
Wanita muda itu tidak lain adalah Tuan Putri Wei Ziin dan pria tua itu adalah ayahnya, Kaisar Wei Heian. Wei Ziin sangat malu saat ayahnya menggodanya. Dia tentu masih sangat mengingat dengan jelas wajah pemuda tampan yang belum lama ini ditemuinya secara tidak sengaja.
"Apakah dia dari kalangan bangsawan?" tanya Kaisar Heian.
"Ayaah! Ayah ini ngomong apa? Sudah! Lupakan!" elak Wei Ziin tidak mau meneruskan obrolannya dengan memalingkan wajah.
"Hohoo.. Putri ayah sudah besar rupanya.. Hemm.. Ayah pasti akan sedih kehilangan putri ayah ini saat dibawa laki-laki itu nanti!" ujar Kaisar Heian dengan nada lemas dan pura-pura sedih.
"Ayaah!" Wei Ziin masih saja mengelak.
"Aku adalah ayahmu nak! Aku adalah orang yang paling mengenalmu setelah ibumu meninggal! Siapa lelaki beruntung itu? Apakah tuan muda klan besar atau sekte besar? Atau putra menteri?" tanya Kaisar Heian lagi.
"Emm.. Aku tidak tahu ayah! Dia hanya orang yang tidak sengaja aku temui tadi dijalanan kota dan sepertinya dia juga bukan dari kalangan bangsawan! Tapi wajahnya selalu terbayang difikiran Ziin'er!" jawab Wei Ziin dengan jujur.
Kaisar Heian hanya tersenyum menanggapi jawaban polos dari putrinya itu. Dia sangat menyayangi anak bungsu sekaligus putri satu-satunya ini. Terlebih saat ibunya meninggal karena sakit keras akibat diracuni. Kasih sayangnya menjadi berlebih-lebih kepada putri kecilnya.
"Siapa namanya?" tanya Kaisar Heian.
Wei Ziin hanya menggelengkan kepala karena dia juga tidak tau siapa nama pemuda tampan itu dan darimana datangnya.
"Bahkan putri kecilku ini tidak mengetahui walau sekedar namanya? Lalu bagaimana kamu bisa menyukainya?" Kaisar Heian benar-benar dibuat heran dengan putri kecilnya.
"Itu.. Sebenarnya.."
Akhirnya Wei Ziin alias Tuan Putri Kekaisaran Wei menceritakan kejadian keseluruhannya kepada sang ayah, bahwa dia bertemu tidak sengaja dengannya dan bertabrakan di jalan. Wei Ziin menggambarkan pemuda itu dengan sangat tampan layaknya malaikat turun dari langit! Sial! Kayak udah pernah lihat malaikat saja! Bagaimana jika itu malaikat izroil?
(Ekhem! Iklan! Jangan lupa follow profilku.. Hehe.. Lanjuut!)
Wei Ziin terus menceritakan Ling Tian beberapa waktu lamanya. Bahkan lebih banyak atau lama ceritanya daripada pertemuan singkatnya dengan Ling Tian waktu itu. Dia menggambarkan senyumnya juga bagaikan candu, ucapannya seperti madu yang sangat manis.
Sementara Kaisar Heian hanya mendengarkan penuturan putrinya itu dengan kepala terus menggeleng. Baru kali ini putrinya sesemangat ini menceritakan seorang laki-laki. Biasanya, putri kecilnya ini hanya akan cuek saat membicarakan siapa pemuda yang akan mendampinginnya nanti. Dan kali ini benar-benar mengejutkan Kaisar Heian.
"Apakah kamu mencintainya putriku?" tanya Kaisar Heian kepada putrinya.
__ADS_1
"Entahlah ayah. Aku tidak tahu apakah ini cinta atau apakah ini hanya sekedar kagum semata! Tapi yang jelas, pria itu sangat menarik!" ujar Wei Ziin dengan jujur.
Kaisar Wei Heian jelas bisa memahami ucapan putrinya dengan terang. Antara cinta dan kagum itu memang sesuatu hal yang berbeda. Kagum itu bisa mempunyai banyak alasan. Mungkin karena ketampanan atau kecantikan seseorang, mungkin juga karena sifat baik dan hartanya yang melimpah atau mungkin juga karena garis darah keluarganya yang begitu baik.
Tapi tidak dengan cinta! Seseorang tidak membutuhkan alasan untuk mencintai. Karena pada dasarnya, cinta adalah murni dari tetesan sifat kasih dan sayang Sang Pencipta yang diturunkan melalui hati seseorang seketika itu juga saat bertemu dengan lawan jenisnya. Maka cinta hanyalah karena cinta! Bukan sebab lainnya.
