
"Benar! Aku memang sudah menyiapkan semuanya untuk acara turnamen sepuluh hari kedepan. Mulai dari metode, aturan dan bahkan hadiahnya telah aku siapkan semuanya. Jadi para Tetua sekalian tidak perlu repot-repot untuk menyiapkannya kembali. Kalian cukup siapkan saja lahan luas dan arena yang cukup untuk babak finalnya saja!" tutur Ling Tian.
"Lalu, metode seperti apa yang nak Tian hendak laksanakan?" tanya Tetua Kedua, Ling Lian Zong.
"Hehehe.. Itu rahasia paman! Intinya, turnamen generasi muda kali ini akan menjadi lebih meriah dan menegangkan! Aku membaginya menjadi tiga tahapan. Itu saja yang bisa ucapkan!" tutur Ling Tian dengan senyumnya yang misterius.
"Itu.. Lalu bagaimana jika mereka yang dari klan-klan lain menanyakannya?" tanya Tetua Ketiga belas.
"Cukup kalian katakan itu saja seperti yang sebelumnya aku ucapkan!" jawab Ling Tian dengan santai.
"Tapi.." Tetua yang lain hendak menyangkal namun langsung dipotong oleh Wei Ziin.
"Sudahlah paman-paman! Turuti saja kata kakak Tian! Dia pasti punya alasan tersendiri supaya turnamen menjadi lebih meriah!" kata Wei Ziin dengan yakin.
"Benarkah itu nak?" tanya Ling Jun.
"Benar ayah! Aku juga ingin di turnamen nanti para generasi muda di seluruh Kota Awan menjadi lebih bersemangat lagi untuk menjadi kuat!" jawab Ling Tian.
"Emm.. Jadi begitu.. Baiklah! Sudah diputuskan bahwa yang mengatur sekaligus memimpin jalannya turnamen antar klan nanti adalah Ling Tian putra Ling Jun! Mari kita siapkan apa yang sebelumnya dia katakan dan segera bubarkan pertemuan ini!" ucap.Patriark Ling Bo Teng.
"Baik Patriark!" jawab semua Tetua dengan serentak.
Akhirnya musyawarah telah mencapai mufakat dengan segala urusan turnamen diserahkan kepada Ling Tian. Para Tetua hanya ditugaskan untuk menyiapkan lahan yang lebar dan arena pertandingan untuk acara final.
Ling Tian ditemani oleh saudara-saudaranya dan juga Ling We yang merangkul pundaknya juga ikut keluar dari aula pertemuan.
"Saudara Tian!" panggil Ling We.
"Emm.." jawab Ling Tian dengan nada sok cuek.
__ADS_1
"Cih! Mentang mentang sudah jadi orang penting kau cuek sekarang denganku!" cibir Ling We.
"Orang penting?" Ling Tian menghentikan langkah kakinya dan melihat kearah Ling We yang masih merangkul pendaknya namun melengoskan pandangan.
"Tentu saja kau sudah jadi orang penting! Makanya kamu tidak sempat lagi mengunjungiku! Jangankan mengunjungi, bahkan kamu tidak menyapaku saat sebelum melakukan kultivasi tertutup!" ujar Ling We lalu melepaskan rangkulan tangannya di pundak Ling Tian.
"Hei.. Saudaraku.. Bukan begitu maksudku!" jawab Ling Tian.
"Lalu apa lagi? Mungkin jika aku belum menginjak ranah Pendekar Emas dan tidak menjadi Tetua Muda Klan Ling, kita belumlah bisa berbicara seperti ini! Mungkin kamu akan terus tidak memperhatikan keberadaanku. Dan kamu tahu nona Lianhua? Dia juga sangat menanti kedatanganmu dikediamannya. Dia adalah orang yang sangat merindukanmu selama ini! Dia sangat berharap kamu datang meski hanya sekedar untuk menyapa! Namun kamu terlalu sibuk dengan urusanmu! Kau tahu! Kamu begitu menyakiti hatinya saudara Tian!" tutur Ling We panjang kali lebar melepaskan keluhannya.
Ling Tian sama sekali tidak bisa menjawab lagi ucapan Ling We. Benar! Dirinya akhir-akhir ini memanglah terlalu egois dan melupakan orang-orang yang menemaninya saat dirinya lemah atau sekedar menyapa.
Ling Tian sadar telah melakukan kesalahan yang cukup besar kali ini. Dia hanya terdiam menundukkan kepala. Semua saudaranya juga hanya diam tak bersuara.
"Maafkan aku saudara We!" ucap Ling Tian dengan suara parau.
"Baiklah.. Silakan saudara We! Sekali lagi aku minta maaf! Aku juga akan mengunjungi nona Hua nanti!" kata Ling Tian.
