
Disisi lain, ditempat para anggota aliansi aliran hitam yang baru tiba itu, Han Tianba tiada henti-hentinya tersenyum dengan senang saat melihat reaksi dari Leluhur Klan Song itu yang sangat-sangat marah kepadanya. Sungguh orang-orang dari aliran hitam memanglah sangat senang jika membuat orang kesal.
Han Tianba lalu turun dari atas langit dan mendarat cepat tidak dapat semua anggota pasukan organisasi pembunuh miliknya. Dia dengan tegas dan sikap memberikan instruksi kepada para bawahannya itu untuk membuat sebuah tenda atau rumah kecil yang akan digunakan untuk bermalam sampai pada waktu di mana acara perebutan harta langit dan bumi akan dimulai.
Semua bawahannya tentu saja langsung menuruti apa yang diinginkan oleh sang pemimpin. Terlebih, mereka semua adalah orang-orang yang sudah mengikuti Han Tianba sejak lama, bahkan sebelum pria bertanduk atau sang iblis sejati itu datang di Benua Langit dan menjadi tuan tertinggi mereka sekarang.
Semua orang langsung bertugas untuk melakukan pekerjaannya masing-masing dengan sangat cepat dan tidak ingin membuat tuan mereka Han Tianba menunggu terlalu lama.
***
"Baiklah.. Karena aksi spektakuler atau tontonan gratisnya itu tidak jadi, kami berdua akan pergi dulu! Dan untuk kalian berdua, katakan kepada Patriark Li Duanren agar tidak perlu datang ke tempat ini untuk ikut berebut harta langit dan bumi!" ucap Ling Tian kepada dua Tetua dari Sekte Neraka.
"Baik Tuan Muda! Kami akan menyampaikannya kepada Patriark!" ujar kedua Tetua itu mengangguk.
"Baiklah.. Kami pergi dulu!" ucap Ling Tian lalu mengajak Mao An untuk pergi.
"Silakan Tuan Muda!" jawab keduanya serentak.
Ling Tian dan Mao An pun menghilang dari pandangan keduanya tanpa meninggalkan jejak sedikit pun yang membuat Tetua Ketujuh dan Kesembilan Sekte Neraka itu bertambah lagi kekagumannya.
"Tuan Muda Ling Tian memanglah sesuatu!" ujar Tetua Kesembilan.
"Benar! Kita sangat beruntung dapat menjadi bawahan dari Tuan Muda Ling Tian itu!" ucap Tetua Ketujuh membenarkan dan hatinya penuh dengan rasa bersyukur.
Kedua Tetua dari Sekte Neraka itu lalu juga ikut menghilang dan bersatu dengan udara tipis meninggalkan wilayah terlarang daratan tengah untuk kembali ke Sekte Neraka guna menyampaikan amanat Ling Tian yang dititipkan kepada mereka berdua.
***
Ling Tian dan Mao An muncul didepan pintu gerbang sebuah desa kecil yang tidak jauh dari wilayah terlarang. Keduanya berjalan dengan santai menuju ke arah pintu gerbang desa dan berniat untuk memasukinya.
"Selamat datang di Desa Zuji Tuan-tuan! Jika kalian berdua ingin memasukinya silakan membayar dua keping perak setiap orangnya!" ujar seorang prajurit penjaga pintu gerbang desa yang bernama Desa Zuji dengan ramah.
Ling Tian mengeluarkan satu koin platinum dari cincin penyimpanan dan memberikannya kepada salah satu dari penjaga pintu gerbang masuk Desa Zuji.
"Tuan! Ini terlalu banyak!" ujar penjaga gerbang menolak bayaran Ling Tian yang terlalu besar itu.
__ADS_1
"Sisanya untuk kalian berdua saja!" jawab Ling Tian sambil tersenyum dengan ramah.
"T-tuan! A-apakah anda tidak berbohong?" tanya prajurit itu.
"Tentu saja tidak! Sekarang, bolehkah kami berdua masuk desa? Kami benar-benar ingin beristirahat sekarang juga!" ucap Ling Tian.
"T-tentu Tuan! Silakan masuk Tuan!" ujar prajurit itu terburu-buru mengiyakan.
"Baik! Terima kasih prajurit!" ujar Ling Tian lalu mengajak Mao An untuk masuk.
"Justru kamilah yang seharusnya berterima kasih Tuan!" ujar prajurit itu dengan wajahnya yang terlihat sangat senang.
