
***
Ling Tian dan Jendral Besar Mang Juan terus bertarung dengan sengit. Sudah ratusan atau mungkin bahkan ribuan jurus mereka lakukan dan kondisi mereka masihlah terlihat prima. Padahal pertarungan yang mereka lakukan sudah hampir dua jam berlangsung.
Ling Tian yang awalnya hanya menggunakan sedikit energi Qi, kini juga telah menggunakan separuh lebih kekuatannya. Dia merasa tertipu dan dibohongi besar-besaran oleh Sang Jendral Besar yang menjadi lawannya.
'Kampret! Jendral Besar ini ternyata telah mengubah sebagian Qi miliknya menjadi Kaisar Qi! Sial! Pantas saja dia begitu sombong sebelumnya lalu sekarang masih terlihat segar meski sudah bertarung hampir dua jam lamanya!' gerutu Ling Tian didalam hatinya.
Ling Tian tentu sangat terkejut setelah mengetahui ada perbedaan aura dari Qi milik Jendral Besar Mang Juan yang tidak sengaja bocor dan menyapu lembut kulit Ling Tian.
Dia lalu menyimpan kembali pedang samudera kegelapan, bukan dia tidak ingin menggunakan jurus tingkat tinggi seperti teknik pedang pelahap atau teknik pedang awan, namun menurutnya itu sangatlah beresiko.
Maka dari itu, dia ingin menggunakan jurus tinju pelebur bumi saja dari tahap awal hingga tahap sempurna jika memang diperlukan. Sementara untuk pergerakan kaki, dia menggunakan tendangan petir dan langkah kilat dari kitab tendangan halilintar.
Jendral Besar Mang Juan mengerutkan keningnya saat melihat Ling Tian menyimpan kembali pedang pusakanya. Namum setelahnya dia tersenyum menyeringai kepada Ling Tian.
"Hahaha.. Nak! Apa kau kini kau sudah menyerah? Jika begitu biarkan aku dengan mudah membunuhmu!" ucap Jendral Besar Mang Juan.
"Menyerah? Kata menyerah tidak ada dalam kamus hidupku!" ucap Ling Tian dengan tegas.
"Dan aku hanya ingin mengalahkanmu hanya dengan tinjuku!" lanjutnya lalu tiba-tiba gelombang aura langit dan bumi tersedot oleh satu titik yang tak lain adalah genggaman tangan Ling Tian mengejutkan semua orang termasuk Jendral Besar Mang Juan.
'Apa yang dilakukan bajing*n kecil ini!' gumamnya dengan sedikit bergetar. Detak jantungnya tiba-tiba berdetak dengan sangat kencang merasakan tanda bahaya yang teramat besar akan datang menghampirinya.
'Bocah ini sedang menyiapkan teknik mematikannya! Aku harus membatalkannya!' batin Jendral Besar Mang Juan lalu juga bersiap dengan mengalirkan Kaisar Qi yang tersisa dan akan melesat menghampiri Ling Tian.
Namun sebelum keduanya saling serang, sebuah suara yang sangat lantang disertai dengan ledakan aura yang sangat menekan dari seorang yang sudah berada di Ranah Kaisar Tahap Awal.
"Hentikan pertarungan! Atau aku akan membunuh kalian berdua!"
__ADS_1
Swoosshh...
Seorang pria paruh baya muncul diatas langit menatap Ling Tian dan Jendral Besar Mang Juan dengan tajam. Kemunculannya yang diatas langit membuat Ling Tian tentulah sangat iri karena dia bisa terbang di Hutan Tanpa Batas dengan seenak jidatnya tanpa terkena hukum pembunuhan formasi array.
'Sial! Orang tua itu benar-benar membuatku iri! Apa dia Patriark Xun atau Tetua Agungnya?' batinnya sambil membatalkan jurus pukulan pelebur buminya.
Sama dengan Ling Tian, Jendral Besar Mang Juan juga membatalkan jurus yang akan digunakan untuk membatalkan jurus Ling Tian. Dia bahkan langsung berlutut setelah melihat kedatangan pria paruh baya itu.
Tap!
Pria paruh baya turun dari langit dan mendarat diantara Ling Tian dan Jendral Besar Mang Juan. Tidak berapa lama, satu kelompok pasukan elite dari Klan Xun dengan dua tetua juga tiba ditempat itu lalu mengepung Ling Tian dan Jendral Besar.
