
"Hihihi.. Asosiasi Alkimia terlalu sombong dihadapan kami Klan Lian! Kalian tidak mau menyerahkan seperempat saham Asosiasi kepada kami, khususnya dirimu yang menolak mentah-mentah pengajuan kami! Maka terimalah akibatnya!" ujar wanita baya itu dengan cekikikan.
"Cuih! Kalian orang-orang Klan Lian sangatlah serakah! Kalian telah melakukan pemaksaan! Jika pihak lain tahu, maka kalian tidak akan lagi mendapat dukungan dari semua orang karena melakukan ini!" kata pria berjubah hijau sambil meludah darah dari mulutnya.
"Itu jika mereka tahu, tapi jika kamu dan yang lainnya mati, siapakah yang hendak melaporkan kepada pihak lain? Hihihi.." sahut wanita berjubah hitam keemasan dari Klan Lian.
"Klan Lian benar-benar bajing*n! Aku bersumpah, kalian akan hancur tidak lama lagi!" teriak pria baya berjubah hijau.
"Haha! Klan Lian adalah Klan Penguasa daratan tengah! Siapa yang berani mengusiknya?" jawab wanita baya dengan percaya diri.
Pria paruh baya tersebut hanya bisa menggertakkan gigi saja karena hatinya membenarkan ucapan wanita gila itu. Tidak akan ada yang berani mengusik Klan Lian di daratan tengah ini. Tidak! Bahkan jika itu di seluruh daratan Benua Langit.
"Kata siapa tidak ada yang berani?"
Tiba-tiba sebuah suara milik seorang pemuda muncul disertai pemiliknya setelah beberapa saat. Pemuda bertopeng separuh wajah dengan jubah hitam tiba-tiba keluar dari udara kosong tanpa sedikitpun aura keberadaannya yang terasa. Pemuda itu muncul didekat pria baya berjubah hijau dan mengulurkan tangannya.
"Tetua tidak apa-apa?" tanya pemuda bertopeng yang tidak lain adalah Ling Tian.
Pria pruh baya tersebut menyambut tangan Ling Tian karena merasakan tidak ada niat buruk dari pemuda bertopeng itu kepadanya. Ling Tian segera mengangkat tubuh Tetua tersebut sampai berdiri tegak kembali.
"Terima kasih nak! Aku tidak apa-apa!" jawab pria paruh baya berjubah hijau.
Kemunculan tiba-tiba Ling Tian membuat pertarungan kedua belah pihak terhenti. Sementara wanita baya yang sebelumnya menghajar pria baya dari Asosiasi Alkemis berubah menjadi waspada.
"Saudara We! Pedangku masih ada padamu bukan? Bagaimana jika aku menyerahkan urusan ini kepadamu? Wanita jelek ini hanyalah ranah Pendekar Platinum Menengah Bintang 3! Seharusnya bukanlah masalah bagimu jika menggunakan pedangku!" ucap Ling Tian sambil melihat kearah dimana pohon raksasa berada.
Swuusshh...
Sosok pemuda bertopeng separuh wajah yang lain muncul dengan sebilah pedang yang sudah terhunus dan mengeluarkan aura mengerikan. Pemuda itu tentulah sang pahlawan kita Ling We!
"Tentu saja bukan masalah saudaraku!" ujar Ling We kemudian langsung menyerang wanita baya dari Klan Lian.
__ADS_1
Dengan kecepatan yang sudah bisa mengimbangi kultivator ranah Pendekar Berlian Awal, Ling We berhasil membuat terkejut wanita baya tersebut. Padahal dirinya jelas melihat bahwa pemuda bertopeng yang baru saja tiba hanyalah orang yang berada pada ranah Pendekar Platinum Awal Bintang 2. Dengan cepat wanita baya dari Klan Lian itu menangkis serangan kilat Ling We dengan pedang pusaka tingkat hijau yang sedang dia pegang.
Traankk!
Krak!
"Apaa!"
Wanita baya tersebut memelototkan matanya sampai-sampai seperti hendak keluar saat mendapati pedang kesayangannya patah hanya dengan satu serangan dari senjata milik pemuda bertopeng dan berjubah merah kehitaman.
Wanita dari Klan Lian itu langsung mundur beberapa langkah menjauh dan menjaga jarak dari Ling We. Wanita itu ingin menangis sejadi-jadinya karena senjatanya yang rusak. Disamping itu dirinya juga sangat terkejut dengan aura yang keluar dari pedang pusaka milik lawannya.
'Pusaka tingkat merah!' gumam wanita itu dengan tubuh yang bergetar.