Ling Tian dan Mao An masuk ke Desa Zuji dengan berjalan santai. Mereka berdua pergi ke desa ini memang berniat untuk melakukan pemulihan. Itu karena mereka berdua belumlah beristirahat cukup semenjak perjalanan jauhnya dari Hutan Tanpa Batas menuju ke wilayah terlarang.
Setelah berjalan hampir dua puluhan menit, Ling Tian dan Mao An akhirnya menemukan sebuah penginapan sederhana di desa kecil itu. Mereka berdua dengan segera memasuki penginapan itu untuk memesan kamar untuk menginap.
"Selamat datang di Penginapan Anggrek Bulan Tuan-tuan! Apakah ada yang bisa kami bantu?" ucap seorang gadis pelayan penginapan dengan sangat ramah.
"Kami ingin memesan dua kamar dan menginap di sini selama satu bulan penuh! Apakah bisa?" tanya Ling Tian.
Ling Tian hanya meminta Mao An untuk mengurus semuanya, sementara dia hanya duduk dikursi yang tersedia dilantai paling bawah Penginapan Anggrek Bulan.
Tidak butuh waktu lama bagi Mao An untuk menyelesaikan masalah administrasi atau pembayaran menginap di penginapan itu. Mao An menghampiri Ling Tian dan memberikan sebuah kunci yang mana itu adalah kunci kamar miliknya.
"Kamarnya ada di lantai dua! Apakah kita akan segera ke sana atau mencari makan terlebih dahulu?" tanya Mao An.
"Langsung ke kamar saja!" jawab Ling Tian cepat.
"Baik!" angguk Mao An.
Keduanya akhirnya meninggalkan lantai dasar Penginapan Anggrek Bulan untuk menuju ke kamarnya masing-masing. Sebelum itu, Ling Tian dan Mao An juga mengatakan kepada pelayan yang ada di tempat itu untuk tidak mengganggu mereka berdua selagi masih ada di kamar.
Para pelayan penginapan pun hanya mengiyakan serta mengangguk setuju dengan permintaan kedua pelanggan mereka.
.
__ADS_1
.
Ling Tian masuk ke kamarnya, begitu juga dengan Mao An. Setelah menyegel kamarnya dengan formasi pelindung yang sangat kuat, Ling Tian halo membuka pintu gerbang dunia jiwa dan langsung masuk tanpa ragu.
***
Dunia Jiwa.
Zhuung!
Didepan Istana Ling, sebuah pusaran angin berwarna putih keemasan terbentuk yang membuat penghuni istana itu keluar semuanya untuk menyambut orang yang akan segera tiba.
Diantara mereka terdapat seorang gadis kecil berumur 8 tahunan yang juga berdiri bersama dengan pria setengah baya dan saudara-saudari Ling Tian. Dia tentu adalah Ling Xing'er dan ayahnya Ling Jiu.
Keduanya kini telah sah menjadi keluarga dari Klan Ling karena pengangkatan Ling Tian terhadap mereka berdua dan nama Ling juga telah tersemat pada nama mereka.
Swuush...
Seorang pria muda dengan memakai topeng hitam separuh wajah dan berjubah serba hitam muncul dari dalam besaran angin hitam itu. Pemuda itu tentu saja adalah Ling Tian yang baru saja masuk ke dalam dunia jiwa dari kamar Penginapan Anggrek Bulan.
"Kakak!" teriak Ling Xing'er dengan keras sambil berlari menuju Ling Tian.
Ling Tian langsung membuka tangannya untuk dipeluk oleh Ling Xing'er yang kini telah menjadi adiknya. Keduanya pun berpelukan dengan Ling Xing'er yang menangis.
"Hei.. Mengapa adik kecilku ini menangis?" tanya Ling Tian.
"Kakak! Aku rindu kakak! Aku juga ingin berlatih dan menjadi sakti dan kuat seperti ayah sekarang! Tapi kata kakak Ruxu tidak ada yang boleh melatihku kecuali kakak Tian sendiri!" ujar Ling Xing'er dengan wajah polosnya.
Ling Tian hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu mengusap kepala Ling Xing'er dengan lembut.
"Kedatangan kakak kesini juga karena kakak akan mulai untuk melatihmu adik kecilku!" ujar Ling Tian sambil mencubit hidung mancung Ling Xing'er dengan gemas.
________________________________________
Maaf karena Author jarang berinteraksi lagi dengan para readers semua di kolom komentar. Tapi yang jelas, jika memang ada saran atau komen, pasti selalu Author baca.
__ADS_1