Ling Tian

Ling Tian
Tujuan Asli Bai Wutian


__ADS_3

"Baiklah.. Tapi alangkah lebih baiknya Tuan Muda Tian menginap satu hari lagi di Kota Xun ini untuk beristirahat terlebih dahulu! Aku yakin Tuan Muda lelah karena seharian penuh memimpin acara lelang!" ujar Bai Wutian dengan tersenyum ramah.


Ling Tian hanya membalasnya dengan mengangguk tanda setuju. Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu menuju penginapan yang digunakan oleh Pangeran Bai Wutian dan keempat lainnya menginap lalu diikuti oleh satu persatu klan yang mengikuti pelelangan.


Namun lain dengan Klan She. Patriark She Manglong masih belum mempercayai apa yang dia lihat sebelumnya. Ditangannya masih ada kotak hitam berisikan buah labu berlian abadi dan beberapa sumberdaya serta harta berharga yang disimpan dalam cincin oenyimpanan dan diberikan oleh Ling Tian untuk klannya sebagai tanda kepedulian terhadap Klan She.


"Patriark!" panggil Tetua Pertama Klan She.


Tidak ada jawaban yang diberikan oleh Patriark She Manglong. Dia masih saja diam dan menatap kearah dimana Ling Tian bersama Pangeran Bai Wutian pergi meninggalkan alun-alun.


"Patriark!" panggil Tetua Pertama lagi namun masih tidak ada jawaban yang membuat Tetua Pertama menjadi sedikit tidak enak.


Setelah diam sekitar lima menit barulah Patriark She Manglong memberikan tanggapan dengan kata-kata yang tidak terkontrol dari dalam dirinya sendiri.


"Ternyata benar! Dia adalah Komandan Danfan! Dia masih begitu peduli dengan Klan She meskipun dia memiliki hubungan baik dengan Klan Bai. Bahkan memperlihatkannya kepada semua orang bahwa dia adalah seorang She!"


Patriark She Manglong berkata dengan tubuh sedikit bergetar karena keterharuan yang dia rasakan sebelumnya hingga saat ini. Tetua Pertama yang mendengar ucapan sang Patriark, dia juga ikut terharu dengan Ling Tian atau yang mereka kenal dengan Komandan Danfan.


"Benar Patriark! Bahkan aku sangat malu sebagai Tetua Pertama yang bahkan tidak bisa sepertinya!" ujar Tetua Pertama menanggapinya dengan kepala tertunduk malu.


"Kamu hanya Tetua! Lalu bagaimana denganku yang sebagai seorang Patriark?" ucap Patriark Manglong yang juga merasa sudah tidak memiliki wajah lagi.


"Tapi Komandan Danfan sebelumnya juga mengatakan kepada kita untuk terus menjadi kuat sehingga Klan She kita bisa naik menjadi Klan Tingkat Satu. Maka kita tidak boleh mengecewakannya! Kita harus membuktikan bahwa kita akan menjadi seperti yang dia inginkan!" ucap Patriark She Manglong lagi yang mengingat ucapan yang lontarkan Ling Tian kepadanya selagi memberikan kotak hitam yang sekarang ada ditangannya.


"Baik! Kami berjanji tidak akan pernah mengecewakan!" ujar Tetua Pertama dan semua orang dari Klan She yang ada ditempat itu.


Setelah menyatakan perjanjian serentak itu, barulah Klan She pergi meninggalkan alun-alun Kota Xun dengan ekspresi wajah penuh dengan tekat dan tanpa keraguan.


.


.


Ditempat lain atau lebih tepatnya didalam benteng Istana Xun, Patriark Xun Chai, Tetua Agung Xun Zuo beserta semua orang dari Klan Xun hanya bisa menyaksikan pesta lelang yang sangat meriah dari pagi sampai sore hari itu dari dalam formasi pelindung dengan wajah lesu.

__ADS_1


Bagaimana tidak? Mereka semua tidak ada yang memiliki harta sepeserpun! Tidak! Bukan karena itu alasannya! Tapi mereka bahkan tidak ada yang berani keluar dari formasi karena takut akan kembali disalahkan atau yang lebih parahnya adalah mereka diserang oleh beberapa Klan Tingkat Dua atau Menengah yang merasa telah dirugikan oleh Klan Xun.


"Kita benar-benar kejatuhan karma!" ujar Patriark Xun Chai dengan sedih yang mengejutkan semua Tetua yang ada disekitarnya.


"Benar! Kita sebelumnya terlalu tamak dengan harta dan sumberdaya sehingga membuat peraturan-peraturan tidak masuk akal! Bahkan untuk dunia rahasia di Gunung Huashu! Sehingga Sang Maha Dewa mengutuskan seseorang untuk memperingati kita!" tambah Tetua Agung Xun Zuo.


Patriark Xun Chai dan semua Tetua Klan Xun mengangguk setuju akan ucapan Tetua Agung. Mereka memang telah terperdaya oleh ketamakan duniawi dan melupakan bahwa hukum karma masihlah tetap berlaku.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Patriark? Jika kita bertahan satu hari lagi didalam formasi, maka anak-anak kecil kita akan banyak yang tidak kuat dan melemah karena kelaparan!" ucap salah Tetua bertanya karena khawatir dengan orang-orang Klan Xun.


