
Keduanya saling beradu pukulan. Yang membuat tetua mesum akhirnya menyadari betapa kuatnya fisik serta tulang Ling Tian.
"Bocah! Ternyata fisik serta tulangmu cukup mengagumkan! Diusiamu yang baru berumur jagung sudah ditahap itu! Tapi apa kamu yakin mampu bertahan jika kugunakan pedang ini?" ucap tetua mesum disela pukulan dan mengeluarkan pedang dari cincin penyimpanannya.
"Huh! Aku tidak tahu ini sebuah pujian atau hinaan! Yang jelas aku tidak akan kalah darimu!" sengit Ling Tian juga mengeluarkan pedang dari sarungnya.
Trank! Trank!
Tetua mesum langsung menyerang. Gerakan jurus pedang tetua mesum begitu teratur dan terarah. Lain halnya dengan Ling Tian, dia hanya bergerak seadanya dan tanpa jurus apapun, menebas, menghindari dan menahan serangan pedang tetua mesum. Hal ini sangat merugikan bagi Ling Tian.
Trank! Trank! Trank!
Sreettt!
"Akkhh!"
Satu serangan tebasan mengenai bagian lengan kiri Ling Tian. Membuatnya harus mundur beberapa langkah.
"Hahaha! Bagaimana bocah? Apa masih ingin melanjutkannya? Dengan gerakan tanpa jurus dan hanya mengandalkan kecepatan tidaklah cukup untuk membuatmu selamat dari pedangku ini! Kuharap kamu menyerah saja! Akan aku berikan kematian yang cepat untukmu!" ucap tetua mesum dengan seringai dibibirnya.
"Menyerah? Tidak ada kata-kata menyerah dalam kamusku!" jawab Ling Tian.
"Baiklah! Jika itu inginmu. Matilah bocah!" kata tetua mesum.
Ritme gerakan tetua mesum lebih dipercepat dari waktu ke waktu. Pedang yang dipegangnya kini berubah kemerahan sebab darah milik Ling Tian.
"Tebasan Pertama Ular Langit!" seru tetua mesum.
Swuusshh...
Ling Tian yang melihatnya, merasakan firasat buruk jika terkena tebasan tetua mesum itu.
'ini buruk!' gumam Ling Tian.
Dia sebisa mungkin menghindar dari serangan. Namun kecepatan energi pedang milik tetua mesum lebih unggul ketimbang gerakannya.
Sreeett! Bommm...
Ling Tian tak selamat dan terlempar jauh dari area pertarungan. Kawah yang cukup lebar tercipta disekitar tubuh Ling Tian. Luka yang cukup lebar menganga didada bagian kanannya.
"Uhuk!" Ling Tian batuk dan mengeluarkan darah di ujung bibirnya.
Tetua mesum bertambah menyeringai saat melihat kondisi lawannya yang mengenaskan. Dia berjalan mendekati Ling Tian dengan santai.
"Bagaimana bocah? Apa masih bisa dilanjutkan?" ucap tetua mesum dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Huh! Tapi percuma saja! Kamu akan tetap mati di tanganku!" lanjutnya.
Ling Tian tidak menanggapi ejekan itu. Dia berusaha bangkit dengan topang pedangnya.
"Cuih! Kamu hanya bermimpi jika ingin membunuhku!" ujar Ling Tian sambil meludah darahnya.
"Hahaha. Bocah sombong! Lihat kondisimu saat ini! Memprihatinkan dan sangat menyedihkan. Tapi kamu masih saja begitu sombong!" kata tetua mesum.
"Tch! Memang begitulah adanya! Tapi aku juga sama sekali belum mengeluarkan semua kemampuanku! Mari kita lanjutkan saja!" ucap Ling Tian lalu menyerang tetua mesum.
"Hahaha. Baiklah! Jika itu maumu." jawab tetua mesum.
Keduanya kembali melakukan jual beli serangan pedang. Ling Tian berusaha semaksimal mungkin terus menyerang tanpa mau bertahan.
Setengah jam berlalu. Ling Tian terus memfokuskan serangannya di tiga bagian saja, leher, perut dan paha. Membuat lawannya terdesak. Menanggapi ini, tetua ketiga Klan Lang atau tetua mesum kembali menggunakan jurus-jurus pedang Ular Langitnya. Namun setelah dengan usaha maksimalnya, dia masih saja dalam posisi kurang menguntungkan.
Sreett!
Dugg!... "Ugh!"
'Sial! Bocah ini tidak bisa dianggap remeh!' gumam tetua mesum.
Tetua mesum cepat-cepat berinisiatif memundurkan tubuhnya beberapa langkah. Dia tidak mau terus dalam posisi seperti itu. Luka yang diterimanya lumayan cukup dalam dibagian pahanya.
"Bajingan kau bocah sialan!" teriak tetua mesum.
"Hahaha." Ling Tian hanya menjawabnya dengan tertawa terbahak-bahak penuh ejekan.
