Ling Tian

Ling Tian
15.000 Pasukan Tak Terkalahkan


__ADS_3

Jenderal Besar Bing Luoyan merinding seluruh tubuhnya saat melihat Ling Tian tidak berbelas kasih sedikitpun kepada musuh-musuhnya meskipun itu adalah seorang wanita cantik sekalipun.


Dia sungguh sangat bersyukur telah ditakdirkan untuk tidak menjadi musuh Ling Tian dalam kehidupan ini. Dia tidak bisa membayangkan akan jadinya jika menjadi lawan dari pemuda bertopeng separuh wajah dihadapannya itu. Mungkin dia akan lebih memilih untuk tidak dilahirkan di dunia ini daripada harus bertemu dengan Ling Tian sebagai seorang musuh.


Setelah melakukan tindakan yang mengerikan itu, pemuda bertopeng separuh wajah di depannya malah justru tersenyum bahagia dan tertawa cekikikan. Sungguh Jenderal Besar Bing Luoyan tidak tahu bagaimana cara keluarga dari pemuda bertopeng separuh wajah mendidik mentalnya.


Wajah Jenderal Besar Bing Luoyan sedikit memucat saat memikirkan Ling Tian yang datang di istana kekaisaran. Mengingat bahwa Kaisar Bing dan para petinggi atau menterinya sangat menjunjung tinggi harga diri mereka.


Jenderal Besar Bing Luoyan takut jika mereka malah justru menyinggung pemuda bertopeng separuh wajah beserta harimau malam yang berkamuflase menjadi seekor kucing hitam imut yang dia ketahui sebagai penguasa asli dari daratan utara.


'Semoga saja mereka tidak bertingkah bodoh nantinya!' batin Jenderal Besar Bing Luoyan berharap.


Tetua Pertama Sekte Hasrat jatuh dalam kondisi tertutup kembali di atas kursi es dengan wajah yang pucat pasi. Dia memandangi Ling Tian dengan tatapan ketakutan yang mendalam.


***


Boommm... Boommmm...


Pertempuran sengit terus terjadi didalam Sekte Hasrat. Ledakan-ledakan terus bergema dimana-mana bersamaan dengan melayangnya puluhan nyawa menuju ke alam kematian.


Boommm... Boommm...


Pertarungan sengit terjadi antara Tetua Kedua Sekte Hasrat dengan salah satu jendral bawahan dari Jenderal Besar Bing Luoyan. Keduanya tampak sangat imbang dalam beberapa hal meskipun tingkat kultivasi dari jenderal bawahan itu berada jauh di bawah kultivasi Tetua Kedua Sekte Hasrat.


Hal itu dikarenakan Tetua Kedua Sekte Hasrat sudah terluka dalam lebih dahulu oleh Mao An dan tidak mungkin bisa mengeluarkan semua kemampuan yang dimilikinya. Akan tetapi karena sebenarnya dia jauh lebih kuat dari sang jenderal bawahan, maka dia masih saja bisa bertarung imbang dengannya.


Keduanya bertarung menggunakan pedang dan mengeluarkan elemen masing-masing. Tetua Kedua menggunakan elemen api, sementara sang jenderal bawahan menggunakan elemen es. Dua buah elemen yang saling bertentangan satu sama lain.


Teknik demi teknik berpedang telah mereka keluarkan. Berbagai macam jenis variasi gerakan juga telah mereka lakukan. Namun keduanya masih saja belum memperlihatkan siapa yang akan kalah meski saat ini tubuh mereka sudah mulai dipenuhi dengan luka sayatan.

__ADS_1


Tring! Tring!


Trank! Trank! Trank!


Suara dentingan senjata keduanya terus terdengar tanpa berhenti sebentar pun.


"Matilah kau jenderal keparat! Pedang Gagak Hitam! Tebas!" teriak Tetua Kedua sambil mengayunkan pedang di tangannya.


Tetua Kedua Sekte Hasrat sudah sangat frustasi karena tidak dapat mengalahkan seseorang yang memiliki kultivasi jauh lebih rendah daripadanya. Dia mengalirkan segenap Qi miliknya dalam serangannya kali ini.


"Hehehe.. Ingin membunuhku? Tidak semudah itu Tetua Bajing*n! Tebasan Badai Salju!" seru jenderal bawahan yang menjadi lawan dari Tetua Kedua sembari ikut mengayunkan pedang yang memiliki aura es di tangannya.


Swooshh...


Dua energi pedang meleset dari masing-masing kubu. Yang satu dengan aura api yang sangat panas dan yang satunya lagi dengan aura es yang teramat dingin. Energi pedang dari Tetua Kedua lama-kelamaan membentuk sebuah siluet gagak hitam yang menukik dengan kecepatan tinggi ke arah sang jenderal bawahan.


Sementara energi pedang milik jenderal bawahan dari Jenderal Besar Bing Luoyan itu berubah menjadi sebuah badai salju yang sangat besar dan mengerikan.


