
Swiiiiiiittttttt...
Sosok Feng Lanse'er dengan tampilan burung Phoenix biru raksasanya memekik dengan kerasnya sembari melayang di atas langit dan berputar-putar dengan indahnya lalu menukik dengan tajam ke arah Ling Tian. Hal itu tentu saja membuat jutaan pasukan yang telah bersiap untuk berangkat perang terkagum-kagum. Sungguh tunggangan seorang yang sudah di anggap sebagai pahlawan Benua Langit sangatlah berbeda dengan yang lainnya.
Grrpp!
Feng Lanse'er mendarat tepat di samping Ling Tian. Tubuhnya yang besar dan bulunya yang sangat cantik dan indah membuat siapapun yang melihatnya akan terpesona. Sungguh sosok burung phoenix yang benar-benar mengagumkan.
Tanpa menunggu lama lagi, Ling Tian langsung meloncat ke atas punggung Feng Lanse'er dan Feng Lanse'er pun kembali terbang meninggalkan daratan timur menuju ke daratan selatan.
Rencananya, Ling Tian dan Feng Lanse'er ingin memantau terlebih dahulu daratan selatan dari atas langit sebelum memberikan komando kepada seluruh pasukan yang berada di empat sisi untuk bergerak menyerang.
.
.
Sekepergian Ling Tian, Mao An langsung menatap ke arah jutaan pasukan yang berada di hadapannya. Di sampingnya saat ini juga berdiri sosok gadis cantik yang tidak lain adalah Bai Si'er yang selalu menjadi pendamping setiap bagi suaminya.
Bai Si'er kini menjadi penasehat yang sangat baik untuk Mao An. Dia selalu memberikan petuah-petuahnya kepada sang suami ketika suaminya itu hendak melakukan suatu hal yang bersifat global atau umum. Dari dulu Bai Si'er memang sudah dikenal akan kebijaksanaannya dalam menentukan atau memutuskan sesuatu dan hal itu sudah mendapat pengakuan dari Bai Wutian atau sang kakak.
Kepiawaiannya inilah yang membuat Mao An atau suaminya merasa sangat beruntung karena dia tidak harus membuat saudara-saudaranya yang lain direpotkan dengan beberapa pilihan saat dirinya ingin memberikan keputusan.
Sang istri atau Bai Si'er sudah cukup baginya untuk melakukan diskusi yang rumit dipecahkan hingga akhirnya mendapatkan solusi terbaik dengan alasan yang masuk akal dan terbaik pula.
Mao An kemudian memberikan kode kepada saudara-saudaranya yang lain untuk mendekat kearahnya, karena dia ingin membagi semuanya berkumpul dalam satu kapal terbang seperti yang telah disepakati.
"Semuanya! Masuk ke kapal terbang! Kita berangkat sekarang!" seru Mao An dengan suaranya yang menggema.
__ADS_1
Seluruh pasukan pun langsung bergerak untuk memasuki kapal terbang yang telah memenuhi langit-langit dari kawasan tersebut. Semuanya dengan tekad yang bulat dan semangat yang tidak tergoyahkan langsung menjalankan kapal terbang itu menuju ke arah daratan selatan.
Memerlukan waktu sekitar satu bulan lamanya bagi mereka untuk sampai di daratan selatan melewati lautan penghubung antar daratan. Untung saja saat ini lautan itu telah aman karena pemimpin dari para monster ikan Feiyu yang tidak lain adalah Gui Lu telah menjadi bagian dari kelompok aliran putih.
Meskipun Gui Lu telah mengatakan kepada para monster ikan itu akan status dirinya yang telah tidak menjadi pemimpin mereka lagi, namun para monster ikan Feiyu masih tetap menghormati Gui Lu layaknya seorang pemimpin.
Jika Gui Lu mau, dia masih bisa memberikan perintah ataupun komando kepada para monster ikan Feiyu untuk membantu blokade seluruh lautan yang ada di Benua Langit untuk orang-orang aliran hitam. Namun Gui Lu tidak melakukannya karena merasa saat ini dia bukanlah pemimpin mereka lagi dan tidak mempunyai hak untuk memerintah.
Pasukan 40 sampai 50 juta itu berangkat menuju ke daratan Selatan dengan membawa doa serta harapan kemenangan dari pihak mereka. Bisa dikatakan juga perang yang akan mereka lakukan ini merupakan perang takdir.
