
Mendengar seruan dari pemimpin mereka, para pasukan aliansi yang tersisa sepuluh ribu saja langsung bergerak mundur secara perlahan sambil terus menghalau serangan dari orang-orang daratan timur yang semakin menggila.
Nan Kong yang berhadapan dengan Ling Jian mengerutkan kening saat Kaisar Han Biao tiba-tiba menyerukan untuk mundur. Dia tidak tahu apakah alasan Kaisar itu melakukannya. Yang jelas Nan Kong sangat tidak suka akan hal itu. Jika mereka mundur, itu artinya mereka telah kalah dan dia sangat tidak menyukai adanya kekalahan dalam hidupnya.
"Saudara Nan! Mundur!" teriak Kaisar Han Biao yang kini dari tubuhnya sudah tidak terpancar lagi aura pertempuran.
Kaisar Han Biao justru terlihat sangat pucat karena panik akan suatu hal yang baru saja disadarinya itu.
"Sial! Mengapa kau menyuruhku dan pasukan untuk mundur?" teriak Nan Kong dengan sangat marah dan tidak menyukai tindakan Kaisar Han Biao. Dia dipaksa harus menjaga jarak terlebih dahulu dari Ling Jian untuk berbicara dengan Kaisar Han Biao.
"Tidak usah banyak bicara! Cepat mundur dulu!" balas Kaisar Han Biao juga dengan berteriak.
Nan Kong semakin kesal dengan rekannya itu, dia lalu mengitarkan pandangannya kearah pasukannya sejenak untuk mengetahui alasan mengapa pasukannya yang dia anggap sangat kuat harus disuruh mundur.
Saat Nan Kong melihat pasukannya yang berjumlah puluhan ribu itu kini hanya tinggal sepuluh ribu saja, dia membelalakkan matanya hingga hampir keluar dari tempatnya. Dia juga menyaksikan pasukannya yang sedang bergerak mundur tiba-tiba terpotong-potong menjadi bagian kecil yang membuatnya mengetahui bahwa ada kultivator tingkat tinggi yang membantu pihak daratan timur.
"Sial!" gerutunya lalu juga bergerak mundur.
"Siapa yang mengijinkan kalian untuk mundur hah?" tanya Ling Jian dengan seringai tipis terpampang dari bibirnya.
Dia tentu tidak akan membiarkan para pengacau ini datang dan pergi begitu saja seenak jidatnya. Seperti yang dikatakannya sebelumnya dengan pasukannya, dia tidak akan melepaskan satu pun dari musuh-musuhnya itu.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Ling Jian menyerang Nan Kong yang sudah menjaga jarak dengan mengayunkan pedang pusaka tingkat hijau mikiknya yang sudah dibaluti dengan petir hitam keemasan.
"Mati!" ucap Ling Jian.
Nan Kong kembali menyuntikkan energi Qi sangat banyak kedalam pedangnya dengan wajah sangat jelek.
"Anak keparat! Jurus pedang kelelawar! Hancurkan!" teriaknya sambil menghadang tebasan pedang Ling Jian.
__ADS_1
Boommm...
Ledakan besar terjadi yang melempar kedua orang itu kearah berlawanan sejauh ratusan meter jauhnya.
"Sial!" umpat Nan Kong yang terluka parah namun tetap berusaha untuk tetap terlihat biasa saja.
Nan Kong terluka dalam karena sambaran petir dari elemen milik Ling Jian yang ternyata dapat tetap melewati tubuhnya dari hadangan pedangnya.
Ling Jian juga sama terlukanya seperti Nan Kong. Elemenitas api yang dimiliki Nan Kong ternyata sama kuatnya dengan petir miliknya. Dia memuntahkan seteguk darah dari mulutnya tanda dia terluka dalam cukup parah. Ling Jian ingin kembali menyerang Nan Kong lagi, namun kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk melakukannya.
Meski Ling Jian saat ini masih bisa melayang dilangit, namun sebenarnya energi dalam tubuhnya sangatlah kacau balau dan harus segera mendapatkan perawatan khusus dari tabib atau alcemis.
Disisi lain, Ling We tidak menyerang kembali Kaisar Han Biao setelah dia meneriakkan pasukannya untuk mundur. Dia tidak ingin melakukan hal yang sama dengan Ling Jian karena tahu bahwa kejadian yang sama akan terjadi padanya.
Ling We berfikir lebih baik membiarkan mereka mundur dan dia menolong saudaranya yang terluka daripada berusaha membunuh Kaisar Han Biao. Itu karena membunuh entitas terkuat di Benua Langit tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.
