
Kaisar Heian dan Patriark Ling Bo Teng mengangguk setuju. Dengan ranah Pendekar Berlian Akhir Bintang 3 dan Ling Jun yang terkuat di ranah Pendekar Berlian Akhir Bintang 7, mereka adalah yang terkuat di daratan timur ini. Ditambah lagi dengan dua Leluhur Kekaisaran Wei yang kekuatannya sama dengan Ling Jun, mereka yakin bisa menghadapi bencana yang akan melanda daratan timur sebentar lagi.
***
Ditempat lain, dua sosok pemuda sedang berdiri di atas langit dengan pakaian zirah perang yang sudah menempel lengkap diseluruh tubuhnya. Mereka berdua terlihat begitu gagah dan perkasa dengan aura ranah Pendekar Berlian Menengah Bintang 2 dan 7. Mereka tidak lain adalah Ling We dan Ling Jian.
Dibelakang mereka berdua terdapat ribuan pasukan dengan kekuatan paling rendah adalah ranah Pendekar Perak berbaris dengan rapih dan berada dalam posisi yang siap siaga menunggu instruksi sang pimpinan yang tidak lain adalah dua pemuda yang sedang melayang didepan mereka.
Yang tidak mereka tahu, diantara para prajurit yang akan mengikuti perang itu terdapat sekelompok orang yang tidak mereka kenal. Tentu saja kelompok itu adalah kelompok Leluhur Bai Senlu dan para anggota pasukan elite Klan Bai.
"Ayah! Klan milik Tuan Muda Ling Tian memang sangat mengagumkan!" ujar Bai Wenhe'er kepada Leluhur Bai Senlu melalui telepati.
Dengan jujur dan mata berbinar dia menatap kedua pemuda yang akan memimpin perang dengan penuh kekaguman. Sebenarnya bukan hanya Bai Wenhe'er saja, namun semua orang dari pasukan diluar orang-orang Klan Ling juga merasakan hal yang sama seperti Bai Wenhe'er.
"Tentu saja! Jika tidak mengagumkan maka itu bukanlah Klan Ling!" jawab Leluhur Bai Senlu dengan tegas dan bangga.
"Lalu bagaimana nanti cara kita akan berperang?" tanya Wenhe'er.
"Kita akan menjadi pelindung bayangan dari semua orang-orang ini! Jika diantara mereka ada yang akan terbunuh, maka segeralah bunuh musuh yang akan membunuh orang-orang dari pihak kita! Apa kalian mengerti?" ujar Leluhur Bai Senlu.
"Kami mengerti ayah!" ucap Bai Wenhe'er atau Tetua Agung Klan Bai.
"Kami mengerti Leluhur!" ucap keempat pluh delapan pasukan elite Klan Bai.
"Bagus! Ingat! Jangan sampai ada diantara orang-orang di pihak Klan Ling ada yang terbunuh!" ujar Leluhur Bai Senlu mengingatkan lagi.
__ADS_1
"Siap!" kata semuanya.
.
.
Diatas langit, Ling We dan Ling Jian menatap tajam kearah armada perang kapal terbang dengan jumlah ratusan itu. Tidak berapa lama, seorang murid klan menghampiri mereka berdua dan mengatakan sesuatu hal. Murid itu adalah murid yang sebelumnya melapor pada Patriark didalam tenda pertemuan.
"Baiklah.. Kamu bisa bergabung dengan yang lainnya sekarang!" ucap Ling We kepada murid itu.
"Baik! Terima kasih Tetua We!" kata sang murid lalu mengangkupkan kedua tangan dan pergi meninggalkan Ling We dan Ling Jian untuk kembali dalam posisinya.
Setelah kepergian dari murid itu, Ling We dan Ling Jian saling pandang dan Ling We mengangguk kepada Ling Jian. Mereka berdua lalu melesat mendekati pasukannya yang berjumlah sekitar seratus ribu pasukan dan berdiri didepan mereka.
"Pasukaaaan!" teriak Ling Jian membuat pandangan semua orang teralihkan kepadanya.
"Mereka semua adalah para pengacau yang akan menjajah negeri dan tanah air kita! Mereka akan merenggut kebahagiaan serta kehormatan keluarga kita! Anak-anak kecil kita, wanita kita, keluarga kita akan sirna kehidupannya jika mereka ada! Jadi kalian tahu apa yang harus kalian lakukan?" tanya Ling Jian dengan berteriak lantang.
