Ling Tian

Ling Tian
Hukuman Untuk Bocah-bocah Nakal


__ADS_3

Ling Tian semakin mengerutkan keningnya saat beberapa teman dari Tuan Muda Huang Cai terus menuduhnya dengan telah menggandeng atau lebih tepatnya merebut hati seorang gadis yang mereka panggil dengan sebutan Dewi Alcemis dari genggaman Huang Cai.


"Maaf! Sepertinya kalian salah orang. Aku tidak pernah mengambil atau merebut seseorang yang kalian sebut sebagai Dewi Alcemis atau apalah itu! Aku bahkan tidak mengenalnya!" ujar Ling Tian mencoba menjelaskan.


"Jangan mengelak! Jelas-jelas kamu memakai topeng yang sama dan perangaimu juga sama dengan orang yang menggandeng tangan Dewi Alcemis secara terang-terangan!" kekeh pemuda di rombongan Huang Cai.


Ling Tian langsung bisa menangkap dan memahami sesuatu. Pelaku sebenarnya yang mereka cari tidak lain adalah saudaranya Ling We dan gadis yang dipanggil Dewi Alcemis adalah Zhong Nian. Ling Tian saat ini hanya bisa mengumpati Ling We dalam hati karena menyebabkan masalah yang menurutnya tidak perlu.


Ling Tian melihat kelompok pemuda itu dengan tatapan penuh arti.


"Lalu, apa yang akan kalian lakukan kepadaku sekarang?" tanya Ling Tian.


"Masih bertanya? Tentu saja kami akan menghajarmu!" jawab salah satu pemuda.


"Eh? Kalian mau menghajarku? Apakah aku tidak salah dengar?" Ling Tian bertanya dengan mengangkat alisnya.


"Apa kau meremehkan aku?" sebuah seruan bercampur dengan kemarahan dari Huang Cai menjadi jawaban pertanyaan Ling Tian.


"Haiih.. Dasar anak-anak nakal! Kau, Huang Cui atau siapalah itu tadi, aku lupa namamu! Kau hanyalah berada di ranah Pendekar Perak Menengah Bintang 8, sementara yang yang lainnya hanyalah Pendekar Perunggu yang lemah! Apakah kalian mampu menghajarku bocah-bocah nakal?" tanya Ling Tian seolah-olah dirinya lebih tua daripada sekelompok pemuda didepannya.


Para pemuda dibawah pimpinan Huang Cai menjadi waspada saat pemuda bertopeng didepannya menyebutkan kekuatan mereka dengan sangat jelas. Bahkan mengatakan mereka sangatlah lemah.


"Sialan! Jangan dengarkan ocehannya! Ayo serang dia bersamaan!" Huang Cai berseru dengan lantang.

__ADS_1


Para bawahannya hanya bisa menurut dan segera bergerak mengepung Ling Tian dengan senjata berbeda-beda dimasing-masing tangannya. Sementara yang dikepung hanyalah berdiri tenang dan justru malah menghela nafas panjang.


"Haiiih.. Dasar anak-anak nakal! Aku harus menghukum kalian semua!" ucap Ling Tian sambil terus menghela nafas.


Ling Tian mengeluarkan palu dari cincin penyimpanan dan menggenggamnya dengan erat. Kemudian dirinya mengeluarkan aura tiraninya sekitar lima persen namun sukses membuat semua pemuda yang mengepungnya berlutut dan tidak bisa bergerak. Nafas mereka juga sangat sulit untuk mereka ambil.


Mereka semua tidak menyangka dan sangat menyesal karena kali ini mereka salah mencari masalah. Dalam hati mereka, bahkan mengutuki salah satu diantaranya dalam hati yang melaporkan dan menjadi dalang Tuan Muda Ma Huang Cai menginginkan menemui pemuda bertopeng.


"T-tuan! T-tolong-.." ucapan Huang Cai dipotong oleh Ling Tian


"Tidak usah banyak bicara anak-anak nakal! Kalian ini telah asal-asalan menuduh orang tanpa bukti! Maka berhubung aku adalah orang yang bijak dan tahu aturan, aku akan menghukum serta mendisiplinkan kalian!" ucap Ling Tian sambil tersenyum lebar.


Senyuman yang Ling Tian buat berhasil membuat ketakutan kelompok pemuda ini memuncak. Bahkan beberapa dari mereka ada yang kencing dicelana karena saking takutnya.


"Pertama adalah kamu! Perlu kamu ketahui bocah nakal! Terkadang mulutmu itu bisa menjadi pedang bagi dirimu sendiri! Namun saat ini beda, mulutmu bisa menjadi palu buatmu! Haha!" ucap Ling Tian sambil mengelus-elus jidat pemuda tersebut lalu menjewer telinganya.


