
Ling Tian melihat kedatangan rombongan yang berjumlah sekitar dua ratus orang tersebut dari atas langit bersama Mao An.
"Ohh? Bukankah itu Tetua yang aku temui sebelumnya?" ucap Ling Tian lirih bertanya pada dirinya sendiri.
Mao An yang sedikit mendengar ucapan Ling Tian menjadi mengerutkan kening.
"Tuan Muda! Apakah anda mengenal orang tua itu?" tanya Mao An.
"Mao An! Apakah aku tidak salah dengar? Kau bahkan lebih tua ribuan tahun daripada Tetua itu!" ujar Ling Tian meledek.
Wajah Mao An berubah menjadi masam dan memalingkannya kembali kearah pertempuran dibawahnya.
"Ahaha.. Kau lucu sekali Mao An!" ujar Ling Tian sambil tertawa renyah.
"Aku tidak mengenalnya! Namun aku tahu dia adalah orang yang baik dan memiliki jiwa solidaritas tinggi! Kamu turunlah dan bantu Zhuge Ruxu! Sepertinya dia akan sangat kewalahan jika harus menghadapi puluhan monster dan siluman tingkat 7 yang sedang datang itu!" lanjut Ling Tian memberikan perintah sambil menunjuk para komandan dan jendral lainnya yang sedang melesat mendatangi pertarungan Zhuge Ruxu.
"Baiklah! Lalu denganmu Tuan Muda?" tanya Mao An.
"Aku akan mendatangi pemimpin mereka dibelakang sana!" jawab Ling Tian lalu menghilang dari tempatnya.
Setelah Ling Tian pergi, Mao An juga dengan segera melesat mendatangi Zhuge Ruxu dan memberikan serangan kejutan untuk para jendral dan komandan monster beast dan hewan siluman.
Boommm...
Ledakan cukup memekakkan telinga terjadi saat serangan cakarnya mengenai beberapa jendral serta komandan dan melemparkannya puluhan meter.
"Tampaknya kakak ketiga cukup kewalahan kali ini!" ucap Mao An dengan senyuman yang tersungging.
"Cih! Kau kenapa datang terlambat?" tanya Zhuge Ruxu memberikan cibiran.
"Hehe.. Maafkan adikmu ini kakak ketiga! Aku baru mendapat perintah turun dari Tuan Muda!" jawab Mao An dengan tenang dan cengengesan.
Dengan membawa nama Ling Tian dalam jawabannya, Zhuge Ruxu tidak bisa untuk mengelak atau bertanya lagi.
"Kalian semua benar-benar sangat cocok dan empuk untuk menjadi samsak tinjuku saat sudah cukup lama aku tidak bergerak leluasa!" ujar Mao An dengan menyeringai.
Beberapa jendral dan komandan monster beast dan hewan siluman sampai merinding melihatnya dan tanpa sengaja memundurkan kakinya satu langkah.
Ledakan aura beast tingkat 7 puncak dan bisa saja menjadi tingkat 8 keluar dari tubuh Mao An mengejutkan semuanya khususnya dari golongan ras monster beast.
__ADS_1
"Siapa kau? Mengapa kau yang satu ras dengan kami malah justru membantu para manusia keparat itu?" ucap jendral beast kucing dahan bertanya.
"Heh.. Kucing totol! Itu bukan urusanmu! Mau aku membantu mereka mau tidak itu terserah diriku!" jawab Mao An dengan sangat tenang dan santai.
"Keparat! Kau adalah penghianat ras monster beast!" teriak jendral kucing dahan.
"Apa kau bilang? Beraninya kau kucing kecil dan totol jelek mengatakan Mao An sang jaguard ini penghianat? Cari mati!" seru Mao An dengan sengit lalu melesat menyerang jendral beast kucing dahan tersebut dengan kecepatan cahaya.
Swoosshh..
Buak!
Boommmm...
Jendral kucing dahan itu terlempar sangat jauh dan menabrak puluhan monster beast dan siluman.
"Aakhh.." teriak jendral kucing dahan kesakitan.
"Keparat! Kalian semua mengapa hanya diam dan menonton? Cepat serang kedua bajing*n itu bersamaan!" lanjut jendral kucing dahan tersebut dengan amarah memuncak.
Semua jendral dan komandan monster beast serta hewan siluman akhirnya bergerak dan menyerang Mao An dan Zhuge Ruxu dengan beringas.
Bomm.. Boomm..
