
"Haiih.. Ada-ada saja!" kata Sang Pimpinan menghela nafas.
Dia lalu memikirkan beberapa hal yang berhubungan dengan kemunculan para manusia dan beast di dunianya. Sang Pimpinan lalu mengeluarkan sesuatu berbentuk kotak segi panjang berwarna hitam.
Sang Pimpinan lalu perlahan membuka kotak itu dan aura yang sangat mencekam merembes dari benda yang ada didalamnya.
Benda itu adalah pedang pusaka tingkat hitam dengan kualitas sempurna.
Setelah itu dia memegangi daun telinganya yang terdapat anting aneh yang sangat antik. Sebenarnya kekuatan Sang Pimpinan dulunya hanyalah ranah Pendekar Besi Akhir Bintang 9 saja, namun setelah menemukan anting aneh berwarna hijau keemasan dan memakainya, kekuatannya meningkat satu ranah penuh hingga ranah Pendekar Perunggu Tahap Akhir Bintang 9 atau tahap Puncak.
"Dengan adanya pedang tingkat hitam yang meminjamkan aku kekuatan, maka para manusia dan beast itu tidak akan ada yang bisa merebutnya dariku!" katanya lalu menutup kembali pedang pusaka tingkat hitam dan memasukkannya dalam cincin penyimpanan.
Sang Pimpinan sudah tahu bahwa kedatangan para manusia dan beast ke dunia ini adalah karena harta yang ada padanya ini. Sebab dia pernah mendengarkan suara tanpa rupa namun bukanlah kentut yang mengatakan bahwa harta itu akan diperebutkan oleh para manusia dan beast dari dunia lain dan dirinya diperintahkan untuk memberikannya saja sehingga dia dan kaumnya akan selamat dari pertarungan mematikan.
Namun karena keserakahan dan merasa bahwa dirinyalah yang terkuat dan tidak ada tandingannya, apalagi setelah tahu bahwa orang-orang yang datang hanyalah ranah Pendekar Kayu saja, maka Sang Pimpinan itu tidak mau melepaskan hartanya dan memilih untuk bertarung serta melenyapkan seluruh manusia dan beast yang datang di dunianya ini.
Daging dan jantung manusia atau beast juga sangat bermanfaat untuk kaum primitif sepertinya. Karena dapat dengan cepat menaikkan ranah kultivasi serta memperkokoh pondasinya. Itu artinya, semua manusia primitif adalah kanibal!
***
Ditempat lain, Mao An terus melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh dengan tanpa arah. Dia hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh hatinya. Sebab ada pepatah mengatakan bahwa mengikuti kata hati adalah jalan yang terbaik.
Saat Mao An sedang santai untuk beristirahat dan memulihkan energi Qi miliknya, tiba-tiba saja dia mendengarkan sebuah suara dentingan senjata tidak jauh darinya.
"Hmm.. Sepertinya ada yang sedang bertarung," katanya lalu beranjak dari tempat itu untuk menonton siapakah gerangan yang bertarung.
Swish...
__ADS_1
Mao An meloncat dari dahan pohon satu ke dahan lainnya guna mendekati pertarungan.
***
Trank! Trank! Trank!
Leluhur Xiao Chen dan Leluhur Song Mu terlihat sangat kewalahan menghadapi orang-orang primitif yang tiba-tiba muncul menyerang mereka. Keduanya terlihat bahu membahu menghabisi orang primitif itu namun masih saja gagal karena orang-orang di dunia kecil ini memiliki energi yang berwarna hitam dan putih yang sangat kuat untuk menyerang.
Belum lagi senjata yang dipegang mereka adalah senjata pusaka tingkat hijau kualitas sempurnan dengan beberapa senjata pusaka tingkat merah ditangan sang komandan.
Awalnya, kedua Leluhur Tua yang saling berkolusi dalam menghancurkan Klan Ling itu tiba di dunia kecil ini dengan jarak tidak berjauhan sehingga mereka kini dapat menyusuri hutan tempat mereka saat ini berpijak.
Namun setelah beberapa hari berlalu dan terus mencari sumber daya berupa tumbuh-tumbuhan atau tanaman obat yang tumbuh dengan subur di hutan tempat mereka lewat, mereka tiba-tiba saja dikejutkan dengan kemunculan tujuh orang manusia yang memakai pakaian seadanya atau bisa dikatakan sangat primitif.
