
Ling Tian berjalan mendekati sebuah restoran yang cukup besar dan ramai. Dia sengaja memilih yang ramai karena biasanya orang-orang akan saling mengobrol mengenai beberapa hal yang kemungkinan akan bermanfaat untuk Ling Tian dan Mao An.
Ling Tian langsung menjadi pusat perhatian karena Ling Tian memakai topeng separuh wajah yang menurut mereka sangatlah mencurigakan sekali. Akan tetapi setelah melihat ranah kultivasi dari pemuda yang memakai topeng itu mereka langsung mengacuhkannya karena kultivasinya sangatlah rendah dan menurut mereka tidaklah berbahaya.
Padahal jika saja mereka mengetahui bahkan kedua leluhur yang sangat-sangat ditakuti oleh hampir seluruh daratan karena kekuatannya malah bertekuk lutut di hadapan pemuda bertopeng separuh wajah itu pasti mereka akan terkencing-kencing karena ketakutan.
Ling Tian langsung mencari tempat duduk yang paling sepi yang tidak lain berada dipojokan ruangan yang berdekatan dengan jendela. Mao An langsung melompat diatas meja setelah Ling Tian duduk pada kursinya.
Seorang gadis pelayan cantik segera menghampiri Ling Tian untuk menanyakan perihal pesanan apakah yang ingin dipesan oleh Ling Tian.
"Makanan dan minuman terbaik!" ucap Mao An dengan cepat sehingga membuat pelayan tersebut tersentak kaget karena tidak mengira bahwa kucing hitam yang berada diatas meja itu dapat berbicara.
Ling Tian mengerutkan keningnya karena saudara yang satunya ini benar-benar tidak menjiwai dalam perannya sebagai seekor kucing yang harusnya mengeong bukan berbicara layaknya manusia.
Stak!
Ling Tian menyentil telinga kucing jadi-jadian itu dengan sangat kencang sehingga membuatnya berteriak mengeluh kesakitan. Ling Tian lalu tersenyum yang dipaksakan kepada gadis yang melayaninya.
"Maafkan kucing hitam buluk serta jadi-jadian ini nona! Nona tidak perlu takut karena dia sebenarnya sangatlah jinak sekali! Namun akhir-akhir ini sering berbuat ulah dengan mengejutkan beberapa orang yaitu dengan berbicara! Haiiss.. Aku sungguh meminta maaf!" tutur Ling Tian dengan wajah menyesal sambil menangkupkan kedua tangannya untuk memperlihatkan ketulusannya.
"Ah! Tuan Muda tidak perlu melakukan hal demikian! Sebelumnya aku hanya terkejut saja ada kucing tapi bisa berbicara!" kata pelayan itu buru-buru menangkupkan kedua tangannya karena merasa tidak enak dengan pelanggan restoran yang baru datang ini.
__ADS_1
Ling Tian tersenyum dengan sangat ramah lalu meminta kepada pelayan itu untuk membawakan makanan yang dipesan oleh Mao An alias si kucing hitam jadi-jadian.
Tindakan yang dilakukan oleh Mao An itu benar-benar menarik perhatian banyak pelanggan sehingga rencananya yang ingin mencari informasi menjadi gatot alias gagal total karena paragraf pengunjung malah membicarakan dirinya beserta kucingnya yang sangat unik karena dapat berbicara.
Ling Tian berulang kali menjitak kepala dan menyentil telinga dari Mao An karena gara-gara dia lah rencananya bubar ambyar. Mao An berulang kali pula meminta maaf kepada Ling Tian dan berkata tidak akan mengulangi kesalahannya lagi.
Kini Ling Tian dan Mao An hanya bisa menikmati hidangan yang disediakan oleh pelayan restoran saja tanpa mendengar obrolan obrolan daripada pengunjung lain yang kemungkinan akan menjadi informasi penting baginya.
Saat Mao An ingin meminta anggur yang berada dibotol diatas meja, Ling Tian langsung menyambarnya dengan sangat cepat mendahului Mao An karena jika hal itu sampai terjadi maka pasti seluruh jagat raya akan langsung gempar dengan seekor kucing yang memegang botol anggur dan menenggaknya dengan santai.