Rona wajah tetua mesum menghitam melihat tawa Ling Tian. Selama ini sangat jarang ada orang yang mengejek jurusnya itu. Bahkan Patriark Klan Lang juga sangat mengagumi serta mengakui kehebatan Jurus Pedang Ular Langitnya. Tapi saat ini, bocah yang tanpa tenaga dalam sedikitpun berani mencemooh jurusnya. Sungguh tidak bisa dia maafkan sama sekali. Kemarahannya memuncak hingga di ujung ubun-ubunnya.
Melihat ekspresi tetua mesum, Ling Tian bertambah mengejek dan sangat senang.
"Yoo! Nona manis! Ada apa dengan wajahmu itu? Anda terlihat bertambah cantik saja! Haha," ucap Ling Tian.
"Mulutmu sangat berbisa bocah b*ngsat!" teriak tetua mesum.
Tetua mesum menyerang Ling Tian dengan segenap kemampuan yang dimilikinya. Seratus persen tenaga dalamnya dia suntikkan dalam jurusnya. Teknik Pedang Ular Langit yang sebelumnya agak lembut, kini berubah menjadi sangat kasar dan membabi-buta.
Trank! Trank! Trank!
Ling Tian terus menyambut serangan itu. Dia mencoba mengambil keberuntungan dengan emosi lawannya. Sudah menjadi hal maklum bagi semua pendekar jika bertarung dengan dikuasai emosi maka lima puluh persen kekalahannya sudah bisa dipastikan. Hal ini pulalah yang Ling Tian inginkan. Saat ini tugasnya hanya perlu bertahan dan sesekali menyerang tetua mesum.
Trank! Trank!
Sreeetttt!
__ADS_1
"Ugh!"
Ling Tian kembali terkena sayatan pedang lawan. Kuda-kuda beladirinya agak goyah.
"Aku akan membunuhmu bocah sialan!" teriak tetua mesum.
"Gerakan Terakhir Teknik Pedang Ular Langit, Tebasan Kematian!"
Swuuussshhh...
Boommmm...
Ledakan besar kembali bergema.
"Haah.. Haah.." nafas tetua mesum terdengar begitu berat setelah menggunakan teknik itu. Sebenarnya dengan tenaga dalam dan tingkat kultivasinya saat ini yang masih berada di tingkat Pendekar Besi Tahap Menengah belumlah diperbolehkan menggunakan gerakan terakhir jurus itu. Namun karena amarahnya yang tidak terkontrol, dia tanpa fikir panjang langsung menggunakannya. Kultivasinya kini menurun beberapa bintang dan menjadi Pendekar Besi Tahap Awal. Tenaga dalamnya juga tinggal beberapa persen saja. Sungguh kerugian yang sangat besar!.
Ling Tian juga kembali terlempar dan kali ini sangat jauh. Lubang kawah yang lebih besar dan dalam dari sebelumnya kembali tercipta. Ditengah-tengah kawah itu, tubuh Ling Tian terluka sangat parah. Dia batuk darah beberapa kali dan merasa sangat sesak didadanya.
'apa ini akhir hidupku?' gumam Ling Tian disela-sela nafasnya yang tinggal satu dua.
'Tidak! Aku tidak boleh mati! Aku harus menjadi kuat dan membanggakan ibu! Aku harus tetap hidup!' tekat Ling Tian.
Pedang yang sebelumnya dipakai Ling Tian kini entah dimana. Mungkin saja hancur mendebu atau menjadi potongan-potongan kecil dan berhamburan kemana-mana Ling Tian tidak tahu. Ling Tian menggerakkan tangannya untuk menopang badan dan mencoba untuk duduk. Setelah beberapa saat berusaha, akhirnya dia dapat duduk bersila dan mencoba menggunakan teknik pernafasannya untuk menyembuhkan sedikit luka dalamnya. Setelah beberapa saat, dia berhasil mengumpulkan sedikit tenaga untuk bisa berdiri dengan tegap.
Sudah hal lumrah dan diketahui semua pendekar bahwa saat pertarungan satu lawan satu maka orang lain sangat dilarang atau sangat tabu jika turut ikut campur. Hal ini pulalah yang membuat Ling Tian bernafas lega. Andai saja ada satu orang dari kelompok lawannya yang menyerang saat dia lemah, sudah dipastikan dia tewas saat ini juga.
"Kamu cukup hebat nona tua! Jurusmu sangat kuat dan mematikan! Namun itu belum cukup untuk membunuhku! Sekarang giliranku!" ucap Ling Tian saat sudah berdiri dan melihat lawannya.
Aura Langit dan Bumi seketika tertarik kearah Ling Tian. Bukan! Tapi kearah genggaman tangannya. Hal tersebut tentu membuat tetua mesum dan anggota lainnya panik. Ling Tian melompat dan meluncur cepat kearah tetua mesum.
"Pukulan Pelebur Bumi!"
.
.
.
________________&&&&.
Tinggalkan like, komentar, atau votenya...
Kata-kata hari ini:
"Jika kamu terus mengeluh sebab kekuranganmu, lalu apa nafasmu, denyut jantungmu yang normal, pandangan matamu yang masih berfungsi serta nikmat lain yang Tuhan berikan sudah kamu syukuri?" ... 😢
__ADS_1