
"I-ini.. B-bukankah ini menjadi sebuah prasasti formasi agung?" ucap Patriark Sekte Neraka dengan tubuh bergetar dan menjadi lemas. Bukan hanya Patriark saja yang mengalami hal demikian, tapi para Tetua dan ratusan ribu murid Sekte Neraka juga seperti itu.
Hal itu sangatlah wajar menurut Ling Tian. Karena pasti menurut semua penduduk Sekte Neraka, hal yang didepan mereka semua adalah harta tanpa banding. Sebuah prasasti formasi agung dengan berbagai macam tingkatan! Siapapun orang yang mempelajarinya, maka pengetahuan tentang formasi dan array pastilah akan sangat meningkat pesat. Dan hal inilah yang dibutuhkan oleh Sekte Neraka.
Patriark Sekte Neraka dan para Tetua yang melayang segera turun ketanah dan menjatuhkan diri mereka untuk berlutut. Hal itu tentu membuat seluruh murid Sekte Neraka mengikutinya.
"Selamat datang dan hormat kami Yang Mulia Dewa Formasi!" teriak Patriark Sekte Neraka Li Duanren.
"Selamat datang dan hormat kami Yang Mulia Dewa Formasi!" ikut semua Tetua dan murid dengan suara menggema.
Sementara Ling Tian cukup tertegun dengan reaksi Patriark dan seluruh penghuni Sekte Neraka. Dewa Formasi? Bukankan itu lumayan keren untuk sebuah julukan baru? Fikir Ling Tian.
Dibelakang Ling Tian, Ling We justru memasang wajah sedikit buruk. Dia sangat iri kepada saudaranya yang satu ini mendapat julukan sangat keren menurutnya dari hampir satu juta orang sekaligus.
'Brengs*k saudara Tian! Cih! Wajahnya kelihatan sok sekali!' gerutu Ling We dalam hatinya.
Setelah beberapa saat, Ling Tian mengangkat tangan dan berseru lantang.
"Berdirilah! Tegakkan badan kalian semua! Dan perlihatkan kepadaku bahwa kalian layak menjadi penerus dari Dewa Tamvan ini!"
Semua orang segera menurut untuk kembali berdiri meski sebelumnya ucapan dari Dewa Formasi mereka itu terdengar sedikit menggelikan dengan mengikut sertakan kata-kata narsis.
"Kami tidak akan mengecewakan Dewa Formasi!" seru semua orang.
"Bagus! Aku senang mendengarnya! Berlatihlah dengan giat! Setelah kalian kuat, mari kita serbu aliran hitam yang meresahkan dan menghancurkannya!" kata Ling Tian.
"Baik Dewa Formasi!" jawab semuanya.
"Hidup Dewa Formasi!"
"Hidup Dewa Formasi!"
"Hidup aliran putih!"
"Hidup aliran putih!"
__ADS_1
Gema sorakan dari ratusan ribu manusia terdengar begitu menggelegar diseluruh Sekte Neraka sampai akhirnya terhenti karena Ling Tian mengangkat tangan memberikan kode untuk berhenti.
"Baiklah.. Kalau begitu aku dan saudaraku kembali ke aula tamu terlebih dahulu! Jika kalian ingin mendiskusikan sesuatu kupersilahkan!" ucap Ling Tian.
"Yang Mulia Dewa! Tolong tunggu sebentar! Saksikanlah sumpah setia kami kepadamu Yang Mulia Dewa!" ujar Patriark Li Duanren.
"Benar Dewa!"
"Benar!"
Yang lain ikut menyahut membenarkan. Sementara Ling Tian hanya memberi jawaban berupa anggukan untuk terlihat sedikit berwibawa.
"Kami Sekte Neraka daratan tengah bersumpah setia kepada Dewa Formasi!" teriak Patriark Li Duanren mengawali lalu kembali berlutut.
"Kami bersumpah setia kepada Dewa Formasi!" seru semua orang mengikuti berlutut.
Jdeeerrr
Petir diatas langit langsung bergema tanda mendengar sumpah semua orang dari Sekte Neraka. Kini telah resmi sudah Sekte Neraka menjadi bawahan Klan Ling atau lebih tepatnya Dewa Formasi baru, Ling Tian.
"Baiklah! Sumpah kalian aku terima! Berdirilah!" ujar Ling Tian.
Swoosshh...
Ling Tian mengangguk pelan lalu menghilang membawa Ling We kembali ke aula tamu untuk menikmati teh yang sempat tertunda.
Zheep!
