Ling Tian

Ling Tian
Tugas Sesungguhnya 2


__ADS_3

"Ooh.. Kau juga ada disini Naga kecil?" balas Wei Hun.


"Benar sekali! Aku datang bersama Ling Tian," kata Long Yuan.


"Baiklah, aku akan segera datang!" ucap Wei Hun dan memutuskan telepatinya.


Tak berapa lama terdengar ketukan pinti dari luar ruangan. Long Yuan segera mengetahui bahwa itu adalah Wei Hun. Dia berdiri dari duduk dan membukakannya.


"Salam saudara Wei! Silakan masuk!" ucap Long Yuan.


"Salam Naga kecil. Kamu tampak lebih gemukan sekarang!" sahut Wei Hun dengan tersenyum.


Wei Hun segera masuk dan mendapati Ling Tian didalam.


"Kau sudah lebih kuat dari sebelumnya Ling Tian!" kata Wei Hun.


"Ahaa.. Aku hanya mendapat sedikit keberuntungan saja. Oiya, salam senior Wei! Silakan duduk!" jawab Ling Tian dengan ramah dan merendah sambil berdiri sebentar dan menangkupkan kedua tangan.


"Iya, salam untukmu! Terima kasih." kata Wei Hun.


Akhirnya Wei Hun dan Long Yuan ikut duduk bersama Ling Tian. Pelayan juga sudah mengantarkan minuman yang dipesan Ling Tian sebelumnya.


"Ngomong-ngomong senior Wei, mengapa kamu ada disini? Dan siapa yang memimpin Hutan Gelap?" tanya Ling Tian sambil menenggak sedikit minumannya.


"Aah.. Aku hanya ingin keluar dan melihat anak cucuku saja disini dan untuk Hutan Gelap, sebelumnya aku membuat undian kepada para jendral untuk menjadi pemimpinnya sekarang. Dan jendral Elang Emas yang beruntung memenangkan undiannya. Aku memberikan dua buah abadi pemberianmu kepadanya dan sekarang dia sudah menjadi beast monster tingkat 7! Tidak apa-apa bukan?" Wei Hun bercerita.


"Jadi begitu.. Tidak apa-apa sih! Tapi apa tidak ada timbul kecemburuan dari para jendral?" tanya Ling Tian.


"Mereka dengan patuh menerima hasil keputusan dan undian itu. Bahkan mereka semua bersumpah akan mengikuti perintah jendral Elang Emas untuk menjaga Hutan Gelap!" kata Wei Hun menerangkan.


"Emm.. Baiklah! Jika seperti itu adanya, aku tidak perlu mengkhawatirkannya," lega Ling Tian.


"Lalu apa kau sudah melihat anak-anak dan keturunanmu?" Long Yuan bertanya.


"Untuk saat ini belum. Aku juga baru sampai di Ibukota kemaren. Aku ingin bersantai sejenak!" jawab Wei Hun.

__ADS_1


"Oiya, bagaimana jika kita ke istana bersama saja?" lanjut Wei Hun memberi tawaran.


"Sepertinya itu bukan ide yang buruk!" kata Ling Tian.


"Dan juga untuk menghindari masalah yang tidak perlu dengan para prajurit penjaga!" tambah Long Yuan.


"Hahaha.." Wei Hun tertawa.


"Kau benar saudaraku!" kata Ling Tian. Dia saat ini terlalu malas untuk meladeni para prajurit yang selalu menghadangnya.


Ketika Wei Hun hendak mengucapkan kata yang lain, tiba-tiba seberkas sinar kecil muncul dihadapan mereka bertiga.


"Ini..?" tubuh Wei Hun dan Long Yuan bergetar dengan hebat. Kebanggaan dan kesombongan yang mereka miliki lenyaplah sudah saat itu pula. Mereka tahu apa yang akan terjadi.


Zheepp!


Kesadaran mereka bertiga tiba-tiba ditarik dengan paksa oleh seberkas cahaya itu.


Wuusshh...


'inikah surga?' batin Ling Tian.


Berbeda dengan Wei Hun dan Long Yuan. Mereka segera bergegas kearah danau kecil yang sangat mempesona. Saat tiba digazebo, mereka segera menjatuhkan diri dan bersujud tiga kali.