"Bunuh semua pengacau! Pertahankan tanah air! Bunuh semua orang yang ingin merenggut kehormatan!" teriak semua orang dengan suara menggema.
"Pasukan! Disana! Kemulian sebagai seorang pejuang akan kita dapatkan! Disana! Darah kita akan dihargai dan diingat semua orang di daratan timur ini! Ukir nama kalian dihati semua orang sebagai pahlawan yang berjuang mempertahankan dan melindungi tanah air! Pegang erat senjata kalian! Tebaskan pedang kalian! Tusukkan tombak kalian! Hantamkan tongkat kalian! Dan pecutkan cemeti kalian!" teriak Ling Jian sambil menunjuk-nunjuk kearah dimana armada perang pasukan aliansi aliran hitam berada.
Darah juang semua orang menjadi mendidih saat mendengar seruan dari Ling Jian. Sorot mata mereka semua begitu tajam dan terlihat ada kobaran api semangat yang tiada mungkin pernah padam.
Sementara didalam pasukan, Leluhur Bai Senlu dan orang-orang dari Klan Bai begitu tertegun dengan cara Ling Jian memberikan semangat juang untuk pasukannya.
__ADS_1
"Tuan Muda Ling Jian memang hebat dalam memberikan kobaran semangat perang!" kata salah satu dari prajurit elite Klan Bai kepada temannya melalui telepati.
"Benar! Bahkan aku yang statusnya hanya sebagai pembantu saja ikut bersemangat dan antusias ingin membunuh semua pasukan musuh!" ucap temannya.
"Hahaha.. Jika boleh jujur, aku juga merasakan hal yang sama!" kata prajurit elite itu.
"Klan Ling memang berisikan orang-orang berbobot layaknya Tuan Muda Ling Tian!" ujar prajurit elite itu yang diangguki oleh temannya.
Namun yang mereka tidak ketahui adalah salah satu dari orang yang berdiri dihadapan mereka itu merupakan preman pembuat onar yang yang akan membuat kepala mereka samit jika mengetahuinya. Lebih-lebih jika mereka menjadi korban dari keonaran orang itu.
Ling Jian lalu memanggil beberapa jendral dari Kekaisaran Wei untuk memberikan instruksi kepada pasukan masing-masing dan meledakkan semangat juang mereka semua. Para jendral itu mengangguk faham dan segera pergi untuk menjalankan tugas dari salah satu pemimpin perang mereka.
***
Sementara itu disisi lain, didalam armada perang yang berupa kapal terbang yang paling besar, Kaisar Han Biao dan Nan Kong atau Patriark Sekte Pedang Kelelawar dari daratan barat yang ditugaskan untuk memimpin pasukan untuk menguasai daratan timur sangat terkejut dengan adanya ribuan prajurit yang menghadang mereka.
"Apakah rencana penyerangan kita telah bocor?" tanya Nan Kong dengan tidak percaya.
"Itu mustahil! Tidak ada satu orang pun yang tahu tentang penyerangan kita ini!" jawab Kaisar Han Biao yang sama tidak percayanya.
"Tapi tenanglah Kaisar! Pasukan mereka hanyalah semut dihadapan pasukan kita!" ujar Nan Kong dengan seringai dingin.
Dia menjadi tenang saat melihat prajurit yang menghadang mereka itu meskipun banyak namun kekuatannya tidaklah seberapa. Hanya beberapa orang saja dari yang dia lihat yang perlu sedikit diperhatikan seperti dua pemuda dan beberapa jendral pasukan yang kekuatannya sudah berada di ranah Pendekar Berlian.
Namun yang tidak mereka tahu adalah lima puluh orang yang saat ini sedang menyamarkan kultivasinya diantara para prajurit penghadang yang siap untuk menghancurkan kepercayaan diri seorang Nan Kong.
__ADS_1
Swuusshh...
Ling Jian dan Ling We melesat menghadang tepat didekat kapal perang itu dan menunggu pemimpin pasukan aliansi keluar untuk melakukan negoisasi. Ya! Seperti itulah peraturan dalam perang yang sebenarnya.