Bagaimana tidak? Takdir mereka benar-benar dipertaruhkan dalam menang atau kalahnya perang. Jika perang ini mereka menangkan maka aliran putih atau anak cucu mereka nantinya akan dapat hidup dengan damai serta mereka yang berperang dapat naik ke alam menengah dengan tenang.
Sedangkan jika sampai mereka kalah, maka kegelapaan, perbudakan, penyiksaan, dan hal-hal buruk lainnya akan menimpa pihak aliran putih dan tidak mungkin bisa dibendung lagi oleh aliran putih yang tersisa dari 4 daratan.
Meskipun Ling Tian telah mengatakan bahwa ancaman terbesar atau kesulitan yang paling rumit yang harus mereka pecahkan di saat perang hanyalah berupa susunan formasi array pengacau yang akan dengan cepat dicari lalu ditemukan oleh tim khusus yang keseluruhannya berada di ranah Pendekar Berlian, namun semua itu pastilah akan membutuhkan waktu dan pasti pula akan merenggut banyak nyawa sampai titik utama dari formasi array tersebut ditemukan serta dihancurkan.
Ribuan kapal terbang itu pun melesat dengan cepat melewati lautan penghubung antar daratan di Benua Langit.
***
Ling Tian yang menunggangi punggung Feng Lanse'er dalam mode burung phoenix birunya terus melesat dengan kecepatan yang tidak terbayangkan. Dari bawah, mereka akan terlihat seperti cahaya biru yang membelah langit. Untung saja yang mereka lintasi hanyalah lautan biru yang seolah tak berujung sehingga tidak ada yang melihat fenomena menakjubkan tersebut kecuali beberapa ikan yang tergolong kelompok monster.
"Apakah Tuan Muda akan segera naik ke alam menengah setelah perang ini usai?" tanya Feng Lanse'er untuk mengisi kekosongan dalam perjalanan.
"Tentu saja. Namun sebelum itu aku ingin melakukan resepsi pernikahan dengan Hua'er terlebih dahulu!" jawab Ling Tian dengan tersenyum.
"Hoo.. Sepertinya Tuan Muda sudah tidak tahan ya?" goda Feng Lanse'er.
__ADS_1
Plak!
Ling Tian langsung memukul punggung Feng Lanse'er yang sedang ditungganginya itu.
"Kamu ini pasti sudah ketularan si kucing jadi-jadian itu bukan?" ujar Ling Tian dengan kesal.
"Hahaha.. Tuan Muda jangan salah, aku hanya bertanya dan menebak saja," kata Feng Lanse'er dengan tertawa terbahak-bahak.
"Cih! Menebakmu tidak ada bedanya dengan cara menebak si kucing hitam jadi-jadian itu!" ujar Ling Tian dengan ketus.
Feng Lanse'er hanya tertawa terkekeh menanggapi ucapan dari tuannya. Dia tidak ingin melanjutkan untuk menggoda sang tuan karena hal itu dia anggap sebagai tindakan yang kurang sopan meskipun dia telah dianggap sebagai saudara oleh Ling Tian.
Feng Lanse'er kemudian mengepakkan sayapnya lagi sehingga laju kecepatannya menjadi dua kali lipat lebih cepat dari kecepatan sebelumnya.
"Kecepatan terbangmu memang benar-benar luar biasa saudari Feng," puji Ling Tian dengan tulus.
"Aku masihlah kalah jauh juga dibandingkan dengan mereka yang berasal dari Klan Ying yang berasal dari Alam Dewa," ujar Feng Lanse'er menjelaskan.
"Klan elang? Mereka pasti klan yang sangat kuat dan luar biasa!" kata Ling Tian.
"Benar! Tapi mereka adalah pengikut setia dari Kaisar Langit sialan itu!" ujar Feng Lanse'er dengan nada penuh kebencian.
Tidak berapa lama kemudian mereka berdua akhirnya dapat melihat sebuah pantai dan daratan selatan yang biasa disebut sebagai daratan hitam, karena hanya dihuni oleh orang-orang yang berasal dari aliran hitam.
"Kita telah tiba!" ujar Ling Tian dengan tatapan mata tajam.
__________________________________________
__ADS_1
Jangan Lupa Vote Ya...