Ling Tian

Ling Tian
Sudah Waktunya Kembali Berpetualang!


__ADS_3

"Tian'er!" ujar keempatnya bersamaan.


"Ya, ini aku! Maaf, sebelumnya aku hanya menguji saja!" kata Ling Tian dengan tenang. Namun ada nada sedikit kecewa karena Ling Yun melakukan hal yang menurutnya sangat ceroboh.


Mengetahui si penyerang adalah Ling Tian yang niatnya hanya ingin menguji, Ling Bo Teng, istri dan kedua anaknya segera menurunkan senjata. Namun mereka jelas tahu bahwa Ling Tian sedang merasa sedikit kecewa dengan Ling Yun.


Ling Yun sendiri hanya bisa menundukkan kepala karena bersedih. Dia benar-benar tidak tahu harus bagaimana dan berkata apa dengan Ling Tian yang telah dia buat kecewa.


"Oiya, salam paman Bo! Salam bibi Zie! Salam kakak-kakak!" kata Ling Tian sembari menangkupkan kedua tangan.


"Iya Tian'er! Salam!"


Semua orang membalas salam Ling Tian kecuali Ling Yun yang masih terdiam dengan kepala menunduk. Ling Tian hanya bisa menghela nafas panjang saat melihatnya. Dia berjalan dengan tenang menghampiri Ling Yun dan merangkul pundaknya.


"Tidak apa-apa kakak Yun! Anggap saja ini pelajaran berharga untukmu!" kata Ling Tian dengan lembut sambil mengelus punggung Ling Yun.


"Maafkan kakakmu yang ceroboh ini Tian'er!" ucap Ling Yun pelan. Nada bicaranya begitu lemah dan parau.


"Iya kakak Yun! Yang terpenting kakak bisa memetik pelajaran berharga kali ini!" tutur Ling Tian.


"Oiya paman, bibi, dan kakak-kakak! Kedatangan Tian'er kali ini ingin meminta izin kepada kalian semua!" tambah Ling Tian.


"Izin?" Wang Zie mengulangi kata izin Ling Tian.


"Benar bibi! Tian'er ingin meminta izin sekaligus pamit kepada kalian karena sudah waktunya kembali berpetualang!" jawab Ling Tia dengan perucapan yang tegas dan mantap.


"Kamu sudah ingin pergi lagi nak?" tanya Ling Bo Teng.


"Benar paman Bo! Sudah tidak ada lagi yang harus Tian'er lakukan didalam klan. Untuk urusan para klan yang tunduk dan hendak menggunakan formasi array, aku juga sudah memberikan pengaturan dan telah menyampaikan kepada paman serta para Tetua semuanya. Jadi sudah waktunya aku kembali pergi berpetualang untuk mencari pengalaman!" jawab Ling Tian dengan memberi alasan.


"Baiklah jika itu alasanmu! Lalu apa bibi Si sudah memberimu izin?" giliran Ling Jian bertanya.


"Sudah kakak! Ibu justru sangat menyaranku untuk berpetualang!" jawab Ling Tian.


"Owh begitu.." angguk Ling Jian.

__ADS_1


"Jika memang ibumu sudah memberi izin, paman, bibi serta kedua kakakmu hanya bisa mendoakanmu supaya selalu diselimuti oleh keberuntungan! Kamu pergi dengan selamat maka pulanglah juga dengan selamat!" ujar Ling Bo Teng.


"Baik paman!" turut Ling Tian.


"Lalu dengan siapa kamu hendak bepergian Tian'er?" Ling Yun bertanya pelan.


"Aku akan pergi bersama saudara We!" jawab Ling Tian.


"Ling We? Tetua Termuda Klan Ling yang koplak itu?" tanya Ling Bo Teng dengan kening mengerut. Dia tentu masih ingat dengan jelas bagaimana penampilan Ling We saat diatas panggung kala sedang turnamen.


"Siapa lagi jika bukan dia?" Ling Tian menjawabnya dengan tersenyum penuh arti.


Ling Bo Teng dan lainnya hanya bisa menggelengkan kepala karena tidak berdaya. Mereka jelas tahu bahwa Ling We adalah sahabat terdekat Ling Tian sejak dahulu. Tapi mereka juga tahu bahwa setiap kedua sahabat itu sedang bersama, maka selalu saja akan ada masalah yang ditimbulkan. Ling Bo Teng dan lainnya tidak bisa membayangkan akan ada berapa banyak orang dibuat sengsara oleh keduanya nanti.


Ling Tian yang melihat ekspresi ketidak-berdayaan mereka berempat hanya bisa tersenyum kecut. Dia jelas tahu apa yang ada difikiran keempatnya.


