
Klan Ling.
Suasana di Klan Ling terlihat begitu damai dan tenang. Terlebih setelah acara pernikahan Ling We yang diadakan secara sederhana di kediaman Tetua Agung Ling Jun atau ayah dari Ling Tian.
Terlihat dibelakang kediaman itu ada empat orang pria dan wanita sedang bercengkrama sambil tertawa. Keduanya tentu adalah ayah dan ibu Ling Tian serta sepasang pengantin baru Ling We dan Zhong Nian.
Mereka terlihat sangat bahagian dengan obrolan yang sedang dilakukan. Bahkan tawa Ling Jun sangat keras saat mendengar cerita dari Ling We yang membuat Hei Si atau ibu dari Ling Tian menjiwit pinggangnya karena menurutnya itu sangatlah memalukan bagi seorang Tetua Agung.
Deg! Deg!
Tiba-tiba jantung Ling Jun dan Hei Si berdetak dengan sangat cepat dan tidak beraturan. Mereka langsung terdiam membisu seketika itu juga sambil memegangi dada bagian kiri mereka.
Hal itu tentu membuat Ling We dan Zhong Nian yang sedang tertawa keheranan.
"Ada apa paman dan bibi?" tanya Zhong Nian.
Ling Jun dan Hei Si tidak menjawab. Mereka justru menatap dimana arah daratan tengah itu berada. Tiba-tiba Hei Si memeluk suaminya dengan sangat erat dan Ling Jun juga membalas pelukannya.
Air mata dari Hei Si sudah mengalir dengan derasnya sementara Ling Jun hanya bisa menghela nafas berkali-kali sambil mengelus lembut punggung istrinya.
Ling We dan Zhong Nian semakin kebingungan dengan apa yang diperlihatkan oleh paman dan bibi mereka. Mereka benar-benar tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka sehingga mereka yang awalnya tertawa bahagia lalu tiba-tiba berubah drastis. Bahkan Hei Si menangis dengan tersedu-sedu.
"Tenanglah.. Putra kita pasti baik-baik saja!" ucap Ling Jun.
"Tapi Gege.. Hiks.. Hiks.. Putra kita.." Hei Si tidak sanggup meneruskan ucapannya. Dia mendekap suaminya dengan sangat erat karena rasa takut yang teramat sangat.
"Tenanglah.. Tenang! Tian'er adalah anak yang kuat dan hebat! Tidak akan ada yang bisa menyentuhnya!" ujar Ling Jun. Namun hatinya juga sangat mengkhawatirkan putranya itu.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, Hei Si atau ibu Ling Tian sudah sedikit lebih tenang. Dia lalu melepaskan pelukannya kepada Ling Jun kemudian beranjak dari tempat itu. Seketika suasana berubah menjadi sedikit canggung karena beberapa kali Ling We dan Zhong Nian yang bertanya tidak mendapat jawaban.
Ling Jun yang memahami diamnya kedua pasangan suami istri baru didepannya itu menghela nafas panjangnya sebelum akhirnya membuka suaranya.
"Kami sebelumnya tiba-tiba mendapatkan firasat buruk yang terjadi kepada Tian'er. Maka dari itu bibimu itu sampai menangis menghadap kearah daratan tengah berada!" kata Ling Jun menjelaskan.
"Apaa! Saudara Tian dalam bahaya? Siapa yang berani menyentuh saudaraku? Klan Lian kah? Aku akan menghancurkan mereka!" ucap Ling We yang sudah berdiri dari tempat duduk dengan aura kemarahan dan niat membunuh yang sangat ganas meledak dari tubuhnya.
"Tenanglah We'er! Itu hanya firasat kami saja! Kenyataan aslinya belumlah kita ketahui!" ujar Ling Jun menenangkan Ling We. Begitu pula dengan Zhong Nian yang juga ikut menenangkan suaminya.
"Tapi paman Jun, firasat seorang ayah dan ibu tidak pernah salah! Apalagi sebelumnya paman dan bibi merasakannya secara bersamaan!" ujar Ling We yang juga mengkhawatirkan saudaranya yang bau itu.
"Iya.. Paman mengerti! Tapi paman harap hal itu tidak pernah terjadi!" kata Ling Jun sambil berusaha untuk tersenyum meskipun terasa masam.
Ling We akhirnya kembali mendapat ketenangannya setelah mendengarkan nasehat Ling Jun dan senyuman yang terukir diwajahnya. Dia berharap bahwa yang dikatakan Ling Jun sebelumnya adalah benar. Tidak akan ada sesuatu hal yang membahayakan Ling Tian.
