.


Zheep! Zheep!


Ling Tian dan Mao An lalu melesat pergi meninggalkan tempat tersebut untuk kembali ke klan.


.


.


Kedua pemuda tampan itu muncul kembali secara tiba-tiba tepat di depan pintu gerbang kediaman sederhana milik Ling Jun. Hal itu membuat beberapa saudara Ling Tian yang lainnya terkejut dan langsung memasang sikap waspada atau bersiap untuk menyerang. Salah satu diantara para saudara Ling Tian itu terdapat Bai Si'er atau kekasih dari Mao An.


"Yoyoo.. Istriku.. Mengapa kamu bersikap siaga seperti itu? Apa kamu ingin membunuh suami tertampanmu ini?" tanya Mao An bercanda dan wajahnya dibuat-buat seolah sedang cemberut.


"Si'er sayangku.. Istriku.. Pujaan hatiku.. Mana mungkin orang ada yang berani menyerang kediaman paling sakral di Klan Ling ini? Kamu ini.. Ada-ada saja." ujar Mao An dengan santai sembari berjalan mendekati Bai Si'er lalu mengelus lembut ujung kepalanya dan memeluknya dengan terang-terangan di hadapan semua orang.


"An gege! Apa yang kamu lakukan?" tanya Bai Si'er dengan mata melotot dan berbisik.


"Si'erkuu.. Kamu adalah istriku, maka tidak usahlah sungkan untuk memperlihatkan kemesraan kepada para jomblo akut di sekitar kita ini! Hahaha.." jawab Mao An sambil tertawa terbahak-bahak lalu pergi meninggalkan tempat itu bersama dengan Bai Si'er.


Disisi lain, Ling Tian dan beberapa saudaranya yang lain yang belum memiliki istri dan mendengarkan penuturan Mao An hampir saja dibuat muntah darah. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa saudara mereka yang satu itu sungguh sangat tajam dalam ucapannya saat menyinggung status atau pasangan. Pamernya benar-benar tidak punya obat!


Setelah itu, Ling Tian pun mengajak saudara-saudaranya yang lain untuk ikut masuk ke dalam kediaman ayah dan ibunya mengikuti jejak dari Mao An dan Bai Si'er.


***


Tiga bulan kembali berlalu dan Ling Tian dan seluruh orang-orang yang berasal dari aliran putih di empat daratan telah mempersiapkan semuanya untuk peperangan yang akan terjadi dalam waktu yang dekat.

__ADS_1


Mereka telah melakukan beberapa kali pertemuan dan akhirnya menemukan kesepakatan berupa menyerang secara bersamaan dari 4 sisi serta melakukan perjalanan menuju ke daratan Selatan menggunakan artefak kapal terbang.


Selama 3 bulan ini pula, semua orang dari aliran putih telah menyiapkan artefak kapal terbang tersebut yang jumlahnya mencapai ribuan. Bagaimana tidak? Orang-orang aliran putih merasa bertanggung jawab dan ingin ikut andil atas peperangan kali ini, dikarenakan pihak yang akan memenangkan peperangan maka akan menjadi penguasa pula di Benua Langit.


Ling Tian juga telah menginformasikan mengenai pesan yang telah disampaikan oleh pangeran Song Yunlei yang mana orang-orang aliran putih akan merasakan sebuah ketidakstabilan energi saat berperang karena orang-orang aliran hitam telah berhasil membuat susunan formasi array pengacau.


Hal itu juga telah dimusyawarahkan dan mencapai kesepakatan akan ditunjuknya beberapa puluh rombongan berkekuatan ranah Pendekar Berlian yang bertugas untuk mendeteksi atau mencari titik pusat dari formasi array agar Ling Tian ataupun saudara-saudaranya dapat menghancurkan formasi array itu.


"Apakah semua telah siap?" tanya Ling Tian kepada Mao An yang telah dia tunjuk sebagai jenderal pasukannya.


"Semua telah siap, Tuan Muda! Bahkan pasukan dari tiga daratan yang lain sudah berangkat mendahului menuju titik mereka masing-masing," jawab Mao An.


"Lalu berapakah pasukan yang daratan timur miliki saat ini?" tanya Ling Tian lagi.


"Jumlah keseluruhannya adalah sekitar 40 sampai 50 juta pasukan, Tuan Muda!" jawab Mao An.


"Hoo.. Sepertinya pasukan kita lah yang paling sedikit saudaraku?" kata Ling Tian.


"Benar sekali! Daratan utara membawa sekitar 90 juta pasukan, daratan barat 100 juta, dan daratan tengah 150 juta pasukan!" ujar Mao An.


"Hmm.. Tidak apalah! Lakukan semua seperti yang telah di rencanakan! Aku serahkan semua pasukan kepadamu, saudaraku! Aku akan berangkat mendahului kalian semua bersama dengan saudari Feng!" tutur Ling Tian sembari menepuk pundak Mao An.


"Serahkan semuanya kepadaku, Tuan Muda! Aku pasti akan membuat pasukan paling sedikit ini menjadi pasukan yang paling disegani oleh seluruh daratan!" jawab Mao An dengan mantab dan yakin.


"Baiklah.. Aku berangkat sekarang!" ujar Ling Tian.


"Silakan, Tuan Muda!" sahut Mao An.


Ling Tian lalu menatap ke arah langit dan berseru, "Saudari Feng!"


Swiiiiiiiiittttt...

__ADS_1


__ADS_2