
Zhuge Ruxu dan Mao An bertanya secara serentak karena penasaran dengan penyebab Ling Tian tertawa gembira dengan sangat keras itu.
"Apa kalian pernah mendengar ucapan dibalik kesusahan akan ada keberuntungan?" tanya Ling Tian dengan bersemangat.
"Maksud Tuan Muda?" Zhuge Ruxu tidak mengerti.
"Benar! Kalian lihatlah satu tombak angin yang bergerak-gerak sendiri seperti memiliki kesadaran! Itu adalah yang kumaksud!" ujar Ling Tian.
Zhuge Ruxu dan Mao An semakin kebingungan.
"Apakah tombak angin itu sesuatu yang berharga? Apakah itu senjata tingkat tinggi?" ucap Mao An bertanya.
"Hahaha.. Tombak itu bukan hanya berharga! Tapi lebih tepatnya sangat istimewa! Kalian tahu apa sebenarnya tombak angin itu?" ujar Ling Tian menjawab lalu bertanya balik.
Kedua saudaranya itu menggelengkan kepalanya tanda mereka berdua tidaklah tahu.
"Haha.. Tombak itu adalah perwujudan dari inti angin! Aku tidak menyangka akan menemukan harta seperti itu ditempat ini!" kata Ling Tian sambil terus berusaha melahap tombak angin dengan teknik dan manual pelahapnya.
"Apaa!"
Keduanya sangat terkejut mendengar jawaban dari pertanyaan yang menggelayut dibenaknya. Mereka tentu pernah mendengar tentang inti sebuah elemen yang sangat sulit ditemui dan merupakan harta yang sangat langka dan berharga bahkan jika itu di Alam Dewa.
"T-tuan Muda!" panggil Mao An.
"Iya, ada apa?" ujar Ling Tian sambil terus tersenyum karena bahagia.
"Apa Tuan Muda ingin menyerap inti angin itu? Apakah nanti tidak berefek jadi gampang kentut atau yang lainnya?" tanya Mao An konyol.
Ling Tian hampir jatuh dan wajahnya berubah menjadi tersenyum masam karena pertanyaan bercanda dari Mao An. Bahkan inti angin yang sedang dia coba untuk diserapnya sedikit menjauh dari pusaran angin hitam miliknya.
Plak!
"Aduh! Kakak ketiga! Mengapa kau memukul kepalaku?" tanya Mao An protes.
"Bercandamu sama sekali tidak lucu bodoh! Dan lihat! Inti angin itu jadi menjauh gara-gara kamu!" ujar Zhuge Ruxu dengan berwajah buruk.
__ADS_1
"Ehehe.. Maaf Tuan Muda! Aku hanya sedikit ingin bercanda setelah kita melewati sesuatu yang sangat menyebalkan sebelumnya!" tutur Mao An dengan cengengesan.
Ling Tian hanya menggelengkan kepalanya mendengar alasan Mao An yang sangat konyol itu. Namun dia tidak marah ataupun kesal dengan Mao An. Dia lalu berfokus kepada melahap inti angin hingga waktu berlalu dua hari dengan begitu saja dan terasa sangatlah cepat.
Meski begitu, Ling Tian belum berhasil menyerap sepenuhnya inti angin itu. Inti itu seolah menolak dan terus melawan kepada Ling Tian. Sehingganya kedua saudara Ling Tian harus sedikit bersabar menunggu sampai selesai.
***
Ditempat lain, sembilan kelinci iblis yang sebelumnya ditugaskan oleh Sang Jendral kini telah kembali. Keenam diantaranya memberikan laporan masing-masing yang membuat wajah Dang Jendral sangat muram.
"Kalian ini mencari atau malah duduk-duduk santai saja? Sehingga tidak menemukan jejak apapun!" ucap Sang Jendral dengan marah.
"K-kami benar-benar telah mencarinya Jendral! Namun tidak menemukan informasi tentang monster beast yang lewat atau dari ras lainnya!" jawab salah satu dari keenam kelinci iblis itu.
"Huh! Dasar sialan!" ujar Sang Jendral kemudia dia menatap kearah tiga bawahannya yang lain yang belum memberikan laporan.
"Lalu bagaimana dengan pencarian kalian di arah Gunung Yanshi? Apakah kalian juga akan memberikan laporan yang sama dengan keenam saudara kalian yang mengecewakan itu?" tanya Sang Jendral.
"Tidak Jendral! Kami akan memberikan laporan yang berbeda! Bisa dikatakan kami telah mengetahui siapa dalang dibalik pembunuhan saudara Tuzi Jong dan anak buahnya!" ucap salah satu dari ketiganya.
