
"Ohoo.. Tuan Muda, seperti biasa?" ujar Mao An yang sangat tahu akan kebiasaan Ling Tian.
"Tentu saja! Orang-orang yang seperti Tetua Ketujuh itu yang berhak mendapatkan hadiah dariku!" kata Ling Tian sambil tersenyum.
Setelah mengatakan itu, Ling Tian lalu mengajak saudaranya untuk pergi dari tempat itu untuk mencari tempat beristirahat. Tidak lupa, diperjalanannya Ling Tian memeriksa batu komunikasinya dan melihat beberapa pesan yang masuk untuknya.
'Leluhur Bai Senlu dari Hutan Tanpa Batas, Patriark Li Duanren, dan ayah menanyakan hal yang sama perihal harta langit dan bumi ini!' ujar Ling Tian dalam hatinya.
Dia lalu membalas semua pesan itu untuk tidak perlu mendatangi wilayah terlarang tempat harta langit dan bumi karena dirinya bersama dengan saudaranya Mao An yang akan berusaha memperebutkandan mendapatkan harta itu.
Setelah itu Ling Tian dan Mao An pergi kesebuah kedai yang mungkin baru saja didirikan oleh sang pemilik untuk berdagang. Sungguh cerdik dan luas politik perdagangan orang yang mendirikan kedai itu.
Ling Tian dan Mao An yang masih menyamar sebagai pria baya masuk kedalam kedai dengan langkah santai. Didalam kedai, ternyata sudah cukup banyak orang disana dari berbagai macam klan atau sekte.
Mereka tampak berbincang-bincang membicarakan perihal harta langit dan bumi serta tidak ketinggalan aksi Tetua Ketujuh Sekte Neraka yang menghajar dan melukai Patriark Sekte Kekuatan hanya dengan satu serangan.
Setelah mengatakan pesanan pada pelayan yang ada di meja kasir, Ling Tian dan Mao An duduk disudut ruangan yang dekat dengan jendela sambil terus mendengarkan pembicaraan orang-orang dalam kedai.
"Apa kalian sudah mendengar mengenai Klan Lian dan Kekaisaran Xiao yang tidak akan ikut campur dalam urusan perebutan harta langit dan bumi ini?" ucap salah satu pengunjung bertanya kepada kawannya dengan berbisik-bisik.
"Apa! Bagaimana mungkin bisa begitu?" kawannya balik bertanya dengan ekspresi terkejut.
"Dari kabar yang aku dengar, mereka tidak terlalu tertarik dengan harta itu! Mereka mempersilahkan siapapun dari aliran putih dan hitam untuk berebut! Dan setelah itu mereka akan tunduk kepada orang yang akan mendapatkannya! Kamu tahu bukan, jika siapapun yang mendapatkan harta langit dan bumi ini kemungkinan akan menjadi penguasa dunia?" ujar pengunjung itu.
__ADS_1
"Tentu aku juga pernah mendengar tentang itu. Tapi aku kurang yakin dengan Klan Lian yang hanya akan diam saja!" kata kawannya.
"Aiiss.. Kamu seperti tidak tahu Klan Lian saja! Klan Lian itu adalah klan yang paling tidak suka untuk urusan-urausan ribet seperti ini! Asalkan tidak mengganggu dan membahayakan teritorynya maka Klan Lian hanya akan diam!.."
"Jika yang mendapatkannya adalah aliran putih, maka sebagai aliran yang sama dengan Klan Lian, orang yang mendapatkan harta itu tentu tidak akan bertindak diluar jangkauan dan merugikan alirannya sendiri!.."
"Namun jika ternyata yang mendapatkannya adalah aliran hitam, dengan menjadi bawahan maka Klan Lian yang bergandengan dengan Klan Xiao akan tetap menguasai daratan tengah ini! Sebab pusatnya aliansi aliran hitam ada di Kekaisaran Han, daratan selatan!" ujar pengunjung itu menjelaskan dengan panjang kali lebar ples luas.
"Oh.. Jadi begitu.. Pantas saja mereka melepaskannya begitu saja! Tapi ngomong-ngomong kamu mendapat informasi sepenting ini dari mana?" tanya kawannya.
