Ling Tian

Ling Tian
Perang Takdir 4


__ADS_3

Han Tianba langsung mengerutkan keningnya saat mendengarkan penuturan dari salah satu leluhurnya itu. Mengapa pula dengan daratan tengah dan timur harus dikirimkan lebih banyak kultivator kuat untuk melawan mereka? Apakah memang mereka sekuat itu? Dan jika seperti itu dirinya harus mengubah lagi sedikit pembagian pasukan yang sudah terlanjur di instruksikan?


"Kau jangan membantah, Tianba! Daratan timur dan daratan tengah memiliki banyak kultivator yang juga berada di Ranah Raja dan Ranah Kaisar!" ujar Leluhur Hanzhen Yan yang memahami kerutan di kening Han Tianba.


"B-baik, Leluhur Yan!" patuh Han Tianba lalu memberikan pesan kepada Mogui Heng melalui kristal komunikasi untuk melakukan sedikit perombakan.


***


Sehari kembali berlalu, masing-masing pasukan dari keempat daratan dan juga daratan selatan kini telah saling berhadapan. Mereka akan memulai perang hari ini. Mao An yang menjadi jenderal besar dari pihak aliran putih pun sudah bersiap untuk mengomandoi seluruh pemimpin pasukan dari keempat daratan.


Mao An menatap ke arah Ling Jian dan Ling We, lalu kedua pemuda itu pun menganggukkan kepala tanda mereka telah siap.


"Lawan kalian adalah Kaisar Han Biao. Tuntaskan perburuan kalian akan manusia terkutuk itu setelah saat yang lalu kalian gagal untuk membunuhnya. Namun tetaplah berhati-hati karena formasi array pengacau akan segera diaktifkan oleh mereka jika peperangan telah dimulai," ujar Mao An.


Ling Jian dan Ling We tidak menjawab ucapan dari Mao An kecuali hanya menganggukkan kepala. Mereka berdua pasti akan sangat waspada dan berhati-hati saat melawan kaisar kekaisaran Han itu sekaligus yakin akan dapat membunuhnya.


"Bagus! Kalian komandoi pasukan kalian untuk bersiap menyerang!" kata Mao An.


"Baik!" angguk keduanya lalu bergegas mendatangi pasukan untuk memberi komando bersiap.


Mao An lalu berjalan mendekati kelompok Xueren Chong dan beberapa saudaranya yang lain yang memiliki kekuatan berada di atas ranah Pendekar Berlian.


"Bagaimana? Apakah kalian siap?" tanya Mao An.


"Kami semua telah siap, saudara Mao!" jawab mereka semua dengan serentak.


Kemudian Xueren Chong mendekati Mao An dan berbisik kepadanya.


"Hmm.. Jadi mereka memiliki 2 kartu truff? Aku harap kamu tidak kalah dengan mereka saudara Chong!" ujar Mao An sembari menepuk pundak dari Xueren Chong.


"Tenang saja! Masih ada saudari Feng dan Tuan Muda Tian yang mampu melawan mereka berdua juga," kata Xueren Chong.

__ADS_1


"Hmm.. Benar sekali! Itu artinya kita unggul satu orang dari pada mereka!" angguk Mao An yang merasa lega.


***


Di sisi lain, Kaisar Han Biao dan beberapa komandannya yang berasal dari keluarga inti dari Klan Hanzhen juga sedang berunding mengenai kekuatan yang dimiliki oleh daratan timur yang ternyata sangat luar biasa seperti apa yang dikatakan oleh kedua leluhur mereka.


"Disisi Klan Ling ternyata masih ada satu orang lagi yang sangat kuat dan bahkan memiliki aura dewa. Ini akan sedikit sulit meskipun formasi array pengacau telah diaktifkan jika kedua leluhur tidak bertindak!" ujar salah satu anggota inti dari Klan Hanzhen yang bernama Hanzhen Ping kepada Kaisar Han Biao.


"Benar! Kultivator Ranah Raja sampai Ranah Kaisar nya juga sangatlah banyak sekali! Untumg saja kakak Tianba merubah sedikit pengiriman pasukan dari keluarga kita." kata Kaisar Han Biao mengangguk setuju.


"Baik, mari kita temui pemimpin mereka terlebih dahulu!" kata Hanzen Ping.


"Ayo!"


Mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat mereka menuju tempat pertemuan yang telah di sepakati oleh kedua belah pihak. Memang, dalam aturan perang yang ada, hal seperti pertemuan antar pemimpin perang cukuplah lumrah dan harus dilakukan meskipun jarang sekali terjadi sebuah kesepakatan. Namun karena aturan seperti itu telah menjadi adat, mereka harus tetap melakukannya sekalipun tidak berguna.


Setelah Hanzhen Ping dan Kaisar Han Biao sampai, wajah kaisar kekaisaran Han itu pun langsung berubah menjadi masam saat melihat seorang pemuda yang sangat dia kenali dan sedang tersenyum menyeringai menjijikkan kepadanya.


"Kauu!" seru Kaisar Han Biao yang langsung tersulut emosinya dan niat membunuh yang sangat pekat meledak dari dalam tubuhnya.


"Tenang saudara Biao. Dia hanya ingin memprovokasimu saja! Ada masanya dimana kmu akan meremukkan tubuh pemuda sialan itu!" ujar Hanzhen Ping mencegah Kaisar Han Biao yang bersiap untuk menyerang.


"Hemm.. Tumben aliran hitam ada yang sedikit pintar dan tidak emosian. Cukup membuatku kagum juga!" kata Ling We dengan santai namun terdengar menusuk hingga sumsum tulang.


Setelah Kaisar Han Biao tenang, keempat perwakilan dari kedua kubu itu pun hanya saling tatap saja hingga hampir lima menit sebelum akhirnya Ling We membuka suara.


"Lebih baik kalian menyerah saja! Meskipun pasukan kalian memiliki kultivator Ranah Raja dan Ranah Kaisar dan sedikit lebih banyak daripada milik kami, namun setelah seluruh pasukan yang di sisi lain khususnya daratan tengah selesai, kalian akan menjadi ladang pembantaian kami!"


"Kau terlalu membanggakan banyaknya pasukan anak muda! Kau terlalu naif!" sahut Hanzhen Ping dengan sengit.


"Oh.. Jadi kalian tetap tidak mau menyerah dan lanjut perang? Hahaha.. Kaisar Han Biao! Ingatlah!.." seru Ling Jian sengaja menjeda ucapannya lalu menghunuskan pedang yang sejak awal tertenteng di pinggangnya.

__ADS_1


Sriiing!


"Pedang ini akan menyembelihmu!" lanjut Ling Jian lalu mengajak Ling We untuk meninggalkan tempat pertemuan.


"Lakukan saja jika kau mampu, bocah keparat!" ejek Kaisar Han Biao tak kalah sengit.


Mereka pun kembali pada pasukan masing-masing dan siap untuk memberi komando untuk saling serang atau perang takdir akan segera di mulai.


.


.


Mao An menatap kedatangan dari Ling Jian dan Ling We dengan senyuman.


"Bagaimana saudara Jian?" tanya Mao An.


"Seperti biasa, pertemuan yang memang seharusnya tidak ada selalu berujung tidak ada perubahan alias tidak berguna sama sekali!" jawab Ling Jian santai.


"Yoo.. Saudara Jian jangan lupa dan bilang tidak ada gunanya. Tadi itu kita berhasil mengolok-olok mereka berdua tepat di hadapan wajah mereka! Jangan lupakan kesenangan itu, saudaraku! Hahaha.." kata Ling We sembari tertawa terkekeh-kekeh.


"Hoo? Benarkah itu saudaraku?" tanya Mao An kepada Ling We dengan bersemangat.


"Tentu saja saudara Mao! Bahkan sebelumnya saudara Jian telah mencabut pedangnya sembari berkata akan menyembelih Kaisar pengecut itu!" jawab Ling We juga dengan semangat menggebu.


"Bagus, saudara Jian! Dengan begitu ketika nanti kamu bertarung dengan kaisar itu, dia akan langsung mengerahkan seluruh kemampuannya di awal karena sudah tersulut emosinya!" ujar Mao An sembari menepuk pundak Ling Jian.


***


Kedua pasukan daratan timur yang di pimpin Ling Jian dan Ling We dengan pasukan daratan selatan pimpinan semuanya sudah berdiri dan berbaris rapi saling berhadapan. Pancaran mata pasukan daratan timur penuh dengan tekat dan harapan. Sedangkan dari pasukan daratan selatan terpancar kebengisan dan niat membunuh.


"Seraaaang!" teriak Kaisar Han Biao sembari mengangkat senjatanya.

__ADS_1


"Hancurkan aliran hitam itu!" seru Ling Jian dengan menghunuskan pedangnya ke arah musuh.


__ADS_2