"Jendral! Mereka adalah tiga beast luar yang baru saja masuk ke Dunia Jimi De ini beberapa hari yang lalu. Namun saat ini aku yakin mereka sudahlah mati dan tidak tersisa sedikit pun bagian dari mayat mereka!" jawab salah satu dari ketiganya.
Sang Jendral mengerutkan keningnya dan merasa aneh dengan laporan ketiga anak buahnya. Dia sedikit menduga dalam hatinya mungkin ketiganya ini sedang membuat-buat sebuah cerita bohong. Meskipun begitu, Sang Jendral ingin mendengarkan kelanjutan laporan dari ketiganya.
"Mengapa bisa mayat mereka tidak tersisa sedikit pun?" tanya Sang Jendral.
"Itu karena mereka telah tanpa sengaja masuk kedalam area array Gunung Yanshi! Jendral tahu bukan maksud kami sekarang?" ujar salah satu yang lain dari ketiga bawahan Sang Jendral.
"Hmm.. Jika memang benar mereka telah masuk kedalam array, maka sudah pasti mereka akan mati seperti apa yang kalian katakan! Tapi bagaimana mungkin mereka yang hanya bertiga mampu mengalahkan Tuzi Jong dan anak buahnya yang berjumlah dua lebih banyak?" tanya Sang Jendral yang membuat ketiga bawahannya itu terdiam beberapa saat.
Sang Jendral lalu menatap salah satu dari ketiga bawahannya yang seperti hendak mengatakan sesuatu.
"Kami memang tidak bisa memastikan bagaimana ketiganya dapat mengalahkan Komandan Tuzi Jong dan anak buahnya! Namun dari aura yang dikeluarkan oleh ketiganya, itu sama dengan jejak aura yang tertinggal ditempat ini!" ucap bawahan itu.
"Baik! Coba kau kirimkan saja ingatanmu padaku supaya aku bisa melihatnya sendiri dengan detail!" ujar Sang Jendral.
__ADS_1
"Baik Jendral!" ucap bawahannya itu lalu mentrasfer ingatannya kepada Sang Jendral.
Sang Jendral terdiam sambil memejamkan matanya beberapa saat sebelum membukanya lagi.
"Kamu benar! Ketiga beast itulah yang telah menghabisi Tuzi Jong dan bawahannya! Dan saat ini mereka pasti sudah menjadi abu karena telah memasuki array Gunung Yanshi!" ucap Sang Jendral mengangguk-anggukkan kepala.
"Baiklah! Kita kembali sekarang! Dan jangan lupa terus buru para beast yang ada di wilayah Klan Tuzi setelah kalian menguburkan jasad Tuzi Jong dan bawahannya!" lanjut Sang Jendral.
"Baik Jendral!" ucap ketiga bawahan lalu setelahnya pergi meninggalkan tempat itu kembali ke markas Klan Tuzi.
***
Didalam array Gunung Yanshi yang telah aktif, Ling Tian terus berusaha menyerap seluruh energi dari inti angin yang dirinya temukan. Dan satu hari kembali berlalu dengan begitu saja.
Tepat disaat matahari dari Dunia Jimi De itu berada diatas kepala, Ling Tian akhirnya berhasil menyerap sepenuhnya dari inti angin. Senyuman manis dan penuh kepuasan terukir jelas diwajah Ling Tian.
Swooosshh...
Aura dari tubuh Ling Tian meledak dengan sangat gila. Bersamaan dengan ledakan aura itu, angin disekitarnya menjadi tidak beraturan dan ada yang berubah menjadi sebuah pisau, pedang dan tombak.
Zhuge Ruxu dan Mao An bahkan harus melindungi diri mereka dengan kubah Qi dari sapuan angin mengerikan itu.
"Apakah Tuam Muda masihlah manusia?" tanya Zhuge Ruxu tiba-tiba kepada Mao An.
"Aku juga tidak tahu kak! Sebutan manusia untuk Tuan Muda tidaklah pantas sama sekali untuk sekarang ini!" ujar Mao An.
"Mungkin saja Tuan Muda adalah monster!" lanjutnya.
"Sialan kau adik kelima! Mana ada monster setampan Tuan Muda Tian!" ujar Zhuge Ruxu yang tidak terima Ling Tian disebut sebagai monster.
"Lalu apa yang cocok?" tanya Mao An.
Zhuge Ruxu hanya bisa terdiam sambil menggelengkan kepalanya. Mereka begitu takjub dan kagum dengan Tuan Muda mereka yang mampu memiliki banyak sekali elemen bahkan bisa mengendalikannya dengan baik.
'Shen Zhu Ling memang yang terhebat!' batin Mao An.
__ADS_1