
Mao An dan kedua Tetua dari Sekte Neraka juga menjadi serius. Tidak! Bukan hanya mereka bertiga saja! Tapi bahkan wajah orang yang hadir ditempat itu juga menjadi serius. Kehadiran kelompok aliansi aliran hitam yang menggunakan Armada perang sangat besar tuk mengikuti acara perebutan harta langit dan bumi itu sungguh seperti akan berperang besar-besaran saja.
Maka wajar bagi semua kalangan putih yang ada di wilayah terlarang menjadi serius atas kehadiran musuh alami mereka. Khususnya beberapa kultivator yang memang berasal dari daratan barat atau Kekaisaran Song.
Mereka tentu sangat ingin membalaskan dendam atas kematian keluarga ataupun saudara-saudara mereka. Namun ada yang sangat besar itu membuat hati mereka bergetar karena gentar.
Nguuung!
Kapal-kapal terbang itu berdengung dengan sangat nyaring dan perlahan mulai turun dari atas langit mendarat disebuah tanah yang sangat lapang didekat wilayah terlarang atau sedikit berjauhan dengan tempat orang-orang dari kalangan putih berada.
Bammm!
Kapal-kapal mendarat diatas tanah secara bersamaan yang membuat tanah tersebut dan sekitarnya terjadi sebuah getaran. Setelah itu, ribuan sosok berpakaian hitam perlahan keluar dari kapal itu seperti segerombolan semut yang keluar dari sarangnya.
Swush...
Sosok Han Tianba melayang diatas langit sambil menatap kearah orang-orang dari aliran putih berada. Dia tersenyum mengejek melihat orang-orang yang menurutnya sangat lemah itu.
Disaat Han Tianba melihat ke suatu arah dari sekelompok orang aliran putih itu, dia tiba-tiba merasakan sebuah ancaman yang sangat kentara dalam waktu sepersekian detik. Dia lalu melihat seorang pemuda dengan ditemani oleh ketiga pria paruh baya lainnya yang juga sedang melihat ke arahnya.
"Hanya semut!" ejek Han Tianba yang melihat kultivasi keempatnya hanya di ranah Pendekar Emas Tahap Awal.
Ling Tian juga yang sebelumnya saling tatap untuk waktu sebentar dengan Han Tianba cukup terkejut dengan ranah kultivasi sesungguhnya dari pemimpin tertinggi Organisasi Gedung Pembunuh Kekaisaran Han.
'Sungguh diluar dugaan!' batin Ling Tian.
Han Tianba kemudian beralih ke tempat lain untuk mencari seseorang yang mungkin dia kenali. Dan benar! Disaat Han Tianba melihat arah paling belakang kelompok aliran putih itu sebuah niat membunuh yang sangat pekat tertuju kearah dirinya.
__ADS_1
Han Tianba pun tersenyum dengan senyuman yang sangat indah jika dilihat oleh orang-orang yang belum mengenalnya. Akan tetapi senyum itu sungguh sangat membuat orang yang menujukan aura pembunuh itu semakin marah dan jengkel.
"Hehehe.. Pak Tua Song! Ternyata kau juga ada disini? Aku akan melunasi hutangku terhadapmu nanti!" ucap Han Tianba mengejek.
.
.
Disisi lain, Leluhur Tua Kekaisaran Song yang tidak lain adalah Song Mu menjadi sangat marah saat ditatap oleh Han Tianba dengan tatapan mengejek. Tentu dia sangat marah. Seluruh keluarganya yang sangat patuh kepadanya dibantai habis oleh kelompok yang dipimpin orang yang mengejeknya itu.
"Keparat! Aku akan membunuhmu!" teriak Leluhur Song Mu yang ingin langsung melesat menyerang Han Tianba namun dengan cepat dihalangi oleh Leluhur dari Klan Lian, Lian Qin.
"Kau tenanglah! Jangan membuat rencana yang kubuat menjadi berantakan!" ujar Leluhur Lian Qin dengan kesal.
Setelah beberapa saat dihalangi oleh Leluhur Lian Qin, Leluhur Song Mu pada akhirnya kembali meraih ketenangannya dan tidak jadi untuk bergerak menyerang Han Tianba.