Ling Tian mengerutkan kening saat melihat adegan tersebut dari kejauhan. Dia juga dapat melihat pria tua yang disembah Wei Hun dan Long Yuan. Pria tua! Ya, pria tua yang sangat dia kenal. Pria tua yang cukup dia rindukan selama ini.


Ling Tian berlari dengan cepat dan segera memeluk pria tua itu dengan sangat erat.


"Guruu.." teriak Ling Tian.


Ling Tian menangis sejadi-jadinya karena dapat bertemu lagi dengan gurunya. Dia sebenarnya cukup lelah dengan ujian ini. Hidup di alam yang sama sekali tidak dia kenali dan mengembara kesana-kemari tanpa henti.


Ling Tian menumpahkan semua keluh kesahnya dalam tangisannya. Dia tidak menghiraukan Wei Hun ataupun Long Yuan yang sangat terkejut mendapati Ling Tian tidak memberi hormat melainkan memeluk junjungan mereka.


"Disini kau sudah besar Jamal! Eh.. Maksudku Ling Tian!" ucap pria tua itu sambil memeluk dan membelai lembut kepala Ling Tian.

__ADS_1


Ling Tian tidak menanggapi ucapan gurunya dan hanya terus menangis dan menangis.


"Sudah.. Sudaah.. Dimana jiwa kependekaranmu itu selama ini? Bukankah kau sudah cukup menjadi pendekar hebat di Benua Langit ini? Mengapa saat ini kau sangat cengeng?" goda guru Ling Tian yang tidak lain adalah Sang Maha Dewa dunia kultivator.


Sebenarnya Ling Tian sangat malu dilihat oleh Long Yuan dan Wei Hun sedang menangis tersedu-sedu. Namun dia segera menepisnya karena memang hatinya sangatlah lelah.


"Guruu.." Ling Tian merengek saat sang guru menggodanya.


Wei Hun dan Long Yuan hanya bisa melongo dan membuka mulutnya lebar-lebar saat melihat dengan santainya Ling Tian merengek manja dipelukan gurunya. Mereka tak habis pikir, dimana karakter tegas bocah bau itu biasanya? Sial! Long Yuan benar-benar jijik melihatnya. Dia ingin berteriak sekencang-kencangnya kepada Ling Tian, tapi mana mungkin dia berani saat didepannya juga ada Sang Maha Dewa?


"Sudah-sudah! Wajahmu yang tampan ini menjadi sangat buruk saat kau menangis!" kata Sang Maha Dewa sembari melepaskan pelukan Ling Tian.


Dengan enggan Ling Tian melepasnya dan sedikit menggerutu.


"Mengapa guru baru menemuiku?" tanya Ling Tian dengan sedikit nada tinggi yang lagi-lagi membuat jantung Wei Hun dan Long Yuan hampir copot karena terkejut. Sial! Bocah bau itu benar-benar tidak tahu sopan santun!


"Baru menemuimu? Kata siapa? Guru selalu melihatmu setiap saat! Bahkan kau terpesona dengan Ling Lianhua dan keturunan Wei Hun guru juga tahu!" ungkap Sang Maha Dewa.


"Ehh..!" Wei Hun tersentak kaget namun dia tetap diam.


"Guru!" Ling Tian memelototkan matanya karena sangat malu dengan Wei Hun.


"Hahaha.. Tenang saja bocah bau!" Sang Maha Dewa tertawa lantang.


"Pufff..." Long Yuan menahan tawanya sekuat mungkin saat Sang Maha Dewa memanggil Ling Tian dengan sebutan yang sama dengannya.


Sraaaiing!


Tiba-tiba tatapan yang sangat tajam dari Ling Tian segera menghujam Long Yuan yang juga pasti menertawakannya dengan terbahak-bahak dalam hatinya. Long Yuan sedikit merinding dibuatnya.


"Kau tenang saja! Wei Hun pasti juga akan dengan senang hati menyetujuinya. Bukan begitu Wei Hun?" ungkap Sang Maha Dewa dan melihat arah Wei Hun.


"T-tentu saja Yang Agung! Aku dengan senang hati menerima Ling Tian menjadi pasangan keturunanku itu!" jawab Wei Hun dengan tersenyum. Siapa pula yang hendak menolak murid Sang Maha Dewa Yang Agung diseluruh alam untuk menjadi bagian keluarganya? Hanya orang bodoh yang sampai tidak menerima!


"Kau dengar bukan nak?" tanya Sang Maha Dewa.

__ADS_1


__ADS_2