"Sialan kau kucing kampret! Sudah aku katakan untuk jangan menarik perhatian! Aku tidak mau akan direpotkan karena kelakuanmu!" ucap Ling Tian mengeluhkan sikap saudaranya itu.
"Sudah! Dan jangan mengeluh! Atau aku akan memberikan hukuman kepadamu nanti!" ujar Ling Tian sambil memberikan sorot tatapan mata yang kejam sehingga membuat bulu-bulu dari kucing jadi-jadian Mao An langsung berdiri semua karena merinding.
"Ah! Tidak-tidak.. Aku tadi hanya bercanda saja Tuan Muda! Hehehe.." kata Mao An sambil tertawa dipaksakan.
Setelah selesai menikmati hidangannya, Ling Tian langsung pergi meninggalkan restoran itu setelah membayar dan tidak lupa memberikan sedikit tips untuk gadis muda yang melayaninya. Sementara untuk si kucing jadi-jadian Mao An, tentulah dia langsung bertengger kembali di pundak kanan Ling Tian lalu tertidur lelap setelah beberapa kali menguap dengan malas.
Ling Tian tidak tahu harus berbuat seperti apa untuk menghadapi saudaranya ini. Tapi dia pun tidak bisa untuk terlalu bersikap keras kepada mereka, karena jika dalam situasi yang sangat pelik, mereka sangatlah bisa diandalkan sekali. Sikap nakal dan berandalannya seolah menghilang dan tidak pernah ada pada diri mereka.
Mungkin dari kelima saudaranya, yang lurus akal dan pikirannya hanyalah Wei Hun dan Zhuge Ruxu saja. Dan untuk Ling Hu kecil, dia tidak terlalu yakin karena pada saat masih kecil atau baru lahir saja, dia sangat pilih-pilih terhadap orang yang ingin menggendongnya alias hanya memilih wanita saja.
__ADS_1
Mengingat tentang saudara-saudaranya, Ling Tian langsung menjadi sangat rindu kepada mereka. Dia lalu menengadah menatap langit dan berandai-andai kapan usaha mereka dapat berjumpa kembali dengannya di alam menengah.
"Hahh.. Aku merindukan tertawa bersama kalian saudara-saudaraku!" ucap Ling Tian lirih sambil menghela nafas panjang.
Mao An membuka sedikit matanya setelah mendengar helaan napas dari Ling Tian. Jika boleh jujur, dia juga sangat merindukan kakak-kakaknya itu. Terlebih pada sosok Long Yuan yang sudah dia anggap sebagai guru besar dan penuntunnya dalam segala aspek.
Andai saja Ling Tian mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh Mao An, masih dia akan langsung menjitak kepalanya lagi karena merasa otaknya pasti sudahlah tercuci oleh ilmu sesat dari Long Yuan.
Ling Tian berjalan dengan santai mengelilingi Kota Nianqing dan berusaha untuk menikmati keindahannya.
'Kota yang sangat damai!' batin Ling Tian.
Ya! Suasana seperti inilah yang dia inginkan. Namun mengingat iblis sejati yang menjadi pimpinan tertinggi aliansi aliran hitam serta pemimpin dari gedung pembunuh yang telah memiliki pedang dewa, kedamaian yang diimpi-impikan oleh Ling Tian tidak akan pernah terwujud jika dia belum melumpuhkan kedua orang itu.
Ling Tian mungkin tidak bisa menghabisi semua orang dari aliansi aliran hitam, karena disamping tidak mungkin serta akan mengganggu keseimbangan Benua Langit jika benar-benar terjadi, maka setidaknya dia dapat membunuh kedua pentolan dari aliran hitam yang sangat meresahkan.
Pemuda yang memakai topeng hitam separuh wajah itu berjalan memasuki sebuah kedai kecil karena merasa sedikit lelah sebab terus berjalan-jalan menyusuri Kota Nianqing.
"Minuman terbaik saja!" ucap Ling Tian sebelum pemilik kedai itu menawarkan menu setelah kedatangan Ling Tian.
"Baik Tuan Muda!" ucap seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah pemilik kedai itu sendiri.
__ADS_1