
Kedua Ju bersaudara yang melihat Ling Tian berada diantara orang-orang hebat ingin segera menyapanya. Namun karena keberadaan dari Pangeran Bai Wutian dan Putri Bai Si'er membuat keduanya menjadi segan dan tidak berani mendekat
Hal yang aneh juga terlihat dari beberapa orang dari Klan She. Bagaimana tidak? Mereka tentu pernah melihat salah satu dari mereka yang tidak lain adalah Mao An yang pergi bersama komandan pasukan elite yang mengundurkan diri belum lama ini.
Namun sekali lagi mereka hanya bisa memendam pertanyaan itu dalam benak mereka karena tidak berani untuk menanyakannya sebab ada Pangeran Bai Wutian dan Putri Bai Si'er.
Ling Tian lalu mengajak Mao An, Zhuge Ruxu, Bai Si'er, Bai Wutian dan keempat orangnya yang mana adalah dua sosok bermata biru dan dua singa raksasa yang telah berubah menjadi manusia untuk pergi meninggalkan tempat itu setelah Mao An mengatakan kepada semua orang bahwa lelang buah abadi akan diadakan besok di alun-alun Kota Xun.
Mao An juga mengatakan bahwa siapapun dilarang lagi menghancurkan properti-properti yang ada di Kota Xun. Karena bagaimanapun hal itu akan membuat Hutan Tanpa Batas akan sedikit melemah dengan melemahnya mental Klan Xun.
Semua orang mengangguk setuju begitu saja tanpa terlalu mendengarkan ocehan panjang lebar yang dilontarkan oleh Mao An. Yang terpenting bagi mereka adalah mereka masih berkesempatan memiliki salah satu buah abadi yang akan dilelang besok di alun-alun.
Bahkan buah abadi itu jauh lebih berharga daripada buat anggur putih abadi yang hanya terkhusus pada kegunaan meningkatkan kultivasi saja. Sungguh beruntung bagi mereka yang akan mendapatkan salah satunya esok hari.
Rombongan itu Ling Tian bawa ke kedai sederhanya tempat dia dan saudara-saudarinya nongkrong sebelumnya. Sang pemilik kedai sangat terkejut saat mengetahui bahwa pelanggannya adalah Pangeran dan Putri Klan Bai, dia dengan cepat ingin berlutut namun dihalangi oleh Ling Tian.
"Bibi! Janganlah suka berlutut seperti itu, nanti tulang bibi pegal-pegal!" ujar Ling Tian dengan bercanda.
"Tapi Tuan Muda.." ucap wanita paruh baya itu ragu
"Tidak ada tapi-tapian bibi! Lebih baik bibi kembali buatkan kami teh dan makanan ringan!" ujar Ling Tian ramah.
"B-baik Tuan Muda!" ucap wanita paruh baya itu. Dengan terburu-buru dia balik kebelakang dan mempersiapkan apa yang dipesan oleh Ling Tian.
Sementara Ling Tian dan semua orang hanyalah menggelengkan kepala. Terlebih Bai Wutian yang akhirnya kini tahu alasan adiknya Bai Si'er tidak betah dirumah dan lebih memilih untuk kabur dan menyamar menjadi orang biasa.
Kesembilan orang itu duduk ditempat Ling Tian dan saudara-saudarinya duduk sebelumnya. Tidak berapa lama, wanita paruh baya dengan putrinya datang membawakan teh dan camilan untuk rombongan kecil namun berstatus tinggi itu.
__ADS_1
"Terima kasih bibi! Terima kasih nona!" ucap Bai Si'er dengan lembut.
"Sama-sama Tuan Putri! Silakan dinikmati! Maaf jika kurang meranai!" ujar wanita paruh baya tersebut lalu pergi bersama dengan putrinya.
Setelah kepergian dari kedua pemilik kedai itu, suasana menjadi hening untuk beberapa saat sebelum Ling Tian membuka suaranya.
"Apakah Tuan Muda Bai datang ke Kota Xun ini untuk buah abadi juga?" tanya Ling Tian.
"Benar sekali Tuan Muda Tian! Selain itu juga.." jawab Bai Wutian menghentikan ucapannya sambil melirik Bai Si'er.
