
Zhong En cukup terkejut saat mengetahui identitas asli kedua pemuda bertopeng itu. Ternyata mereka dari klan yang sedang hangat-hangatnya dibicarakan semua orang. Klan Ling! Klan Penguasa baru di daratan timur.
"Ngomong-ngomong Tetua Zhong, apa selalu seperti ini Klan Lian di daratan tengah ini?" tanya Ling Tian.
"Maksud Tuan Muda?" Zhong En mengangkat alisnya.
"Maksudku, apa semua anggota Klan Lian selalu menggunakan cara kasar untuk memenuhi hasrat dan tujuannya?" Ling Tian memperjelas.
"Yaah.. Begitulah.. Klan Lian adalah Klan Penguasa sesungguhnya dibalik Klan Xiao yang memimpin kekaisaran. Mereka memang selalu menggunakan segala macam cara untuk bisa berjalan mulus semua tujuan dan keinginan mereka. Sementara rombongan kami di cegat disini karena mereka tidak terima dengan keputusanku yang menolak keras menjual saham Asosiasi Alkemis kepada mereka!" jawab Zhong En menjelaskan.
"Jadi begitu. Baiklah, jika begitu aku tidak akan sungkan lagi untuk meratakan seluruh Klan Lian hingga hilang dari Benua Langit ini!" tutur Ling Tian.
"Tuan Muda Ling jangan bercanda! Klan Lian bukanlah klan abal-abal semata! Klan Lian memiliki satu leluhur yang berada di ranah Puncak Pendekar Berlian! Belum lagi Patriark dan Tetua tingkat tinggi mereka juga semuanya berada pada ranah Pendekar Berlian!" ujar Zhong En mengingatkan dan menganggap pemuda dari Klan Ling ini sangatlah bodoh.
"Bahkan jika mereka mempunyai orang yang berada di ranah Pendekar Raja pun aku tidak akan gentar sama sekali!" jawab Ling Tian dengan mata yang penuh akan tekat dan nafsu pertarungan.
"Apaa!" Zhong En sangat terkejut mendengarkan ucapan Ling Tian. Ranah Pendekar Raja? Apakah ranah ini berada diatas ranah Pendekar Berlian? Apakah ada seseorang yang mampu mencapai ranah tersebut? Fikir Zhong En.
Memang benar bahwa ranah Pendekar Raja adalah ranah yang berada satu tingkat diatas ranah Pendekar Berlian. Di Benua Langit ini tidak ada seorangpun yang mampu mencapai ranah tersebut kecuali tiga orang. Wei Hun, Long Yuan dan Iblis Sejati pimpinan aliansi aliran hitam. Itu pun karena mereka sudah pernah berada diranah tersebut dan kini kultivasinya tersegel oleh alam hingga di ranah Puncak Pendekar Berlian saja.
Untuk mencapai ranah Pendekar Raja juga sangatlah sulit dan memerlukan beberapa syarat. Maka dari itu, sangat jarang orang dari Benua Langit yang mampu naik ke Alam Menengah dan mencapai ketinggian yang lebih dari semua orang.
"Jadi masih ada lagi tingkatan kultivator diatas Pendekar Berlian?" tanya Zhong En.
"Tetua Zhong! Ranah Pendekar Berlian adalah ranah awal seseorang disebut kultivator! Masih banyak sekali tingkatan-tingkatan diatas ranah Pendekar Berlian. Kita menapaki jalan kultivator itu karena salah satunya bertujuan mencari keabadian! Tapi sesungguhnya tidak ada yang abadi di dunia ini! Hanya mereka yang bisa bersanding dan dipilih langsung oleh Sang Maha Dewa saja yang mampu abadi!" ungkap Ling Tian.
__ADS_1
Tetua Zhong En hanya diam mendengar penjelasan baru dari Ling Tian. Abadi? Mungkinkah benar seseorang mampu untuk menjadi abadi jika dipilih langsung oleh Sang Maha Dewa? Bukankah berarti dirinya juga bisa abadi? Bukankah berarti dirinya tinggal melakukan suatu hal yang disenangi Sang Maha Dewa sampai dipilih olehnya?
Tetua Zhong sangat bersemangat mendengar kabar yang baru saja dirinya dengar ini. Dia juga mendapatkan sedikit pencerahan dalam kultivasinya yang sudah cukup lama macet pada ranah Pendekar Platinum Menengah Bintang 1.