Itu karena pencuri itu bukan hanya menguras seluruh harta dan sumberdaya saja, tapi gudang yang menjadi lumbung pangan untuk Klan Xun juga dikosongkan semuanya tanpa sisa sedikitpun.


"Yaa Dewa.. Ini salahku.." ucap Patriark Xun Chai lalu kembali terjatuh dalam posisi berlutut dengan deraian air mata penyesalan yang sudah banjir sampai membasahi janggutnya yang panjang.


Wajah Patriark Xun Chai sendiri terlihat lebih tua puluhan tahun saat satu persatu masalah dalang menghampiri Klan Xun yang dia pimpin ini.


"Patriark!" ucap semua orang dengan khawatir menghampiri sang Patriark dan mencoba memberdirikannya.


Tetua yang sebelumnya bertanya menjadi serba salah dan panik. Karena dirinyalah Patriark Xun Chai kembali tidak sadarkan diri. Tetua Agung Xun Zuo yang memahami kepanikan Tetua itu segera menyuruhnya untuk tenang dan memberikan jawaban sebagai wakil dari Patriark mereka.


"Kamu tenanglah.. Kita akan menunggu dan harus bersabar satu hari lagi! Aku yakin mereka semua sudah pergi meninggalkan Kota Xun dan kita dapat keluar daei formasi setelahnya!"


"Baik Tetua Agung!" ucap Tetua itu.


Mereka semua akhirnya kembali kedalam Istana Xun dengan menggotong Patriark mereka yang sudah tidak sadarkan diri itu. Sungguh! Hati mereka sebenarnya merasakan sakit yang luar biasa melihat hal itu! Tapi itulah penyesalan yang harus mereka terima.


.


.


Satu hari kembali berlalu dengan cepat. Pagi hari yang cerah, Bai Wutian mendatangi kamar Ling Tian dan kedua saudaranya untuk mengatakan bahwa perjalanan menuju Klan Bai yang ada di kawasan inti Hutan Tanpa Batas akan segera dilakukan. Bai Wutian meminta mereka semua untuk bersiap karena dalam perjalanan ini akan menggunakan kapal terbang.


"Baik Tuan Muda Bai!" ucap Ling Tian dengan ramah kepada Bai Wutian.

__ADS_1


Setelah beberapa saat bersiap, mereka semua kini telah berada didepan sebuah kapal terbang yang sangat mewah milik Klan Bai.


"Sungguh kapal yang mewah!" ucap Ling Tian memuji.


"Hahaha.. Yah.. Begitulah! Ini adalah satu dari sepuluh kapal terbang terbaik dan tercepat yang dimiliki Klan Bai!" ujar Bai Wutian dengan tertawa bangga.


"Baiklah.. Ayo masuk!" lanjut Bai Wutian.


Dia dan keempat orang dari Klan Bai terbang menaiki kapal terbang itu yang diikuti oleh Ling Tian, Zhuge Ruxu, Mao An dan Bai Si'er yang terakhir.


Swooossshhhh...


Kapal terbang itu langsung melesat dengan kecepatan tinggi saat mereka semua telah siap. Laju dari kapal terbang ini membuat Ling Tian dan kedua saudaranya tercengang karena terlalu cepat.


Hanya butuh waktu lima belas menit saja bagi kapal itu untuk sampai di kawasan inti Hutan Tanpa Batas atau wilayah kekuasaan Klan Bai. Kapal itu perlahan melambat lalu berhenti tepat didepan sebuah istana yang sangat megah yang terbuat dari bebatuan khusus dan emas.


Ling Tian dan semua orang pun turun dari kapal itu dan perasaan pertama saat mereka menginjakkan kaki itu adalah perasaan takjub akan suasana ditempat itu yang sangat kaya akan aura langit dan bumi serta semua pepohonan disana berwarna emas.


Namun seketika wajah Ling Tian berubah saat dirinya merasakan sesuatu hal yang buruk yang terjadi setelahnya. Dia menatap Pangeran Bai Wutian dengan tajam dan niat membunuh yang sangat pekat.


"Bai Wutian! Apa maksudnya semua ini?" tanya Ling Tian dengan marah.


Kedua saudaranya juga menatapnya dengan tatapan yang sama. Ketiganya merasakan bahwa kultivasi mereka ditekan oleh sebuah formasi yang sangat kuat yang membuat kultivasi mereka hanya berada di ranah Pendekar Perak Akhir saja.


Bai Wutian hanya tersenyum menyeringai menatap Ling Tian dan kedua saudaranya. Dia memberikan kode kepada kedua bawahannya untuk menahan Bai Si'er.


"Kakak! Apa yang kau lakukan?" tanya Bai Si'er yang kebingungan.


"Hahaha..Diam kau adik tidak tahu diri! Dan kalian bertiga.. Inilah tujuan asliku membawa kalian ditempat ini!" ucap Bai Wutian dengan kejam.


"Baiklah.. Hajar orang-orang asing yang menyusup di Hutan Tanpa Batas kita!" ucap Bai Wutian lagi menyuruh kedua orang lainnya untuk menghajar Ling Tian dan kedua saudaranya.


"Keparat!" teriak Mao An.

__ADS_1


__ADS_2