"Sstt.. Jangan terlalu keras-keras! Aku kemarin sebelum ketempat ini secara tidak sengaja mendengarkan pembicaraan ini dari orang-orang Klan Xiao di restoran ibukota!" jawab pengunjung itu.
Ling Tian dan Mao An terus mendengarkan perbincangan mereka dengan seksama. Mereka berdua lalu saling pandang dan tersenyum serta menganggukkan kepala.
"Jika yang datang ternyata adalah Leluhur Tua dari kedua klan itu, sepertinya Tuan Muda juga harus menyertakan kakak ketiga untuk ikut! Karena dia pasti akan sangat senang diberikan kesempatan untuk menghajar orang yang mengkhianati Leluhur Tuan Muda!" kata Mao An berpendapat.
Pelayan pun datang membawa pesanan Ling Tian dan Mao An yang membuat keduanya terpaksa menghentikan diskusi telepatinya. Pelayang itu dengan rajin meletakkan piring makanan itu dimeja depan Ling Tian dan Mao An.
"Silakan dinikmati Tuan-tuan!" ucap pelayan itu.
"Baik! Terima kasih!" jawab Ling Tian dan Mao An bersamaan lalu keduanya mulai memakan makanan itu dengan lahap.
***
__ADS_1
Daratan Selatan, Kekaisaran Han.
Sebuah armada perang berupa kapal terbang yang sangat besar melintasi lautan perbatasan daratan selatan menuju Ibukota Kekaksaran Han dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dibelakang kapal itu ada juga ratusan kapal lainnya yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
Armada perang itu tidak lain adalah armada milik aliansi aliran hitam yang dipimpin oleh Han Tianba, Nan Kong dan Kaisar Baru Song Yunlei. Mereka bertiga datang secara bersamaan memenuhi panggilan dari junjungan mereka atau sang iblis sejati.
Swooshh... Swooshh...
Kapal-kapal raksasa itu terus melaju dengan kecepatan tinggi hingga sampailah mereka diatas halaman Istana Kekaisaran Han. Kapal-kapal itu parkir disana lalu seluruh penumpangnya pun turun satu persatu termasuk ketiga orang berpangkat tinggi itu.
Song Yunlei turun paling akhir karena dia adalah yang terlemah diantara keduanya. Sementara Nan Kong kekuatannya sudah berada di ranah Pendekar Berlian Puncak setelah beberapa tahun berkultivasi dengan menggunakan teknik atau cara dari junjungan mereka.
Mereka bertiga langsung menuju kedalam istana dengan tanpa seorangpun yang menghalanginya. Hal itu karena ketiganya adalah orang yang paling dikenal oleh kalangan aliansi aliran hitam.
Sesampainya di istana, mereka langsung memasuki istana bawah tanah Kekaisaran Han untuk menemui sang pemimpin. Setelah tiba, mereka bertiga lalu menjatuhkan diri berlutut didepan sosok agung bertanduk yang sedang duduk diatas singgasana.
"Salam Yang Mulia!" ujar ketiganya dengan serentak.
"Ya! Han Tianba, Nan Kong dan Song Yunlei! Berdirilah! Aku bangga dengan kalian bertiga! Hahaha.." ucap sosok pria bertanduk itu sambil tertawa terbahak-bahak.
Ketiganya lalu berdiri sesuai perintah. Kemudian mereka memberikan salam selamat datang kepada dua orang lainnya yang ada ditempat itu. Mereka berdua tidak lain adalah Kaisar Han Biao dan Matriark Chang Roulan dari Sekte Hasrat daratan utara.
Selesai memberikan salam, Han Tianba maju mendekati pria bertanduk lalu berlutut lagi dihadapannya. Kemudian dari dalam cincin penyimpanannya, Han Tianba mengeluarkan sebilah pedang dengan aura berwarna kemerahan menyelimuti yang terasa mematikan bagi semua orang ditempat itu dan mempersilahkan pria bertanduk untuk mengambilnya darinya.
__ADS_1
"Pedang pusaka tingkat merah? Hahaha.." ucap pria bertanduk atau sang iblis sejati sambil tertawa dengan wajah sangat bahagia.