Tetua Zhong En yakin, jika berkultivasi sebentar saja, dirinya akan langsung menembus bintang selanjutnya. Namun begitu, dirinya masih enggan untuk berkultivasi dan ingin kembali mendengar penuturan pemuda bertopeng dari Klan Ling ini.
"Lalu? Jika seseorang mampu menjadi abadi dengan terpilih langsung oleh Sang Maha Dewa, apakah sekiranya orang biasa sepertiku bisa dipilih?" tanya Tetua Zhong En.
"Hahaha.. Tetua Zhong En lucu sekali! Yang dimaksud dipilih oleh Sang Maha Dewa adalah jika seorang tersebut memiliki keberuntungan tinggi! Bagaimana seseorang akan menjadi abadi jika tidak memiliki keberuntungan?" jawab Ling Tian sambil bertanya dengan terkekeh pelan.
Tetua Zhong En merasa dirinya teramat bodoh didepan pemuda bertopeng dari Klan Ling ini, harusnya dia juga memikirkan hal tentang keberuntungan saat mendengar penuturan awal dipilih Sang Maha Dewa! Tapi mengapa bahkan dia tidak sedikitpun tidak terfikirkan?
'Sungguh bodoh!' batin Tetua Zhong En.
Karena saking asiknya Ling Tian dan Zhong En mengobrol, mereka sampai lupa bahwa saat ini mereka sedang dalam kondisi pertempuran. Terlebih bagi Tetua Zhong En yang justru tidak lagi melihat pertarungan yang mana harusnya dirinya yang bertarung.
Buak!
Krak! Swush...
Ling We memukul dagu wanita baya dari Klan Lian dengan sangat kuat sampai menghancurkan tulang dan merontokkan hampir semua giginya. Wanita itu juga terlempar keatas langit sebelum akhirnya terjatuh kembali layaknya layang-layang yang putus.
Bammm...
Tubuh wanita baya itu sudah tidak berupa lagi. Tulang-tulangnya telah hampir delapan puluh lima persen juga ikut hancur. Sungguh tragis sekali nasip wanita itu yang harus bertemu dengan Ling We.
__ADS_1
Ling We membiarkan wanita itu terlentang dengan kondisi sekarat. Dia tidak bergegas membunuhnya. Ling We justru melihat kearah lain dimana rombongan wanita yang dihajarnya berada.
Bruukk!
Tujuh orang pria dan tiga orang wanita menjatuhkan diri mereka dan berlutut saat Ling We melihat mereka.
"T-tuan M-muda! T-tol-ong j-jangan bunuh kami!" ujar salah satu dari kesepuluh orang tersebut.
"Ohoo.. Setelah melihat pemimpin kalian dapat dengan mudah aku kalahkan kemudian kalian memohon pengampunan?" tanya Ling We dengan nada dingin.
Kesepuluh orang tersebut tidak ada yang menjawab dan membuka suara.
"Lalu jika aku tadi yang kalah, apakah kalian juga akan memberikan pengampunan pada mereka jika mereka meminta pengampunan?" Ling We bertanya lagi.
Orang-orang dari Klan Lian itu lagi-lagi hanya bisa membungkamkan mulutnya tanpa bisa menjawab. Tetu saja mereka tidak akan mengampuni korbannya sama sekali jika meminta pengampunan kepada mereka. Karena sejak awal misi mereka adalah mengabisi orang-orang dari Asosiasi Alkemis.
"Ah! Sudahlah! Kalian mati saja okkey?" ujar Ling We lalu melayangkan serangan kuat kepada kesepuluh orang dari Klan Lian.
Swuuushh...
Bilah angin berbentuk bulan sabit dan memiliki sedikit percikan petir yang menyelimuti melesat dengan sangat cepat.
Craaaasshh...
Kesepuluhnya tentu tidak siap dan akhirnya hanya bisa menerima dengan pasrah kematiannya oleh pemuda bertopeng separuh wajah dengan tubuh mereka terpotong menjadi dua bagian.
__ADS_1
"Huh! Selesai juga!" Ling We menghela nafasnya kemudian melihat Ling Tian yang masih terus mengobrol.
"Saudaraku! Bagaimana dengan wanita ini? Apakah aku juga harus membunuhnya?" teriak Ling We bertanya.