'Setidaknya kami telah berhasil mengusir mereka! Dan membuat peringatan kepada aliansi bahwa daratan timur tidaklah lemah seperti yang mereka kira!' batin Ling We lalu beranjak menghampiri Ling Jian untuk menolongnya.
"Kamu masih baikan saudaraku?" tanya Ling We.
"Aku tidak apa-apa! Aku tidak menyangka bahwa dia juga akan sekuat itu!" jawab Ling Jian sambil melihat Nan Kong dengan tatapan mata kebencian.
"Tenanglah dan pulihkan dirimu! Suatu hari nanti pasti akan ada kesempatan lain bagimu untuk membunuhnya! Untuk sekarang, setidaknya kita bisa memberikan kenang-kenangan mengesankan untuk mereka!" ujar Ling We sambil mengalirkan energi Qi miliknya untuk mempercepat penyembuhan Ling Jian.
"Benar! Saudara We! Tolong teriakkan kepada semua pasukan untuk mundur juga! Biarkan musuh untuk mundur!" ucap Ling Jian tiba-tiba.
"Oh? Mengapa demikian?" tanya Ling We yang keheranan.
Ling Jian tersenyum sebelum akhirnya memberikan jawaban.
__ADS_1
"Seperti yang saudara We katakan. Kenang-kenangan berupa tekanan mental!"
"Hahaha.. Baiklah-baiklah.. Mereka pasti tidak menyangka bahwa daratan timur memiliki Klan Ling yang tidak bisa mereka gertak sesukanya!" kata Ling We sambil tertawa lalu meneriakkan pasukannya untuk ikut mundur yang membuat pasukan musuh sedikit lega.
Namun meskipun begitu, mereka hanya tersisa lima ribu saja dari hampir seratus ribu pasukan yang mereka bawa. Sungguh kerugian serta pukulan telak bagi mereka yang awalnya datang dengan kepercayaan diri penuh akan kemenangan.
Mental semua orang dari pasukan aliansi aliran hitam pastilah akan terganggu dan menjadi ciut serta tidak akan berani mengusik lagi daratan timur untuk sementara waktu sampai kekuatan mereka benar-benar telah mumpuni. Dan hal itu pastinya memerlukan waktu yang cukup lama.
Alasan sebenarnya Ling Jian meminta mundur pasukannya karena dia yakin bahwa pasukan miliknya pasti juga sangat kelelahan setelah perang berhari-hari tanpa henti. Dia masih belum menyadari bahwa ada pasukan lain yang membantu mereka dan membantai pasukan lawannya.
.
.
Kaisar Han Biao mendekati Patriark Sekte Pedang Kelelawar Nan Kong dan memberikan pertolongan pertama untuknya. Setelah mendengar teriakan mundur dari Ling We lawannya, dia sedikit menghela nafas lega.
Hal itu karena dia juga merasa tidak akan bisa mengalahkan Ling We jika kembali melanjutkan pertarungannya. Mungkin hasilnya akan sama seperti Nan Kong dan berakhir terluka parah lalu tidak bisa lagi memandu pasukannya lagi untuk kembali ke daratan selatan.
"Apa kita kalah?" tanya Nan Kong sambil memegangi dadanya yang masih terasa sesak.
"Benar!" jawab Kaisar Han Biao.
Nan Kong lalu melihat kearah Ling Jian dengan permusuhan yang tiada habisnya kecuali dengan membunuhnya.
"Aku akan mengingat ini! Dalam perataan seluruh daratan di Benua Langit untuk kami kuasai, aku pasti akan membunuhmu!" ujar Nan Kong dengan nada penuh kebencian dan dendam.
Ling Jian tersenyum mengejek kearah lawannya dan menjawab,
"Aku akan menunggu waktu itu! Dan pastikan kau tidak akan mengecewakanku!"
__ADS_1
Nan Kong sangat marah mendengar jawaban dari Ling Jian yang terdengar sangat meremehkan dan menurutnya sangat menghina. Dia ingin bergerak lagi untuk menutup mulut penuh bisa Ling Jian, namun dengan cepat Kaisar Han Biao segera mencegahnya dan menyuruhnya untuk tidak terprovokasi.
Pada akhirnya, pasukan aliansi aliran hitam mundur dengan teratur dan memasuki armada perang kapal terbangnya lalu pergi meninggalkan pantai perbatasan daratan timur bagian selatan dengan kekalahan.