Belum selesai putri Wei Ziin menceritakan tentang Ling Tian, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan salah satu petinggi atau Tetua Klan Wei.
"Hormat saya Yang Mulia Kaisar!" ucap Tetua itu sambil berlutut.
"Hm.. Iya, berdirilah tetua! Ada apa?" tanya Kaisar Heian tidak mau basa-basi.
"Mohon ampun Yang Mulia Kaisar! Hamba ingin melaporkan bahwa giok penghubung milik Leluhur Pendiri menyala!" ucap Tetua Klan Wei.
"Ooh, benarkah? Sudah sangat lama Leluhur Pendiri tidak berkunjung. Terakhir kali ia datang saat aku masih anak-anak!" kata Kaisar Heian sedikit terkejut.
"Leluhur Pendiri?" tanya Wei Ziin.
"Apakah beliau itu sangat kuat ayah?" Wei Ziin cukup tertarik membahas Leluhurnya yang belum pernah dia temui.
"Tentu saja! Beliau dan satu sahabatnya sudah berada di ranah Pendekar Berlian Puncak!" jawab Kaisar Heian dengan bangga.
"Sangat kuat!" ucap Wei Ziin tidak sengaja.
"Sahabat? Siapa sahabatnya itu ayah?" lanjut Wei Ziin bertanya.
"Dia adalah sosok naga biru yang agung!" jawab Kaisar.
"Yasudah tetua, tolong kumpulkan seluruh anggota Klan Wei tanpa terkecuali! Siapkan acara penyambutan Leluhur Pendiri. Biasanya dalam waktu tiga hari Leluhur akan sampai setelah giok penghubung menyala!" lanjut Kaisar Heian memberi titahnya.
"Baik Yang Mulia!" jawab Tetua itu menangkupkan kedua tangan lalu mundur untuk pergi.
Setelah kepergian Tetua Klan Wei, Wei Ziin yang masih cukup penasaran dengan sosok Leluhurnya kembali bertanya,
__ADS_1
"Siapakah nama Leluhur Pendiri dan sahabatnya itu ayah?"
"Hmm.. Kau cukup penasaran rupanya putriku!" ujar Kaisar Heian sambil mengelus pucuk kepala putri kesayangannya.
"Namanya adalah Leluhur Wei Hun dan sahabatnya adalah Sang Naga Agung, Long Yuan!" lanjut Sang Kaisar.
***
Sementara itu didalam ruangan di penginapan rajawali, tiga orang pria sedang bercanda ria sambil minum-minum. Mereka sangat menikmati acara sederhana itu. Gelak tawa hingga terbahak-bahak menyelimuti perbincangan unfaedah itu.
"Saudara Long! Mana anggurnya lagi? Keluarkan lagi!" kata Ling Tian.
"Sialan! Aku sudah mengeluarkan tiga puluh botol anggurku! Sudah cukup!" tolak Long Yuan.
"Ayolah saudaraku! Kesempatan seperti ini tidak akan lagi bisa saat kita sudah pergi ke Alam Menengah!" ujar Wei Hun.
"Benar saudara Long! Kamu akan merindukan kebersamaan ini denganku!" tambah Ling Tian.
"Sial!" keluh Long Yuan.
Meskipun sedikit terpaksa, Long Yuan tetap saja mengeluarkan anggur miliknya. Karena dia juga tidak tau sampai kapan lagi dirinya dan kedua saudaranya ini bisa menikmati kebersamaan seperti ini setelah kepergiannya dan Wei Hun ke Alam Menengah.
"Hahaha.. Kau memang terbaik cacing biru sialan!" Ling Tian sangat senang sekali.
"Brengsek! Jangan panggil aku dengan sebutan itu!" Long Yuan sangat benci julukan satunya ini namun sekali lagi dia hanya bisa mengeluh namun kembali tertawa bersama kedua sahabatnya itu.
Kebersamaan seperti keluarga inilah yang sangat Long Yuan dan Wei Hun inginkan. Apalagi semenjak kehadiran Ling Tian. Hari-hari mereka kembali menghangat karena hubungan persaudaraan. Ling Tian tanpa sadar selalu menghadirkan buih-buih kasih dan sayang kekeluargaan untuk mereka berdua yang selama ini merasa kesepian karena semua anggota keluarga termasuk orang tua mereka terbantai habis.
"Hahaha.." Wei Hun dan Ling Tian tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi suram saudaranya itu.
Mereka bertiga terus membuat acara minum-minum dan makan-makan selama hampir tiga hari. Tentunya mereka juga menambah masa sewa ruangan di penginapan rajawali. Dan lebih sialnya lagi harus Long Yuan yang membayar! Mampus!
"Baiklah.. Sudah waktunya kita mengunjungi Istana!" ujar Wei Hun.
__ADS_1