
"Cepat laporkan ke benteng perbatasan! Kita akan diserang! Tembakkan juga sinyal bahaya keatas langit untuk memanggil bantuan yang lainnya dari kota-kota terdekat!" teriak Komandan tersebut dengan lantang memerintahkan anak buahnya.
"B-baik Komandan!" jawab salas satu prajurit dengan terbata-bata lalu pergi meninggalkan rombongan itu.
"Kalian bertiga! Evakuasi para nelayan dengan cepat!" ucap Sang Komandan memberi perintah kepada yang lainnya.
"Baik Komandan!" jawab para pemuda.
"Kalian semua para nelayan! Ikuti kami!" ujar pemuda anak buah sang komandan.
"B-baik Tuan!" ucap para nelayan dengan serentak.
Booommmm...
Belum juga mereka membawa para nelayan itu untuk diamankan, sebuah ledakan yang sangat dahsyat terdengar dari arah pinggiran pantai dan membunuh banyak nelayan yang terlambat berlari.
"Oh tidak!" ucap Sang Komandan yang semakin dengan tubuh bergetarnya.
"Kalian semua! Ikuti aku untuk menghadang mereka sebentar!" seru Sang Komandan kepada anggotanya yang tersisa.
"T-tapi Komandan.." ucap para pemuda dengan ragu sekaligus ketakutan.
"Tidak ada tapi-tapian! Itu kewajiban kita sebagai prajurit penjaga! Atau aku yang akan membunuhmu!" bentak Sang Komandan Ren. Aura ranah Pendekar Emas Awal Bintang 2 juga meledak dengan gila yang disertai niat membunuh yang sangat pekat. Dia tidak main-main dalam mengancam anak buahnya itu.
"B-baik Komandan!"
Melihat ekspresi marah Sang Komandan, para pemuda yang menjadi bawahannya menjadi gentar dan hanya bisa menurutinya. Kali ini mereka tidak punya pilihan lain. Menghadang ribuan armada perang musuh kemungkinan besar akan mati, melawan Sang Komandan juga mati tentu akan mati pula. Maka mereka hanya bisa patuh dan mengikuti Sang Komandan. Setidaknya mereka mati dengan cara terhormat dengan menjadi pahlawan.
Komandan Ren dengan dua puluh enam anggotanya melesat mendekati kapal perang tersebut untuk menghadang. Dengan senjata pedang dan tombak yang sudah terpegang erat ditangan, mereka dengan gagah berani siap menghadapi pasukan musuh.
Sementara dari dalam kapal terbang itu, sosok yang menggunakan jubah berwarna hitam legam tertawa terbahak-bahak melihat dua puluh tujuh orang yang bergerak mendekati kapal.
"Hahaha.. Semut-semut kecil ingin menghadang pasukan gedung pembunuhku? Sungguh tolol!" ucap sosok itu menghardik keberanian kelompok Komandan Ren.
Benar! Pasukan besar itu adalah pasukan Organisasi Gedung Pembunuh dari daratan selatan atau Kekaisaran Han. Dan sosok berjubah hitam legam itu tidak lain adalah Han Tianba, pemimpin gedung pembunuh itu sendiri sekaligus kakak dari Kaisar Han Biao.
Dia yang sudah memiliki kekuatan ranah Pendekar Berlian Puncak ditugaskan oleh Sang Iblis Sejati alias pimpinan aliansi aliran hitam untuk menyerang dengan pasukannya yang dibantu para penghianat Kekaisaran Song untuk menguasai daratan barat serta merebut pedang pusaka tingkat merah dari Leluhur Tua Kekaisaran Song.
__ADS_1
Kekaisaran Song tidak pernah menyadari bahwa salah satu pangeran kekaisaran telah berkhianat dan bergabung dengan aliansi aliran hitam. Pangeran itu tidak lain adalah pangeran kedua kekaisaran, Song Yunlei.
Dalam perencanaannya, dia dan para pengikutnya akan mulai bergerak dari dalam ketika pasukan Kekaisaran Song sedang disibukkan dengan pasukan dari Organisasi Gedung Pembunuh milik Han Tianba.
Dengan cara cerdik ini pangeran Song Yunlei yakin akan mampu menguasai tahta kekaisaran dengan mudah. Sementara untuk urusan Leluhur Tua, dia serahkan kepada Han Tianba untuk mengurusnya. Sungguh skema yang sangat terencana!
Didalam kapal perang, Han Tianba menatap salah satu bawahannya dengan lekat. Langsung saja bawahannya itu memahami arti tatapan itu. Dia segera pergi meninggalkan tempat itu untuk melakukan sesuatu yang dimaksudkan Han Tianba.
Han Tianba mengangguk puas dengan bawahannya yang mengerti. Dia lalu melihat kembali ke arah dimana kelompok kecil Komandan Ren yang dengan gagah berani menghadang armada kapal perangnya.
Tidak lama, Han Tianba melihat bawahan yang sebelumnya pergi sedang melesat mendekati kelompok kecil Komandan Ren.
