
"Tapi Saudara Tian, ini masih saja terlalu berlebihan!" kata Yi Shu.
"Sudahlah.. Aku akan sangat kecewa jika kalian bersikukuh menolak pemberian kecilku ini!" ujar Ling Tian yang akhirnya membuat Yi Shu dan Yi Cang tidak bisa lagi mengelak. Tentu saja mereka tidak ingin mengecewakan Ling Tian yang sudah sangat berbaik hati seperti ini.
"Baiklah saudara Tian. Kami akan menerimanya," pasrah Yi Shu.
"Itu baru saudaraku! Mulai sekarang, aku akan memanggil ayahmu dengan sebutan paman! Apakah tidak apa paman Cang?" tanya Ling Tian melihat Yi Cang yang gelagapan.
"I-tu.. Baiklah.. Tidak apa-apa nak Tian!" jawab Yi Cang yang juga berusaha mempertahankan ketenangan dan senyumnya.
"Baiklah.. Selamat datang dirumahmu sendiri saudaraku!" ucap Ling Jun memberi tanggapan.
Hati Yi Cang dan Yi Shu menghangat karena keramahan keluarga Ling Tian. Mereka tentu juga sangat senang saat keluarga Ling Tian mengakui mereka sebagai saudara. Terlebih, pasti akan ada banyak keuntungan dan manfaat yang diterima jika melakukan hubungan baik dengan keluarga Ling Tian. Namun Yi Cang dan Yi Shu segera membuang ingin mengambil manfaat itu. Mereka ingin tulis dan saling menyayangi layaknya sebuah keluarga.
"Sekali lagi kami ucapkan terima kasih Tetua Jun!" ucap Yi Cang sembari menangkupkan kedua tangan.
"Lupakan saja kata terima kasihmu! Sudah menjadi kewajiban seorang saudara untuk membantu saudaranya yang lain!" ujar Ling Jun.
Sementara Hei Si yang melihat suami serta anaknya berbuat suatu kebajikan tepat didepan matanya, dia tidak bisa untuk tidak tersenyum. Hei Si sangat bangga dengan keduanya.
'Terima kasih Maha Dewa! Engkau telah mengutus dua malaikat yang sangat baik untuk menemani dan menjadi keluargaku!' batin Hei Si dengan penuh rasa syukur.
"Oiya paman Cang! Mengapa kamu tidak mengkonsumsi biah itu sekarang? Bukankah lebih cepat sehat itu lebih baik?" tanya Ling Tian.
"Eh! Aku harus mengkonsumsi disini? Lalu dimana ada tempat untukku bersemedi?" Yi Cang mengerutkan keningnya.
"Paman Cang bisa ikuti aku!" kata Ling Tian.
"Kalian semua ingin ikut atau disini saja?" lanjut Ling Tian bertanya kepada saudara-saudaranya.
"Ah.. Saudaraku.. Kami tetap disini saja! Kamu selesaikan dulu urusanmu dengan Yi Shu dan ayahnya!" jawab Wei Hun sambil kembali menyesap teh buatan Ling Tian.
"Baiklah.. Kalau begitu kami ke halaman belakang dulu! Kalian nikmati saja teh hangatnya. Ibu, ayah.. Tian'er kebelakang dulu! Mari paman Cang, saudara Shu!" ujar Ling Tian.
__ADS_1
"Silakan!" sahut semua orang.
"Mari tuntun jalannya nak Tian!" kata Yi Cang.
Ling Tian hanya mengangguk. Namun sebelum pergi, Ling Tian mengirimkan sebuah ingatan yang telah dia serap dari Han Sio kepada Wei Hun untuk didiskusikan dengan saudara-saudaranya yang lain.
Akhirnya, Ling Tian membawa Yi Cang dan Yi Shu di halaman belakang rumahnya. Setelah sampai, Ling Tian meminta Yi Cang untuk duduk dengan sikap lotus diatas sebuah batu berwarna hitam dibawah pohon rindang.
"Silakan paman duduk disitu dan segera makan buah bodhi itu. Paman bisa menyerapnya perlahan dengan manual kultivasi yang paman bisa!" ucap Ling Tian.
"Baik!"
Yi Cang hanya menurut dan memulai mengkonsumsi buah bodhi.
"Mungkin butuh waktu beberapa jam untuk paman Cang bisa sembuh dari sakitnya! Saudara Shu! Mari kita cari tempat yang nyaman untuk mengobrol sambil terus memantau paman Cang dari jauh!" ajak Ling Tian.
"Baik saudara Tian!" jawab Yi Shu.
***
"Salam Pemimpin!" ucap seorang wanita berjubah merah darah dengan berlutut dihadapan pria paruh baya berjubah hitam legam.