"Ah... Maafkan aku!" ucap Leluhur Song Mu yang telah sadar dari emosinya. Dia segera meminta maaf kepada Leluhur Lian Qin karena hampir menghancurkan rencana yang telah dia buat.
"Baik! Terima kasih telah mengingatkanku Tuan Qin!" ujar Leluhur Song Mu dengan tulus.
"Lupakan saja! Kita harus terus diam dulu untuk sekarang ini!" ujar Leluhur Lian Qin.
.
.
Sementara itu disisi lain, Ling Tian dan Mao An yang juga merasakan aura membunuh dari Leluhur Song Mu sedikit kecewa karena aksi atau tontonan gratis yang berupa baku hantamnya orang-orang terkuat yang berada di Benua Langit tidaklah jadi.
__ADS_1
"Sial! Kenapa tidak jadi?" ucap Mao An dengan kesal.
"Hahaha.. Tentu saja tidak akan jadi karena dibelakangnya masih ada orang yang memakai otaknya untuk berfikir!" ujar Ling Tian dengan tersenyum.
"Huh! Padahal aku sangat ingin melihat orang orang bodoh itu untuk saling adu jotos ditempat ini!" ucap Mao An dengan mengeluh.
"Oiya saudaraku, apa kau tahu siapa orang yang melarang orang yang memiliki niat membunuh gila itu?" tanya Ling Tian tiba-tiba.
Mao An langsung melihat ke arah orang yang sebelumnya menahan Leluhur Song Mu untuk tidak bertindak gegabah menyerang Han Tianba.
"Aku sungguh tidak tahu!" ujar Mao An.
"Hahaha.. Tentu saja dia adalah Leluhur Tua dari Klan Lian yang sebelumnya mengatakan tidak akan datang ketempat ini. Lihatlah! Dia menyamar menjadi orang lain! Sungguh strategi yang sangat lumayan bagus!" ucap Ling Tian sambil tersenyum.
Sementara itu untuk kedua tetua yang ada di dekat Ling Tian dan Mao An hanya terus diam sambil menyimak pembicaraan dari dua orang super hebat itu. Mereka berdua tentu sudah mendengarkan perihal Klan Lian yang mengatakan tidak akan ikut serta dalam acara perebutan harta langit dan bumi ini.
Namun dari pembicaraan kedua orang hebat atau Ling Tian dan Mao An yang mengatakan bahwa orang yang mencegah seseorang yang hendak menyerang wakil pemimpin aliansi aliran hitam atau ketua dari organisasi gedung pembunuh daratan selatan adalah Leluhur Tua dari Klan Lian itu sendiri sungguh membuat mereka berdua menjadi kebingungan.
"Tuan Muda! Benarkah orang yang mencegah orang yang sebelumnya ingin menyerang itu adalah Leluhur Tua dari Klan Lian?" tanya Tetua Ketujuh memberanikan diri untuk bertanya.
"Ya! Benar sekali!" angguk Ling Tian.
"Bagaimana Tuan Muda Ling Tian bisa seyakin itu?" tanya Tetua Kesembilan.
"Yah.. Karena aku dapat melihat kekuatan mereka berada di ranah Puncak Pendekar Berlian! Kalian tahu bukan siapa saja orang yang ada di ranah tersebut?" Ling Tian balik bertanya kepada kedua Tetua dari Sekte Neraka itu.
"Tentu saja kami tahu Tuan Muda!" jawab keduanya serentak.
__ADS_1
"Dan aku yakin bahwa orang yang sebelumnya marah-marah adalah Leluhur dari Klan Song yang ada di daratan barat yang geram atau ingin balas dendam terhadap aliansi aliran hitam yang telah menghancurkan kekuasaan dan membunuh seluruh keluarganya! Lalu satu orang yang lain pasti adalah Leluhur Klan Xiao, Xiao Chen!" imbuh Ling Tian.
Kedua Tetua itu hanya mengganggu kan kepala tanda mengerti dan paham dengan apa yang dikatakan oleh Ling Tian. Mereka masih tidak menyangka bahwa pemuda yang belum genap umurnya 30 tahun ini sudah bisa berspekulasi dengan sangat baik dan benar. Rasa kagum memenuhi hati kedua orang Tetua Sekte Neraka tersebut.