Ledakan demi ledakan terus bergema saat kedua serangan dari Zhuge Ruxu dan para jendral serta komandan pasukan beast dan hewan siluman beradu.
Meskipun para lawannya selalu kalah dan terlempar jauh setiap kali berhadapan langsung dengan pedang pusaka Zhuge Ruxu, namun karena jumlah mereka yang menang jauh maka jendral atau komandan lain lanjut menyerang sementara yang terlempar sebelumnya memulihkan diri dan akan kembali menyerang setelahnya.
Hal seperti itu juga terjadi pada Mao An dan membuatnya begitu kesal.
'Aku harus bisa membunuh mereka dengan setiap seranganku!' gumam Mao An didalam hati.
Mao An mengalirkan lebih banyak energi Qi pada setiap serangannnya dan beberapa komandan berhasil dia bunuh.
"Matilah kalian!" teriaknya dengan lantang.
"Para jendral! Bagaimana ini? Kita tidak bisa bertahan lebih lama lagi dan bisa mati konyol jika terus begini!" ucap salah satu komandan dari ras siluman.
"Komandan! Teruslah bertahan sedikit lagi! Aku tidak percaya bahwa tenaganya tidak pernah habis! Dia pasti akan kelelahan seiring berjalannya waktu!" jawab sang jendral dengan memberi harapan.
__ADS_1
"Tapi dia tampak beberapa kali menelan sesuatu dan setelahnya kekuatannya seperti kembali ke puncak!" ujar sang komandan.
"Tidak perlu gusar! Aku yakin jika yang dia telan adalah pil, maka pasti akan terbatas dan akan ada evek samping yang tidak kecil jika terus mengkonsumsinya! Terus serang saja!" ujar sang jendral.
"Baik jendral!" ucap sang komandan lalu kembali menyerang Mao An dengan ganas.
Pembicaraan mereka nyatanya dapat di dengar dengan jelas oleh Mao An. Dia yang aslinya adalah ras beast harimau hitam atau jaguard tentu memiliki kelebihan bawaan berupa penglihatan, penciuman dan pendengaran yang sangat tajam.
"Hehehe.. Kalian benar-benar sangat naif!" ucap Mao An sambil tersenyum menyeringai.
Dia mengayunkan tangannya untuk memberikan serangan cakar terkuatnya pada jendral pasukan beast yang saat ini menjadi penghadangnya.
Swoosh..
Tiga bilah angin berbentuk seperti sebuah cakar melesat dengan sangat cepat dan melaju kearah jendral beast tersebut.
Sraak!
"Aaakkhh.."
Cakarnya berhasil memotong tangan jendral beast tersebut karena dirinya terlambat menghindari serangan cakar Mao An. Teriakan kesakitan terus keluar dari mulutnya dan tidak menghiraukan orang lain yang kupingnya sudah berdenging karenanya.
"Kau sangat berisik! Kupingku sampai sakit karena lolongan jelekmu!" ucap Mao An lalu melancarkan cakar lainnya.
Srak!
Blug!
Kepala jendral beast tingkat 7 itu terjatuh dengan darah yang membanjiri sekitar dengan derasnya. Dia adalah salah satu jendral beast tingkat tinggi yang hampir memiliki kekuatan pada puncak tingkat 7. Para jendral dan komandan lain tentu sedikit gentar karena hal tersebut. Namun segera mereka menepis fikiran tersebut dan menyerang Mao An dengan sangat ganas dan dipenuhi kemarahan.
.
.
Disisi lain, Raja Beast dan Ratu Siluman yang melihat kejadian terbunuhnya salah satu jendral besar monster beast menjadi sangat marah dan sedih.
"Jendral besar Badak Cula Tiga telah tewas! Dan yang lebih miris adalah dia terbunuh oleh golongan kalian sendiri!" ucap Ratu Siluman Huli Hei memberikan cibiran.
Wajah Raja Beast Kong Ki menjadi memerah karena marah mendengar penuturan Ratu Siluman tersebut. Namun belum sempat Raja Beast itu memberi tanggapannya, dia dan Sang Ratu Siluman Huli Hei dikejutkan dengan kemunculan sosok pemuda bertopeng separuh wajah dengan jubah hitam yang keluar dari ruang kosong layaknya seperti hantu.
__ADS_1
"Sepertinya ditempat ini sangat tenang untuk menonton pertarungan!" ucap pemuda bertopeng dengan santai.