Sementara Ling We hanya berdiri santai sambil melihat pedang yang sedang dirinya pegang ternyata begitu hebat dan keras.
"Ugh! Sayang sekali! Senjata pusaka sebagus itu harus rusak sia-sia olehmu!" ujar Ling We sangat menyesalkan tindakannya yang menyerang wanita baya itu dengan kekuatan dan kecepatan terhebatnya yang dia miliki saat serangan pembuka.
"Bukankan sudah jelas yang dikatakan saudaraku sebelumnya? Kami tidak takut kepada nama besar Klan Lianmu itu! Dan justru karena kau dari Klan Lian lah aku menjadi semakin bersemangat ingin mengulitimu!" ujar Ling We dengan senyum psikopatnya yang mulai tumbuh.
"Terakhir, jika kau ingin tahu siapa kami, maka tanyakan saja pada Penjaga Neraka!" imbuh Ling We yang langsung menyerang wanita itu kembali dengan cepat.
Wanita itu hanya bisa menggertakkan gigi dan mengumpat dalam hati karena harus bertemu dengan kedua pemuda bertopeng saat menjalankan misi membunuh salah satu Tetua Asosiasi Alkemis.
Mendapati dirinya diserang, wanita dari Klan Lian hanya bisa menghindar dan menghindar terus menerus karena memang senjatanya telah hancur.
Wanita itu memang jauh lebih kuat dari lawannya, namun kecepatan yang dimiliki Ling We dan senjata pusaka tingkat merah ditangannya bukanlah sesuatu yang bisa dihadapi oleh wanita baya tersebut. Hingga tibalah saat bilah pedang tersebut mendarat di beberapa bagian tubuh wanita itu dan membuatnya menahan kesakitan dan memperlambat gerakannya.
Sreet! Sreet!
Sreet! Sreet! Sreet!
__ADS_1
Buak!
Bammm...
Ling We berhasil menendang dada besar wanita baya tersebut dengan keras sehingga membuatnya terpental jauh puluhan meter.
"Saudaraku! Bukankah kamu terlalu kasar dengan seorang wanita? Kau menendang itunya dengan sangat kuat!" teriak Ling Tian tiba-tiba dari tempatnya menonton.
"Haiih.. Jika dia seorang gadis, mungkin aku akan sedikit lembut, tapi dia ini adalah nenek peot yang sudah berumur seratusan tahun lebih! Jadi buat apa menahan tendanganku!" Ling We menjawabnya dengan santai.
"Hahaha.. Jadi begitu.. Silakan hajar saja dia semaumu! Lagi pula, kamu pernah dibuat hampir mati oleh orang-orang dari Klan Lian bukan?" tanya Ling Tian.
Ketika mendengar ucapan Ling Tian yang terakhir, tatapan mata dan wajah Ling We berubah menjadi dingin. Dia tentu masih mengingat dengan jelas si Lian Kun sialan beserta anak buahnya itu yang hampir membuatnya tewas jika Ling Tian tidak segera datang.
"Kalian orang-orang dari Klan Lian memang harus dibinasakan!" ucap Ling We dengan dingin.
Ling We berjalan mendekati wanita baya dari Klan Lian dengan niat membunuh memancar kental dari tubuhnya. Ling We mengalirkan sedikit sekali energi Qi miliknya ke Pedang Samudera Kegelapan dan mengayunkannya untuk menyayat-nyayat wanita dari Klan Lian.
Wanita paruh baya tersebut saat ini dalam kondisi yang memprihatinkan dan bisa pasrah menerima, jubah hitam keemasannya banyak sekali yang robek dan darah mengalir dari sekujur tubuhnya. Belum lagi salah satu gunung besar yang ada didadanya seperti hampir meledak rasanya saat setelah ditendang dengan sangat kuat oleh lawannya.
Sementara Ling Tian dan pria paruh baya sebelumnya hanya menyaksikan kekejaman Ling We dari kejauhan.
"Pemuda itu sangatlah kejam!" ucap pria paruh baya berjubah hijau tanpa sadar.
"Itu belum seberapa tuan-.." ucap Ling Tian terputus karena dia belum mengenali pria baya berjubah hijau disampingnya.
"Zhong En! Namaku Zhong En!" ujar pria tersebut memperkenalkan diri.
"Oh.. Tetua Zhong! Salam! Namaku Ling Tian dan saudaraku itu Ling We!" kata Ling Tian sambil menangkupkan kedua tangan memberi penghormatan.
"Ling? Apakah kalian dari Klan Ling daratan timur itu?" tanya Zhong En juga sambil membalas angkupan tinju Ling Tian.
__ADS_1
"Benar sekali Tetua Zhong!" jawab Ling Tian ramah.