"Baiklah.. Aku mengerti!" ujar Ling Tian mengangguk.
Mereka akhirnya mengobrol dengan santai sambil menikmati teh hangat dan beberapa camilan yang disediakan oleh kedai sederhana milik wanita paruh baya.
"Tuan Muda Tian!" ucap Bai Wutian.
"Maaf jika aku sedikit lancang! Siapa anda sebenarnya? Apakah benar anda dari Klan She?" tanya Bai Wutian dengan serius. Beberapa orang dari Klan Bai yang bersama dengannya juga menatap Ling Tian dengan serius.
"Anda pasti sudah menyelidiki tentangku!" ucap Ling Tian sambil membuk topeng lalu mengubah wajahnya menjadi wajah She Danfan.
"Komandan Danfan!" ucap salah satu pria bermata biru.
"Tidak! Aku bukan lagi komandan dari pasukan elite Klan She! Aku telah mengundurkan diri!" ujar Ling Tian sambil tersenyum.
Semua orang dari Klan Bai bahkan Bai Si'er terkejut melihat identitas yang menurut mereka asli itu dari Ling Tian. Padahal wajah yang sebelumnya mereka lihat itulah wajah yang asli milik Ling Tian. Sungguh Ling Tian benar-benar orang yang membingungkan.
"Baiklah.. Lupakan tentangku! Oiya Tuan Muda Wutian! Bolehkan aku juga menanyakan sesuatu kepadamu!" ujar Ling Tian.
__ADS_1
"Silakan Tuan Muda-.."
"Tian saja!" ucap Ling Tian lalu kembali merubah wajahnya menjadi wajah asli yang sangat tampan lalu memakai topengnya kembali.
"Baik! Silakan Tuan Muda Tian! Jika memang aku bisa menjawabnya dan bukan tentang privasi, maka dengan senang hati aku akan memberikan jawaban kepada Tuan Muda Tian!" ujar Tuan Muda Bai Wutian.
"Baik! Aku hanya ingin bertanya karena penasaran saja! Sebenaranya apa yang ada di Gunung Diyu itu?" tanya Ling Tian.
Deg!
Jantung Bai Wutian, Bai Si'er dan keempat orang dari Klan Bai itu berdetak lebih keras dan kencang saat mendengar pertanyaan dari Ling Tian. Mereka semua tiba-tiba menatap Ling Tian dengan tajam dan mata penuh permusuhan. Bahkan Bai Si'er juga melihat Ling Tian dengan mata tidak senang.
"Ada apa? Mengapa ekspresi kalian berubah seperti itu?" tanya Ling Tian aneh.
"Tuan Muda Tian! Apakah anda lupa bahwa di Hutan Tanpa Batas ini semua orang ditabukan untuk bertanya mengenai Gunung Diyu?" ucap Bai Wutian dengan nada tidak bersahabat.
"Ya! Aku tahu! Tapi apakah alasan sebenarnya hal itu ditabukan? Itu yang aku ingin tahu!" ujar Ling Tian masih dengan santai. Dia memberi kode kepada Mao An dan Zhuge Ruxu untuk tetap tenang dan melihat apa yang akan dilakukan oleh orang-orang dari Klan Bai itu.
"Tuan Muda Tian.. Tidak! Komandan Danfan! Anda tidak perlu tahu mengenai alasan Gunung Diyu kami tabukan untuk disebut! Tapi yang jelas, kami benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaanmu!" ujar Bai Wutian.
Sedikit aura Ranah Kaisar Tahap Awal juga merembes dari tubuh Bai Wutian yang menandakan dia benar-benar tidak suka ada orang yang menanyakan tentang Gunung Diyu atau yang mereka kenal dengan Gunung Suci Terlarang.
Ling Tian masih tetap tenang seperti sebelumnya. Dia tersenyum melihat Bai Wutian dan orang-orangnya yang ekspresi wajahnya berubah menjadi buruk.
"Kalian tenanglah! Aku meminta maaf dengan tulus atas kelancanganku sebelumnya!" ucap Ling Tian sambil menangkupkan kedua tangannya.
"Aku harap Tuan Muda tidak menanyakan perihal itu lagi!" balas Bai Wutian yang sedikit demi sedikit menjadi lebih tenang.
__ADS_1