"Itu terserah kamu saja saudaraku! Baiklah.. Aku pergi!"
"Iya.."
Ling We pun pergi meninggalkan Ling Tian dan saudara-saudaranya yang lain yang masih tertunduk.
Long Yuan yang sedari awal menyimak pembicaraan Ling Tian dan Ling We segera menghampiri Ling Tian dan menepuk pundaknya.
"Hal seperti ini memang sering terjadi bagi seorang kultivator yang mengejar puncak. Terkadang kita memang harus sedikit beristirahat dan meluangkan waktu kita untuk kerabat kita juga!" tutur Long Yuan memberikan ucapan bijak.
"Kau benar saudaraku! Aku terlalu egois dengan mengejar kekuatan saja dan melupakan saudara-saudaraku yang ada disaat aku lemah dulu!"
__ADS_1
***
Tiga hari kembali terlewat dengan cepat. Saat ini Klan Ling tampak mulai ramai dengan orang-orang atau tamu dari klan lain yang mulai berdatangan.
Semua tamu dibuat terkagum-kagum dengan kemegahan Klan Ling yang dikatakan klan kecil ini. Nyatanya mereka harus menelan ludah pahit saat mendapati penjaga gerbangnya saja berada di ranah Pendekar Perunggu, yang mana setara dengan para Tetua atau bahkan Patriark mereka.
Ling Tian sendiri juga telah meluangkan waktunya satu hari untuk mengunjungi Ling Lianhua dikediamannya dan mengajaknya bermain didalam dunia jiwa.
Ling Lianhua tentu sangat senang Ling Tian mengajaknya jalan-jalan ditempat yang indah dan belum pernah dia ketahui. Terlebih, saat Ling Tian dengan mudahnya menunjukkan sesuatu yang sangat mustahil yaitu menciptakan kediaman sederhana seperti kediamannya di dalam Klan Ling. Aih! Sungguh sebenarnya menyenangkan hati perempuan tulus itu tidak butuh hal-hal yang sulit!
Dan saat ini, Ling Tian sedang jalan-jalan sendirian untuk melihat-lihat kesibukan klannya. Dia sengaja menurunkan atau menyegel kultivasinya hingga ranah Pendekar Kayu Menengah untuk tidak menarik perhatian tamu dan mencolok. Sebelumnya dia juga meminta kepada semua orang untuk bersikap biasa saja dan tidak berlebih-lebihan dalam menghormatinya atau berterima kasih. Karena menurutnya, apa yang dilakukannya kepada Klan Ling adalah kewajiban sebagai anggota keluarga. Maka tidak sepatutnya dia mendapatkan ucapan terima kasih.
Bruk!
Tanpa sengaja karena begitu fokusnya melihat kondisi klan, Ling Tian tanpa sengaja menabrak salah satu pemuda yang memakai pakaian mewah. Dia adalah seorang tuan muda Klan Mei dari Kota Awan, tamu Klan Ling, sekaligus peserta turnamen. Dia juga termasuk jenius didalam klannya. Kultivasi pemuda itu berada di ranah Pendekar Besi Akhir Bintang 2. Cukup jenius untuk sebuah klan yang berada di kekuasaan Kota Awan.
"Sialan! Apa kau tidak punya mata!" bentak tuan muda itu yang bernama Mei Tu.
"Ah.. Maaf Tuan Muda! Aku tidak sengaja!" jawab Ling Tian.
"Tidak sengaja katamu? Aku akan memaafkanmu jika kamu bersujud tiga kali dan menciumi kakiku!" ujar Mei Tu dengan sombong.
Ling Tian mengerutkan kening saat mendengar ucapan Tuan Muda dari Klan Mei. Bersujud? Lalu mencium kakinya? Apakah Ling Tian mau? Tentu saja jawabannya tidak mungkin atau bisa dikatakan mustahil Ling Tian mau! Hanya dengan orang tua atau gurunya saja dia mau melakukan hal yang diucapkan Mei Tu. Bahkan dengan gurunya saja dia sering menyebutnya tua bangka! Lalu siapa pemuda arogan didepannya ini yang dengan beraninya menyuruh bersujud? Apa dia cari mati?
Keributan yang terjadi antara Ling Tian dan Tuan Muda Mei Tu cukup menarik perhatian orang-orang disekitar. Semua orang juga langsung dibuat tertegun saat Tuan Muda Klan Mei itu mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya diucapkan. Mereka semua menggelengkan kepala dan merasa kasihan dengan apa yang akan segera terjadi dengan nasib Tuan Muda sombong itu.
"Sungguh berani pemuda itu!" ujar salah satu orang dari Klan Ling kepada temannya yang disebelahnya.
"Benar sekali! Dia telah mengucapkan kalimat tabu didepan Tuan Muda Tian!" jawab temannya sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1