"Haha.. Kelompok semut yang mengganggu saja!" ucap Han Tianba dengan menghela nafas panjangnya dan menggelengkan kepala lalu kembali duduk di kursi dan menyesap teh dengan santai.
'Daratan barat! Kalian akan hancur!' batin Han Tianba.
.
.
Sementara disisi lain, Komandan Ren dan dua puluh enam kelompoknya yang gagah berani menghadang kapal perang itu tiba-tiba dikejutkan dengan kemunculan tujuh orang pria dan tiga wanita. Kesepuluh orang itu tidak lain adalah kelompok bawahan dari Han Tianba yang sebelumnya pergi setelah mendapatkan kode tatapan lekat.
"Kalian minggir! Atau aku akan melenyapkan kalian semua!" ucap bawahan Han Tianba dengan dingin tanpa menghiraukan pertanyaan dari Komandan Ren.
"Kau!" teriak salah satu anggota dari Komandan Ren dengan marah.
"Kau apa? Dasar semut! Habisi mereka dengan cepat!" ucap bawahan Han Tianba memberikan perintah anggotanya untuk menyerang.
"Baik!" ucap semua anggotanya.
Swuush... Swuush... Swuush...
Sembilan orang dari anggota bawahan Han Tianba melesat menyerang kelompok Komandan Ren. Dengan kekuatan yang rata-rata berada di ranah Pendekar Emas Awal, mereka dengan santai menyerang anak buah Komandan Ren.
Bomm... Bomm...
Bomm...
__ADS_1
Suara ledakan yang saling bersautan terdengar bersamaan dengan hancurnya tubuh anak buah Komandan Ren menjadi kabut darah.
Komandan Ren yang melihat itu hanyalah bisa menggertakkan gigi menahan amarahnya. Dia ingin menghentikan delapan orang dari musuhnya itu, namun dia sendiri juga disibukkan dengan satu orang wanita yang menjadi lawannya dan memiliki kultivasi jauh berada diatas jika dibandingkan dengan dirinya.
"Masih memperhatikan orang lain disaat sedang bertarung melawanku? Sungguh berani!" ucap wanita itu dengan kesal lalu memberikan serangan lebih kuat kepada Komandan Ren.
Boommm...
Ledakan keras terjadi saat sebuah tapak berwarna hitam kemerahan menampar Komandan Ren dan melemparkannya puluhan meter.
"Uhuk!"
Komandan Ren terbatuk dan darah segar terlihat disudut bibirnya saat kembali bangkit dari keterpurukannya.
"Kalian semua biadab! Aku akan membunuh kalian!" teriak Komandan Ren murka lalu dia mengeluarkan kekuatan penuhnya yang ternyata sudah berada di ranah Pendekar Platinum Awal Bintang 3 disertai dengan niat membunuh yang sangat pekat. Selama ini ternyata Komandan Ren sengaja menyembunyikan kekuatannya dari semua orang karena suatu alasan.
Zheep!
Dia lalu menghilang dari pandangan lalu muncul kembali didepan wanita yang menjadi lawannya dengan pedang yang siap dia ayunkan.
"Matilah!" teriak Komandan Ren sambil mengayunkan pedangnya.
Swosh...
Wanita itu sangat terkejut dan dibuat gelagapan dengan kekuatan serta kemunculan tiba-tiba Komandan Ren. Dia dengan cepat membuat perisai pelindung pada tubuhnya karena yakin tidak bisa menghindar lagi dari serangan jarak dekat itu.
Boommm...
Sebuah ledakan keras terdengar dari arah depan wanita itu. Dia sangat terkejut sekaligus bersyukur akan hal itu. Dia selamat dari kematiannya. Ternyata ada orang berjubah hitam yang berhasil menahan serangan Komandan Ren. Dia tidak lain adalah pemimpin kelompoknya atau bawahan langsung dari Han Tianba.
"Kau mundurlah! Orang ini biar aku yang mengurusnya!" ucap bawahan Han Tianba.
"Baik Tuan! Terima kasih!" ucap wanita itu lalu pergi meninggalkan bawahan Han Tianba dengan Komandan Ren yang saat ini memasang wajah sangat terkejut dengan kemunculan pria berjubah hitam itu.
Melihat ekspresi Komandan Ren, bawahan Han Tianba hanya terkekeh pelan dan menatap sang Komandan dengan tatapan menghina.
"Ada apa? Apakah kau terkejut? Aku tidak menyangka ternyata kau menyembunyikan kekuatan aslimu! Namun kau tetaplah semut dimataku!" ucap bawahan Han Tianba lalu mengedarkan kekuatan puncaknya yang berada di ranah Pendekar Platinum Akhir Bintang 8 yang disertai dengan niat membunuhnya yang sangat kejam.
__ADS_1
Terlihat bahwa dia telah membunuh banyak sekali manusia sehingga dapat mengeluarkan niat membunuh sepekat dan sekelam itu.
"Sekarang matilah!" ucapnya lalu langsung menyerang Komandan Ren.