Keduanya sampai di aula tamu dengan Ling We yang bernafas megap-megap.
"Hahh.. Hahh.. Sialan kau saudara Ling! Kalau mau ikut membawaku juga mengapa tidak memberi aba-aba terlebih dahulu!" keluh Ling We yang masih terus mengatur nafasnya supaya stabil.
"Hahaha.. Maafkan aku saudara We! Aku lupa lagi!" tawa Ling Tian dengan pecah.
"Cih! Mentang-mentang sudah menjadi Dewa baru jadi gampang lupa!" ejek Ling We.
__ADS_1
"Bukan begitu juga saudaraku! Haha.. Bahkan aku sendiri tidak menduga bahwa mereka akan memberikan julukan segila itu padaku saat aku membuatkan prasasti!" ujar Ling Tian mengelak.
"Huh! Intinya tadi itu aku sangat iri kepadamu!" kata Ling We terang-terangan.
"Eh? Kok iri?" Ling Tian mengangkat alisnya keheranan.
"Tentu saja aku sangat iri! Kamu terlihat sangat keren tadi tahu tidak? Terbang sendiri dan dibawahnya ada ratusan ribu orang berlutut dihadapanmu! Benar-benarbsebuah impian!" jawab Ling We dengan jujur.
Plak!
"Aduh! Mengapa kau memukul kepalaku?" protes Ling We yang tiba-tiba kepala belakangnya ditampol oleh Ling Tian.
"Kamu ini aneh-aneh saja! Dengarkan aku! Jadi orang banyak harta boleh, tapi gila harta larangan! Jadi orang terhormat harus, namun gila kehormatan adalah kehinaan!" tutur Ling Tian memberikan sebuah nasehat.
Sementara Ling We langsung menundukkan kepalanya karena malu. Dia merasa sangat bersalah atas tindakannya yang menurutnya kali ini sangatlah keterlaluan.
"M-maafkan aku saudaraku!" kata Ling We pelan.
"Sudahlah! Lupakan saja! Yang terpenting kamu sudah tahu akan hal itu dan jangan berlebihan!" balas Ling Tian sambil merangkul pundak Ling We.
"En.." Ling We hanya mengangguk pelan.
Akhirnya mereka berdua duduk dan menikmati teh yang sudah mulai dingin dan beberapa camilan yang tersedia diatas meja hidangan.
.
.
Sementara di halaman utama Sekte Neraka setelah kepergian Ling Tian dan Ling We, Patriark Sekte Neraka Li Duanren dan para Tetua langsung berdiskusi masalah prasasti formasi agung yang baru saja dibuat didepan semua murid-murid sekte. Tidak lupa juga mereka membahas masalah syarat pertama yang diajukan oleh Ling Tian kepada mereka.
"Jadi, untuk masalah prasasti ini akan kita bahas lagi nanti! Masalah yang kedua adalah mengenai syarat pertama yang harus kita tepati untuk saudara dari Yang Mulia!" ujar Patriark Sekte Li Duanren.
"Apa yang dikatakan Patriark benar sekali! Kita sama sekali tidak boleh mengecewakan Yang Mulia Dewa Formasi! Dengan adanya satu atau dua prasasti formasi agung ini saja kita bisa mencapai ketinggian yang tak tertandingi, lalu ini adalah dua puluh prasasti! Kita tidak boleh memberikan sesuatu yang abal-abal!" ujar Tetua Kedua memberikan pendapat.
"Aku seprndapat dengan Tetua Kedua! Bagaimana jika kita tidak hanya mwmberikan saudara dari Dewa kita itu sumber daya yang bisa membuatnya menembus ranah Pendekar Berlian?" Tetua Pertama menambahkan.
__ADS_1
"Apakah itu tidak terlalu berlebihan Tetua Pertama?" tanya Tetua Ketujuh agak kurang setuju. Dia masih saja merasa sedikit jengkel kepada Ling We yang ucapannya selalu membuat perutnya mual. Lalu bagaimana bisa orang semenjengkelkan itu mendapat keberuntungan sangat besar? Tetua Ketujuh tentu belum bisa menerima dengan lapang dada terlepas orang itu adalah saudara dari sang Dewanya.
"Apa maksudmu dengan berlebihan Tetua Ketujuh? Yang Mulia telah memberikan kita suatu barang yang tidak ternilai harganya bagi kita! Dan kamu mengetahuinya dengan jelas! Lalu mengapa kamu tidak setuju?" Patriark Sekte Li Duanren merasa aneh.