"Terima kasih karena kalian telah mau berhenti bertarung! Aku diminta Patriark untuk menahan kalian berdua agar tidak terlalu banyak merusak bangunan kota!" ucap pria paruh baya tersebut.
"Jika kalian ingin melanjutkan pertarungan dan saling ingin membunuh, maka lakukanlah di arena hidup dan mati!" lanjut pria paruh baya.
Ling Tian juga melihat dua pria yang datang bersama puluhan prajurit itu, Ling Tian merasakan mereka juga sangat kuat dan sudah mengubah lebih dari separuh energi Qi menjadi Kaisar Qi.
"Melihat kerusakan yang kalian buat sekaligus sebagai peringatan, kalian dikenakan denda sepuluh ribu koin platinum di masing-masing dari kalian! Apa kalian faham?" ucap Sang Tetua Agung bertanya kepada Ling Tian dan Jendral Besar Mang Juan.
"Mengerti Tetua Agung!" ucap Jendral Besar Mang Juan. Sementara Ling Tian hanyalah menganggukkan kepala.
Tetua Agung menganggukkan kepalanya lalu menatap Ling Tian.
"Dan kau nak! Siapa namamu? Dan jelaskan mengapa kau datang ke Kota Xun?' tanya Tetua Agung.
"Hormat Tetua Agung dan dua tetua! Namaku She Tian dari Klan She! Aku datang untuk mengikuti masuk ke dunia rahasia yang akan terbuka di Gunung Huashu!" jawab Ling Tian dengan hormat sambil menangkupkan kedua tangan.
"Ohh.. Dari Klan She? Baiklah..selamat datang di Kota Xun kami! Tapi aku harap dirimu tidak membawa nama klan atas permasalahan ini!" ucap Sang Tetua Agung.
__ADS_1
"Tentu tidak Tetua Agung! Aku hanya melakukan hal yang menurutku harus aku lakukan tanpa membawa nama klan!" jawab Ling Tian dengan tegas dan tenang.
"Bagus! Tapi kau tetap harus membayar denda atas kerusakan ini!" ujar Tetua Agung sambil melihat bangunan-bangunan yang hancur.
"Baik Tetua Agung!" ucap Ling Tian sambil berjalan mendekati Tetua Agung dan memberikan cincin penyimpanan yang berisikan sepuluh ribu koin platinum.
"Terima kasih nak! Baiklah.. Kamu boleh pergi!" ucap Tetua Agung sambil menerima cincin penyimpanan dari Ling Tian.
"Baik Tetua Agung!" kata Ling Tian sambil menangkupkan kedua tangan lalu pergi dari tempat itu.
Setelah kepergian Ling Tian, Tetua Agung melihat kearah Jendral Besar Mang Juan dengan lekat.
"Kau tahu apa yang kau lakukan ini dapat memantik peperangan antar klan? Meski pemuda itu mengatakan tidak akan melaporkan kepada klannya, namun itu tidak bisa menjaminnya! Klan She adalah klan yang setara dengan Klan Xun. Meskipun kami tidak takut dengan Klan She, tapi peperangan hanya akan menimbulkan kerugian di Klan Xun! Ikut kami ke aula penghakiman! Berikan kami penjelasan yang memuaskan!" ucapnya dengan dingin.
"B-baik Tetua Agung!" jawab Jendral Besar Mang Juan dengan terbata.
Akhirnya mereka semua pergi meninggalkan tempat tersebut dengan membawa Jendral Besar menuju aula penghakiman untuk di adili.
***
Ling Tian pergi meninggalkan Tetua Agung Klan Xun beserta kelompoknya dengan santai. Dia tidak terlalu memikirkan akan uangnya yang hilang saat karena dia pasti akan mendapatkannya kembali dengan caranya yang sudah terskema didalam otaknya. Dia terus berjalan mencari sebuah penginapan untuk memulihkan diri.
Setelah beberapa saat, Ling Tian akhirnya menemukannya dan langsung berjalan memasukinya.
"Selamat datang di penginapan bunga manis Tuan Muda! Apakah ada yang bisa kami bantu?" ucap seorang gadis pelayan menyambut kedatangan Ling Tian dan menanyakan perihalnya dengan ramah.
"Aku ingin menginap tiga malam di kamar terbaik!" jawabnya dengan tersenyum membuat gadis pelayan itu bersemu merah karena terpesona oleh ketampanan Ling Tian.
"Baik Tuan Muda!"
__ADS_1