Pemuda yang lain hanya bisa melihat dengan tubuh bergetar ketakutan tanpa bisa berkutik sama sekali. Aura tirani yang dilepaskan Ling Tian benar-benar mengunci gerak seluruh tubuh mereka.


Setelah menjewer telinga pemuda yang banyak omong itu, Ling Tian tidak melepas capitan tangannya yang seperti tang di telinga pemuda itu, dia langsung menggetoki jidat pemuda tersebut dengan palunya hingga menjadi benjol sana-sini.


"Hahaha.. Bagaimana rasanya nak? Nikmat bukan? Besok-besok jangan lupa tuduhlah orang lagi tanpa bukti ya! Nanti akan aku beri yang seperti ini lagi! Hahaha.." Ling Tian tertawa dengan lantang.


Sementara pemuda itu hanya bisa menangis dan mengumpati Ling Tian dalam hati. Dirinya juga sangat menyesal telah membuat masalah dengan Ling Tian.

__ADS_1


"Aiish.. Cengeng sekali kau bocah! Dipukuli seperti itu saja sudah menangis! Dasar manja!" ujar Ling Tian lalu melepaskan capitan tangannya.


Pemuda itu jatuh ketanah dan Ling Tian melepas aura tirani yang mengekangnya. Pemuda itu terbaring lemas dan terus menangis meski dengan suara parau.


Ling Tian melakukan hal yang serupa kepada semua anak-anak nakal tersebut hingga sekarang tibalah giliran Tuan Muda Ma Huang Cai.


"Kamu mengatakan tadi bahwa kamu adalah anak dari Manajer Pu bukan? Haiihh.. Padahal ayahmu adalah orang yang sangat baik dan ramah denganku. Baru saja aku juga habis bertemu dengannya di Paviliun Harta Karun. Namun sayang sekali, anaknya tidak memiliki keramahan sepertinya!" kata Ling Tian.


Huang Cai bergetar seluruh tubuhnya saat mendengar pemuda bertopeng didepannya mengenal sang ayah. Dia melihat Ling Tian dengan ketakutan yang teramat hingga sampailah dirinya berada apa titik tidak bisa untuk tidak mengompol di celana.


"Heh? Bau apa ini?" Ling Tian bertanya karena mencium bau tidak sedap yang dia kenali. Dia melihat bagian bawah Huang Cai dan menemukan celananya sudah basah kuyup oleh kencingnya sendiri.


"Aiih.. Kamu jorok sekali bocah nakal! Kencing saja masih dicelana!" ujar Ling Tian.


Ling Tian menggetoki dahi Huang Cai sama dengan anak buahnya. Alhasil, beberapa benjolan merah terlihat jelas dijidat Huang Cai. Ling Tian memberikan pukulan palunya dengan sangat pelan dan tidak sedikitpun menggunakan energi Qi. Andai dia melakukannya, sudah dipastikan kepala pemuda Huang Cai dan yang lainnya pastilah sudah hancur karena palu ditangannya ini juga adalah pusaka tingkat merah.


Setelah melakukan itu, dirinya melepaskan capitan tangan pada telinga Huang Cai dan membebaskannya dari aura tiraninya. Huang Cai dan semua pemuda bawahannya hanya bisa menangis dengan tubuh yang lemas. Tidak lupa juga kepalanya yang benjol semua.


"Diam!"


Ling Tian berseru dengan membentak menyuruh mereka untuk berhenti menangis. Spontan mereka pun terpaksa berhenti menangis karena takut akan terkena pukulan palu milik Ling Tian lagi.


"Dengarkan kataku! Beruntung kalian bertemu denganku dan salah orang! Orang yang kalian cari dan maksudkan adalah saudaraku! Dia memakai topeng yang sama dengan milikku. Jika kalian bertemu dan mencari masalah dengannya, aku sama sekali tidak yakin kalian masih bisa pulang kerumah dengan nyawa diraga kalian!" ujar Ling Tian.

__ADS_1


"Ambillah pelajaran yang berharga dari kejadian ini! Dan kau Huang Cai! Tidak semua orang takut dengan latar belakang seseorang! Kamu mungkin bisa mengancam dan menakuti orang-orang lain. Namun hal itu sama sekali tidaklah berlaku kepadaku dan juga saudaraku! Yasudah.. Ingat kata-kataku ini dengan benar! Aku pergi sekarang!" lanjut Ling Tian lalu menghilang menyatu dengan udara tipis.


__ADS_2