"Ya! Ada urusan apa kamu mendatangi ruanganku?" tanya pria berjubah hitam legam tidak mau basa-basi. Dia adalah Han Tianba. Kakak dari Kaisar Han Biao sekakigus Pemimpin tertinggi organisasi gedung pembunuh. Han Tianba juga tangan kanan atau orang kepercayaan Sang Iblis Sejati yang menjadi tuan tertingginya didalam aliansi aliran hitam.
"Mohon maaf pemimpin! Saya datang hanya ingin memberi kabar bahwa giok jiwa dari empat orang dari Kelompok Ular telah pecah! Dan yang satunya lagi milik Han Sio retak parah!" ujar wanita berjubah merah.
"Apaa!"
Bomm...
Kursi kebesaran yang Han Tianba duduki seketika hancur saat setelah dihantam oleh telapak tangannya.
Bhuuusshhh...
__ADS_1
Aura penindasan disertai niat membunuh sangat kuat segera menyebar kesegala sisi. Markas gedung pembunuh dibuat bergetar hanya karena aura yang terpancar dari Han Tianba.
Han Tianba saat ini sudah berhasil menembus belenggu bintang yang ada pada kuktivasinya. Kini Han Tianba telah menjadi salah satu sosok terkuat di Benua Langit yang berada dipuncak ranah kultivasi atau ranah Pendekar Berlian Akhir Bintang 9. Sungguh kekuatan yang maha dahsyat! Namun begitu, dia masih menjadi bawahan dari Iblis Sejati karena pada dasarnya kekuatan Iblis Sejati itu sudah berada jauh diatas ranah Pendekar Berlian.
Wanita berjubah merah darah tentu merasakan tekanan atau penindasan yang sangat kuat dan membuatnya susah untuk bernafas.
"P-pemimpin.. T-tenangkan dirimu!" ujar wanita berjubah merah dengan terbata-bata.
"Mengapa itu bisa terjadi? Bukankah mereka hanya dikirim untuk memata-matai daratan timur yang lemah itu?" tanya Han Tianba dengan kemarahan yang meluap-luap. Dia telah menarik sedikit auranya untuk sekedar membuat wanita didepannya dapat berbicara.
"Benar Pemimpin!" jawab wanita berjubah merah seperti darah. Dari sudut bibirnya terlihat ada bercak darah yang mengalir karena evek menerima tekanan aura dan niat membunuh dari Pemimpin gedung pembunuh secara bersamaan.
"Han Sio berada di ranah Pendekar Platinum awal. Tidak banyak orang-orang di daratan timur yang bisa mengalahkannya! Apakah dia telah menyinggung orang kuat dari Kekaisaran Wei? Sial!" tanya Han Tianba mengutuk kebodohan Ular Pertama atau Han Sio.
"Wanita ini tidak tahu Pemimpin! Namun apa yang dikatakan anda mungkin saja benar!" jawab wanita berjubah merah darah.
"Dasar Han Sio bodoh! Tidak berguna!" teriak Han Tianba dengan marah.
"Kamu! Cepat utus Kelompok Rubah untuk menggantikan Kelompok Ular untuk menjadi mata-mata! Suruh mereka untuk mencari tahu siapa orang yang berhasil mengalahkan Han Sio yang bodoh itu!" perintah Pemimpin gedung pembunuh.
"Wanita ini akan menuruti perintah Pemimpin!" wanita berjubah merah darah segera menghilang untuk melaksanakan tugas Pemimpinnya.
Setelah kepergian wanita berjubah merah darah, Han Tianba kembali duduk dikursinya yang telah rusak.
"Sial! Kehilangan kelompok Ular merupakan penghinaan bagi gedung pembunuhku yang agung! Daratan timur! Penghinaan ini tidak akan pernah aku lupakan! kalian semua akan musnah ditangan orang-orangku!" ucap Han Tianba dengan ekspresi sangat suram. Dia segera menghilang untuk menemui Pemimpin tertinggi aliansi aliran hitam dan menyampaikan berita yang telah dialami oleh gedung pembunuhnya.
***
Klan Ling, kediaman sederhana Ling Tian.
Tiga jam telah berlalu saat setelah ayah Yi Shu mengkonsumsi buah bodhi. Ling Tian dan Yi Shu menggunakan waktunya untuk mengobrol ringan dan meminum teh.
Bhuuussshh...
__ADS_1
Tiba-tiba aura yang sangat kuat menyapu area sekitar dan fluktuasi udara menjadi tidak stabil.
"Sepertinya paman Cang akan segera selesai!" ujar Ling Tian dengan tersenyum.