Sekelompok orang primitif itu langsung memberikan serangan kepada dua Leluhur Tua Klan Xiao dan Klan Song tanpa tahu alasan apa kedua diserang. Maka mau tidak mau mereka berdua harus mempertahankan diri untuk tetap hidup dengan menyerang balik kepada tujuh orang primitif itu.
Akan tetapi mereka sangat terkejut dengan kekuatan yang dimiliki oleh ketujuh orang primitif itu yang mengeluarkan energi berwarna hitam dan putih yang sangat kuat dan hebat serta sangat sulit untuk mereka kalahkan.
"Sebenarnya siapa mereka ini? Mengapa energi yang mereka keluarkan sangatlah kuat senjata mereka adalah senjata tingkat tinggi?" tanya Leluhur Song Mu sambil terus menghalau setiap serangan pedang dan tombak dari orang-orang primitif.
"Aku juga tidak tahu! Mungkin mereka adalah penduduk pribumi dunia kecil ini yang memegang atau memiliki harta langit dan bumi!" jawab Leluhur Xiao Chen.
"Itu sangat mungkin! Tapi apakah saudara Chen yakin akan dapat mengalahkan mereka, sementara satu orang yang ada di ranah Pendekar Tembaga masih saja diam sambil melihat pertarungan kita?" tanya Leluhur Song.
"Aku tidak terlalu yakin, akan tetapi sepertinya mereka juga tidak akan melepaskan kita! Jadi mau tidak mau kita harus terus melawan mereka sampai titik darah penghabisan!" jawab Leluhur Xiao Chen.
"Baiklah kalau begitu, mari kita kerahkan seluruh kekuatan kita untuk menghabisi serangga-serangga merepotkan ini!" kata Leluhur Song Mu yang lalu bergerak lebih cepat dari sebelumnya dua kali lipat untuk menyerang tiga orang primitif yang mengeroyoknya.
__ADS_1
Orang-orang primitif yang mendapati kedua lawan yang bergerak dengan sangat cepat dua kali lipat dari serangan sebelumnya menjadi sangat terkejut.
"Sial! Ternyata kedua orang tua ini adalah ahli petarung yang sangat hebat!" ucap salah satu orang primitif yang terkejut dengan kekuatan Leluhur Xiao Chen.
Mereka yang awalnya menguasai pertarungan, kini tiba-tiba mereka terpaksa dibuat dalam posisi bertahan oleh kedua pria sepuh lawan mereka.
"Cih! Benar! Orang tua ini sangat hebat dalam bertarungnya!" jawab pria primitif lain yang juga merasakan bahwa kekuatan dari pria sepuh yang di lawannya itu meningkat sangat drastis dari sebelumnya.
Trank! Trank!
Sementara di sisi lain, sang komandan prajurit yang sedari tadi menonton pertarungan prajuritnya melawan kedua pria tua langsung mengerutkan kening saat melihat prajuritnya malah dibuat terdesak.
"Cih! Mereka benar-benar sangat tidak berguna!" decak kesal sama komandan.
Dia selalu ingin bergerak untuk memberikan serangan kejutan kepada salah satu dari pria tua yang dilawan oleh keenam prajuritnya. Namun tiba-tiba intuisinya merasakan hal yang berbahaya datang dari arah belakangnya.
Sang komandan lalu menarik pedang pusaka tingkat merah dan bergerak dengan memutar badan sambil mengayunkan tangannya.
Trank!
Bhussh...
Dentingan senjata miliknya dengan senjata milik pria muda yang tiba-tiba muncul terdengar sangat memekakkan yang disertai dengan hembusan energi hukum berwarna hitam putih efek dari pertemuan dua senjata pusaka tingkat merah.
Komandan itu dibuat mundur beberapa langkah dan menatap tajam pria muda yang terlihat sangat tenang dengan tombak yang diayun-ayunkan tangannya seperti bermain saja.
"Siapa kau?" tanya sang komandan.
__ADS_1
"Bukan siapa-siapa! Hanya orang lewat saja! Sebenarnya aku tidak mau memiliki urusan dengan dirimu dan prajurit-prajurit tidak berbaju itu! Namun dengan kedua pria sepuh!" jawab santai pria muda yang tidak lain adalah Mao An.
"Akan tetapi sepertinya kalian juga tidak akan melepaskan kedua pria itu sebelum kalian membunuh mereka! Dan aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Sebab hanya saudari atau tuan mudaku yang paling berhak untuk melenyapkan keduanya!" ucapnya lagi dengan seringai tipis dibibirnya.