"Baiklah paman dan bibi sekalian! Hanya itu yang ingin Tian'er sampaikan! Aku harus segera ke kediaman saudara We untuk memintanya bersiap-siap!" ujar Ling Tian yang merasa sudah tidak ada lagi yang harus dibahas. Dia menangkupkan kedua tangannya untuk berpamit.


"Oh.. Baiklah.. Ingat pesan paman sebelumnya nak!" jawab Ling Bo Teng.


"Ah! Itu.. Anu kakak Yun! Kakak berlatih saja dengan orang yang lebih kuat dari kakak Yun! Nanti teknik pedang yang aku berikan kepada kakak pasti terasah sendiri!" jawab Ling Tian dengan sangat hati-hati.


"Eh? Ternyata teknik yang digunakan Yun'er adalah darimu?" tanya Ling Bo Teng.


"Hehe.. Benar paman Bo! Itu memang dariku!" jawab Ling Tian dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jangan-jangan punya Jian'er juga?" Ling Bo Teng bertanya lagi.


"Benar lagi paman Bo! Punya kakak Jian juga dariku!" Ling Tian pringas-pringis.


"Haaahh.. Pantas saja dari tadi bingung dengan teknik yang mereka gunakan! Sangat beda dengan teknik andalan klan kita, teknik pedang petir! Teknik itu terlihat jauh lebih kuat dan tajam!" ujar Ling Bo Teng dengan menghela nafas panjang.


"Tentu saja berbeda paman Bo! Teknik pedang yang digunakan paman adalah teknik tingkat kuning awal! Sementara yang dimiliki kakak Jian dan kakak Yun adalah adalah teknik tingkat dewa!" ujar Ling Tian dengan sedikit bangga.


"T-teknik T-ting-kat De-wa?" Ling Bo Teng terkejut setengah mati. Beruntung dia tidak mempunya sakit jantung! Jadi tidak akan mati begitu saja.

__ADS_1


"Huh! Jangan terlalu terkejut paman Bo! Biasa saja.. Biasaa.. Santai.." kata Long Tian dengan ekspresi berlagaknya.


Ling Bo Teng dan Wang Zie melihat Ling Tian dengan seksama. Mereka masih belum percaya dengan apa yang mereka dengar sebelumnya.


"Apakah yang kamu katakan benar adanya nak?"


"Tentu saja paman Bo! Apa paman meragukan keponakan paman yang tampan ini?" sifat narsis Ling Tian kumat.


"Cih!" Ling Jian mendecak.


"Ahaha.. Kenapa kakak Jian? Bukankah memang teknik yang Tian'er berikan ke kakak adalah tingkat dewa? Dan lagi, siapa yang meragukan ketampanan Tian'er ini?" ujar Ling Tian yang bertambah parah narsisnya.


Plak!


"Aduuh! Kenapa kakak memukul kepalaku?" protes Ling Tian saat Ling Jian tiba-tiba memukul kepalanya.


"Kamu memang tampan adikku! Tidak ada yang memungkirinya! Tapi narsismu itu bikin kakak ingin muntah tahu tidak?" jawab Ling Jian dengan mendengus kesal.


"Ahaha.. Bilang saja kakak iri dengan ketampananku ini yang tiada obat!" kekeh Ling Tian.


"Narsismu yang tiada obat adik sialan!" gerutu Ling Jian.


"Sudah-sudah! Jangan bertengkar! Apa kalian mau aku beri jeweran mode tang milikku?" ucap Wang Zie dengan memasang wajah garang.


"Ahh.. Ibu.. Tidak-tidak! Kami tidak akan bertengkar lagi!" buru-buru Ling Jian mengatakan hal itu.


"Benar bibi! Tian'er akan berhenti!" tambah Ling Tian.


Kedua pemuda itu jelas tahu bagaimana mengerikannya jurus jeweran Wang Zie. Mereka pernah mendapatkan itu dulu saat ketahuan dan tertangkap basah mencuri ikan peliharaan milik salah satu Tetua Klan. Kala itu mereka merasakan seperti hendak robek dan putus saja telinga mereka. Huh! Benar-benar mengerikan!


Seketika, saat ini tubuh Ling Tian dan Ling Jian menjadi basah kuyup karena keringat dingin yang mengalir dengan sangat deras.


"Robek-robek telingaku kalau sampai kena jewer lagi!" kata-kata itulah yang ada difikiran Ling Tian dan Ling Jian saat ini.


____________________________________

__ADS_1


*Author jadi inget masa kecil dulu🙈


__ADS_2