"Aaaaakkkhhh.."


Ledakan super dahsyat yang disertai dengan sebuah teriakan memilukan menggema di tempat pertarungan keduanya yang membuat orang-orang yang sedang bertarung menghentikan pertarungannya melihat ke arah Tetua Kedua dan jenderal bawaan itu.


Setelah beberapa saat, debu-debu yang sebelumnya berhamburan kemana-mana akhirnya menghilang karena tertiup oleh angin. Mata semua orang langsung terbelalak saat melihat Tetua Kedua Sekte Hasrat sedang terkapar ditengah-tengah sebuah kawah yang sangat besar dengan dada yang berlubang karena tertembus sebuah niat pedang.


Sedangkan untuk jenderal bawahan dari Jenderal Besar Bing Luoyan, kondisinya juga sedikit memprihatinkan karena seluruh pakaian yang dia kenakan menjadi compang-camping dan beberapa tubuhnya terluka akibat efak ledakan super dahsyat sebelumnya.


Namun dapat dilihat di wajahnya terukir sebuah senyuman kepuasan karena telah berhasil membunuh musuh yang jauh lebih kuat darinya. Ya, meskipun disitu masih dibantu oleh Ling Tian melewati niat pedangnya.


"Terima kasih Tuan Muda!" ucap jenderal bawahan itu sambil melihat ke arah dimana pemuda bertopeng separuh wajah atau Ling Tian dan Jenderal Besarnya berada.

__ADS_1


Dengan sigap beberapa orang dari pihak aliran putih segera menghampiri jenderal bawaan itu untuk memberikan pertolongan dan mengobati luka-luka yang dideritanya.


"Bagaimana kondisi anda jenderal?" tanya salah satu pasukan.


"Aku tidak apa-apa! Aku hanya membutuhkan istirahat saja sebelum ikut lagi bertarung bersama dengan kalian!" jawab jenderal bawahan itu dengan tersenyum.


"Baik jenderal! Sekarang mari kita ke barisan belakang terlebih dahulu!" ucap salah satu dari pasukan itu yang kemudian langsung dianggap oleh sang jenderal bawahan.


Melihat betapa hebatnya sang jenderal bawahan dari Jenderal Besar Bing Luoyan, mental serta semangat bertarung dari para murid dan orang-orang dari aliansi aliran hitam yang mengungsi langsung menciut seketika.


Banyak diantara mereka yang menjatuhkan senjatanya karena ingin menyerah. Namun tidak ada satupun dari 15.000 pasukan itu yang mau mengasihani mereka. Mereka yang telah menjatuhkan senjatanya malah justru langsung ditebas oleh pasukan berjuluk 15.000 pasukan tak terkalahkan itu dengan brutalnya.


Mereka semuanya menjalankan tugas yang diberikan dari Jenderal Besar Bing Luoyan. Bukan berarti mereka tidak memiliki hati atau perasaan. Akan tetapi sudah banyak kejadian para aliran putih mengampuni orang-orang dari aliran hitam yang menyerah kemudian dibunuh suatu hari nanti karena alasan balas dendam dari orang aliran hitam.


Maka dari situlah Jenderal Besar Bing Luoyan tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dan harus mengambil keputusan tegas yang setegas-tegasnya.


"Orang dari aliran hitam? Bunuh!" itulah kata Jenderal Besar Bing Luoyan 2 minggu lalu sebelum berangkat dari Kota Humeng menuju kota-kota lain untuk dibebaskan.


***


Setelah perang berkecamuk antara 1.500.000 orang aliran hitam dengan 15.000 pasukan tak terkalahkan daratan utara berlangsung selama sehari semalam penuh, akhirnya suara ledakan dan teriakan memilukan itu pun berangsur-angsur menghilang atau berhenti.


Perang atau lebih tepatnya pembantaian massal mengerikan itu akhirnya selesai dengan kemenangan mutlak dari pihak 15.000 pasukan tak terkalahkan daratan utara.


Dan sudah dipastikan mulai hari ini dan seterusnya, nama 15.000 pasukan tak terkalahkan daratan utara pimpinan pemuda bertopeng separuh wajah dan Jenderal Besar Bing Luoyan akan mengguncang Benua Langit. Tinta emas pasti akan mengukir sejarah mereka dan akan menjadi cerita turun temurun dari setiap generasi ke generasi yang baru lagi.


Ling Tian, Mao An, Jenderal Besar Bing Luoyan dan Tetua Pertama yang bernama Chang Ming'er segera turun dari atas langit menuju ke arah 15.000 pasukan itu. Mereka kecuali Chang Ming'er menata pasukan itu dengan tatapan penuh kebanggaan.


"Hidup Daratan Utara!" teriak Jenderal Besar Bing Luoyan sambil mengangkat tangannya yang terkepal.

__ADS_1


"Hidup Daratan Utara!" sahut 15.000 pasukan itu dengan bersemangat.


__ADS_2