
Trank! Trank!
Suara benturan logam terdengar jelas didalam Hutan Gelap bagian dalam. Ya, itu adalah pertarungan seorang pemuda tampan yang tak lain adalah Ling Tian dengan Banteng Api.
Ling Tian terus mengayunkan pedang pusakanya kesegala sisi di tubuh gemuk Banteng Api dengan tujuan melukainya dan mengakhiri dengan cepat. Namun Ling Tian harus menelan kepahitan saat semua serangannya tidak menghasilkan apapun walau itu sebuah goresan kecil ditubuh lawan.
"Sial! Keras sekali kulit Banteng Api ini!" Keluh Ling Tian.
Sementara Banteng Api yang mendengar Ling Tian mengeluh hanya diam tidak menanggapi. Namun diraut wajahnya bisa dilihat ada kebanggaan tersendiri yang jika Ling Tian melihatnya pasti akan sangat jengkel dan mengesalkan hingga ingin memukulinya sampai babak belur.
Dengan kulitnya yang sangat tebal, Banteng Api sangat membanggakannya. Selama ini belum ada dari para monster beast yang mampu menggoresnya kecuali mereka yang berada dijajaran para jendral. Maka dari itu, dengan lawan yang hanya seorang anak muda seperti Ling Tian dia tidak perlu mempermasalahkannya. Banteng Api hanya menerima serangan demi serangan yang dilontarkan Ling Tian dan sesekali membalas dengan serudukan api atau sepakan kakinya.
***
Sementara dibarisan belakang para monster beast yaitu jajaran para jendral yang berjumlah lima beast terjadi beberapa pembicaraan yang cukup menarik,
__ADS_1
"Jadi, menurutmu bagaimana dengan bocah itu cacing kecil?" Ucap Harimau Kristal kepada Ular Berkepala Tiga.
"Cih, bisa tidak kau tidak memanggilku dengan sebutan itu kucing jelek!" Ujar Ular Kepala Tiga menjadi kesal sebab ungkapan Harimau Kristal.
"Ahaha.. Ayolah, jangan seperti itu! Nanti wajahmu cepat keriput dan tidak cantik lagi!" Kata Harimau Kristal yang membuat para jendral lain mengerutkan kening. Bagaimana tidak? Ular Berkepala Tiga wajahnya memang tidak keriputan, tapi bersisik yang terlihat tidak rata seperti keriput.
"Sudahlah! Kalian berdua selalu saja berisik! Lebih baik kita tonton saja pertunjukan itu! Dan menurutku bocah kecil itu cukuo menarik, mungkin saja juga dia belum menunjukkan serangan pamungkasnya!" Ujar Kera Batu yang menjadi pimpinan para jendral beast.
"Kau benar saudaraku!" Sahut Elang Emas diangguki oleh yang disebelahnya, jendral beast Singa Salju.
"Benar, mari kita lihat saja tontonan pertarungan gratis ini! Hehehe.. Daripada pusing mendengarkan debat jendral Harimau dengan jendral Ular!" Ujar Elang Emas.
"Kamu selalu pintar dalam memilih saudaraku! Hahaha.." Tanggap Singa Salju sembari melirik kedua jendral yang tidak pernah akur itu.
Jendral Harimau Kristal dan Ular Berkepala Tiga hanya mendecih saat mendengar ejekan kedua saudaranya itu. Mereka ingin sekali membalas tapi lirikan mata jendral Kera Batu yang setajam pedang membuat mereka hanya bisa diam.
__ADS_1
***
Diarea pertarungan, Ling Tian masih saja menebaskan pedang pusakanya tanpa henti. Sedikit demi sedikit tenaganya mulai terkuras hingga kini hanya tersisa seperempatnya saja.
'Tch! Jika seperti ini terus aku akan kehabisan tenaga sebelum mengalahkan Banteng Api sialan itu. Kulitnya sangat kuat dan kuat! Aku tidak bisa menggoresnya sedikitpun! Andai aku bisa mengendalikan energi qi mungkin dengan mudah kusembelih banteng sialan itu!' Gumam Ling Tian sambil terus menebas.
"Baiklah.. Tidak ada cara lain lagi! Mari kita lihat, apakah kau masih bisa bertahan!" Ucap Ling Tian.
Dia mundur puluhan langkah kemudian menyarungkan pedang pusakanya. Kerutan muncul didahi Banteng Api dan para monster beast lainnya.
Apakah karena begitu putus asanya Ling Tian yang tidak bisa menggores kulit lawan meski sudah menggunakan pedang pusaka sehingga malah bertingkah konyol dengan menyarungkannya? Atau sebab tenaganyq telah terkuras habis?
Beberapa pertanyaan muncul dibenak para monster beast termasuk jajaran para jendral.
"Apa dia sudah menyerah dan selesai?" Tanya Jendral Ular.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari siapapun. Namun beberapa detik kemudian, mereka semua dikagetkan dengan sesuatu yang dilakukan oleh Ling Tian.