***
Disuatu tempat yang aneh di alam bawah sadar Ling Tian, sosok pemuda yang mana dia adalah jiwa dari Ling Tian sedang dililit oleh seekor Naga Bayangan yang sangat besar. Naga Bayangan itu tersenyum melihat pemuda yang hanya pasrah begitu saja dililit olehnya.
"Mengapa.. Mengapa aku selalu gagal.." ucap Ling Tian dengan suara parau.
Dalam pandangannya sekarang hanya terlihat kejadian-kejadian miris tentangnya. Yaitu tentang ayah dan ibunya yang terluka parah akibat serangan dari para Tetua Sekte Taring Iblis, lalu setelahnya melihat dua saudaranya Mao An dan Zhuge Ruxu yang sedang disiksa oleh orang-orang dari Klan Bai.
Ling Tian merasa gagal menjadi seorang anak dan saudara untuk mereka semua yang terluka bahkan terbunuh saat bencana yang melanda Klan Ling dulu. Ling Tian menyalahkan dirinya yang terlalu lemah dan terlambat sadar atau terlalu naif akan keselamatan mereka. Dia hanya bisa menyesali semuanya dalam batinnya yang paling dalam.
"Hahahaha.. Dasar lemah!" tiba-tiba sosok Naga Bayangan itu terlawa dengan lepas dan mengolok-olok Ling Tian.
__ADS_1
Ling Tian melihat Naga Bayangan itu tanpa merubah ekspresinya sedikitpun.
"Siapa kau? Mengapa kau mengejekku?" tanya Ling Tian datar.
"Hahahaha.. Orang berhati lemah sepertimu tidak pantas mengetahui siapa aku! Dan alasan aku mengejekmu karena memang kau sangatlah lemah! Tidak! Tapi hatimu sangatlah lemah!" jawab Naga Bayangan itu dengan sombong.
"Kau benar! Aku memang sangat lemah! Aku bahkan terlambat menyelamatkan ayah dan ibuku waktu itu sehingga mereka terluka parah. Dan sekarang aku juga tidak berkutik dengan kedua saudaraku yang disiksa oleh orang lain!" ucap Ling Tian yang dengan mudahnya mengaku begitu saja kepada Naga Bayangan akan betapa lemahnya dirinya.
"Hahaha.. Sudah lemah, bodoh pula! Kalau begitu kau belum pantas mengetahui siapa aku dan memiliki kekuatanku! Kau hanya akan menjadi mesin pembunuh jika masih terlalu bodoh dan tidak tahu jati dirimu sendiri! Maka sekarang pergilah dari tempatku ini!" ujar Sang Naga Bayangan lalu melemparkan tubuh Ling Tian yang dililit kesuatu arah yang membuat Ling Tian menghilang dari tempat itu.
Sekarang hanya tinggallah Sang Naga Bayangan yang ada ditempat itu. Dia hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali tertidur seperti sebelum kedatangan Ling Tian. Namun sebelum itu, dia menggumamkan suatu ejekan lagi untuk Ling Tian.
'Cih! Masih sangat lemah dan terlalu bodoh!"
Hutan Tanpa Batas, Klan Bai.
Setelah hampir satu hari mengekang Ling Tian dengan segel jaring dan rantai emas milik Zhuge Ruxu serta meneriakkan bujukan untuk kesadarannya, perlahan aura biadab yang disertai kesedihan Ling Tian mulai melemah.
Dua jam kemudian, Ling Tian akhirnya berhenti berteriak dan terjatuh dalam keadaan tidak sadarkan diri. Sebelum Ling Tian terjatuh ditanah, Zhuge Ruxu dengan sigap menghilangkan formasi pengekang dan menangkap tubuh Tuan Mudanya itu dengan hati penuh kekhawatiran.
Zhuge Ruxu melihat wajah Ling Tian yang sangat pucat dan auranya begitu kacau.
"Mari bawa Yang Mulia kedalam Klan Bai dulu! Kita rawat disana!" ujar Bai Senlu dengan ekspresi sangat khawatir.
"Tidak! Gara-gara kalianlah Tuan Muda Ling Tian seperti ini! Gara-gara kalian!" ujar Zhuge Ruxu dengan marah.
"Tapi Nona! Yang Mulia membutuhkan perawatan khusus! Kami juga memiliki beberapa tanaman obat didalam untuk mempercepat pemulihan Yang Mulia!" ujar Bai Senlu.
__ADS_1
Zhuge Ruxu ingin menolaknya lagi, namun dia dihentikan oleh Mao An demi kesehatan dan keselamatan Ling Tian.
"Sudahlah kakak ketiga! Kita bawa masuk dulu Tuan Muda Tian agar mendapat perawatan yang lebih baik!" ujar Mao An.